"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
"Nanti malam jangan lupa yaa, pada dateng ke acara pesta papih gue," tutur Bianca, di saat dirinya tengah berjalan keluar melewati lorong kampus bersama teman-temannya termasuk Rangga yang tidak ada.
"Eh iyaa ... Tapi tumben-tumbenan loh, si Rangga dingin itu mau pergi ke acara-acara pesta seperti ini," ucap Novi dengan santai, sambil memakan cemilan yang ia bawa di tangannya. Kraaauks ..! "Iyaa-ya? Bener juga!" sambung Restu yang baru menyadarinya.
"Yaa apalagi atuh guys, yaa pasti karena gue lah~" ucap Bianca dengan nada centilnya. Tidak lupa ia seraya sedikit menyisir rambutnya sendiri dengan jari sambil tersenyum berbunga-bunga. Tatapan teman-teman Bianca beralih ketika mendengar suara Wati yang tiba-tiba berkata.
"Atau ... Apa karena Rangga mau ngeliat pembantu Bianca yang namanya Anya! So ... Waktu kemaren dia nggak sengaja nolongin Anya, tatapan Rangga kayak beda gituh."
Ekspresi dari Bianca tiba-tiba berubah. Ketika baru saja mendengar nama Anya lagi dan lagi. Novi yang mengerti kondisi, menyenggol lengan Wati agar tidak berbicara asal tentang Anya di depannya. Dug! "Ops!" sambung Wati pelan, seraya mengatupkan mulutnya segera ketika melirik Bianca yang sudah kesal.
Nafas Bianca tertahan di dadanya, seperti ingin berteriak namun tidak bisa karena masih bersama teman-temannya. Mengingat kembali moment Rangga menatap Anya dari dekat, membuatnya menahan kekesalan di hatinya. Namun Bianca berhasil menyembunyikannya.
"Nggak mungkin lah guys ... Masa tipe Rangga, anak kampung kaya gitu," kata Bianca berusaha bersikap tenang, walaupun kini terlihat senyumnya menggantung menutupi rasa kesalnya dengan tawa pelan.
"Iyaa juga sih." Novi dan Wati terkekeh pelan. Mengimbangi mood Bianca yang mereka tahu sedang kesal sekarang. Mereka berdua hanya bisa saling pandang kikuk tanpa ada lagi perkataan sampai pak Tono teihat sudah menunggu Bianca di pinggir jalan.
"Gue duluan yaa ... Nanti malem inget! Jangan lupa, Bye~" kata Bianca, berjalan lebih dulu meninggalkan mereka dan masuk kedalam mobil yang di buka pintunya oleh pak Tono. "Bye~" balas mereka bertiga, memberikan senyum sebelum Bianca menutup kaca jendela mobilnya dan berlalu pergi melaju.
Buurm ...
"Lu kenapa, sih Wati ..." ucap Novi menyenggol lagi lengan temannya, menekan kan ucapannya dengan jelas agar Wati mengerti kondisi lain kali. "Kenapa lu ngomongin Anya di depan dia ... Udah tau Bianca nggak suka sama tuh pembantu."
"Yaa, maaf ... Namanya orang nggak tahu. Lagian toh, emang itu faktanya," ucap Wati, masih merasa benar dengan ucapannya barusan dan tidak ingin merubah pernyataannya. Novi yang melihat ekspresi temannya yang lemot, hanya bisa menghembuskan nafas pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Huu ..."
Aaaaa~ !!!
Teriak Bianca di dalam mobil. Tono yang sedang fokus menyetir dan mendengarnya kaget lalu bertanya walau sebenernya merasa ragu. Ia meluapkan kekesalan nya yang tadi Bianca tahan saat ini.
"A-ada apa Non ...?" ucap Tono bertanya, dengan kedua pundak yang sebelumnya terangkat sedikit, dengan nada bicaranya yang tiba-tiba menjadi gugup karena takut. Bianca langsung menatap tajam wajah Tono yang berada di kaca sepion tengah dalam mobil.
Karena tidak mendapat jawaban apa-apa dari Bianca yang melihatnya penuh perasaan kesal, Tono kembali fokus menyetir dan mengatupkan mulutnya sendiri rapat-rapat.
"Kenapa harus dia lagi, sih?! Yang bikin gue jadi kesel?! ... Emangnya anak kampung kaya dia pantes bersaing sama gue?" oceh Bianca di dalam hatinya sendiri, dengan wajahnya yang serius lalu berganti tawa yang sempat membuat Tono merinding sebentar.
"Ha. Ha. Ha. Yang bener aja Anya!!!" sambungnya, masih merasa kesal dan bicara sendiri di dalam hati. Bianca kini menyandarkan punggungnya. Memegang kening dan mulai menutupi wajah dengan lengannya karena terlalu lelah.
Menjelang sore seperti ini, 80% para pekerja yang mendekorasi rumah mewah keluarga Adiwijaya hampir selesai. Kini rumah itu terlihat benar-benar elegan dengan konsep nuansa konglomerat. Bianca yang terlihat baru memasuki rumahnya secara kebetulan melihat Anya yang sedang membawa beberapa hidangan makanan dengan piring yang cantik.
Merasa mendapatkan moment, Bianca dengan cepat berjalan mendekati Anya dan sengaja menabrakan dirinya dengan cepat. Ia melakukan itu karena masih merasakan kesal— melihat Anya. Bruk! Keseimbangan Anya goyang, membuat piring yang berisi lauknya harus pecah berserakan di lantai. Mengotori karpet permadani yang baru saja di pasang.
