NovelToon NovelToon
POSESIF

POSESIF

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga / LGBTQ
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Na_1411

Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.

"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"

suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.

"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."

kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.

"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."

Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Steve.

“Kamu tidak usah mengantarku, aku akan ke bawah sendiri. Sepertinya taksi pesananku juga sudah datang di bawah.” Dias mengecup pipi Leon singkat, dia merasa enggan jika Leon mengantarkan sampai lantai bawah.

“Baiklah, aku mengantarkan mu sampai sini enggak apa apa kan…?” Leon menatap dias dengan tatapan rasa bersalah.

“It doesn't matter, kamu masuk lah. Sudah malam juga, aku pulang dulu ya…” dias kembali memberikan kecupan singkat di bibir Leon.

Leon menatap kepergian dias yang akan masuk kedalam kotak besi yang terlihat terbuka, dia melambaikan tangannya mengantarkan kepergian dias. Leon segera berbalik arah, dia segera berjalan cepat menuju ke dalam apartemennya.

Langkah Leon seakan terasa ringan, dia segera masuk kedalam apartemennya. Langkahnya terarah menuju ke pintu kamar Steve, perlahan namun pasti tangannya terulur menekan handel pintu kamar Steve.

Senyuman Leon mengembang sempurna, mengetahui jika pintu kamar Steve tidak terkunci. Leon melangkahkan satu kakinya masuk kedalam kamar Steve, pandangan mata nya langsung tertuju ke arah dimana koper besar milik Steve berdiri tegak di samping tempat tidur.

“Apa yang akan kamu lakukan Steve, apa kamu akan pergi lagi meninggalkanku..?” Gumam Leon sambil mendekati Steve yang tampak tertidur pulas.

Leon menatap Steve tajam, dia tidak sabar menunggu penjelasan Steve. Dengan kekesalan yang dia pendam, dengan segera Leon menarik selimut yang Steve pakai. Tampak Steve yang menggenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek.

Leon meneguk salivanya kasar, saat melihat paha putih dan mulus milik Steve yang tampak menggoda bagi Leon.

“Shit…” gumam Steve segera menutup kembali tubuh Steve dengan selimut.

Sedangkan Steve yang merasa terganggu segera membuka matanya perlahan, pandangan Steve terasa kabur, tapi dia dapat melihat samar jika Leon saat ini berada di dalam kamarnya.

“Kak Leon…” lirih Steve sambil mengucek matanya, guna memastikan jika benar Leon yang berada di dalam kamarnya.

“Ehem… iya ini aku.” Jawab Leon berusah menenangkan dirinya.

“Bagaimana bisa kamu masuk ke dalam kamarku, Hmm… bukankah tadi aku sudah mengunci pintu…?” Tanya Steve dengan suara paraunya.

Leon tersenyum seakan mengejek dengan kebingungan Steve, perlahan Leon mendekati Steve dan duduk tepat di pinggir tempat tidur Steve.

“Jika pintu mu di kunci, kenapa aku bisa membukanya dengan mudah. Dan…” Leon menghentikan ucapannya, tatapan matanya terarah menatap dimana koper milik Steve.

Steve yang menatap di mana tatapan mata Leon terfokus, dia melihat jika Leon tengah menatap koper miliknya.

“Kak Leon, bisa aku jelaskan. Ini… anu.. Kak…” suara Steve terdengar terbata, seakan dia bingung dengan jawaban yang akan dia berikan saat Leon bertanya.

“Apa kamu akan pergi dari sini…?” Ucap Leon masih menatap tajam koper milik Steve.

Steve terdiam, rasanya mulutnya seakan terkunci saat akan menjawab pertanyaan Leon. Steve meraup wajahnya kasar, seakan dia tahu apa yang akan selanjutnya terjadi jika dia jujur dengan Leon.

“Kak… dengarkan aku…!!” Steve memberanikan diri menatap Leon yang terlihat kesal, terlihat dari raut wajahnya yang tiba tiba berubah masam.

“Kamu tidak betah tinggal denganku…? oh… atau kamu kesal karena aku akan bertunangan dengan dias Steve…!! Tapi tidak dengan cara kamu pergi dari sini, sampai kamu…! ah… sudahlah, percuma aku panjang lebar menginginkan kamu mengerti akan kondisiku. Mulai saat ini aku membebaskan kamu, apa yang akan kamu lakukan, apa yang akan kamu perbuat. Aku tidak akan menghalangi kamu, toh sebentar lagi aku juga akan menikah dengan dias. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu, aku juga tidak akan menghalangi kepergianmu dari sini.”

