"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif Zaviar
Zaviar menatap piring Arumi yang sudah bersih, lalu mengangguk puas. Ia menyambar selembar tisu mewah, mengusap sudut bibir Arumi yang sedikit basah akibat ciuman tadi dengan gerakan yang sangat protektif.
"Aku sudah menyuruh pengawal elite untuk mengantarmu dengan protokol keamanan tertinggi. Dan ingat pesan pembukaku di kamar tadi," ucap Zaviar, suaranya kembali dingin dan datar, kembali ke mode CEO Ravindra Holdings yang kejam, namun matanya tetap menatap Arumi dengan obsesi yang tak luntur. "Jangan pernah melepaskan syal itu. Aku tidak suka ada pria lain—termasuk Gavin—melihat jejak yang aku buat di tubuhmu."
"Iya, iya! Cerewet lu kayak emak-emak!" gerutu Arumi sambil berdiri dari kursinya. Ia menyambar tas kerjanya dan melangkah cepat keluar dari ruang makan, mencoba menyembunyikan senyuman tipis dan debaran aneh yang menggelitik dadanya. Sikap posesif si kaku itu, entah mengapa, mulai terasa seperti candu baru baginya.
Dua jam kemudian, mobil Rolls-Royce hitam yang dikawal oleh dua SUV baja milik Ravindra Holdings berhenti tepat di depan lobi gedung pencakar langit Razetha Group di pusat bisnis kota J. Pengawalan ketat ini adalah bentuk nyata dari pagar tak kasat mata yang dipasang oleh Zaviar untuk melindungi sekaligus mengawasi setiap jengkal pergerakan istrinya.
Arumi turun dari mobil dengan langkah yang anggun namun tegas. Setelan blazer formal berwarna hijau zamrud dan celana kulot hitamnya bergerak selaras dengan ayunan langkah kakinya yang penuh percaya diri. Syal sutra bermotif daun emas masih terikat sempurna di leher jenjangnya, menyembunyikan seluruh tanda merah ekstrem dari Zaviar tanpa celah.
Begitu pintu lift eksekutif terbuka di lantai 45, atmosfer korporat yang sibuk langsung menyapa Arumi. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, sesosok wanita muda berambut pendek dengan pakaian modis langsung berlari kecil menyambutnya dengan wajah heboh. Itu adalah Sherly, sahabat karib Arumi yang sejak pagi buta sudah menunggu di ruang kerja CEO bersama Sekretaris Leo.
"Arumi! Gila, lu akhirnya dateng juga!" Sherly langsung memeluk bahu Arumi dengan erat, matanya meneliti penampilan sahabatnya dari atas sampai bawah dengan pandangan tidak percaya. "Gue denger dari Leo, kemarin lu beneran nendang dua pengawal Tuan Danu sampai pingsan di ruang rapat?! Sejak kapan lu pinter silat begitu, Ru?! Terus... gimana urusan si muka dua Calista di mansion? Pria kaku itu masih ngebelain dia?"
Arumi berjalan melewati Sherly menuju kursi kebesaran CEO di balik meja jati besar yang kokoh. Ia duduk di sana dengan menyilangkan kaki jenjangnya dengan santai, memancarkan aura superioritas yang mutlak. Sifat bar-bar-nya kembali menyala cerah di lingkungan kantor, siap meratakan siapa saja yang mencoba mengusik kedudukannya.
"Santai, Sher. Si ular Calista udah resmi gue eliminasi dari kompetisi rumah tangga," jawab Arumi ceplas-ceplos tanpa beban. "Sekarang dia lagi dikurung di paviliun belakang mansion tanpa fasilitas apa pun. Lu tahu sendiri kan, gue kagak suka melihara hama di rumah. Dan soal silat... anggap aja gue dapet hidayah dari tuhan pas dikurung di bawah tanah kemarin. Insting bertahan hidup gue mendadak naik ke level maksimal."
Sherly melongo tak percaya mendengar ucapan Arumi. Mulutnya terbuka lebar sebelum akhirnya ia tertawa lepas dengan sangat puas hingga suaranya menggema di ruangan luas itu. "Bagus! Mampus lu, Clarissa! Lu pikir bisa selamanya nindas sahabat gue pake air mata palsu dan akting menye-menye lu itu! Rasain tuh akibatnya kalau berani nyenggol harimau yang lagi bangun!"
