Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18 Kalung Perak
Pagi hari di Desa Sekar dimulai dengan langit yang sedikit mendung. Semalaman angin laut bertiup cukup kencang, menyisakan riak gelombang yang berkejaran menghantam pesisir.
Beberapa nelayan yang baru kembali dari melaut tampak sibuk memeriksa perahu mereka di tepi pantai. Sebagian papan kayu melonggar, jaring-jaring robek akibat karang, dan salah satu perahu bahkan mengalami kerusakan cukup parah pada lambungnya setelah dihantam ombak besar semalam. Sesuai tabiatnya, Kael ikut membantu tanpa diminta.
Meski para nelayan berkali-kali melarangnya karena sungkan, pria itu tetap turun tangan mengangkat papan jati yang berat, menarik tali jangkar, dan memaku lambung kapal yang bolong.
"Kau ini sebenarnya guru sekolah atau tukang kayu galangan, Kael?" canda Pak Darno di ikuti tawa pak Jalil. Mereka tertawa renyah sembari menyeka keringat di pelipisnya.
Kael hanya mengangkat bahu ringan tanpa menghentikan ketukan palunya. "Kalau perahunya tidak segera diperbaiki, anak-anak kalian tidak bisa makan ikan besok."
Ucapan lempeng itu justru membuat para nelayan di sekitar mereka tertawa semakin keras, mengagumi kepedulian pria yang mereka kira masih amnesia tersebut.
Tak jauh dari garis pantai, Hana baru saja selesai memeriksa seorang warga lanjut usia yang mengeluhkan nyeri sendi. Saat berjalan melintasi pasir pantai yang basah, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada Kael.
Pria itu tengah menarik papan kayu tebal seorang diri. Kemejanya tampak basah kuyup oleh keringat, melekat erat pada tubuh tegapnya. Dan di sela-sela kerah kemejanya yang terbuka, kalung itu kembali menyembul ke permukaan. Sebuah kalung berwarna perak kusam yang selalu menggantung di leher Kael.
Hana memperlambat langkah kakinya. Tatapannya terpaku pada benda kecil tersebut. Kalung itu sebenarnya sangat sederhana, jauh dari kesan mewah. Namun, ada satu hal yang selalu membuat Hana penasaran.
Kael tidak pernah melepasnya, sedetik pun tidak, sejak hari pertama pria itu ditemukan sekarat di pantai Desa Sekar.
Hana masih mengingat kejadian malam itu dengan sangat jelas. Saat itu ombak sedang mengamuk, dan beberapa nelayan menemukan tubuh seorang pria asing nyaris tak bernyawa di antara bebatuan karang.
Tubuhnya dipenuhi luka robek, demamnya sangat tinggi, dan denyut nadinya hampir menghilang. Semua orang sudah pasrah dan mengira pria itu tidak akan bertahan sampai fajar menyingsing.
Namun, saat Hana membersihkan luka-lukanya malam itu, ia menemukan sesuatu yang ganjil. Meski tubuh Kael bersimbah darah dan kesadarannya lenyap, jemari pria itu menggenggam erat kalung perak tersebut di dadanya. Sangat erat, seolah-olah seluruh sisa nyawanya bergantung pada benda mati itu.
Hana bahkan sempat mencoba melepaskannya agar lebih mudah membersihkan luka di leher Kael. Tetapi anehnya, Kael yang saat itu sedang koma mendadak bergerak refleks. Tangannya langsung mencengkeram kalung itu kembali dengan cengkeraman yang begitu kuat, seakan takut ada seseorang yang akan merebutnya.
Sejak malam itulah Hana tahu, kalung itu pasti milik seseorang yang sangat penting. Seseorang yang memegang arti besar dalam hidup Kael sebelum ia kehilangan ingatannya. Namun selama berbulan-bulan ini, Hana memilih memendam rasa ingin tahunya karena tidak ingin menyinggung perasaan Kael.
