NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASA LALU YANG MENGHANTUI PARA RAJA

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di dalam ruko Palmerah yang berfungsi sebagai markas Aegis, keheningan malam itu terasa jauh lebih pekat dan menekan. Setelah rentetan peristiwa konyol mulai dari kencan buta yang kacau hingga strategi taktis menggunakan pasta gigi, malam ini takdir seolah memaksa klan De Calvi untuk kembali menapakkan kaki di atas bumi kenyataan yang dingin.

​Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan aspal di luar ruko, menyisakan aroma tanah basah yang menyeruak masuk melalui celah ventilasi. Di ruang tengah, lampu utama sengaja diremangkan. Lucien, Marc, Julien, dan Etienne duduk dalam posisi yang berjauhan, menciptakan sebuah ketegangan sunyi yang sangat jarang terjadi di antara mereka berempat.

​Pemicunya adalah sebuah paket kayu kecil tanpa nama pengirim yang tiba di pelabuhan Tanjung Priok sore tadi. Di dalamnya tidak berisi bom atau ancaman tertulis, melainkan sebuah jam saku tua berbahan perak yang sudah berkarat, dengan logo keluarga internal klan De Calvi cabang Marseille yang terukir di penutupnya—cabang keluarga yang lima belas tahun lalu mengkhianati mereka dan menyiksa Lucien di ruang bawah tanah.

​Alya Putri melangkah pelan keluar dari area dapur. Dia tidak mengenakan daster batik cerahnya malam ini, melainkan sebuah piyama katun panjang berwarna biru tua yang longgar. Di tangannya, dia membawa sebuah nampan kayu berisi teko keramik besar berisi wedang ronde hangat yang jahenya sengaja dia geprek dua kali lebih banyak agar rasanya lebih menendang.

​Alya meletakkan nampan itu di atas meja kaca dengan sangat pelan, hampir tanpa suara. Dia memandangi keempat suaminya satu per satu.

​Lucien duduk di kursi tunggal, tatapannya lurus menatap jam saku di atas meja dengan tangan yang terkepal erat hingga urat-urat di lengan kekarnya menonjol tegang. Marc berada di sudut ruangan, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar laptop, namun jemarinya tidak menari secepat biasanya—dia hanya menatap baris kode enkripsi lama yang terputus-panjang. Julien berdiri statis di dekat jendela, tangannya terus-menerus meraba hulu pisau taktis di pinggangnya dengan ritme yang gelisah. Sementara Etienne, pria yang biasanya selalu memiliki stok lelucon kardus di setiap situasi, kini hanya diam bersandar di sofa sambil memandangi langit-langit dengan tatapan kosong dan dingin.

​"Diminum dulu wedang rondenya, masih anget," ujar Alya lembut, suaranya memecah keheningan yang mencekam itu seperti riak kecil di atas permukaan air telaga yang tenang.

​Tidak ada yang bergerak untuk menyentuh mangkuk keramik itu.

​Alya menghela napas pendek, lalu berjalan mendekati sofa tempat Etienne berada. Dia duduk di samping pria jangkung itu, mengulurkan tangan mungilnya untuk menggenggam jemari kanan Etienne yang terasa sangat dingin, sedingin es balok.

​"Bang Etienne," panggil Alya, nadanya melunak penuh empati. "Kenapa mukanya ditekuk semua begini? Biasanya Abang yang paling berisik kalau saya bikin cemilan."

​Etienne tidak langsung menjawab. Dia menurunkan pandangannya, menatap jemari Alya yang menggenggamnya erat. Senyuman topeng yang biasanya dia gunakan untuk mengelabui dunia bawah tanah Eropa malam ini runtuh sepenuhnya, menyisakan raut wajah seorang pria muda yang dipenuhi trauma masa kecil yang mendalam.