Praaang!!!
Semua mata menatap Anya dan Bianca saat ini. Anya benar-benar tidak tahu kalau Bianca yang baru saja hadir tiba-tiba menabrak dan menyenggol membuatnya hilang keseimbangan. Mata Anya seperi ingin keluar karena kaget, dada nya terasa sesak. Bukan karena sakit, melainkan merasa sangat bingung harus melakukan apa ketika melihat piring cantik mahal yang baru saja ia pegang pecah. Juga karpet merah yang sekarang menjadi kotor.
"Astaga ... Non Bianca?" ucap Anya, wajah polosnya berubah panik ketika melihat Bianca kini di hadapannya. Lalu menoleh menatap piring yang pecah di lantai. Anya dengan cepat bergegas jongkok. Membersihkan dan memungut pecahan-pecahan piring itu. Anya merasa sedikit keanehan dan curiga kalau Bianca sengaja menabraknya.
"Lo bisa kerja nggak sih?! ... Punya mata tuh di pake anak kampung!!!" bentak Bianca, menatap Anya dengan nyalang berdiri angkuh sebagai majikannya. Emosi kesal Bianca sedikit terbayarkan. Ketika melihat Anya harus di permalukan dan dilihat orang banyak seperti sekarang.
Bianca berkata seperti itu dengan fasih, seolah merasa benar dan tidak merasa bersalah sedikit pun. Walau faktanya, ia sengaja melakukan hal ini karena sedang membenci Anya dan kesal.
"Yaa ampun ... Kenapa malah dia yang marah? Padahal, jelas-jelas aku merasa dia yang nabrak," gumam Anya dalam hati, ketika berhenti sebentar saat memungut pecahan piring mahal. Anya hanya bisa pasrah terus menunduk. Seakan di tuntut wajib menerima kesalahan yang dia tidak lakukan.
"Maaf Non ..." ucap Anya pelan menoleh ke Bianca sekilas, karena sibuk membereskan pecahan kaca. Tanpa sadar, saking ingin cepat-cepat keluar dari situasi ini dan pergi dari hadapan Bianca, jari Anya tergores pecahan piring itu dan berdarah sedikit.
Aw!
"Sengaja kan lo ... Pengen ngerusak acara papih gue?!" bentak Bianca, mencondongkan sedikit badannya agar Anya lebih mendengar suaranya yang lebih keras dari sebelumnya. Anya menatap Bianca yang terus menuduhnya tanpa alasan yang jelas. Menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih terus berjongkok di depan Bianca.
"Alaah! Pake alesan playing victim segala ... Norak! Dasar anak kampung!!!" umpat Bianca, terus bicara tanpa memikirkan perasaan Anya yang masih menahan darah di jarinya yang terus keluar.
Selama merasa senang dan melihat Anya menderita, bagi Bianca itu cukup. Seolah penderitaan Anya adalah hiburan buatnya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" kata Adiwijaya, yang baru saja pulang memasuki rumah dan berjalan ke arah Bianca dan Anya.
Mendengar suara papihnya, Bianca sedikit syok kaget. Menoleh ke arah papihnya yang sudah berada di sebelahnya berdiri tegas.
"Ini pih ... Anya nggak sengaja menumpahkan makanan dan membuat piringnya pecah. Jadi ... Karpet merah yang baru di pasang juga jadi ikut kotor," ujar Bianca memberitahu. Nada suaranya pelan dan terdengar ramah ingin membantu Anya. Berbeda dari sebelumnya.
Anya menoleh dan menatap Bianca yang ternyata sama persis dengan ibunya, ia mempunyai seribu wajah yang di sembunyikan. Sedangkan Adi, melihat sekelilingnya yang berantakan dan melihat Anya yang masih terduduk di lantai memegangi tangannya sendiri karena luka
"Bibi! ... Bi Inah," panggil Adi, tidak lama Bi Inah datang menghampiri majikannya dengan buru-buru.
"Iyaa Tuan ..." kata Bi Inah, bersiap menunggu segala perintah yang Adi ingin. Bi Inah berdiri di samping Anya dengan menggenggam kedua tangannya kebawah.
"Tolong kamu obati luka Anya ... Dan suruh nanti para pekerja itu merapihkan kembali karpet merah ini, buat agar terlihat lebih bersih saja," kata Adi, mengantongkan kedua lengannya dengan tenang, dan menoleh ke arah Bianca.
"Baik Tuan." Bi Inah segera langsung membopong Anya, membantunya berdiri untuk memberikan pertolongan kepada jarinya yang luka. Di susul oleh para pekerja yang terlihat kembali merapihkan area itu.
"Ish ... Apaan sih papih!! Kok dia sama sekali nggak marah sama Anya?!" gerutu Bianca dalam hatinya, memasang ekspresi kesalnya ketika melamun.
"Dan kamu Bianca," kata Adiwijaya dengan tiba-tiba membuat Bianca tersadar dari lamunannya. "Papih harap, tidak ada lagi kejadian seperti ini nanti malam. Karena beberapa wartawan akan hadir sebagai tamu papih."
"Iyaa pih ..." sahut Bianca, terlihat sangat patuh akan perintah dan setiap perkataan yang keluar dari mulut sang ayah yang berlalu pergi meninggalkannya.
Ketika Adiwijaya telah pergi. "Lihat aja Anya ... Gue bakal ngasih kejutan yang nggak pernah lo bayangin dalam hidup lo ..." gumam Bianca dalam hati, dengan senyum smirk jahat yang menggantung menghiasi wajahnya.