NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Saat membuka pintu kamar Kaenan, kakek Baskoro diam tertegun, kalbu nya seperti tertampar, kebekuan dan kesombongan hatinya selama ini, luntur perlahan, kalbu nya terasa dingin, bagai di siram dengan air pegunungan.

Lama kakek Baskoro dan nenek Carla terdiam membisu di pintu kamar tidur sang cucu, asik mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Kaenan itu. Hingga anak muda itu menyudahi bacaan nya, keduanya masih diam terpaku.

"Nenek!, kenapa tidak memanggil Kae nek?" tanya Kaenan kikuk melihat kehadiran nenek nya bersama seorang pria tua yang dia yakini pasti kakek nya, karena wajah nya yang rada mirip dengan wajah tuan muda Irfan.

"Ah tidak!, tidak!, nenek dan kakek mu takjub mendengar suara mu melantunkan ayat suci Al-Qur'an, merdu, indah dan terasa enak di kuping" sahut sang nenek.

"Kau pasti Kae, putra dari Irfan Bahlul itu kan?" tanya kakek Baskoro terkekeh memeluk tubuh Kaenan seraya menepuk nepuk punggung anak muda itu dengan tangan nya.

"Saya memang Kae kek, nama saya Kaenan!" ujar Kaenan memperkenalkan diri nya.

"Sudahlah!, sudahlah!, ayo kita makan bersama sama!" ajak kakek Baskoro.

Malam itu, mereka makan bertiga sambil bercanda gurau serta berbincang seputar kehidupan Kae selama ini.

Selesai makan, kakek masih mau ngobrol dengan Kae di ruang tengah.

"Kae!, kau tahu kan kakek sudah tua sebentar lagi tujuh puluh tahun, harapan kakek, kau mau menggantikan posisi kakek memimpin perusahaan kita, ini sebenar nya bukan terburu buru, sudah kakek persiapan kan semenjak kau baru dilahirkan mamah mu dulu, namun takdir berkata lain, kau raib begitu saja tanpa ada kabar beritanya lagi, kasihan mamah mu nak, semenjak kehilangan diri mu, dia depresi berat, hingga hilang ingatan nya, baru beberapa bulan ini dia mulai pulih, saat melihat diri mu di Rumah Sakit" kakek mulai bercerita.

"Iya nak!, kasihan mamah mu, sembilan tahun dia pendam kerinduan nya seorang diri, tak ada seorang pun yang mengerti perasaan nya, dia memilih memendam dan mengkonsumsi kepedihan nya seorang diri, hingga akhirnya dia depresi berat " tambah nenek Carla sambil terisak.

"Saya tidak mengetahui itu kek, yang saya ingat, ibu saya seorang wanita gangguan jiwa, yang hidup dari memulung plastik untuk makan saya, ibu sering makan makanan sisa, asal saya makan makanan yang baik, saat ibu meninggal, saya masih Di Rumah sakit, setelah saya sehat, saya ikut tinggal di Rumah saudara angkat saya di pinggiran kota, namun saya pernah menjenguk pondok ibu, saya bertemu dengan nek Ijah, tetua kampung sampah, dia mengasihkan mata kalung terbuat dari emas berukir bunga teratai yang di tengah tengah nya ada tertulis nama pendek saya, yaitu Kae, nek Ijah bilang, rantai kalung nya terpaksa beliau jual, untuk biaya pengobatan putra nya, namun buah kalung nya tidak dijual karena takut, nek Ijah juga yang menceritakan bahwa waktu itu, suami ibu Limah tewas kecelakaan bersama putra nya yang baru berusia dua tahun, dan semenjak itu, ibu Limah mengalami gangguan jiwa, hingga pada suatu hari, dia menemukan saya di tempat pembuangan sampah, bu Limah menganggap saya putra nya, oleh orang kampung, saya dinamakan Kae, sesuai dengan nama yang tertera di buah kalung itu, hanya kalung itulah benda peninggalan dari asal usul saya" ujar Kaenan menceritakan masa lalu nya.

