NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 [ Persahabatan Kean dan Adrian ]

"Aku punya ide."

Sahutan suara baru, detik itupun ketiganya menoleh bersamaan.

Dari arah tangga terlihat sosok Kean berjalan mendekat dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya.

Tatapannya terlihat serius. Namun dibalik itu, tersimpan rencana yang entah akan membawa masalah baru... atau justru menjadi awal pembalasan Cantika.

"Kean sayang...." Lelaki itu lantas menghampiri mereka.

"Kamu memiliki ide apa, Ken?"tanya Kennan pada sang Putra.

"Sebelumnya Kean ingin mengutarakan pendapat kenapa kamu tidak mencari tau kebenaran Wanita yang menjadi istri pertama Suamimu?"

"Maksudnya?"

"Jujur ya aku sama sekali tidak percaya ada seorang Istri yang begitu mudahnya iklhas Suaminya menikah dengan Lelaki lain, bahkan yang kita tau kamu terlibat dalam kematian kedua anaknya bukankah itu aneh? Kan harusnya dia dendam atau tidak gitu dia pasti tidak akan memberikan restunya tapi apa? Yang terjadi sebaliknya kan?"

"Menurut Tante apa yang dikatakan Putra Tante ada benarnya kamu memang harus mencari tau kebenaran ini takutnya kamu dimanfaatkan oleh Wanita itu, saran Tante kamu cari tau kebenarannya ya."

"Ambillah."

Diulurkan sebuah benda kotak kecil tapi tak dimengerti oleh Cantika apa itu isinya.

"Apa ini?"

"Ini adalah kamera pengintai yang cukup canggih, dari jarak jauh ia masih bisa menyaring dengan jernih suara bahkan seseorang yang tertangkap kamera didalamnya, aku minta kamu letakkan kamera ini disudut ruangan yang menurutmu sulit untuk dijangkau, benda ini aku rasa menjadi alat bantu untuk bisa mengungkap rahasia yang ada didalam rumah yang kamu tempati."

"Terima kasih, aku akan pasang sesuai saran Kak Kean, aku tidak tau jika tidak bertemu dengan kalian aku mungkin sudah tiada... sekali lagi terima kasih banyak atas bantuan kalian, aku sangat beruntung berada ditengah-tengah keluarga kalian, sekali lagi terima kasih."

Cantika memeluk Kyara, Kean memandang keindahan dan keanggunan gadis yang dihadapannya ini, senyumannya tak mau lepas, apa perasaan aneh pada hatinya tapi masih tak bisa dimengerti oleh dirinya sendiri, lamunannya akhirnya buyar setelah ia ingat ada pertemuan dengan seseorang.

"Mam... Pap, aku baru ingat ada pertemuan dengan sahabatku aku ijin pergi ya."

"Baiklah kamu hati-hati,"ucap Kyara.

Perginya Kean, Cantika masih memeluk Kyara tak mau lepas.

Beberapa menit kemudian

Kean sendiri tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia sampai di lokasi pertemuan. Mobilnya berhenti tepat di depan restoran mewah.

Begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran, netra tajamnya langsung menyapu seluruh penjuru ruangan, mencari sosok yang sedari tadi menunggunya.

Suasana restoran terdengar tenang dengan dentingan alat makan dan alunan musik lembut yang mengisi udara. Hingga akhirnya pandangan Kean tertuju pada seorang pria berjaket hitam yang tengah duduk santai sambil memainkan gelas minumnya. Senyum tipis terukir di wajah pria itu seolah sudah mengetahui kedatangan sahabatnya sejak tadi. Kean pun segera menghampiri.

"Sorry aku telat Tuan Adrian," ucap Kean dengan nada bersalah bercampur santai.

Sosok yang tak lain adalah Adrian_ Lelaki yang menjadi Suami Cantika, Adrian langsung mengangkat wajahnya lalu terkekeh pelan sebelum membalas senyuman itu.

"Dasar, memang sedari dulu tidak pernah berubah. Cepat duduklah!" pinta Adrian sambil menggelengkan kepala geli. Kean menarik kursi di hadapannya lalu duduk santai.

"Okelah, ternyata tidak rugi ya ngajak ketemuan sama orang kaya raya?" ledek Kean sambil melirik seluruh meja penuh makanan mahal yang sudah tersaji.

"Dasar! Ya sudah kita makan, aku lapar!"

"Baiklah!"

Keduanya mulai menikmati makanan yang sudah dipesan. Sesekali terdengar candaan ringan di antara mereka, membuat suasana terasa begitu hangat seperti dua sahabat lama yang akhirnya kembali memiliki waktu untuk berbincang. Namun di tengah aktivitas makannya, Kean tiba-tiba terdiam.

Tangannya perlahan berhenti bergerak.

Pikirannya mendadak melayang jauh.

Bayangan wajah Cantika muncul begitu saja memenuhi isi kepalanya. Wajah wanita itu... sorot matanya yang rapuh... senyum kecil yang dipaksakan meski menyimpan luka begitu dalam... semuanya berputar tanpa izin di benaknya.

Tanpa sadar sudut bibir Kean terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang begitu tulus. Senyum yang bahkan tidak mampu ia sembunyikan.

Adrian yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya hanya menyipitkan mata penuh curiga. Tatapannya berubah jahil sebelum akhirnya ia menahan tawa kecil.

"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Kamu tidak mungkin gila kan?" ledek Adrian sambil menatap Kean penuh selidik.Sontak Kean tersedak kecil.

"Ka... kamu kenapa bisa tau?"

Adrian langsung tertawa pelan melihat reaksi gugup itu.