"Ada yang salah, Hana?" tanya Kael, membuyarkan lamunan panjang sang dokter.
Hana tersentak kecil dan mengerjapkan matanya. Tanpa ia sadari, Kael rupanya sudah berjalan mendekat dan kini berdiri tepat di hadapannya.
"Oh... tidak, bukan apa-apa," jawab Hana gugup. Tatapannya sempat turun kembali ke arah dada Kael, sebelum ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah laut.
Kael menyadari arah tatapan itu. Matanya melirik ke bawah, menatap kalung perak yang menggantung di dadanya. Untuk beberapa detik yang singkat, gurat wajah Kael berubah.
Sangat tipis, namun Hana sempat menangkap kilatan itu sebuah kombinasi antara kesedihan yang mendalam, kerinduan, dan rasa bersalah yang belum sepenuhnya sembuh.
Hana langsung dirayapi rasa bersalah karena telah menatap terlalu lama. Ia tidak mengucapkan kata maaf secara lisan, namun dalam hati ia mengerti, kalung itu menyimpan cerita masa lalu yang mungkin terlalu menyakitkan untuk diungkit oleh seorang pria yang "belum pulih" ingatannya.
Menjelang siang, riuh suara anak-anak kembali memenuhi ruang kelas darurat. Hari itu, Rani tampak jauh lebih percaya diri dari biasanya. Gadis kecil itu kini sudah berani menggeser bangkunya, duduk lebih dekat di tengah-tengah teman sebayanya.
Saat jam menggambar dimulai, suasana kelas menjadi sedikit lebih tenang. Rani berjalan perlahan mendekati meja guru, lalu menyodorkan selembar kertas gambar kepada Kael.
Kael menerima kertas itu, mengamati goresan krayon yang membentuk sebuah rumah panggung sederhana. Di halaman rumah itu, ada gambar empat orang yang saling bergandengan tangan Bu Ratih, Rani dan Kael.
Kael menatap gambar itu cukup lama, merasakan kehangatan aneh menjalar di dadanya. Ia kemudian mendongak, menatap Rani yang sedang berdiri di depannya.
"Ini... gambar kita?" tanya Kael lembut.
Rani hanya mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu, pipinya merona merah sebelum ia menyembunyikan wajah di balik kedua tangannya.
Kael tidak bisa menahan senyum tipis yang perlahan terukir di bibirnya. Ia mengusap rambut Rani dengan sayang. "Bagus sekali. Simpan gambar ini dengan baik."
Mata Rani langsung berbinar senang mendengar pujian itu.
Perlahan, sang waktu bergeser. Terik menyengat di siang hari mulai melunak saat matahari bergerak condong ke barat. Langit yang tadinya mendung kini berganti warna menjadi semburat jingga kemerahan yang hangat, memantulkan siluet keemasan di atas permukaan laut Desa Sekar. A
ngin sore yang sejuk mulai bertiup, menggantikan udara gerah dan membawa aroma laut yang menenangkan. Burung-burung camar terbang rendah, bersahut-sahutan kembali ke sarang mereka di tebing karang.
Di beranda rumah panggung, Bu Ratih sedang menyapu sisa-sisa daun kering yang gugur. Sementara di bawahnya, Kael tampak sibuk mengetuk-ngetuk palu, mengganti salah satu anak tangga rumah yang mulai lapuk dengan kayu baru.
Wanita tua itu menghentikan sapuannya, memandangi punggung tegap Kael yang bekerja tanpa lelah dengan tatapan teduh penuh rasa syukur.
"Kalau orang luar melihatmu sekarang, mereka pasti mengira kau memang bagian dari keluarga ini sejak dulu, Kael," ujar Bu Ratih memecah kesunyian sore.
Kael menghentikan ayunan palunya sejenak. Ia menyeka keringat di pelipisnya, lalu menatap Bu Ratih dari bawah tangga. "Kenapa Anda berpikir begitu?"
