Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Gelap Memanggil
Lampu kota berpendar samar di kejauhan, menciptakan bayangan gelap di wajah dingin Alessandro. Sudah hampir pukul tiga dini hari, tetapi matanya belum juga terpejam.
Di meja ruang kerja, tergeletak pistol hitam, map RED ASHES, dan cincin phoenix milik organisasi lama Leonardo.
Semua benda itu terasa seperti kutukan, Alessandro berdiri diam sambil menatap pantulan dirinya di jendela.
Dan semakin lama ia melihat, semakin ia membenci satu kenyataan. Ia mulai terlihat seperti ayahnya. Tatapan dingin itu, cara rahangnya menegang, dan cara emosinya perlahan mati.
Leonardo Valerio belum benar-benar hilang, sebagian dirinya hidup di dalam Alessandro.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, satu pesan anonim masuk.
"Mereka mulai bergerak."
Alessandro langsung membuka file yang dikirim bersama pesan itu.
Sebuah foto muncul di layar, tubuhnya langsung menegang. Foto Nadira di ambil dari jarak jauh, ibunya sedang keluar dari supermarket sore tadi.
Artinya, seseorang mengawasi mereka sepanjang waktu. Tatapan Alessandro berubah gelap, pesan kedua muncul beberapa detik kemudian.
"Selamat datang kembali ke dunia ayahmu, Tuan Valerio."
DOR!
Alessandro melempar pistol ke meja dengan kasar, dadanya terasa sesak oleh amarah yang mulai sulit dikendalikan.
Mereka menyentuh Nadira, dan itu kesalahan terbesar.
Pagi harinya, Alessandro langsung menuju rumah Nadira. Dua mobil hitam sudah ia tempatkan di sekitar rumah, empat pria bersenjata berjaga diam-diam.
Dulu Alessandro sangat membenci semua ini, tapi sekarang ia justru melakukannya tanpa ragu.
Nadira membuka pintu dengan wajah lelah, matanya terlihat sembab. Ia belum benar-benar tidur sejak simbol RED ASHES muncul kembali.
"Kamu menaruh penjaga di luar?" tanya Nadira pelan.
"Iya."
"Ibu tidak suka ini."
Alessandro menatap Nadira, "Dan aku jauh lebih tidak suka, jika mereka sampai menyentuh, Mama."
Suara Alessandro terlalu dingin, dan Nadira langsung menyadarinya. Perempuan itu memandang anaknya beberapa detik lebih lama. Tatapan penuh ketakutan, tapi bukan takut pada musuh, melainkan takut ada ada perubahan Alessandro sendiri.
"Kamu mulai terlihat seperti dia," bisiknya lirih.
Alessandro terdiam, kalimat itu terasa sepertimu pisau kecil yang menusuk pelan.
Namun ia tidak membantah, karena jauh di dalam dirinya, ia juga mulai melihat Leonardo di cermin.
Siang harinya, Ivan Petrov membawa Alessandro ke sebuah tempat tersembunyi, di bawah klub malam tua.
Lorong bawah tanah itu dipenuhi monitor, senjata, dan server digital. Beberapa pria langsung berdiri hormat saat Alessandro masuk.
Tatapan mereka berbeda, bukan sekedar penasaran. Mereka mulai melihatnya sebagai pewaris.
"Ini salah satu markas sisa RED ASHES," ujar Ivan.
Alessandro memperhatikan ruangan itu. Peta transaksi ilegal, jalur perdagangan senjata, data politisi, dan nama-nama organisasi kriminal internasional.
RED ASHES ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
"Leonardo membangun jaringan ini selama bertahun-tahun," ucap Ivan. "Dan setelah dia jatuh, semuanya mulai terpecah. Tapi sekarang mereka mulai bersatu lagi."
"Karena aku?" tanya Alessandro.
Ivan tersenyum tipis, "Lebih tepatnya karena nama Valerio."
Seorang pria tiba-tiba masuk dengan tergesa, wajahnya terlihat begitu panik.
"Ivan, ada masalah."
"Apa?"
"Dua gudang kita diserang tadi pagi."
Tatapan Ivan langsung berubah tajam, "Siapa yang sudah melakukan itu semua?"
Pria itu menelan ludah, "Mereka orang-orang Viktor."
Ruangan mendadak sunyi, Alessandro merasakan sesuatu yang mulai berubah. Ketegangan, ancaman, dan perang.
Ivan berjalan mendekat ke salah satu layar monitor, lalu menampilkan rekaman CCTV. Gudang terbakar, mayat bergelimpangan, dan di tengah api ada simbol yang digambar dengan darah di dinding.
Seekor serigala hitam, dan simbol Viktor Karev.
Alessandro menatap layar dengan wajah datar, namun rahangnya mengeras perlahan. Viktor sengaja melakukan ini, bukan hanya menyerang RED ASHES, tapi juga mengirim pesan langsung kepadanya.
Dan permainan yang sebenarnya sudah dimulai.
Malam itu Alessandro pulang sendirian, kota terasa berbeda sekarang. Semua orang tampak mencurigakan, semua bayangan terasa hidup.
Saat lift apartemennya terbuka, ia langsung berhenti. Lampu ruang tamu menyala, padahal ia yakin sudah mematikannya sebelum pergi.
Tangan Alessandro langsung meraih pistol di balik jaket, langkahnya pelan. Lalu suara seseorang terdengar dari dalam ruangan.
"Kamu lebih cepat belajar dibanding ayahmu."
Alessandro langsung mengarahkan pistolnya, seorang pria duduk santai di sofa. Rambutnya putih, wajahnya penuh bekas luka lama.
Namun matanya tajam seperti pisau, pria itu tersenyum kecil.
"Akhirnya aku bertemu langsung dengan pewaris Valerio."
"Siapa kamu?" tanya Alessandro dingin.
"Nama lamaku sudah tidak penting," ucapnya yang langsung berdiri. "Tapi dulu... aku orang yang mengajarkan Leonardo cara untuk bertahan hidup."
Tubuh Alessandro langsung menegang, pria itu melirik pistol di tangan Alessandro.
"Kamu punya tatapan yang sama, dan ayahmu juga selalu mengarahkan senjata dulu sebelum bicara."
"Sebenarnya apa maumu?"
Pria itu melempar sebuah kartu hitam ke meja, di atas kartu itu ada simbol phoenix merah.
"Dunia bawah tanah sedang memilih raja yang baru," ucapnya dengan tatapan tajam. "Dan semua orang mulai bertanya hal yang sama."
Seketika suasana menjadi hening, lalu pria itu berkata lagi.
"Apakah Alessandro Valerio, sudah cukup pantas menjadi monster dan duduk di tahta ayahnya?"
Suasana ruangan terasa membeku, Alessandro tidak menjawab. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menolak kalimat itu.
Dan itu jauh lebih mengerikan daripada apa pun.
Pria tua itu tersenyum kecil sebelum berjalan menuju pintu.
"Bersiaplah. Karena mulai malam ini, seluruh dunia gelap akan datang mencarimu," ucapnya, lalu melangkah pergi.
Alessandro terdiam cukup lama, tatapannya jatuh pada kartu phoenix merah di meja. Lalu perlahan ia menggenggamnya erat.
Dan jauh di dalam dirinya, sesuatu mulai bangkit. Sesuatu yang lapar akan kekuasaan, sesuatu yang diwariskan oleh darah Valerio.