Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Harimau Wijaya yang Kembali
Arjuna Wijaya melangkah keluar dari gapura kayu jati Kadilangu dengan langkah yang terasa lebih ringan namun mantap. Surat dari Mbah Kyai Ahmad Mustofa yang dibawakan oleh santri tua tadi ia simpan rapat di saku kemejanya, bersanding dengan cermin perunggu tua pemberian pria misterius peniup seruling.
.
"Bismillah... Gusti, kulo wangsul dumateng Sidoarjo. Mugi-mugi elmu 'meneng' saking Kanjeng Sunan saged dados jimat kulo," bisik Arjuna lembut.
(Bismillah... Tuhan, saya pulang ke Sidoarjo. Semoga ilmu 'diam' dari Kanjeng Sunan bisa jadi jimat saya.)
.
Arjuna tidak memilih naik bus mewah, ia berjalan kaki menyusuri aspal panas jalur Pantura. Sepanjang jalan, ia terus memutar tasbih kayu cendananya. Setiap kali ia memejamkan mata batin, ia melihat kabut hitam pekat sedang menyelimuti Pondok Al-Hikam. Ada hawa jahat dari orang-orang Jakarta yang ingin merampas tanah wakaf tersebut.
.
Di tengah perjalanan, ia sempat berpapasan dengan kawanan preman yang sedang memalak sopir truk di pinggir jalan raya. Salah satu preman melihat Arjuna yang kusam dan mengira ia gembel biasa. "Heh, Gembel! Kene dhuwitmu nggo tuku rokok!" teriak preman itu sambil mengayunkan botol miras.
.
Arjuna hanya menatap mata preman itu dengan tenang, menerapkan ilmu "diam" yang ia pelajari di Kadilangu. Ia tidak membalas, namun di dimensi gaib, Macan Putih Kyai Loreng menggeram tepat di depan wajah preman itu. Seketika, preman tersebut jatuh pingsan karena jantungnya berdegup terlalu kencang melihat sosok gaib yang mengerikan.
.
Setelah menempuh perjalanan panjang, bus antar kota yang akhirnya ia tumpangi memasuki gerbang selamat datang Kabupaten Sidoarjo. Aroma tanah basah menyambut indra penciumannya. Arjuna segera turun dan berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil menuju Pondok Al-Hikam.
.
Sesampainya di depan pintu gerbang pondok, ia melihat kerumunan orang. Sebuah mobil jip hitam berhenti dengan angkuh. Beberapa pria berjas rapi, dipimpin oleh seorang pria berkacamata hitam, sedang membentak-bentak warga dan santri. Mereka membawa surat penyitaan palsu atas nama Mr. Richard.
.
"Pondok ini harus dikosongkan sekarang! Tanah ini sudah berpindah tangan!" teriak pria berkacamata itu sambil melangkah menuju teras ndalem.
.
Arjuna hendak melangkah maju, namun tiba-tiba suara tegas menggelegar dari arah pintu rumah. "Langkah lari kowe nek wani nggandheng pondok iki! (Langkah lari kamu kalau berani menyentuh pondok ini!)"
.
Semua mata menoleh. Muncul sosok pria dengan rambut cepak, badannya tegap mengenakan baju koko putih dan sarung sederhana. Itu adalah Guntur. Wajahnya tidak lagi penuh angkara murka, melainkan nampak bersih, seolah-olah semua dosa di masa lalunya sudah dibasuh oleh dinginnya lantai penjara.
.
"Guntur? Kowe wis metu, Le? (Guntur? Kamu sudah keluar, Nak?)" tanya Bunda Siti Khotijah dengan suara gemetar dari balik pintu.
.
Guntur tidak menjawab ibunya dulu. Ia langsung berlari kecil menuju Arjuna yang berdiri di dekat pohon beringin. Tanpa rasa malu, Guntur langsung bersujud di kaki Arjuna dan mencium tangan kakaknya lama sekali. "Mas Juna... ngapurane aku, Mas. Aku wis sadar. Penjara lan pukulan tongkat Simbah Buyut Syekh Jangkung ing jero mimpi wis mbukak mripatku," rintih Guntur tulus.
.
