NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MADRASAH DAN SENYUM YANG MENULAR

Pagi di Pesantren Al-Hidayah kini memiliki warna baru. Jika biasanya Mentari adalah orang terakhir yang bangun, kini ia adalah orang yang paling sibuk menyiapkan kitab-kitab di atas meja kayu kecil mereka. Perintah Kyai untuk membantu mengajar di Madrasah Diniyah bukan sekadar tugas, melainkan ujian nyata bagi Mentari: mampukah ia berhadapan dengan anak-anak kecil yang polos sekaligus kritis?

"Gus, aku gugup banget. Gimana kalau mereka nanya hal yang aku nggak tahu?" Mentari merapikan kerudung instannya di depan cermin, tangannya sedikit gemetar.

Gus Zikri, yang sedang mengenakan sorban di pundaknya, mendekat. Ia berdiri di belakang Mentari, menatap pantulan istrinya di cermin. "Anak-anak tidak butuh guru yang tahu segalanya, Mentari. Mereka butuh guru yang mencintai apa yang ia ajarkan. Ceritakan saja tentang bagaimana Allah itu Maha Penyayang, itu sudah cukup."

Zikri mengecup puncak kepala Mentari, memberi suntikan keberanian yang membuat rasa mulas di perut Mentari sedikit berkurang.

Di kelas madrasah, Mentari disambut oleh tiga puluh pasang mata yang bulat dan penuh rasa ingin tahu. Anak-anak kecil berusia enam sampai delapan tahun itu saling berbisik.

"Ustadzah baru ya? Kok rambutnya kuning di balik kerudungnya?" bisik seorang anak laki-laki bernama Adit.

Mentari tersenyum lebar, mencoba mencairkan suasana. "Iya, ini namanya 'rambut matahari'. Biar kalian semangat belajarnya!"

"Wahhh!" seru anak-anak itu serempak.

Di pojok ruangan, Fahma duduk di lantai sambil memegang buku absen. Ia diminta membantu Mentari agar suasana tidak terlalu kacau. Namun, bukannya membantu, Fahma justru asyik menggambar bunga di telapak tangannya sendiri.

"Fahma, bantuin gue dong! Jangan malah asyik sendiri," bisik Mentari gemas.

"Eh... iya Tari. Anak-anak, ayo kita... kita nyanyi lagu 'Balonku Ada Lima' versi bahasa Arab!" sahut Fahma asal.

Anak-anak itu melongo bingung. Mentari menepuk jidatnya. "Bukan itu, Fahma! Kita mau belajar Adab!"

Pelajaran dimulai dengan ceria. Mentari menceritakan kisah-kisah Nabi dengan gaya bahasanya yang ekspresif ciri khas anak Jakarta yang jago bercerita. Anak-anak itu terpaku, mereka tidak pernah mendapatkan materi yang disampaikan dengan begitu seru dan penuh tawa.

Tiba-tiba, bayangan tinggi muncul di ambang pintu kelas. Gus Zikri berdiri di sana, memantau dari kejauhan. Ia melihat Mentari sedang memeragakan gerakan gajah dalam kisah pasukan Abrahah. Wajah Mentari yang biasanya penuh polesan *makeup* mahal, kini tampak begitu cantik dengan peluh tipis dan senyum tulus yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Zikri tersenyum tipis. Ia merasa bangga. Istrinya, yang dulu dikenal sebagai "Gadis Bar-bar", kini sedang menjadi idola bagi anak-anak kecil di desa itu.

"Gus Zikri!" teriak anak-anak itu saat menyadari kehadiran sang Gus.

Zikri masuk ke kelas. "Bagaimana belajarnya sama Ustadzah Mentari?"

"Seru, Gus! Ustadzah Mentari lucu, nggak galak kayak Ustadz Ahmad!" teriak salah satu santri cilik.

Mentari tersipu malu. Ia menatap Zikri dengan tatapan "Gimana? Gue hebat kan?". Zikri hanya mengangguk kecil, memberikan kode jempol yang sangat langka ia lakukan.

Setelah madrasah selesai, Mentari dan Fahma berjalan menuju asrama putri untuk menemui Bondan dan Hafizah yang sedang asyik mencuci baju di sumur umum.

"Tari! Gimana sukses ngajarnya?" teriak Bondan sambil memeras baju dengan penuh tenaga.

"Sukses berat, Bon! Anak-anak itu lucu banget, meskipun ada satu yang nanya kenapa suara gue kayak knalpot motor karena kenceng banget," cerita Mentari sambil duduk di bangku kayu panjang.

Hafizah menghentikan aktivitasnya sejenak. "Alhamdulillah. Itu artinya kamu sudah diterima oleh lingkungan ini, Tari. Tapi tetap waspada, ya. Kabar dari Jakarta belum sepenuhnya reda."

Mentari terdiam sejenak. Ia teringat berita-berita miring yang masih sesekali muncul di *explore* akun media sosialnya. Namun, ia segera menggeleng. "Gue nggak peduli lagi sama Jakarta, Fiz. Di sini, gue merasa punya arti."

Fahma tiba-tiba menyahut sambil menunjuk ke arah gerbang. "Eh... itu ada mobil besar lagi ya? Kok warnanya merah menyala gitu?"

Mata Mentari membelalak. Mobil itu... ia sangat mengenalnya. Itu mobil milik salah satu teman gengnya di Jakarta, Nadia.

"Nadia? Ngapain dia ke sini?" gumam Mentari.

Bondan langsung berdiri, siap siaga dengan sikat cucinya. "Wah, kalau dia ke sini mau ngajak lo balik nakal lagi, bakal gue sikat mukanya pake deterjen ini!"

Suasana yang tadinya ceria mendadak kembali tegang. Masa lalu Mentari seolah tidak pernah benar-benar membiarkannya pergi. Namun kali ini, Mentari tidak lagi berdiri sendiri. Di kejauhan, ia melihat Gus Zikri baru saja keluar dari masjid, seolah radar perlindungannya langsung menyala saat merasakan ada ancaman bagi istrinya.

Pertemuan antara dunia Jakarta dan dunia Pesantren akan segera terjadi lagi, dan kali ini, Mentari harus membuktikan bahwa imannya bukan sekadar kedok belaka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!