Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Wangi Parfum Wanita
Mereka masuk ke dalam kamar yang sama. Suasana kamar yang harusnya hangat, tidak membuat sikap Ardana menghangat. Padahal hanya mereka berdua di dalam sana. Sikap seperti ini memang sudah lama berlangsung, Nayra pikir memang seperti itu watak Ardana, dingin dan kalau bicara seperlunya saja. Namun, sudah sejak beberapa minggu terakhir ini, sikap dingin Ardana kian bertambah. Nayra bisa merasakannya, sejak Ardana sering melakukan tugas ke RSAU.
"Sebetulnya, sejak awal sikap Mas Ardana memang seperti ini. Tapi, aku tidak terlalu memikirkannya, mungkin karena aku terlalu menghargai dan mencintainya, kecurigaanku tidak sampai menjadi-jadi," tulisnya lagi di dalam sebuah catatan kecil buku diarynya.
Nayra segera meraih seragam loreng Ardana yang sudah berserakan di atas ranjang, ia punguti lalu ia gantung dengan hanger. Biasanya, Ardana bisa menggunakan kembali seragam loreng itu sebanyak dua kali, kecuali kalau seragam itu terlalu kotor, Ardana akan minta seragam yang baru.
Harum parfum lain tiba-tiba tercium dari atasan seragam loreng milik Ardana. Wanginya lembut dan berbeda, seperti parfum yang pantas digunakan oleh kaum perempuan.
Sejenak Nayra mendengus-dengus, menciumi seragam atas Ardana. Dan wangi parfum itu lebih terasa jelasnya di area bahu kanan Ardana. "Wangi parfum yang berbeda. Lembut dan...atau ini hanya perasaanku saja." Nayra langsung membatin, tapi langsung ia tepis saat itu juga perasaan curiga itu.
Nayra bangkit, mencoba menelan pahitnya kecurigaan yang baru saja menyesaki hatinya. Ia mencoba bersikap seperti biasanya. "Mas, mau Nay buatkan teh hangat? Biar tidurnya lebih nyenyak," tawar Nayra, suaranya sedikit bergetar namun tetap diusahakan lembut.
"Tidak usah. Aku lelah, mau langsung tidur," jawab Ardana singkat. Pria itu merebahkan tubuhnya, membelakangi sisi ranjang tempat Nayra berada.
"Atau, Mas Arda mau Nay pijat dulu? Lengannya mungkin terasa pegal, atau punggungnya bisa Nay urut biar rileks." Lagi-lagi Nayra menawarkan diri. Kali ini sebuah pijatan yang sering Nay lakukan apabila Ardana mulai berbaring.
Biasanya Ardana akan menjawab dengan 'hemmm' saja, pertanda ia mempersilahkan Nayra memijatnya. Namun, kali ini tidak ada deheman atau sahutan apa-apa.
"Gimana, Mas....?" Nayra keukeuh.
Ardana membalikkan badan perlahan, ia mendongak setengah badan lalu menatap Nayra kesal. "Nayra, bisa tidak kamu tidak merecoki aku saat aku mau istirahat? Aku ini sudah ngantuk tahu. Kalau tidak ada respon dari aku, sebaiknya kamu diam dan cukup paham."
Suaranya sedikit meninggi dan ada bentakan di sana, meski nyaris tipis, tapi Nayra merasakan kalimat itu langsung menusuk ke ulu hati. Nayla tersentak, mukanya langsung memerah dan panas.
Ardana kembali ke posisi semula, seakan tidak terjadi apa-apa terhadap Nayra setelah ia menegurnya barusan.
"Iya, maaf, Mas," ucapnya sedih. Dadanya langsung sesak. Sikap Ardana seperti ini tidak pernah Ardana lakukan, meskipun sehari-hari selalu dingin dan datar. Tapi, kini sangat berbeda.
Nayra menarik napas panjang, lalu perlahan ikut berbaring. Ia menatap punggung tegap suaminya yang tertutup selimut. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter, namun rasanya seperti ada jurang yang memisahkan. Nama 'Tiana' yang tadi didengarnya kini kembali berdengung di telinga, seperti kaset rusak yang menyiksa batinnya.
"Siapa Tiana, Mas? Kenapa Mas Arda bisa tersenyum menyebut namanya, sementara untukku hanya ada tatapan dingin?" Pertanyaan itu hanya tertahan di ujung lidah. Nayra memilih memejamkan mata, membiarkan air mata yang tersisa membasahi bantalnya dalam diam.
Keesokan paginya, Ardana sudah bangun lebih dulu, bersiap untuk kembali menuju kesatuan. Saat pria itu masuk ke ruang ganti untuk memakai seragamnya, ponselnya yang diletakkan di atas nakas tiba-tiba bergetar.
Drrrrttt...drrrtttttt....