​"Alya..." suara Etienne terdengar sangat serak, hampir menyerupai bisikan angin malam. "Jam saku di atas meja itu... adalah milik paman kami, Henri De Calvi. Dialah orang yang memimpin penyergapan lima belas tahun yang lalu. Orang yang memerintahkan anak buahnya untuk mencambuk punggung Lucien selama tiga hari berturut-turut di depan mata kami berdua dengan Marc."

​Etienne memejamkan matanya, napasnya mulai memburu pendek. "Setiap kali aku mendengar suara rintik hujan seperti malam ini, pikiranku selalu ditarik kembali ke sel bawah tanah di Marseille. Aku bisa mendengar suara cambuk kawat yang menghantam kulit Lucien, bau darah yang amis, dan... ketidakberdayaanku sendiri. Aku saat itu hanya bisa menangis di sudut ruangan, menutup telingaku seperti pengecut."

​Mendengar pengakuan jujur dari kembarannya yang biasanya paling ceria, Marc akhirnya menghentikan ketikannya sepenuhnya. Dia menutup laptopnya dengan hentakan pelan, lalu membuka kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah.

​"Aku tidak menangis saat itu, Etienne," sahut Marc, suaranya datar namun bergetar halus karena luapan emosi yang dia tekan selama belasan tahun. "Tapi otakku mencatat setiap frekuensi suara jeritan Lucien, setiap tetes darah yang jatuh ke lantai beton, dan setiap tawa dari Henri. Aku mencoba menghitung probabilitas pelarian kami menggunakan rumus logika di dalam kepalaku, namun hasilnya selalu nol. Rasa frustrasi karena ketidakmampuan logikaku untuk menyelamatkan kakakku sendiri... adalah monster yang merusak waras jiwaku hingga hari ini."

​Marc menatap Alya dengan mata minusnya yang tampak sangat rapuh. "Itu sebabnya aku mengunci diriku di balik layar siber, Alya. Karena di dunia digital, aku bisa mengendalikan segalanya. Aku tidak perlu lagi melihat orang yang kusayangi terluka secara fisik di depan mataku tanpa bisa melakukan apa-apa."

​Alya merasakan dadanya sesak mendengarkan untaian luka lama dari para pria yang selama ini selalu berdiri kokoh sebagai pelindungnya. Dia melepaskan tangan Etienne, lalu berjalan mendekati Lucien yang sejak tadi hanya terdiam kaku layaknya patung batu.

​Alya berlutut di depan kursi Lucien, meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut pria bidang itu. Dia mendongak, menatap mata abu-abu sang Raja mafia yang kini tampak redup, dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu yang mengerikan.

​"Bang Lucien," bisik Alya, air mata bening mulai menggenang di sudut matanya sendiri karena tidak tega melihat suaminya menderita. "Abang yang paling terluka secara fisik di sini. Tapi kenapa Abang malah yang paling diam seolah-olah nggak ngerasain apa-apa?"

​Lucien menurunkan pandangannya, menatap wajah tulus istrinya. Dia mengulurkan tangannya yang besar untuk mengusap pipi Alya, jari-jarinya yang dipenuhi bekas luka pertempuran terasa hangat namun gemetar halus.

​"Karena aku adalah sulung, Alya," jawab Lucien dengan nada suara yang sangat berat dan dalam. "Seorang pemimpin klan tidak diizinkan untuk menunjukkan kerapuhan di depan adik-adiknya. Jika aku hancur, maka fondasi klan De Calvi akan ikut runtuh. Bekas luka di punggungku ini... bukan hanya pengingat akan rasa sakit fisik, melainkan pengingat akan tanggung jawab mutlak bahwa aku harus menjadi perisai yang tidak boleh retak oleh badai mana pun."

​Lucien menghela napas panjang, sebuah desahan berat yang seolah merangkum seluruh beban hidup belasan tahun di dunia bawah tanah. "Tapi malam ini, melihat jam saku Henri kembali muncul di Jakarta... artinya masa lalu itu menolak untuk mati. Mereka ingin menguji apakah perisai ini masih sekuat dulu."