Arjuna tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia membantu adiknya berdiri dan memeluknya erat. "Wis, Le... sing wis yo wis. Saiki kowe wis bali dadi adiku sing dhisik," ucap Arjuna.
.
Guntur kemudian berbalik menghadap orang-orang Jakarta itu. "Kowe kabeh baliyo! Kandhani bosmu, Guntur Wijaya wis bebas lan ora bakal ngekei sejengkal lemah wae nggo proyek kowe kabeh!" bentak Guntur dengan wibawa baru.
.
Melihat Arjuna dan Guntur bersatu kembali, ditambah hawa mistis yang mencekam dari tatapan mata Arjuna, orang-orang itu ketakutan dan lari tunggang langgang masuk ke mobil mereka.
.
Malam harinya, suasana haru menyelimuti keluarga Wijaya. Di bawah cahaya lampu pondok, Arjuna, Guntur, Romo Wijaya, dan Bunda Siti Khotijah makan bersama di atas lantai semen. Namun, saat Arjuna tertidur di pojok masjid, ia kembali ditarik ke alam ruh.
.
Di sana, ia bertemu kembali dengan Mbah Yai Ahmad Mustofa dan sosok kakek tua berjubah putih, yaitu Simbah Buyut Syekh Jangkung.
.
"Sujud syukurmu wis ditrimo, Arjuna. Nanging saiki kowe kudu 'Lelaku' maneh. Klilingono tanah Jawa iki mlaku tanpa alas kaki, ojo nggawa dhuwit sithik-sithik wae. Nek kowe isih nggawa dhuwit, kuwi tandane kowe isih percoyo dhuwit tinimbang Gusti Allah!" tegas Simbah Buyut Syekh Jangkung.
.
Arjuna terbangun saat adzan subuh berkumandang. Ia menyadari bahwa tugasnya di pondok untuk sementara sudah selesai dengan tobatnya Guntur. Ia harus melanjutkan perjalanan spiritualnya untuk menjadi "Sultan Musafir" yang sejati.
.
"Romo... Bunda... Juna nyuwun pamit. Juna kudu mlaku tanpa bondho kanggo nggoleki hakikate urip," ucap Arjuna sambil mencium tangan kedua orang tuanya di depan gerbang pondok saat fajar menyingsing.
.
Bunda Siti Khotijah mengusap kepala Arjuna dengan penuh doa. Tanpa alas kaki dan tanpa uang sepeser pun, Arjuna Wijaya mulai melangkah keluar dari Sidoarjo, memulai perjalanan gila yang akan mengubah nasibnya selamanya di bawah kawalan Macan Putih Kyai Loreng.
Baru beberapa kilometer melangkah meninggalkan gapura Al-Hikam, panasnya aspal jalanan Sidoarjo mulai membakar telapak kaki Arjuna. Ini bukan lagi simulasi di alam ruh, melainkan kenyataan yang perih. Arjuna yang dulu terbiasa mengenakan sepatu kulit mahal, kini harus merasakan kasarnya kerikil dan panasnya aspal yang menyengat.
.
"Astaghfirullah... niki nembe keri krikil dunya, Gusti. Dereng nopo-nopone dibanding panasipun geni neraka," bisik Arjuna menahan nyeri.
(Astaghfirullah... ini baru kerikil dunia, Tuhan. Belum apa-apanya dibanding panasnya api neraka.)
.
Di bahu jalan, orang-orang menatapnya dengan pandangan aneh. Ada yang mengira ia orang gila baru, ada pula yang merasa kasihan melihat pemuda berwajah tampan namun berpakaian kucel dan tak beralas kaki. Namun, Arjuna tetap menjaga pandangannya ke bawah, menerapkan ilmu 'meneng' yang ia bawa dari Kadilangu.
.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil terbuka, memunculkan sosok pria perlente dengan kacamata hitam yang tampak tidak asing. Pria itu adalah mantan rekan bisnis Arjuna di Jakarta yang kebetulan sedang ada proyek di Surabaya.
.
"Juna? Arjuna Wijaya? Edan... kowe dadi gembel saiki, Jun?" ejek pria itu sambil tertawa terbahak-bahak. "Endi asmamu sing jarene Sultan Jakarta? Saiki mlaku kepanasan koyo wong duso!"
