Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Ujian di Balik Pintu Tertutup
Suasana di dalam Masjid Agung Al-Azhar malam itu terasa begitu menyejukkan, kontras dengan hiruk-pikuk Jakarta yang masih bergemuruh di luar dinding-dinding tebalnya. Arya Wiguna baru saja menyelesaikan salat Maghrib berjamaah, duduk bersila di atas karpet merah marun yang halus, memejamkan mata sejenak untuk melantunkan doa-doa pendek. Ia merasa dadanya lebih lapang, seolah debu-debu kekhawatiran yang menumpuk seharian luruh bersama setiap sujud yang ia lakukan.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Getaran halus dari ponselnya di saku kemeja memecah kekhusyukan. Arya membuka mata, melihat layar yang menyala. Nama "Hendra – Direktur Keuangan" terpantul di sana. Biasanya, Arya akan mengabaikan panggilan kerja setelah waktu salat, tetapi firasat aneh tiba-tiba menyergap hatinya. Ada urgensi dalam getaran itu yang berbeda dari biasanya.
Dengan gerakan cepat namun tetap sopan kepada jemaah di sekitarnya, Arya berdiri dan berjalan menuju serambi masjid yang lebih sepi sebelum mengangkat telepon.
"Assalamualaikum, Hendra," suara Arya tenang.
"Waalaikumsalam, Mas Arya," suara Hendra di seberang sana terdengar panik, latar belakangnya riuh oleh suara orang berdebat. "Mas, kita punya masalah besar. Dewan Komisaris mengadakan rapat mendadak satu jam yang lalu tanpa mengundang Mas. Mereka... mereka sudah menandatangani nota kesepakatan awal dengan Bank Sentosa untuk proyek Green Valley."
Langkah Arya terhenti. Udara di serambi masjid tiba-tiba terasa panas meski AC tetap menyala. "Apa kata kamu? Saya sudah instruksikan pagi ini untuk menolak skema bunga. Siapa yang berani menandatangani?"
"Pak Gunawan, Mas. Ketua Dewan Komisaris. Beliau bilang, demi keberlangsungan perusahaan dan tekanan dari pemegang saham mayoritas, kita tidak bisa idealis terus. Katanya, kalau kita menolak, mereka akan mengalihkan dana investasi ke PT Megah Jaya dan membiarkan Wiguna Cipta Nusantara likuidasi dalam enam bulan," jelas Hendra cepat, napasnya tersengal-sengal. "Mereka juga membekukan akses rekening operasional proyek sementara sampai Mas setuju untuk meratifikasi tanda tangan Pak Gunawan besok pagi."
Arya mengepalkan tangan bebasnya hingga buku-buku jari memutih. Ini bukan sekadar pembangkangan; ini adalah kudeta halus. Pak Gunawan, yang dulu adalah rekan bisnis almarhum ayahnya, ternyata telah berubah wajah. Keserahan pada angka-angka di atas kertas telah membutakan matanya dari prinsip yang selama ini menjadi fondasi perusahaan.
"Hendra, dengarkan saya baik-baik," ucap Arya, suaranya rendah namun sarat otoritas yang membuat siapa pun yang mendengarnya pasti patuh. "Jangan lakukan apa pun yang mereka perintahkan terkait pencairan dana atau perubahan kontrak. Kunci semua dokumen digital. Simpan salinan fisik di brankas pribadi saya yang hanya Anda dan saya yang tahu kodenya. Jika mereka memaksa, katakan bahwa sistem sedang down karena pemeliharaan server. Beri saya waktu sampai Subuh."
"Tapi Mas, keamanan kantor sudah diperketat oleh tim yang ditunjuk Pak Gunawan. Mereka mungkin akan mencoba menerobos masuk malam ini juga," protes Hendra cemas.
"Biar saya yang urus keamanan," jawab Arya tegas. "Anda fokus jaga integritas data. Ingat, Hendra, kita bekerja untuk mencari ridho Allah, bukan sekadar gaji bulanan. Jika kita hancur karena mempertahankan kebenaran, maka kehancuran itu adalah kemuliaan. Tapi jika kita kaya karena mengkhianati prinsip, kekayaan itu adalah racun."
"Siap, Mas. Saya akan bertahan," jawab Hendra, suaranya sedikit lebih mantap mendengar keteguhan hati atasannya.
Setelah menutup panggilan, Arya menatap langit-langit serambi masjid. Bayangan wajah ayahnya kembali muncul. "Arya, ujian terbesar seorang Muslim bukanlah saat ia miskin dan harus bersabar, tapi saat ia kaya dan harus memilih antara harta dan Tuhan."
Arya menarik napas dalam-dalam. Ia sadar, perang sesungguhnya baru saja dimulai. Ini bukan lagi soal margin keuntungan atau persaingan pasar, melainkan pertarungan ideologi di dalam tubuh perusahaannya sendiri. Ia harus bertindak cerdas, menggunakan akal sehat yang dipandu wahyu, bukan emosi semata.
