NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: TAMU DARI MASA LALU

TAMU DARI MASA LALU

​Pintu kayu jati berukir mewah di penthouse apartemen Amira terbuka perlahan setelah ketukan tiga kali yang konstan. Amira meletakkan cangkir susu hangatnya di atas meja kaca, tangannya reflek kembali mengusap perutnya yang masih rata. Ia mengira itu adalah Pak Sanusi yang datang membawa kabar lanjutan dari polres.

​Namun, begitu sosok di balik pintu melangkah masuk dibimbing oleh asisten apartemen, napas Amira mendadak tertahan di tenggorokan.

​Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat rapi. Gurat-gurat kedewasaan dan wibawa terpancar dari wajahnya yang tegas, dengan sedikit uban yang mulai menyembul di pelipis. Matanya tajam, namun langsung melembut begitu menangkap sosok Amira yang duduk di kursi goyang.

​"A-Om Harlan?" bisik Amira, suaranya bergetar.

​Harlan Wijaya. Beliau adalah sahabat karib sekaligus rekan bisnis almarhum ayahnya, Broto Shinta, yang mendadak memutus kontrak kerja sama dan pindah ke Singapura tepat setahun sebelum ayahnya meninggal. Selama ini, Amira mengira Harlan telah mengkhianati ayahnya di masa-masa sulit Snack Pratama merintis pasar.

​Harlan tersenyum tipis, melepas kacamata berbingkai peraknya dan melangkah mendekat dengan langkah yang penuh penyesalan. "Lama tidak berjumpa, Amira. Terakhir kali Om melihatmu, kamu masih mengenakan kebaya pengantin... bersanding dengan laki-laki yang salah."

​Amira berdiri, membetulkan letak blazer hijau zamrudnya. "Om Harlan... kenapa Om ada di sini? Dan bagaimana Om bisa tahu tempat ini?"

​"Pak Sanusi yang menghubungiku begitu kamu memutuskan untuk mengambil kembali takhtamu, Nduk," ujar Harlan, menggunakan panggilan akrab masa kecil Amira. Ia duduk di sofa kulit yang berhadapan langsung dengan pemandangan cakrawala Jakarta dari lantai tiga puluh lima. "Dan Om datang ke sini untuk meluruskan sejarah yang selama ini sengaja ditutupi oleh keluarga Pratama dari telingamu."

​Amira mengernyitkan dahi, rasa penasarannya perlahan mengalahkan rasa terkejutnya. Ia duduk kembali, menatap Harlan dengan saksama. "Sejarah apa, Om? Bukankah dulu Om yang meninggalkan Ayah saat pabrik Snack Pratama kekurangan modal awal?"

​Harlan tertawa getir, sebuah tawa penuh luka masa lalu. Ia menggelengkan kepala dengan tegas. "Itu cerita versi Ratna dan Aris, bukan? Mereka memposisikan diri sebagai pahlawan yang menyelamatkan bisnis ayahmu dengan suntikan modal keluarga mereka."

​Harlan memajukan tubuhnya, menatap Amira dengan intensitas yang mendalam. "Faktanya adalah, ayahmu tidak pernah kekurangan modal, Amira. Keluarga Pratama-lah yang memeras ayahmu. Tiga belas tahun lalu, mendiang ayah Aris terlibat kasus penggelapan dana koperasi daerah dalam jumlah raksasa. Ayahmu, karena rasa solider sebagai teman lama, menjaminkan salah satu aset tanahnya agar ayah Aris tidak membusuk di penjara."

​Amira membelalakkan mata. Informasi ini sama sekali tidak pernah ada di dalam lembaran arsip keluarga yang ia ketahui.

​"Tapi apa balasan mereka?" suara Harlan merendah, terselip nada geram yang tertahan. "Ratna, ibu Aris, diam-diam menggunakan dokumen jaminan itu untuk membalik nama kepemilikan saham awal rantai pasok hilir kita. Saat ayahmu mengetahui kelicikan itu, beliau terkena serangan jantung pertamanya. Saya mencoba mengintervensi secara hukum, namun Ratna mengancam akan menghancurkan nama baik ayahmu di media jika saya tidak mundur dan keluar dari Indonesia."

​Harlan menarik sebuah map kulit hitam dari tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja kaca, tepat di samping cangkir susu Amira.

​"Ayahmu menerimamu menikah dengan Aris bukan karena beliau menyukai pemuda itu, Amira. Beliau merestuinya karena Aris berjanji di depan saksi hukum—di depan saya dan Pak Sanusi—bahwa pernikahan itu adalah bentuk pengembalian seluruh aset Shinta yang pernah dicuri ibunya secara bertahap melalui sistem saham bersama. Tapi ternyata... buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aris justru melanjutkan kelicikan ibunya dengan bantuan sepupumu, Lista."

​Amira menyentuh permukaan map kulit hitam itu dengan jemari yang gemetar. Di dalamnya, terdapat surat perjanjian pra-nikah rahasia yang ditandatangani oleh Aris di atas materai kuno, sebuah dokumen yang menyatakan jika terjadi perselingkuhan atau kekerasan dalam rumah tangga, maka seluruh kepemilikan saham Snack Pratama berhak dialihkan 100% secara mutlak kepada Amira Shinta tanpa kompensasi sepeser pun.

​"Jadi... Mas Aris sudah tahu soal ini sejak awal?" bisik Amira, dadanya berdenyut nyeri mengingat betapa naifnya ia selama tiga tahun ini melayani pria yang menganggap pernikahan mereka sebagai kontrak tebusan utang masa lalu.