(Juna? Arjuna Wijaya? Gila... kamu jadi gembel sekarang, Jun? Mana namamu yang katanya Sultan Jakarta? Sekarang jalan kepanasan seperti orang berdosa!)
.
Pria itu melemparkan selembar uang seratus ribu ke arah kaki telanjang Arjuna. "Iki, jupuken nggo tuku sandal jepit. Ben ora isin-isini kanca-kancamu sing isih sugih!"
.
Arjuna hanya diam. Ia tidak mengambil uang itu, tidak pula membalas ejekan tersebut. Ia hanya tersenyum sangat tipis. Di matanya, uang kertas itu tak lebih dari sekadar sampah yang tidak bisa menolong batinnya. Arjuna melangkahi uang itu begitu saja, membiarkannya terbang tertiup angin jalanan.
.
Melihat reaksi Arjuna yang begitu tenang, pria di dalam mobil itu mendadak merasa merinding. Ia merasakan aura yang sangat berat keluar dari tubuh Arjuna. Seolah-olah, yang sedang berjalan di depannya bukan lagi manusia biasa, melainkan sosok singa yang sedang menyamar.
.
"Sombong tenan gembel iki!" umpat pria itu sambil menutup kaca mobilnya dan tancap gas meninggalkan debu yang mengepul.
.
Arjuna terus berjalan hingga sampai di sebuah jembatan besar. Perutnya mulai keroncongan karena sejak subuh ia belum menyentuh makanan sedikit pun. Ia teringat pesan Simbah Buyut Syekh Jangkung: "Nek kowe luwe, njaluko neng Gusti!" (Kalau kamu lapar, mintalah pada Tuhan!)
.
Arjuna duduk bersila di bawah pohon peneduh di ujung jembatan. Ia menutup matanya, memutar tasbih, dan memasrahkan seluruh raga serta jiwanya. Ia tidak meminta nasi, ia hanya meminta agar rasa lapar itu digantikan dengan rasa rindu kepada Sang Pencipta.
.
Tak lama kemudian, seorang ibu penjual nasi bungkus yang lewat mendadak berhenti di depan Arjuna. Tanpa ditanya, ibu itu meletakkan satu bungkus nasi gudeg di depan Arjuna.
.
"Mas, niki wonten titipan saking Gusti Allah. Wau enten tiyang sing borong sedoyo dagangan kulo, nanging pesen setunggal nggo mas sing lungguh mriki," ucap ibu itu ramah lalu segera pergi.
(Mas, ini ada titipan dari Allah. Tadi ada orang yang borong semua dagangan saya, tapi pesan satu buat mas yang duduk di sini.)
.
Arjuna membuka bungkus nasi itu dengan tangan gemetar. Ia menangis. Bukan karena lapar, tapi karena ia membuktikan sendiri bahwa saat ia benar-benar melepaskan ketergantungan pada uang, Tuhan sendiri yang menjamin hidupnya.
.
"Matur nuwun, Gusti... pancen bener, Asmamu niku sampun cukup nggo urip kulo," gumam Arjuna di tengah kunyahan nasinya yang terasa lebih nikmat dari hidangan hotel bintang lima mana pun.
(Terima kasih, Tuhan... memang benar, Nama-Mu itu sudah cukup buat hidup saya.)
.
Di kejauhan, Macan Putih Kyai Loreng nampak duduk tenang menjaga tuannya. Perjalanan 'Lelaku' ini baru saja dimulai, dan tantangan yang lebih besar sudah menanti di perbatasan kota selanjutnya.
Matahari mulai condong ke arah barat, memancarkan warna jingga yang membakar cakrawala. Arjuna terus melangkah meskipun telapak kakinya kini sudah mulai melepuh dan mengeluarkan darah segar akibat gesekan aspal serta kerikil tajam. Setiap langkahnya meninggalkan bekas merah tipis di jalanan, namun bibirnya tak henti-hentinya bergetar merapalkan zikir sirri.
.
