Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Devina tiba kembali di gedung pernikahan yang kini sudah mulai dibersihkan, Eliano langsung berlari menghampirinya.
"Devina! Kamu dari mana saja? Kamu tidak apa-apa, kan?" sapa Eliano sambil menggenggam kedua bahu Devina. Tatapannya begitu lembut, penuh perhatian, sangat berbeda dengan tatapan tajam milik Abian.
Devina melepaskan genggaman itu, lalu tersenyum tipis berusaha terlihat kuat. "Aku baik-baik saja, El."
"Bagaimana kalau kita segera melanjutkan pernikahan kita?" pinta Eliano dengan penuh harap.
Devina terdiam sejenak. Dia memang sangat ingin menikah dengan Eliano. Tapi untuk saat ini kondisi perusahaannya lebih urgent. "Maafkan aku, El. Kita harus menunda pernikahan kita. Perusahaan Buana sedang dalam masalah besar, kemungkinan sebentar lagi akan hancur."
Robert setuju dengan apa yang dikatakan oleh Devina. "Apa yang dikatakan Devina benar. Kita harus menunda dulu rencana pernikahan kalian. Semua mitra bisnis kabur. Kami butuh dana yang sangat besar dan cepat, kalau tidak, kemungkinan besok aset perusahaan akan disita bank."
Eliano hanya mengangguk. Dia terpaksa harus mengikuti saran dari Devina dan calon mertuanya itu. Jika perusahaan Buana hancur, dia sendiri yang akan rugi.
Devina berkata dengan penuh tekad. "Aku tidak akan membiarkan perusahaan kita hancur. Aku akan mencarikan jalan keluar. Aku akan menemui Pak Andre, pemilik Prima Group. Dia sudah lama ingin bekerja sama dengan kita. Aku yakin dia pasti mau membantu kita lewat jalur investasi."
"Aku juga akan membantu semampuku," sahut Eliano.
Jihan yang sedari tadi menyimak, dia segera bertanya dengan nada penasaran. "Tapi siapa yang tega melakukan ini semua?"
Devina enggan menjawab, "Aku lelah. Aku butuh waktu untuk beristirahat sebentar."
...****************...
Sore itu juga, Devina langsung bergerak. Dia menemui satu persatu pengusaha besar yang selama ini berhubungan baik dengan ayahnya. Namun, hasilnya selalu sama.
Entah mengapa, mereka langsung menolak dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.
Padahal, beberapa bulan yang lalu, mereka berebut ingin menjalin kerja sama dengan perusahaannya.
Devina menjadi putus asa. Sudah dua belas pengusaha dia temui, tapi semuanya menolak dengan mentah-mentah. Bahkan Pak Andre yang dulu sangat antusias ingin bekerja sama, kini malah menolak bertemu dengannya.
"Kenapa sikap mereka tiba-tiba berubah drastis?" gumam Devina dengan nada putus asa. Dia merasa sangat frustrasi karena tidak tahu pengusaha mana lagi yang harus dia temui untuk diajak bekerja sama sebagai investor.
Seketika pikirannya langsung tertuju pada Abian.
Apakah mungkin... mereka menolak bekerjasama sama dengannya karena ada campur tangan dari pria arogan itu?
Hanya dia satu-satunya orang yang mampu melakukannya.
"Abian, kamu pikir aku akan menyerah dan lari kepadamu? Sampai kapanpun aku gak akan pernah pergi menemuimu lagi dan menerima lamaranmu," ucap Devina dengan penuh percaya diri.
...***************...
Sementara itu, di kantor utama Pratama Group.
"Sesuai perintah dari Anda, mereka sudah menolak bekerjasama dengan Buana Group," lapor Asisten Zayn.
Abian hanya tersenyum dingin. "Bagus."
Asisten Zayn bertanya dengan ragu-ragu. "Apakah itu artinya Anda akan menjadi investor di perusahaan itu?"
"Benar," jawab Abian dengan tegas. "Karena itu, kamu harus segera mempersiapkan semua berkas, dokumen perjanjian, dan segala sesuatu yang diperlukan."
Asisten Zayn mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Setelah Asisten Zayn pergi, Abian bergumam dengan pelan. "Aku memang belum punya bukti atas kecurigaanku. Tapi suatu saat nanti kamu akan berterimakasih padaku, Devina."
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