Kaenan naik ke kamar nya, beberapa saat kemudian ia turun sambil menyerahkan buah kalung berbentuk bunga teratai dengan ukuran nama Kae di tengah tengah nya.

menerima buah kalung berbentuk unik itu, tangan nenek Carla tiba-tiba gemetaran, wanita bermata coklat berhidung mancung itu sesegukan menangis.

"Buah kalung ini ku buat khusus untuk mu pada saat ulang tahun mu yang pertama Kae, saat itu tubuh mu gembul, dan sangat tampan, ini ku pesan khusus sewaktu kakek mu ada bisnis di Beijing, aku dan kakek mu sampai harus menunda kepulangan kami ke sini, karena buah kalung itu belum selesai dibuat oleh tukang emas khusus yang sangat ternama disana" tawa nenek Carla pecah disela tangis nya.

"Tapi kenapa tadi nenek menyuruh orang orang seperti mau menculik Kae nek?" tanya Kaenan protes.

"Bukan nenek sayang!, itu tanya sama kakek, itu kerjaan nya si kakek!" kata nenek Carla menunjuk suami nya.

"Nak! Kakek minta maaf, itu hanya kesalahan informasi saja, tadi saya bilang sama orang orang, cepat ambil Kaenan di pinggiran kota, bagai manapun cara nya, bawa dia kerumah ku!, begitu, rupanya itu ditanggapi sebagai perintah gawat darurat sama orang orang" kekeh kakek Baskoro.

Beberapa saat kemudian, kakek Baskoro tiba-tiba diam, dahi nya berkerut.

"Ada apa sayang?" tanya nenek Carla.

"Kalau aku mengingat si Arifin dan si Irfan, hati ku kecewa berat mah, mereka sedikitpun tidak ada inisiatif untuk membuka mata usaha, padahal modal ku siapkan, jalan ku rintis, kurang apa lagi?, yang ada dipikiran mereka hanya bagai mana menguasai harta kekayaan ku yang sudah ada, itu saja, tanpa mau berusaha keras menggali dan menggali lagi, bukan masalah kemaruk harta mah, tapi membantu orang lain dengan lapangan kerja yang kita buat, itu saja!" keluh kakek Baskoro sedih.

Nenek Carla menarik nafasnya dalam-dalam, membenarkan pendapat sang suami. Dia tahu kedua orang putra nya tidak ada yang berkompeten dengan Dunia usaha, jikapun perusahaan diserahkan kepada mereka, maka satu persatu perusahaan nya akan failed. Hal itu sudah di buktikan dua kali.

Dulu tuan muda Arifin dan tuan muda Irfan di suruh memimpin masing masing satu perusahaan, eh belum genap satu tahun, perusahaan itu nyaris hancur, lalu diberi kesempatan kedua, dan masalah pertama pun terulang kembali, perusahaan itu kehabisan modal, nyaris bubar, jika tuan besar Baskoro tidak buru buru turun tangan, menarik semua perusahaan itu kembali.

Kini kedua putra mahkota itu tidak lagi memegang satu bidang usaha apapun, hanya menjadi manajer biasa.

Selama ambisi jahat menguasai hati dan jiwa manusia, tuntunan agama akan menjauh. Dan jika dibiarkan, semakin lama akan semakin jauh.

Ambisi jahat akan mempergunakan trik trik jahat, demi mencapai tujuan hidup nya. Dan mereka tidak akan berhenti sampai terbentur dengan kebenaran, atau justru kematian.

Siang itu, di sebuah kafe, terlihat Bianca sedang makan siang dengan seorang pria seumuran dengan nya.

Dari raut wajah nya, nampak Bianca lagi dirundung masalah yang serius sekali, hingga beberapa kali wanita cantik itu menghapus sudut mata nya dengan tisu.

"Lalu bagai mana dong yang?" tanya Bianca.

Pemuda yang duduk dihadapan nya itu termenung sesaat, lalu seulas senyum samar, terbit di wajah pemuda itu, "mau bagai mana lagi?, kau harus menuruti apa yang sudah direncanakan oleh papah dan mamah mu itu Caca!" ujar nya.