"Kau menjaga Rani dengan sangat baik, kau selalu membantu warga pantai, dan kau bahkan memperbaiki tangga rumah ini tanpa diminta," jawab Bu Ratih lembut, wajah tuanya dihiasi senyum tulus. "Sudah sangat lama rumah panggung ini tidak terasa sehangat dan seramai sekarang."
Kael tertegun di tempatnya berdiri, tidak tahu harus membalas apa. Kalimat sederhana dari Bu Ratih terasa menghantam jauh ke dalam lubuk hatinya. Jauh di dalam dirinya, monster pelarian dari Shadow Crown*ini perlahan mulai merasakan hal yang sama: kenyamanan sebuah rumah yang nyata.
Malam pun tiba, menggantikan temaram sore dengan hamparan langit gelap yang bertabur jutaan bintang. Angin laut bertiup lebih lembut, mengayun dedaunan kelapa di sekitar halaman rumah panggung.
Kael dan Rani duduk berdampingan di atas tikar beranda, menikmati ketenangan malam. Rani tampak sangat gelisah, bibir mungilnya bergerak-gerak beberapa kali seolah sedang berusaha keras mengerahkan seluruh keberaniannya untuk memproduksi suara.
Kael memperhatikan perjuangan itu dengan sabar. "Pelan-pelan saja, Rani."
Rani menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya erat-erat sebelum akhirnya bersuara. "...Ka...el..."
Kael tersenyum lebar, mengangguk memberi apresiasi. "Hebat. Suaramu semakin jelas."
Rani tertawa kecil, merasa mendapat suntikan rasa percaya diri. Gadis kecil itu kembali membasahi bibirnya, bersiap mencoba kata berikutnya yang terasa jauh lebih sulit bagi lidahnya.
"...Ib..." Rani berhenti sesaat, dahinya berkerut dalam pertanda ia tengah berpikir keras. Ia meremas jemarinya, menarik napas sekali lagi, lalu mencobanya kembali. "...Ib...u..."
Cangkir teh hangat di tangan Bu Ratih yang baru saja melangkah keluar dari pintu seketika bergeming, hampir saja terlepas dari genggamannya. Wanita tua itu terpaku di ambang pintu dengan mata yang melebar sempurna.
"Ibu..." ulang Rani sekali lagi, kini terdengar jauh lebih lancar dan jelas di tengah keheningan malam.
Air mata langsung merebak dan membanjiri pelupuk mata Bu Ratih. Tubuh rentanya gemetar hebat mendengarkan suara yang selama berbulan-bulan ini hilang ditelan trauma.
"Rani... Anakku..." bisik Bu Ratih dengan suara yang pecah oleh tangis haru. Ia langsung menjatuhkan dirinya, berlutut dan memeluk tubuh kecil putrinya itu dengan sangat erat.
Tangis Bu Ratih pecah malam itu, sebuah tangisan kebahagiaan yang meluluhkan segala kesedihan masa lalu mereka. Rani pun ikut menangis di dalam dekapan hangat sang nenek, melepaskan sisa-sisa beban trauma yang mengunci suaranya selama ini.
Kael hanya memperhatikan pemandangan emosional itu dalam diam dari sudut beranda. Tanpa ia sadari, jemari tangannya bergerak naik, menyentuh dan menggenggam erat kalung perak peninggalan Arin yang menggantung di balik bajunya.
Untuk sesaat, bayangan wajah Arin kembali melintas di benaknya. Namun anehnya, kali ini rasa sesak dan perih yang biasanya menghujam ulu hatinya tidak lagi terasa setajam dulu. Kehangatan pelukan di depannya seolah menjadi obat penawar yang perlahan mengikis racun masa lalu Kael. Di sini, di desa terpencil ini, ia mulai menemukan sepotong jiwa barunya yang sempat mati.
Meski begitu, Kael tahu pasti... ada beberapa kenangan berdarah yang tidak akan pernah bisa benar-benar ia lepaskan dari sisa hidupnya.
Bersambung...