"Aku sudah bisa menebak. Sedari tadi memperhatikanmu senyum-senyum sendiri seperti itu. Aku juga tidak bisa dibohongi soal orang yang lagi kasmaran, jadi katakan... benar kan?" goda Adrian mencoba memancing pengakuan. Kean terdiam sesaat.

Untuk pertama kalinya pria itu terlihat benar-benar kebingungan harus memulai dari mana. Biasanya ia selalu santai menghadapi apa pun, tetapi kali ini berbeda. Perasaan yang mengusik hatinya terasa begitu asing.

"Gimana ya ngomongnya?" Kean mengusap tengkuknya canggung. "Oh iya aku mau tanya... pertama kali kamu memiliki perasaan pada istrimu?"

Adrian yang semula santai langsung mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa kamu malah bertanya soal itu? Apa selama ini kamu tidak pernah menaruh hati pada seorang wanita?" tanya Adrian balik.

Seketika wajah ceria Kean sedikit meredup. Sorot matanya berubah sendu seolah mengingat sesuatu.

"Jika dibilang baru pertama kali jatuh cinta sejujurnya sih tidak..." ucapnya pelan. "Tapi entah kenapa setelah aku bertemu dengan gadis itu aku memiliki perasaan aneh yang sulit diartikan."

Kean menundukkan pandangannya sesaat.

"Terlebih setelah aku mendengar sendiri curhatan kehidupannya yang amat suram." Adrian mulai memperhatikan serius.

"Kehidupannya yang amat suram?"

"Iya." Kean mengangguk pelan.

"Pertemuan awal kita karena aku memergoki dia hampir bunuh diri..."

Kalimat itu membuat Adrian sedikit terdiam.

"Tapi untungnya aku datang tepat waktu menyelamatkannya," lanjut Kean dengan napas berat.

"Tragis sekali nasibnya..." gumam Adrian lirih. "Mungkin beban yang dialaminya sangatlah berat."

Kean hanya tersenyum hambar.

"Tapi sekarang katakan dengan jujur," lanjut Adrian sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kamu bertanya hal aneh seperti ini pasti ada hal lain kan? Apa pertanyaan aneh kamu... kamu memang memendam perasaan pada seseorang itu?"

Kean terdiam beberapa detik.

Lalu perlahan ia mengangguk.

Jujur untuk pertama kalinya ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri.

"Jujur entah ini yang dinamakan cinta..." ucapnya. "Tapi adakah cinta yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama?"

Pertanyaan itu membuat Adrian tersenyum kecil.

"Sekarang pertanyaannya... seperti apa sosok wanita itu?"

Seketika sorot mata Kean berubah.

Ada sesuatu yang berbeda saat ia mulai membicarakan Cantika.

"Dia sosok yang baik... cantik..." ucapnya perlahan seolah takut salah mengartikan perasaannya sendiri. "Aku juga merasa dia wanita yang berbeda dengan kebanyakan orang."

Kean menghela napas pelan.

"Apalagi mendengar curhatan nasib hidupnya... aku pun jadi penasaran pengen ikut masuk dalam hatinya."

Ekspresi wajahnya terlihat begitu serius. Begitu tulus.

Seolah ia benar-benar ingin menjadi seseorang yang mampu menghapus luka wanita itu. Adrian menatap sahabatnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Perasaan memang tidak baik jika harus dipendam," ucap Adrian tenang. "Tapi jika kamu memang mencintainya, usahakanlah dan jangan pernah putus asa. Sebagai sahabat aku mendukungmu."

Seketika wajah Kean kembali cerah.

Tanpa ragu ia langsung berdiri lalu memeluk Adrian erat penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih Adrian, terima kasih!"

Adrian tertawa kecil sambil menepuk pundaknya.

"Iya sama-sama. Kita teman, bahkan aku sudah anggap kamu seperti saudara sendiri, jadi gimana aku tidak mau mendukung kamu? Semangatlah!"

"Siap!" jawab Kean semangat.

Namun beberapa detik kemudian senyum di wajahnya kembali memudar.

Sorot matanya berubah.

"Tapi ada masalah yang lebih rumit..." lanjut Kean sambil menghela napas panjang. Adrian langsung menatapnya bingung.

"Rumit? Gimana?" Kean terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

"Aku masih harus bersaing dengan suaminya."

"Apa?!"

Adrian sontak bangkit dari duduknya.

Kursi yang ia duduki sampai bergeser cukup keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

Tangannya langsung memijat pelipis seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

Lalu pria itu tertawa kecil tak percaya.

"Jadi... maksudmu kamu naksir dengan istri seseorang?" Kean mengangguk kecil tanpa ragu. Wajahnya terlihat serius.

Ia sama sekali tidak bercanda.

"Gila... ini sungguh gila!" Adrian mengusap wajahnya frustasi. "Kalau sudah bersuami maka itu sama saja kamu cari mati! Kamu ingin dibaku hantam suaminya?"

"Ya kan yang jelas pernikahan mereka terjadi bukan karena saling cinta?" balas Kean cepat. "Aku juga dengar mereka menikah karena paksaan akibat dijual ayahnya sendiri."

Deg

Kalimat itu membuat tubuh Adrian menegang seketika.

Jantungnya seperti dipukul sesuatu yang begitu keras.

Napasnya tercekat.

Tatapannya mendadak kosong.

Entah kenapa... setiap ucapan Kean barusan terasa sangat familiar di telinganya. Pernikahan karena paksaan.

Dijual oleh ayahnya sendiri.

Semua itu...

Semua itu terlalu mengarah pada satu sosok yang selama ini terus memenuhi pikirannya.

Nina.

Nama itu seolah menggema keras di dalam kepala Adrian hingga membuat dadanya mendadak sesak tanpa alasan yang mampu ia jelaskan.

BERSAMBUNG

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!