NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Arlan menghabiskan sisa sore itu di dalam ruang kerjanya yang terkunci rapat. Ia tidak menyentuh makanan yang dibawakan Bi Minah, pikirannya sepenuhnya tertuju pada layar monitor. Ia harus bergerak lebih cepat dari Sarah. Wanita itu licik; dia pasti akan mencari celah hukum dengan menyerang reputasi Maya sebagai dalang kecelakaan tiga tahun lalu sebuah narasi yang justru Arlan sendiri yang menyuburkannya selama ini.

"Bodoh," desis Arlan pada dirinya sendiri sambil memukul meja kerja. "Aku memberikan senjata pada musuhku untuk menghancurkan hidupku sendiri."

Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang selama ini bekerja di balik bayang-bayang perusahaan Dirgantara.

"Kumpulkan semua bukti transaksi gelap Sarah di yayasan. Dan satu lagi..." Arlan menjeda, matanya tertuju pada amplop cokelat di laci yang sedikit terbuka. "Cari saksi mata yang masih hidup dari bengkel tempat mobil Sarah diperbaiki satu tahun lalu. Aku ingin pernyataan tertulis yang dilegalisir. Lakukan sekarang."

Malam kembali turun menyelimuti rumah Dirgantara. Suasananya jauh dari kata tenang. Maya sedang membacakan buku cerita untuk Dion di kamar, berusaha mengalihkan perhatian bocah itu dari trauma pagi tadi. Namun, ketenangan mereka terganggu saat Bi Minah mengetuk pintu dengan panik.

"Nyonya... Nyonya Maya! Di depan ada orang-orang berseragam," lapor Bi Minah dengan suara bergetar.

Maya bangkit, jantungnya berdegup kencang. Ia segera keluar menuju balkon lantai dua dan melihat dua mobil polisi serta seorang pria perlente yang ia kenali sebagai pengacara pribadi Sarah. Di bawah sana, Arlan sudah berdiri di teras dengan wajah setegas batu karang.

"Kami memiliki surat perintah untuk menjemput paksa anak atas nama Dion Dirgantara berdasarkan laporan darurat penelantaran dan lingkungan yang tidak sehat bagi anak," suara sang pengacara terdengar nyaring melalui pengeras suara kecil.

Arlan tertawa dingin, tangannya masuk ke saku jas. "Surat perintah? Di jam seperti ini? Kau pikir aku tidak tahu siapa yang kau suap untuk mendapatkan kertas sampah itu?"

"Tuan Arlan, jangan mempersulit keadaan. Klien kami, Nyonya Sarah, memiliki hak biologis yang sah. Jika Anda melawan, kami akan membawa kasus ini sebagai penculikan," balas sang pengacara.

Ketegangan di halaman depan rumah Dirgantara semakin memuncak. Para petugas mulai melangkah maju, sementara Arlan tetap berdiri kokoh seperti tembok yang tak tergoyahkan. Di balkon, Maya meremas pagar besi dengan buku jari yang memutih, jantungnya serasa berhenti berdetak setiap kali melihat para seragam itu mendekat ke pintu utama.

Tepat saat suasana hampir pecah menjadi keributan fisik, sebuah sedan hitam mewah berhenti mendadak di belakang mobil polisi. Seorang pria paruh baya dengan tas kerja kulit dan aura wibawa yang tenang keluar dari mobil. Ia adalah Yudha, pengacara senior keluarga Dirgantara yang telah melayani mereka selama puluhan tahun.

"Tahan langkah kalian!" seru Yudha sembari mengangkat beberapa lembar dokumen.

Ia berjalan cepat menuju kerumunan, melewati garis polisi seolah mereka tidak ada. Yudha berdiri di samping Arlan, memberikan anggukan kecil yang menenangkan sebelum menatap tajam ke arah pengacara Sarah.

"Rekan sejawat, Anda membawa surat perintah di jam istirahat anak di bawah umur. Secara etika dan prosedur perlindungan anak, ini adalah pelanggaran berat terhadap psikologis subjek," ujar Yudha dengan suara tenang namun berwibawa.

"Kami memiliki izin darurat!" bantah pengacara Sarah sengit.

"Darurat?" Yudha tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah surat keterangan medis. "Dion Dirgantara saat ini dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil. Ia mengalami trauma psikis akibat kejadian pagi tadi dan sedang dalam pemantauan dokter pribadi keluarga. Memindahkannya secara paksa dalam kondisi malam hari dan kesehatan yang menurun akan membuat kalian dan klien kalian bertanggung jawab penuh secara pidana jika terjadi sesuatu pada anak ini."

Arlan menimpali dengan nada yang lebih tajam, "Dion sedang demam tinggi. Jika kalian ingin membawanya sekarang, kalian harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."

Pengacara Sarah tampak ragu. Ia menoleh ke arah polisi, yang kini mulai saling berbisik. Menjemput paksa anak yang sedang sakit di malam hari adalah risiko besar bagi reputasi institusi mereka.

Setelah perdebatan sengit selama lima belas menit, petugas polisi akhirnya menghela napas panjang. "Baiklah. Demi kepentingan terbaik bagi anak, kami akan menunda eksekusi ini. Tapi besok pagi pukul sembilan, kami akan kembali dengan tim dari perlindungan anak."

Pengacara Sarah menunjuk Arlan dengan gusar. "Jangan pikir Anda menang, Tuan Dirgantara. Besok pagi, tidak ada lagi alasan medis atau waktu. Kami akan membawa Dion, dan Anda tidak akan bisa menghentikan hukum."

"Kita lihat saja siapa yang akan bertekuk lutut besok pagi," balas Arlan dingin.