​"Dia tahu, dan dia sangat ketakutan jika kamu mengetahuinya," kata Harlan tegas. "Itulah alasan mengapa ibunya begitu gencar memintanya mencari alasan untuk menceraikanmu—termasuk memfitnahmu mandul—agar kontrak pra-nikah ini bisa dianulir sebelum rahasia ini terbongkar."

​Amira perlahan menegakkan punggungnya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Aris kemarin kini tak lagi terasa sebagai siksaan, melainkan sebagai bahan bakar terakhir yang menyalakan mesin penghancur di dalam kepalanya.

​Gelas retak di rumah Aris sudah pecah, dan sekarang, seluruh benteng pertahanan keluarga Pratama siap runtuh berkeping-keping.

​Sementara itu, di sel tahanan sementara Mapolres Metro Jakarta Selatan.

​Aroma pengap besi berkarat dan dinding semen yang lembap menyambut Aris. Kemeja kerja biru dongker yang dipakainya siang tadi kini sudah kusut, kancing atasnya lepas, dan dasinya entah terbang ke mana. Ia duduk di sudut lantai sel dengan kedua lutut ditekuk, menatap kosong ke arah jeruji besi di depannya.

​Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Amira dengan pipi membengkak dan dua garis merah di alat tes kehamilan itu terus berputar-putar di benaknya, mencabik-cabik sisa kewarasannya.

​"Aris Pratama! Ada kunjungan kuasa hukum!" teriak seorang petugas sipir sambil mengetuk jeruji besi dengan tongkat pemukul.

​Aris langsung bangkit dengan tergesa-gesa, berharap itu adalah pengacara perusahaan yang membawa jaminan penangguhan penahanan. Namun, begitu ia digiring ke ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal, sosok yang duduk di seberang sana bukanlah pengacaranya, melainkan Lista.

​Lista tidak mengenakan rompi oranye, tampaknya statusnya masih sebagai saksi terperiksa untuk kasus pemalsuan dokumen karena proses penyidikan finansial membutuhkan waktu lebih lama. Namun, penampilan Lista sudah tidak ada anggun-anggunnya lagi. Rambutnya berantakan, dan matanya merah bengkak karena terus menangis panik.

​Begitu Aris duduk dan mengangkat gagang telepon interkom, Lista langsung berteriak di seberang kaca.

​"Mas! Mas Aris, tolong aku! Akun rekeningku sudah diblokir semua oleh bank atas perintah kurator pengadilan! Rumah kita... rumah kita dipasang garis polisi, Mas! Bude Ratna pingsan berkali-kali di hotel murah karena tidak mau tinggal di kontrakan!" tangis Lista histeris, jemarinya memukul-mukul kaca pembatas. "Ini semua gara-gara si Amira jalang itu! Dia sudah merencanakan ini semua bersama pengacara tuanya!"

​Aris menatap Lista melalui kaca tebal. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, pesona manja dan kecantikan wanita di depannya itu tidak lagi memicu gairah di dadanya. Yang ia lihat hanyalah sesosok ular serakah yang telah menyeretnya masuk ke dalam lubang kehancuran.

​"Gara-gara Amira... atau gara-gara keserakanmu, Lista?" suara Aris terdengar sangat dingin dan datar melalui speaker interkom.

​Lista tersentak, tangisnya terhenti sejenak. "Mas... kok Mas bicarakan aku begitu? Aku lakukan ini demi ekspansi bisnis kita! Demi anak kita nanti kalau kita menikah!"

​"Bisnis kita?" Aris tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di ruang sempit itu. "Kamu memalsukan tanda tangan komisaris untuk mencairkan lima miliar ke rekening luar negerimu, kamu pikir aku bodoh tidak tahu taktik pelarian asetmu siang tadi?! Kamu memanfaatkan kemarahanku pada Amira agar aku menamparnya, agar dia membuat visum dan melumpuhkan posisiku!"

​Aris mendekatkan wajahnya ke kaca, matanya melotot penuh kilatan kebencian yang mendalam. "Amira sedang hamil anakku, Lista! Anak kandungku! Dan karena kelicikanmu, aku kehilangan anakku, kehilangan rumahku, dan sekarang aku mendekam di sini!"

​"Mas Aris... tidak, Mas... bukan begitu—"

​"Jangan pernah sebut namaku lagi, Lista!" bentak Aris, membanting gagang telepon interkom itu hingga retak, memutus sambungan secara sepihak. Ia berdiri, berbalik memunggungi Lista yang terus berteriak histeris di balik kaca, lalu memberi isyarat kepada petugas untuk membawanya kembali ke dalam sel kegelapan

Kembali ke penthouse, Amira menandatangani dokumen pengalihan saham 100% yang dibawa oleh Om Harlan dan Pak Sanusi. Di bawah pendar cahaya lampu malam kota Jakarta yang berkilauan, Amira kini resmi memegang kendali penuh mutlak atas seluruh aset Snack Pratama. Namun, tepat saat ia hendak beristirahat, ponselnya berdering menampilkan sebuah pesan video dari nomor pengasuh lama di rumah kompleks: video yang memperlihatkan Ibu Ratna yang depresi nekat mendatangi apartemen lamanya sambil membawa sebuah botol cairan pembersih lantai.

Mau ngapain yaaa Bu Ratna, yuk next Bab

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!