Sekretaris Leo yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan kemudian melangkah maju dengan sikap sangat hormat. Ia meletakkan beberapa tumpukan map dokumen tebal bersampul kulit di atas meja kerja Arumi.
"Nyonya Arumi, ini adalah laporan lengkap mengenai pembekuan seluruh aset sisa milik pengikut Tuan Danu yang berada di luar kota. Semua pergerakan mereka sudah berhasil kita kunci," lapor Sekretaris Leo dengan nada profesional. "Namun, ada satu hal yang sangat krusial dan membutuhkan keputusan cepat dari Anda hari ini."
Arumi mengernyitkan dahi, tangan kanannya bertumpu di atas meja sementara jarinya mengetuk-ngetuk permukaan jati dengan ritme konstan, memancarkan karisma seorang pemimpin yang kuat dan tidak bisa diintimidasi. "Katakan, Leo. Masalah apa lagi?"
"Proyek pembangunan Calista Tower di Kota J Pusat yang kemarin disabotase oleh pihak Tuan Danu kini mengalami kendala pendanaan jangka pendek," jelas Leo dengan raut wajah cemas. "Beberapa investor asing mendadak menarik saham dan modal mereka dari konsorsium. Mereka panik setelah melihat berita penangkapan Tuan Danu kemarin dan mengira stabilitas internal Calista Group sedang hancur."
Arumi mendengus remeh. Matanya berkilat tajam memandang tumpukan dokumen tersebut. "Investor penakut begitu coret aja dari daftar mitra kita, Leo. Kita kagak butuh mitra yang mentalnya tempe dan gampang goyang cuma karena berita receh begitu. Cari yang baru."
"Tapi Ru, masalahnya kagak sesederhana itu," timpal Sherly dengan wajah yang mendadak berubah sangat serius. Kapasitasnya sebagai lulusan manajemen bisnis terbaik langsung terlihat di sini. "Kalau dana segar senilai lima ratus miliar rupiah kagak masuk ke rekening proyek minggu ini, pembangunan struktur bawah tanah bisa mangkrak total. Dan yang lebih parah, kita bisa kena denda penalti yang sangat besar dari pemerintah daerah karena dianggap melanggar kontrak tata kota."
Arumi terdiam sejenak, otaknya yang cerdas sebagai mantan pelatih silat jalanan mulai menyusun strategi finansial. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan instruksi baru, pintu ganda ruang kerja CEO terbuka perlahan dari luar tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Langkah kaki yang teratur dan mantap terdengar masuk ke dalam ruangan. Kedatangan orang asing ini memicu atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi agak kaku, canggung, dan sarat akan ketegangan emosional.
Seorang pria masuk mengenakan setelan jas formal berwarna abu-abu dengan potongan tubuh yang atletis dan tegap. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun saat ini wajah itu memancarkan aura kegelisahan yang sangat mendalam.
Dialah Gavin Pradipta. Kekasih masa kecil Arumi asli sekaligus pria yang kemarin siang mendadak kicep murni di kafe setelah diintimidasi secara mental oleh wujud gelap Varian. Keberanian Gavin runtuh seketika saat berhadapan dengan aura membunuh milik suami Arumi kemarin.
"Arumi..." panggil Gavin dengan suara yang terdengar serak dan bergetar.
Sepasang matanya menatap langsung ke arah Arumi dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa bersalah yang amat sangat, penyesalan, sekaligus rasa rindu yang tampak membakar jiwanya. Gavin melangkah mendekati meja kerja Arumi, sepenuhnya mengabaikan tatapan sinis dan dengusan tidak suka yang dilayangkan oleh Sherly di sampingnya.
"Maafkan aku karena kemarin aku... aku membeku di kafe itu, Arumi," ucap Gavin dengan nada penuh penyesalan. Ia mencoba meraih ujung meja kerja Arumi namun mengurungkan niatnya saat melihat tatapan dingin wanita itu. "Aura Zaviar kemarin benar-benar sangat berbeda dan... sangat mengerikan. Aku merasa seperti melihat iblis. Tapi, aku tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan tanda merah di lehermu itu, Ru. Aku tahu kau menderita di mansion itu. Karena itulah, hari ini aku ke sini membawa solusi bisnis nyata untuk perusahaanmu."
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.