Ia berjalan keluar masjid, menyambut udara malam Jakarta yang masih lembap oleh hujan. Pak Ujang sudah menunggu dengan mobil di pintu keluar, wajahnya cemas melihat ekspresi serius Arya.
"Ada apa, Mas? Wajah Mas kelihatan berat sekali," tanya Pak Ujang saat Arya masuk ke kursi belakang.
"Pak Ujang, kita tidak pulang ke rumah dulu," perintah Arya sambil memasang sabuk pengaman. "Antar saya ke kantor pusat di Sudirman. Dan tolong, hubungi Mas Raka, teman saya yang mantan anggota Kopassus yang sekarang jadi konsultan keamanan swasta. Minta dia bertemu saya di lobi kantor dalam 30 menit dengan dua orang anak buahnya yang bisa dipercaya. Jangan lewat telepon kantor, gunakan nomor pribadi saya yang lama."
"Ke kantor malam-malam begini, Mas? Padahal hari sudah gelap dan hujan lagi," ragu Pak Ujang sambil menyalakan mesin.
"Ada upaya pengambilalihan paksa, Pak. Mereka ingin mengubah arah perusahaan kita menjadi mesin riba malam ini juga. Saya tidak bisa membiarkan warisan ayah saya dan amanah ribuan karyawan diinjak-injak hanya karena segelintir orang serakah," jelas Arya, matanya menatap lurus ke depan melalui kaca depan yang diguyur air hujan. "Kita akan adakan 'rapat' versi kita sendiri malam ini."
Perjalanan menuju Sudirman terasa lebih mencekam daripada sebelumnya. Jalanan yang biasanya ramai kini mulai sepi, hanya diterangi lampu jalan yang berkelap-kelip dan sorot lampu mobil mereka yang membelah kegelapan. Di sepanjang jalan, Arya memikirkan strategi. Ia tidak bisa langsung memecat Pak Gunawan karena secara hukum, posisi ketua dewan komisaris sangat kuat. Ia butuh bukti, butuh dukungan dari pemegang saham minoritas yang selama ini diam, dan yang paling penting, ia butuh legitimasi moral dari para ulama dan tokoh masyarakat yang selama ini menjadi penasihat syariah perusahaan.
Tiba-tiba, ide brilian muncul di benaknya. Besok adalah hari Sabtu, di mana banyak tokoh masyarakat dan ulama karismatik biasa mengisi kajian pagi di berbagai tempat. Arya memutuskan untuk mengubah pendekatan. Ia tidak akan melawan dengan cara hukum yang kaku dulu, melainkan dengan cara "memobilisasi kesadaran".
"Pak Ujang," panggil Arya tiba-tiba. "Ubah rute. Jangan ke kantor dulu. Antar saya ke kediaman Kyai Hasan di Tebet. Saya perlu bertemu beliau malam ini juga, meskipun sudah larut."
"Kyai Hasan? Tapi beliau kan sudah tidur, Mas. Dan jalanan ke Tebet sedang ada perbaikan, macetnya bisa parah," ujar Pak Ujang.
"Lakukan saja, Pak. Ini urusan hidup mati bagi jiwa perusahaan kita. Kyai Hasan adalah orang yang dulu merumuskan AD/ART syariah perusahaan kita. Pendapat beliau adalah kunci untuk mematahkan argumen Pak Gunawan besok," desak Arya.
Mobil berbelok tajam, meninggalkan jalur utama menuju Sudirman dan mengarah ke kawasan Tebet yang padat permukiman. Di tengah perjalanan, ponsel Arya kembali berbunyi. Kali ini pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal.
"Pak Arya, berhenti bermain api. Tanda tangan sudah basah. Jika Anda mencoba membatalkannya, kami memiliki materi kompromi tentang keterlibatan Anda di masa lalu yang bisa menghancurkan reputasi Anda dalam semalam. Pikirkan baik-baik sebelum Anda kehilangan segalanya. - G"
Arya membaca pesan itu dua kali. Ancaman blackmail. Ternyata mereka sudah menyiapkan senjata kotor. Dulu, saat masih muda dan belum sepenuhnya hijrah, Arya memang pernah terlibat dalam beberapa transaksi abu-abu yang sekarang sangat ia sesali dan sudah ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Apakah Pak Gunawan menyimpan arsip itu?
Jantung Arya berdegup kencang, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tenang. Ia teringat ayat Al-Qur'an yang sering ia baca: "Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
Jika ia mundur karena takut, berarti ia mengakui bahwa masa lalunya lebih kuat dari taubatnya sekarang. Itu penghinaan bagi Allah.
Arya mengetik balasan singkat dengan jari-jari yang stabil: "Kebenaran tidak bisa ditutupi dengan kebohongan, Pak Gunawan. Silakan gunakan apa yang Anda punya. Besok pagi, kita akan lihat siapa yang sebenarnya dihancurkan oleh Allah. Salam."
