Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan di batas senja
Adeeva tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Suara dengkur halus Shaheer di sisi lain tempat tidur—pria itu memilih tidur di sofa kamar agar Adeeva merasa nyaman—biasanya memberikan ketenangan, namun kali ini justru terdengar seperti pengingat akan beban yang ia pikul. Amplop cokelat di dalam tas gambarnya seolah memancarkan hawa panas yang membakar nuraninya.
Pagi-pagi sekali, saat fajar baru saja menyingsing dan asrama mulai menggeliat dengan suara langkah lari pagi para prajurit, Adeeva menerima pesan singkat.
‘Jam 10 pagi. Gudang tua di belakang pasar kota. Datang sendiri, atau karir suamimu tamat.’
Adeeva bangkit dengan wajah pucat. Ia melihat Shaheer sudah tidak ada di sofa; pria itu pasti sudah berangkat untuk apel pagi. Ini adalah kesempatannya. Dengan tangan gemetar, ia kembali memakai pashmina hitamnya—kali ini hasilnya jauh lebih berantakan karena tangannya terus bergetar hebat.
Ia menyelinap keluar melalui pintu belakang, menghindari jalur utama yang biasa dijaga ketat oleh provost yang mengenalinya. Ia memanggil taksi daring dari luar gerbang asrama.
Gudang tua itu lembap dan berbau debu kayu. Revian berdiri di sana, bersandar pada pilar beton dengan senyum yang membuat Adeeva merasa mual.
"Akhirnya datang juga, Tuan Putri Pesantren," sindir Revian. Ia mengangkat selembar foto tinggi-tinggi. "Lihat foto ini, Deeva. Kamu sedang memegang gelas, tertawa lepas di pelukan pria. Apa kata para istri tentara yang terhormat itu kalau melihat ini?"
"Apa maumu, Rev? Aku sudah menikah! Biarkan aku tenang!" teriak Adeeva. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu.
"Aku mau kamu tinggalkan dia. Ikut aku ke Jakarta. Aku bisa menghapus semua ini kalau kamu kembali jadi 'Adeeva-ku' yang dulu. Bukan Adeeva yang memakai kain di kepala hanya untuk sandiwara," Revian melangkah maju, mencoba menyentuh pipi Adeeva.
"Jangan sentuh aku!" Adeeva menepis tangan Revian. "Aku tidak akan pernah ikut denganmu. Kamu hanya ingin memilikiku untuk memuaskan egomu, bukan karena kamu peduli padaku!"
Revian tertawa kasar, wajahnya berubah gelap. "Kalau begitu, jangan salahkan aku jika foto-foto ini mendarat di meja Komandan suamimu dalam satu jam ke depan."
Saat Revian hendak mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan, suara dentuman keras pintu gudang yang dibuka paksa mengejutkan mereka berdua.
Brak!
Bukan hanya satu orang, tapi tiga pria berseragam loreng masuk dengan gerakan taktis. Di tengah mereka, Kapten Shaheer Ali berdiri dengan wajah yang belum pernah Adeeva lihat sebelumnya—dingin, datar, dan memancarkan ancaman yang sangat nyata. Di belakangnya ada Kaysan yang tampak tidak lagi jenaka, dan Nadhir yang sudah memegang kamera pengintai.
"Kapten..." bisik Adeeva, tubuhnya hampir luruh ke lantai.
Shaheer tidak menatap Adeeva. Matanya terkunci pada Revian. "Dokter Revian Alfie, Anda baru saja melakukan dua kesalahan fatal hari ini. Pertama, melakukan pemerasan. Kedua, masuk ke wilayah yang sedang dalam pengawasan intelijen militer."
Revian mencoba tertawa meski lututnya gemetar. "Apa-apaan ini? Ini urusan pribadi! Kamu tidak punya hak—"
"Aku punya hak penuh untuk melindungi anggota keluargaku dari ancaman eksternal," potong Shaheer. Ia melangkah maju dengan tenang, namun setiap langkahnya seolah menghimpit udara di paru-paru Revian. "Nadhir, tunjukkan padanya."
Nadhir mengangkat sebuah tablet. "Semua percakapan pesan singkat Anda, ancaman Anda, dan posisi GPS Anda sudah kami rekam sejak kemarin. Dan soal foto-foto itu?" Nadhir tersenyum tipis. "Sudah kami hancurkan server aslinya lewat bantuan tim IT Mabes. Anda tidak punya apa-apa lagi sekarang."
Revian pucat pasi. Ia menyadari bahwa ia baru saja mencoba melawan seorang perwira intelijen dengan cara amatir.
"Pergi dari kota ini sekarang juga, Revian. Jika dalam dua puluh empat jam saya masih melihat wajah Anda, saya sendiri yang akan mengantar Anda ke sel tahanan militer dengan tuduhan gangguan stabilitas keamanan keluarga perwira," ancam Shaheer, suaranya pelan namun menusuk.
Revian tidak menunggu dua kali. Ia lari tunggang langgang keluar dari gudang, meninggalkan amplop cokelat yang kini berserakan di lantai.
Suasana gudang menjadi hening. Shaheer akhirnya menoleh ke arah Adeeva. Gadis itu menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi kerudungnya yang miring.
"Maaf... aku hanya tidak ingin kamu malu karena aku," isak Adeeva.
Shaheer mendekat, ia melepas jaket loreng terluarnya dan menyampirkannya ke bahu Adeeva yang gemetar. "Kenapa tidak bilang padaku sejak awal? Kamu pikir aku ini apa? Rekan bisnis?"
"Aku takut kamu akan menyesal menikahiku jika tahu betapa buruknya aku dulu," suara Adeeva nyaris tak terdengar.
Shaheer mengangkat dagu Adeeva agar gadis itu menatapnya. "Deeva, dengarkan aku baik-baik. Aku sudah tahu semua foto itu bahkan sebelum aku melamarmu di depan Abi. Intelijen tidak pernah melamar tanpa riset. Aku menerimamu bukan karena aku tidak tahu, tapi karena aku tahu siapa kamu sekarang."
Adeeva tertegun. "Kamu... sudah tahu?"
"Semuanya," jawab Shaheer. "Dan itu tidak mengubah apa pun. Sekarang, ayo pulang. Kaysan, urus sisanya."
"Siap, Kapten! Beres!" sahut Kaysan, yang kali ini memberikan kedipan semangat pada Adeeva.
Di dalam mobil, Adeeva bersandar pada bahu Shaheer. Ia merasa sangat lelah, namun untuk pertama kalinya, rasa takut yang membayanginya selama bertahun-tahun lenyap sepenuhnya. Ia sadar, Shaheer bukan hanya suaminya karena paksaan, tapi dia adalah rumah yang sebenarnya—yang tetap berdiri kokoh meski tahu badai apa yang pernah menghantamnya.
"Kapten..." panggil Adeeva pelan.
"Hm?"
"Terima kasih sudah tidak menyesal memilihku."
Shaheer hanya mengangguk, lalu menggenggam tangan Adeeva erat sepanjang jalan menuju asrama.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...