Leon segera berdiri, Steve yang bingung dengan ucapan Leon yang terdengar marah, hanya bisa terdiam. Seakan Leon tidak memberi kesempatan Steve untuk menjelaskan semuanya, helaan nafas Steve terdengar kesal, melihat kepergian Leon dari kamar Steve.

“Bisa nggak sih kamu tidak marah marah dan memberi kesempatan aku buat menjelaskan semuanya. Tapi semua percuma, kamu sebentar lagi menikah dengan kak dias. Aku tidak ingin menghalangi pernikahan kalian nanti, jadi lebih baik besok aku pergi dari sini.” Batin Steve menatap pintu yang tertutup rapat.

Pagi harinya, seperti biasa Leon akan berangkat kerja. Tapi pagi ini sangat berbeda, Steve yang masih kesal dengan Leon masih setia berada di dalam kamarnya. Terlihat dari pintu kamar yang masih tertutup rapat, sedangkan Leon yang masih kesal dengan Steve membiarkan Steve larut dengan mimpinya, dia sengaja tidak membangunkan Steve.

“Lebih baik aku segera berangkat.” Lirih Leon segera pergi meninggalkan apartemen.

Steve yang sudah membereskan kopernya segera menariknya keluar kamar, sepucuk surat sengaja dia tinggalkan untuk Leon di atas meja. Steve yang tahu dan hapal watak Leon memilih tidak berpamitan dengan laki laki tampan yang selama tiga tahun ini selalu ada bersamanya.

“Maaf kak, aku tidak berpamitan denganmu. Karena aku yakin jika aku berpamitan denganmu, pasti kamu tidak akan membiarkan ku pergi.” Batin Steve sambil menarik kopernya keluar kamar.

Bunyi suara roda berputar mengisi kesunyian di dalam lorong apartemen, Steve berjalan dengan mengeret kopernya perlahan. Taksi pesanan Steve sudah menunggu di bawah, segera Steve meminta sopir taksi memasukan koper miliknya kedalam bagasi mobil.

Tatapan mata Steve terlihat sedih saat dia melihat gedung apartemen yang selama tiga tahun ini menjadi tempatnya pulang, Steve menghela nafasnya. Dia merasakan kesedihan yang teramat sangat, meninggalkan negara yang selama ini menjadi tempatnya menuntut ilmu, dan menemukan seseorang yang selalu ada buat dia.

Pesawat tujuan Singapura kini telah terbang membelah awan, dengan membawa Steve dengan kesedihannya.

Sedangkan Leon yang tampak gelisah tampak tidak fokus mengerjakan seluruh pekerjaannya, entah kenapa..? rasanya Leon seakan kehilangan sesuatu yang dia sendiri tidka tahu itu apa, Leon menatap layar monitor dengan beberapa huruf yang tampak tertata rapi.

Pandangan mata Leon seakan kosong, dia tampak tidak fokus. Mita, sekertaris Leon tampak bingung melihat atasannya.

“Pak Leon… pak…” panggil Mita pelan memanggil Leon.

Merasakan panggilan dari sampingnya, Leon segera menatap Mita.

“Kamu memanggilku…?” Tanya Leon.

“Iya pak, saya tadi melihat bapak tampak tidak fokus. Jika ada masalah tentang laporan yang bapak terima tadi, anda bisa menanyakan langsung dengan saya.”

Sebenarnya mita tahu jika yang ada di pikiran atasannya bukan tentang pekerjaan, mungkin Leon sedang mempunyai masalah pribadi dengan keluarganya atau dengan calon istrinya. Mita hanya ingin agar Leon kembali mengalihkan perhatiannya dengan tumpukan berkas di depannya.

“Oh… tidak mit, saya hanya teringat jika handphone milik saya ketinggalan di apartemen.” Dalih Leon yang membuat Mita mengernyitkan kedua matanya.

“Handphone…? Bukannya yang di pegang pak Leon handphone miliknya.” Batin Mita menatap Leon yang sepertinya akan pergi meninggalkan kantor.

Leon melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar, dia memutuskan akan pulang ke rumah tanpa mengatakan apapun dengan Mita. Sedang Mita yang melihat Leon pergi berusaha menegurnya, tapi suara Mita kalah dengan langkah kaki Leon.

“Pak Leon…!! Pak….!!” Seru Mita memanggil Leon yang tidak di indahkan oleh Leon.

1
Vanni Sr
deemi???? ini crta Gay?? kek gni lolosss?? astgaaa bner² gila
Reichan Muhammad: mengerikan,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!