Ia menekan kirim, lalu melempar ponselnya ke jok samping. Tatapannya kembali tajam menatap jalan yang gelap di depan. Hujan semakin deras, seolah alam sedang membersihkan kotoran-kotoran yang akan segera terkuak.
Sesampainya di kediaman Kyai Hasan, rumah sederhana berlantai kayu itu masih menyisakan cahaya lampu teras. Seorang santri muda membukakan pintu, tampak terkejut melihat CEO berwibawa datang larut malam dengan pakaian yang sedikit basah.
"Mas Arya? Ada apa gerangan? Kyai baru saja tidur," tanya santri itu.
"Tolong bangunkan Kyai, Dek. Katakan Arya Wiguna butuh nasihat urgent soal penyelamatan agama dan harta. Ini darurat," pinta Arya dengan suara mendesak namun tetap santun.
Beberapa menit kemudian, Kyai Hasan, pria sepuh berkopyah putih dengan wajah teduh nan bijak, muncul di ruang tamu. Matanya yang sipit langsung menatap Arya lekat-lekat, seolah bisa membaca gejolak di hati pemuda itu tanpa perlu bertanya.
"Arya, nak," suara Kyai Hasan lembut. "Duduklah. Aku sudah merasakan gelisahmu sejak maghrib tadi. Ada badai yang akan menerjang perahu bisnismu, ya?"
Arya duduk bersila di hadapan sang Kyai, menunduk hormat. "Benar, Kyai. Mereka sudah menandatangani perjanjian riba. Mereka mengancam akan menghancurkan perusahaan dan menggunakan masa lalu saya untuk membungkam saya. Saya bingung, Kyai. Harus bagaimana saya melawan tanpa menimbulkan fitnah yang lebih besar?"
Kyai Hasan tersenyum tipis, lalu menuangkan teh hangat ke cangkir di depan Arya. "Nak, ingatlah kisah Nabi Yusuf. Beliau difitnah, dipenjara, dikhianati saudara-saudaranya, tapi akhirnya justru diangkat menjadi pemimpin Mesir karena keteguhan hatinya memegang kebenaran. Jangan takut pada masa lalu jika kau sudah benar-benar bertaubat. Taubat yang sejati itu menghapus dosa seperti matahari menghapus kegelapan malam."
Kyai Hasan menatap mata Arya dalam-dalam. "Besok, jangan lawan mereka dengan amarah. Lawan mereka dengan cahaya. Kumpulkan para pemegang saham, undang media, dan jelaskan dengan kepala dingin mengapa perjanjian itu batal demi hukum menurut syariat dan akal sehat. Tunjukkan bahwa kerugian finansial jangka pendek lebih baik daripada kehancuran moral jangka panjang. Dan soal masa lalumu? Akui saja dengan lapang dada jika mereka membongkarnya. Justru pengakuanmu itu akan menjadi tameng terkuatmu. Orang akan menghormati kejujuranmu."
Nasihat itu seperti air dingin yang menyiram bara api di dada Arya. Ia merasa mendapat peta jalan yang jelas. Ketakutannya luntur, digantikan oleh tekad baja.
"Terima kasih, Kyai. Saya mengerti sekarang," ucap Arya penuh harap.
"Pergilah, Nak. Luruskan niatmu. Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya," doa Kyai Hasan sambil menepuk bahu Arya.
Arya pamit undur diri. Saat ia keluar rumah Kyai Hasan, hujan sudah reda menjadi gerimis halus. Langit mulai menunjukkan tanda-tanda fajar yang akan segera tiba. Ia kembali ke mobil, di mana Pak Ujang sudah menunggu dengan secangkir kopi panas.
"Ke kantor sekarang, Pak?" tanya Pak Ujang
"Ya, Pak. Kita siapkan segala sesuatu untuk pertempuran besok. Hubungi Mas Raka, pastikan keamanan kantor kita malam ini steril. Dan siapkan ruang rapat utama. Besok pagi, Wiguna Cipta Nusantara akan menjadi saksi sejarah," perintah Arya sambil menyeruput kopinya.
Mobil melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang mulai sepi. Di kejauhan, suara azan Subuh mulai berkumandang dari berbagai menara masjid, bersahut-sahutan menggema di angkasa, seolah membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur untuk menyaksikan sebuah perjuangan baru yang akan menentukan arah kehidupan banyak orang.
Arya Wiguna menatap langit yang mulai memudar kehitamannya, mengganti warna menjadi ungu kemerahan. Ia tahu, hari ini tidak akan mudah. Akan ada teriakan, ancaman, air mata, dan mungkin pengkhianatan. Tapi ia juga tahu, ia tidak sendirian. Di sampingnya ada Allah, di depannya ada tujuan mulia, dan di belakangnya ada prinsip yang tak tergoyahkan.
Perjuangan untuk menyelamatkan jiwa perusahaan dan menjaga kemurnian iman baru saja memasuki babak yang lebih panas. Dan Arya siap menghadapinya, apapun risikonya.
[BERSAMBUNG]