Bianca mengangkat wajah nya, "jadi?, kau mau melepaskan aku begitu saja untuk bocah ingusan itu kah?, dan kau menyerah?, kau tega Johan!, bertahun tahun kita membina hubungan, hanya dengan masalah itu, kau lepas tangan, katamu kau akan memperjuangkan aku, bagai manapun cara nya, kenyataan nya, kau melepaskan aku!" isak tangis Bianca pecah.

Johan tersenyum menatap Bianca, otak pemuda ini penuh dengan intrik licik.

"Caca!, jangan salah paham sayang!, yang kita hadapi itu hanya bocah ingusan yang lugu dan tolol, jika hanya dengan kawin dengan bocah ber bau kencur itu kau bisa menguasai seluruh aset kakek mu, kenapa tidak?, kau paham maksud ku?" tanya Johan.

Bianca mengangkat wajah nya, menatap ke dalam renik mata sang kekasih, mencari arah dari ucapan pemuda tampan berkulit putih pucat itu.

"Maksud mu?" tanya gadis cantik itu lagi.

"Kawin lah dengan anak itu, bujuk dia agar menyerahkan empat puluh persen saham perusahaan kakek mu, setelah berhasil, berarti tujuh puluh persen saham perusahaan ada ditangan mu, kau mengerti itu artinya apa?, tinggal selangkah lagi, perusahaan itu menjadi milik mu sepenuh nya, paham?, setelah itu, dengan mudah nya kau tendang bocah dungu itu sayang" ujar Johan tersenyum licik.

"Dan kita hidup bahagia bersama kan?" tanya Bianca.

"Ya!, kita bagi saham itu Fifty-Fifty, lalu hanya kita berdua pemilik perusahaan itu, kita bebas menendang siapapun yang tidak sejalan dengan kita!" ....

"Tapi! Anak itu akan menjamah tubuh ku sayang, aku hanya ingin menjadi milik mu saja!" bantah Bianca.

"Bukankah kita juga sudah sering melakukan nya sayang?, tidak ada yang istimewa lagi bukan?, kita juga masih bisa melakukan nya sering yang kita mau, meskipun kau sudah sah menjadi istri nya, kau bisa berkorban sedikit, demi tujuan kita yang lebih besar sayang!" bujuk Johan.

Lain Bianca, lain lagi dengan kedua orang tua nya.

Sepasang suami istri itu sedang berbincang berdua di dalam kamar tidur mereka.

"Bagai mana pah?, apa kau sudah bicara dengan Irfan?" tanya Mona istrinya.

"Belum mah!, aku belum kerumah mereka!" jawab tuan muda Arifin.

Mona menatap kearah sang suami dengan mata setengah melotot, "lalu apa saja yang sudah kau lakukan pah?, kau lambat bergerak, nanti jika kau didahului orang lain, baru kau menyesal lagi, dahulu sudah ku bilang, anak itu buang ke sungai , tapi kau selalu beralasan tak tega, sekarang apa yang terjadi?, usia mu sia sia kan?, masih untung tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, jika papah mu mengetahui, kau tahu apa yang terjadi dengan mu?, hidup mu akan berakhir di penjara, orang tua serakah itu tidak takut menyakiti orang lain, demi harta benda nya, tidak perduli jika putra nya sendiri, kau paham pah?" suara bu Mona panjang lebar mengomeli suami nya.

"Aku akan membicarakan nya dengan Irfan secepat nya, aku yakin dengan sedikit tekanan, Irfan akan menerima nya" ujar pria paruh baya itu.

"Kerja mu lambat! Seperti jalan nya siput, tak ada satu pun kerjaan yang becus kau lakukan" omel bu Mona.

Tuan muda Arifin hanya diam saja, tak berani membantah apa apa.

Mona, atau Monaroh, dahulu adalah seorang gadis tercantik di kampus nya, putri seorang pengusaha sukses yang tiba-tiba bangkrut.

Gadis itu sudah sejak lama menjadi incaran tuan muda Arifin, namun jangankan menanggapi, melirik saja tidak.

Namun pada satu ketika, setelah kelulusan mereka, tiba-tiba gadis itu datang kembali, kali ini dengan membawa berjuta harapan dan mimpi mimpi indah untuk tuan muda Arifin.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!