Saat mobil-mobil itu mulai meninggalkan halaman, Arlan mengembuskan napas panjang. Ia segera berbalik dan mendongak ke balkon, menatap Maya yang masih berdiri di sana dengan wajah pucat. Arlan memberikan isyarat agar Maya masuk ke dalam.

Di dalam rumah, Arlan menghampiri Yudha. "Terima kasih, Yud. Berapa waktu yang kita punya?"

"Hanya sampai besok pagi, Arlan," jawab Yudha serius. "Sarah benar-benar menggunakan kartu hak biologisnya. Jika kita tidak punya bukti yang jauh lebih kuat dari sekadar penggelapan dana untuk menjatuhkannya sebagai ibu kandung, hakim mungkin akan berpihak padanya besok."

Arlan mengepalkan tinjunya. Ia melirik ke arah ruang kerjanya. Waktunya sudah habis. Ia harus menggunakan bukti kecelakaan itu, meski itu berarti ia harus kehilangan kepercayaan Maya selamanya. "Aku punya buktinya, Yud. Ikut ke ruanganku sekarang. Malam ini, kita akan menghancurkan Sarah untuk selamanya."

Arlan dan Yudha melangkah cepat menuju ruang kerja, meninggalkan keheningan mencekam di ruang tengah. Tanpa mereka sadari, Maya berdiri di balik bayangan pilar tangga, mendengarkan setiap kata dengan jantung yang berdegup kencang. Kalimat Arlan tentang "bukti kecelakaan" terus terngiang, memicu rasa ingin tahu sekaligus ketakutan yang luar biasa di benak Maya.

Di dalam ruang kerja, Arlan segera mengunci pintu. Ia mengambil kunci kecil dari saku jasnya dan membuka laci jati yang paling bawah. Amplop cokelat itu kini berada di atas meja, di bawah sorot lampu meja yang tajam.

"Ini apa, Arlan?" tanya Yudha sambil memakai kacamata bacanya.

"Ini adalah jawaban mengapa adikku meninggal, dan mengapa selama satu tahun ini aku menjadi pria paling bodoh di dunia," suara Arlan bergetar karena amarah yang tertahan.

Ia mengeluarkan salinan rekaman CCTV dari sebuah persimpangan terpencil dan beberapa foto detail kerusakan mobil hitam milik Sarah. Yudha tertegun saat membaca laporan teknis dari bengkel yang baru saja didapatkan Arlan.

Ia mengeluarkan salinan rekaman CCTV dari sebuah persimpangan terpencil dan beberapa foto detail kerusakan mobil hitam milik Sarah. Yudha tertegun saat membaca laporan teknis dari bengkel yang baru saja didapatkan Arlan.

"Mobil Sarah menabrak mobil adikmu dari samping, menyebabkannya hilang kendali sebelum akhirnya mobil Maya terlibat secara tidak sengaja. Sarah sengaja menghilangkan jejak, dan dia membiarkan Maya yang menanggung semua kebencianku," Arlan menjelaskan dengan nada getir. "Gunakan ini, Yud. Bukan hanya untuk membatalkan hak asuh, tapi seret dia ke pengadilan pidana besok pagi."

Yudha mengangguk paham. "Ini lebih dari cukup. Dengan bukti ini, Sarah akan dianggap tidak layak secara moral dan hukum untuk mengasuh anak, bahkan dia bisa langsung ditahan."

Sementara itu, di luar ruangan, Maya tidak bisa lagi menahan diri. Ia merasa ada sesuatu yang besar yang selama ini disembunyikan darinya. Saat Arlan dan Yudha sibuk menyusun strategi, Maya menyelinap kembali ke kamar Dion. Namun, pikirannya tidak bisa tenang.

Ia teringat kunci cadangan ruang kerja yang disimpan Bi Minah di dapur untuk keadaan darurat. Dengan langkah seribu, Maya menuju dapur, mengambil kunci itu, dan kembali ke depan pintu ruang kerja tepat saat ia mendengar langkah kaki Arlan dan Yudha mendekat ke arah pintu untuk keluar.

Maya bersembunyi di balik lemari pajangan besar saat pintu terbuka. Arlan mengantar Yudha sampai ke pintu depan. Begitu suasana sepi, Maya segera masuk ke dalam ruang kerja yang belum sempat dikunci kembali oleh Arlan.

Tangannya gemetar saat menyentuh dokumen yang masih berserakan di atas meja. Matanya tertuju pada foto mobil Sarah yang ringsek. Ia membaca baris demi baris laporan investigasi itu.

"Jadi... selama ini..." suara Maya tercekat. Air mata jatuh membasahi kertas di tangannya. "Dia tahu. Mas Arlan sudah tahu aku tidak bersalah, tapi dia tetap membiarkan aku hidup dalam neraka tuduhannya?"

Rasa sakitnya bukan lagi karena tuduhan Sarah, melainkan karena pengkhianatan Arlan. Pria yang semalam memeluknya dengan hangat, pria yang memintanya untuk percaya, ternyata adalah orang yang memegang kunci kebebasannya namun memilih untuk tetap membiarkannya terbelenggu demi egonya sendiri.

"Maya?"

Maya tersentak hebat. Ia berbalik dan menemukan Arlan berdiri di ambang pintu. Wajah pria itu seketika pucat melihat apa yang ada di tangan istrinya.

"Maya, aku bisa jelaskan... aku baru saja mendapatkan bukti itu sepenuhnya...."

" Jadi selama ini kamu tahu kebenarannya,dan kamu diam saja? bahkan kamu menghinaku, memperlakukan ku seperti pelayan di rumah ku sendiri,bahkan kamu membiarkan Sarah menginjak harga diriku,menghinaku di depan semua orang ."

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!