Nayra buru-buru bangkit dari tidurnya, ia langsung merapikan selimutnya. Biasanya, ia tidak pernah berani menyentuh barang pribadi suaminya. Namun, rasa penasaran yang memuncak selama tiga tahun ini seolah memberi keberanian yang kuat.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat.
Sebuah nama tertera di sana, nama Tiana. Nama yang ia dengar semalam saat suaminya menerima panggilan dari seseorang.
"Terima kasih untuk waktu istirahatnya yang singkat kemarin ya, Mas. Semangat bertugas hari ini. Jangan lupa sarapan pagi."
Jantung Nayra seolah berhenti berdetak. Kata 'Mas' dan perhatian kecil itu terasa seperti sembilu yang menyayat dadanya. Selama ini, Nayra-lah yang selalu mengingatkan Ardana untuk makan, yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya, namun respon yang didapat hanyalah gumaman dingin atau teguran karena dianggap terlalu ikut campur.
"Sedang apa kamu?"
Suara berat dan dingin itu menggelegar dari arah pintu ruang ganti. Nayra tersentak hebat, ponsel di tangannya hampir saja terjatuh. Ia menoleh dengan wajah pucat pasi, mendapati Ardana berdiri menatapnya dengan tatapan tajam yang menghakimi.
"I~ini...tadi... ponsel Mas Arda bergetar. Nay, bermaksud ingin memberikannya pada Mas Arda," ujarnya memberi alasan dengan gugup.
Ardana segera meraih ponsel itu dengan sedikit kasar. Nayra tersentak untuk yang kedua kali.
"Pergilah, jangan ikut campur atau mau tahu isi dari barang pribadiku. Kamu bukannya baru bangun dan belum ke kamar mandi, kan?" peringatnya keras, memperlihatkan rasa tidak suka saat Nayra ketahuan memegang ponselnya.
Nayra mengangguk, lalu ia buru-buru bergegas ke kamar mandi. Ia menyesal kenapa tadi penasaran dan ingin melihat ponsel suaminya.
Beberapa saat kemudian, di dapur. Harum kopi hitam pekat racikan Nayra sudah menguar di udara. Nayra meletakkan cangkir kopi hitam itu di atas meja makan, disertai tatakan yang senada.
Ardana muncul dari ruang tengah menuju dapur. Nayra sudah siap menyambutnya.
"Mas Arda, ini kopinya."
Ardana menduduki salah satu kursi makan, meletakkan ponselnya yang sejak tadi menyala, lalu meraih cangkir kopi di atas meja. Untuk sejenak ia menikmati seduhan kopi hitam yang wangi itu. Saking menikmatinya, ia terlihat memejamkan mata.
Ardana akui, kopi racikan Nayra memang paling pas dan begitu enak saat dinikmati. Berbeda dengan kopi hitam sachet yang sudah tinggal seduh. Racikan yang dibuat Nayra benar-benar belum pernah sekalipun mengecewakan Ardana.
"Mas sarapannya sudah Nay buatkan nasi goreng spesial hari ini," ucap Nayra memecah keheningan di antara mereka berdua.
Ardana menoleh lalu menatap Nayra. "Aku tidak jadi sarapan di rumah. Aku buru-buru harus segera ke kantor," ujarnya sambil meraih cangkir kopi yang masih tersisa setengahnya. Ardana menikmati kopi itu sampai habis, lalu ia bangkit.
"Tapi, Mas...."
"Kamu makan saja sendiri, buat tubuhmu lebih berisi lagi sedikit. Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu," tepisnya dan mulai bergegas.
Nayra terdiam, tapi ia segera mengikuti Ardana dari belakang. "Mas, tunggu Mas...siapa itu Tiana, Mas....?"
Pertanyaan itu mampu membuat kaki Ardana terhenti lalu membalikkan badan. Ardana menatap Nayra tajam. "Sudah aku katakan tadi, jangan pernah campuri urusanku. Kamu cukup duduk diam saja di rumah, melakukan pekerjaan rumah seperti yang biasa kamu lakukan, merajut, menulis atau merangkai bunga dan menikmati nafkah yang aku berikan. Apa nafkah yang aku berikan tidak cukup?"
Kalimat itu terasa menyentak hati Nayra, tapi Nayra buru-buru menggeleng.
"Lalu kenapa? Aku sudah memberikan kamu nafkah lahir dan ba...batin. Kalau masih kurang, nanti aku tambah," lanjutnya lagi masih menatap Nayra tajam.
"Tidak Mas, tapi...."
"Nafkah batin maksudmu? Aku minta maaf, harusnya kamu paham sendiri. Aku pulang sudah terlanjur lelah, mana bisa di rumah harus lembur lagi?" ketusnya seraya berlalu.
Nayra menatap kepergian Ardana sedih, bahkan mencium tangan Ardana saja ia belum sempat, karena saking shocknya dengan kalimat yang Ardana katakan barusan.
Jangan lupa, bagi Readers yang belum follow, follow Author ya. Selamat membaca.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...