"Loro iki mung rasa, Gusti... nanging ridho-Mu iku sejatine nyawa," bisik Arjuna menahan perih yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
(Sakit ini hanya rasa, Tuhan... tapi rida-Mu itu sejatinya nyawa.)
.
Langkah kakinya kini membawanya memasuki kawasan hutan jati yang lebat. Jalanan di sini nampak sepi, hanya ada deru angin yang sesekali bersiul di antara celah pepohonan besar. Hawa dingin yang tidak wajar mulai menusuk tengkuk Arjuna. Ia tahu, ini bukan sekadar hutan biasa, melainkan wilayah yang dihuni oleh entitas gaib yang sudah lama menunggu kedatangannya.
.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan yang mulai turun, muncul sosok wanita cantik jelita mengenakan kemben sutra berwarna kuning keemasan. Wanita itu berdiri di pinggir jalan sambil memegang sebuah nampan perak berisi air kendi yang nampak sangat segar dan buah-buahan surga.
.
"Gus Arjuna... sampun kesel nggih? Niki ombe dhisik, banyune adem banget, saged nambani tatu ing sikilmu," ucap wanita itu dengan suara yang sangat merdu, seolah mampu menghipnotis jiwa siapa pun yang mendengarnya.
(Gus Arjuna... sudah lelah ya? Ini minum dulu, airnya dingin sekali, bisa mengobati luka di kakimu.)
.
Arjuna berhenti sejenak. Tenggorokannya memang sangat kering, dan kakinya terasa seperti disayat sembilu. Namun, ia teringat pesan Mbah Yai Ahmad Mustofa: "Ojo gampang kepincut karo sing katon ayu ing mripat, amarga setan iku pinter macak dadi malaikat." (Jangan mudah terpikat dengan yang kelihatan cantik di mata, karena setan itu pintar berdandan jadi malaikat.)
.
Arjuna memejamkan mata, memutar tasbihnya satu kali dengan kuat. Saat ia membuka mata, sosok wanita cantik itu berubah menjadi sesosok mahluk mengerikan dengan kulit bersisik hitam dan mata merah yang melotot. Air kendi yang segar tadi berubah menjadi darah kental yang berbau busuk.
.
"Lerenono sandiwaramu! Kowe dudu pemberi nikmat, kowe mung pengganggu dalan suci!" bentak Arjuna dengan wibawa yang luar biasa.
.
Mahluk itu menjerit melengking, suaranya memecah kesunyian hutan jati. Ia hendak menerjang Arjuna, namun tiba-tiba dari kegelapan muncul geraman yang sangat dahsyat. Macan Putih Kyai Loreng melompat dari balik bayangan Arjuna, taringnya yang bersinar putih perak berkilauan di bawah cahaya bulan yang mulai muncul.
.
Mahluk halus itu gemetar ketakutan melihat sosok pengawal Arjuna. Tanpa sempat melawan, ia menghilang menjadi asap hitam yang tertiup angin. Suasana hutan kembali tenang, namun Arjuna kini terduduk lemas di bawah pohon jati besar. Tenaganya terkuras habis untuk melawan gangguan gaib tadi.
.
Di tengah kelelahannya, Arjuna teringat cermin perunggu tua di sakunya. Ia mengambilnya dan melihat pantulan dirinya. Di dalam cermin itu, nampak sosok Simbah Buyut Syekh Jangkung sedang tersenyum sambil mengangguk.
.
"Putuku Arjuna... kowe wis lulus ujian sepisanan. Ojo wedi luwe, ojo wedi loro. Langit iki payungmu, bumi iki kasurmu," suara Simbah Buyut menggema di batinnya.
.
Seketika, rasa perih di telapak kakinya mendadak hilang. Meskipun lukanya masih ada, Arjuna merasa tubuhnya kembali segar seolah baru saja mandi di pancuran pegunungan. Ia bangkit berdiri, menyampirkan tas ransel kusamnya, dan kembali melangkah menembus kegelapan hutan jati dengan hati yang semakin teguh.
.
"Bismillah... siji jangka, siji zikir," gumam Arjuna sambil menatap lurus ke depan, menuju titik cahaya di ujung hutan yang menandakan perbatasan kota berikutnya sudah dekat.
.