Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Rina.
Pagi datang disambut dengan mending tipis yang menggantung di atas pesisir, angin laut berhembus lebih kencang tidak seperti biasanya.
Di halaman rumahnya, Kai duduk di teras sambil memandangi gulungan benang lamanya yang tidak jauh berbeda kualitasnya dengan benang premium, seketika senyum di bibirnya muncul.
Benang sangat tipis tidak seperti benang peserta lainnya. Bahkan di beberapa bagian terlihat mulai berbulu dan rapuh. Perlahan anak itu mencoba menariknya pelan.
Cret.
Benang itu hampir putus. Seketika Kai terdiam. Tatapannya perlahan menunduk. Untuk beberapa detik anak itu hanya menggenggam gulungan benang tersebut erat tanpa berkata apa-apa.
Namun tidak lama kemudian bibir kecilnya kembali tersenyum tipis seolah memaksa dirinya sendiri untuk baik-baik saja.
“Masih bisa dipakai kok… yang ini tinggal disambung saja, gak papa kan,” gumamnya pelan seolah menguatkan hatinya sendiri.
Padahal jauh di dalam hatinya, Kai tahu benar… benang seperti itu tidak akan mampu bertahan lama di festival nanti.
“Kai!”
Suara Alena dari dapur membuat anak itu buru-buru menyimpan kembali benangnya.
“Iya Ma!”
“Bantu Mama angkat galon dulu.”
Kai langsung berdiri kecil lalu berlari masuk rumah seketika masalah benang premium sedikit terlupakan. Anak itu dengan sigap membantu sang ibu.
"Gak ada yang bisa Kai bantu lagi Bu?" tanya anak itu semangat.
"Gak ada Nak, duduk lagi saja," ujar Alena.
Kai mengangguk kecil sebelum akhirnya ia kembali lagi ke halaman depan. Sesekali ia menatap langit yang berubah sedikit gerakan dari pada sebelumnya.
Kau langsung bersemangat, selagi masih ada waktu anak itu seolah tidak mau membuang waktu begitu saja.
"Yes, cuaca sudah membaik," ucapnya sendiri. "Kai mau bantu-bantu nelayan lagi."
Anak itu langsung berjalan cepat menyusuri jalan setapak. Tidak butuh waktu lama, langkahnya terhenti saat sampai di bibir pantai. Kai duduk diatas pasir tatapannya penuh harap pada sampan nelayan yang belum datang pagi ini.
"Tuhan semoga saja kali ini Om nelayan dapat ikan banyak," ucapnya seolah tidak mengenal kata lelah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Menjelang sore, suasana pesisir mulai sedikit ramai. Beberapa anak kecil terlihat bermain di pinggir pantai sementara para nelayan sibuk membereskan jaring mereka masing-masing.
Kai baru saja pulang membantu salah satu nelayan saat suara kendaraan berhenti tepat di depan rumahnya.
Ciiittt…
Anak itu menoleh kecil. Sebuah mobil travel berhenti di depan pagar kayu rumah mereka. Pintunya perlahan terbuka. Dan sesosok wanita turun sambil membawa tas kecil di tangannya.
Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya terlihat lelah, bahkan mata wanita itu tampak sembab seperti kurang tidur.
Namun saat melihat Kai berdiri di halaman senyum hangat langsung muncul di bibirnya.
“Ibu Rina!” seru Kai spontan.
Seketika anak itu langsung berlari kecil menghampiri wanita tersebut lalu memeluk tubuhnya erat tanpa ragu.
Rina tertawa kecil sambil membalas pelukan itu hangat.
“Aduh… anak Ibu makin berat saja.”
Kai mendongak cepat. “Ibu Rina kok pulang mendadak?”
“Kangen sama anakku,” jawab Rina sambil mencubit gemas pipi Kai.
Sementara dari dalam rumah, Alena, Senna, dan Anne langsung keluar begitu mendengar suara Kai tadi.
“Rina?” Alena tampak terkejut.
“Kamu pulang?” Anne ikut tersenyum lega.
Namun Senna justru langsung menyipitkan mata curiga.
“Tunggu dulu…” wanita itu melipat tangan di dada. “Kamu habis nangis ya?”
Rina langsung tertawa kecil sambil menggeleng cepat. “Apaan sih.”
“Tuh kan!” Senna menunjuk wajahnya. “Matamu bengkak.”
“Kurang tidur,” elak Rina santai.
Meski begitu… ketiga wanita itu tahu Rina pasti sedang tidak baik-baik saja. Namun mereka memilih tidak membahasnya dulu.
"Ya sudah kalau gitu kita masuk dulu ya," ucap Alena.
Waktu berlalu begitu cepat hingga malam pun datang terasa lebih cepat, dan suasana rumah kembali hangat.
Mereka makan bersama di ruang tengah sambil ditemani suara debur ombak dari kejauhan.
Kai terlihat paling bahagia malam itu. Sudah lama rasanya mereka tidak berkumpul lengkap seperti sekarang, sampai ia lupa jika tadi sore ia dapat upah dari salah satu nelayan.
"Oh ya, Ma, Kai tadi dapat upah lagi," kata anak itu tiba-tiba.
Seketika bunyi sendok berhenti begitu saja. "Kai kerja lagi?" tanya Alena penuh telisik.
Kai, tersenyum kikuk. "Iya Ma."
"Lain kali jangan gitu ya," kata Alena.
"Iya Kai, tugas Kai hanya belajar dan bermain," timpal Senna.
"Jangan pernah memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak kau pikirkan," imbuh Anne.
Kai hanya menunduk seolah tahu jika ketiga ibunya tidak setuju dengan caranya yang harus bekerja sebelum waktunya.
"Iya maaf." hanya itu yang keluar dari mulut Kai.
Suasana mendadak hening hingga selesai makan tiba-tiba saja Rina yang sedari tadi hanya menyimak tiba-tiba saja ia perlahan membuka tas kecil miliknya.
"Kai," panggilnya pelan.
"Iya Bu," sahut anak itu.
"Yang dibilang sama Mama, Ibu Anne dan juga Ibu Senna itu benar, jadi Kai harus nurut ya," kata Senna.
Kai hanya menunduk, tangannya perlahan mengusap sudut matanya yang diam-diam berembun.
“Ibu sebenarnya bawa sesuatu,” ucapnya akhirnya.
Seketika semua orang menoleh. Rina lalu mengeluarkan sebuah gulungan benang besar dari dalam tasnya perlahan.
Dan detik itu juga… suasana langsung hening.
Kai membelalakkan matanya sempurna. Senna sampai refleks berdiri dari duduknya.
“Rin…” gumam Anne pelan.
Sementara Alena terlihat paling terkejut saat menyadari benang itu adalah benang premium yang sejak kemarin mereka pikirkan.
“Ini…” suara Alena mengecil. “Benang festival?”
Rina tersenyum tipis sambil mengangguk kecil. “Katanya anak kita mau menang festival.”
Deg.
Seketika dada mereka terasa hangat sekaligus sesak bersamaan. Kai perlahan mendekat. Tangannya menyentuh gulungan benang itu hati-hati seperti takut itu hanya mimpi.
Benang yang kemarin tidak mampu ia beli. Benang yang bahkan membuatnya memilih mengalah demi tidak membebani ibunya.
Kini… ada tepat di depan matanya.
“Ibu Rina…” suara Kai terdengar lirih.
Rina langsung mengusap kepala anak itu lembut. “Masa anak kita kalah sebelum bertanding?”
Untuk sesaat Kai hanya diam. Namun beberapa detik kemudian anak itu memeluk tubuh Rina erat sekali.
“Pasti capek ya cari uangnya…” gumamnya pelan.
Dan kalimat sederhana itu… berhasil membuat mata Rina langsung memanas. Karena anak kecil itu ternyata mengerti. Tentang perjuangan mereka semua.
“Dasar anak bawang…” gumam Senna sambil buru-buru memalingkan wajah karena matanya mulai berkaca-kaca.
Sementara Anne hanya tersenyum kecil sambil mengusap sudut matanya diam-diam.
"Nah, mulai sekarang Kai gak boleh kerja lagi ya," ucapnya sambil mengacak rambut hitam Kai.
"Iya Bu," sahut Kai sambil memegang benang itu dengan kuat.
Semua orang yang ada di ruangan ini begitu terharu seolah tidak percaya, ternyata Tuhan mengabulkan semua keinginan sang anak meskipun dengan jalan yang berliku dan di tengah segala kekurangan itu… mereka tetap berusaha saling menguatkan satu sama lain.
Bersambung ...
Habis baca kasih komen dong Kak biar lapakku ramai🙏🙏🙏🤣🤣🤣