​Dari sudut jendela, Julien akhirnya melangkah maju. Sepatu boots taktisnya berbunyi konstan di atas lantai ruko. Pria yang biasanya bertindak sebagai mesin pembunuh berdarah dingin ini berdiri di samping kursi Lucien, memandang jam saku perak tersebut dengan kilatan mata yang murni dipenuhi oleh insting predator.

​"Henri De Calvi dikabarkan tewas dalam kecelakaan helikopter di Pegunungan Alpen sepuluh tahun yang lalu," urai Julien, nadanya sedingin es di kutub utara. "Jika jam saku ini sampai ke pelabuhan Tanjung Priok hari ini, artinya kematiannya dikloning, atau ada faksi penerusnya yang mencoba menggunakan nama lamanya untuk menebar teror psikologis pada kita. Lucien... beri aku perintah. Aku akan mengecat pelabuhan dengan warna darah mereka sebelum matahari terbit besok."

​"Jangan, Julien," potong Alya cepat, dia berdiri dari posisi berlututnya dan berpindah berdiri tepat di tengah-center antara keempat kembar De Calvi.

​Alya menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan ujung lengan piyamanya dengan gerakan yang sangat tegas. Diplomasi daster dan ketegaran mental khas gadis Jakarta-nya kembali mengambil alih kendali emosional ruangan.

​"Dengerin saya semuanya!" titah Alya, suaranya lantang dan penuh keyakinan, membuat keempat pria jangkung itu secara instan memfokuskan seluruh perhatian mereka pada sosok mungil di depan mereka. "Masa lalu itu emang menyeramkan, dan saya tahu abang-abang sekalian udah ngelewatin neraka yang nggak bakal bisa saya bayangin seumur hidup saya. Tapi itu kan LIMA BELAS TAHUN YANG LALU!"

​Alya menunjuk jam saku di atas meja dengan spatula kayu yang entah sejak kapan sudah dia selipkan di saku piyamanya. "Waktu itu, Abang Lucien masih remaja, Bang Marc belum punya super komputer, Bang Julien belum jago main pisau, dan Bang Etienne masih nangis di pojokan. Tapi sekarang? Kalian berempat adalah Raja! Kalian punya tim Aegis, punya jalur logistik internasional, dan yang paling penting... sekarang kalian punya saya!"

​Alya berjalan mendekati Etienne, merangkul pundak pria itu dari belakang dengan erat. "Bang Etienne, Abang bukan pengecut lagi. Kemarin di restoran Le Marais, Abang sendirian bisa banting lima tentara bayaran pake piring keramik! Abang udah jadi pahlawan yang bisa jagain saya!"

​Etienne tertegun, sebuah binar kehangatan baru perlahan kembali muncul di dalam matanya yang redup. Dia memegang tangan Alya di pundaknya dengan perasaan lega yang luar biasa.

​Alya berpindah ke dekat Marc, mengetuk pelan layar laptop pria genius itu. "Bang Marc, logika Abang itu jenius banget. Jangan ngerasa bersalah karena masa lalu yang nggak bisa dihitung pake rumus. Rumus terbaik itu adalah gimana cara Abang mastiin sistem keamanan ruko kita sekarang nggak bisa ditembus sama odol sekalipun!"

​Marc menaikkan kacamatanya, sebuah senyuman tipis dan tulus akhirnya lolos dari bibirnya yang biasanya kaku. "Analisis psikologis yang sangat akurat, Alya. Terima kasih."

​Terakhir, Alya berdiri di depan Lucien dan Julien bersamaan. Dia mengambil jam saku perak di atas meja, lalu dengan kekuatan penuh, dia melempar jam saku tersebut ke atas lantai kayu dan menginjaknya menggunakan tumit sandal rumahnya hingga kaca pelindungnya pecah berantakan menjadi serpihan kecil tidak berharga.

​PRANG!

​"Masa lalu yang mengancam kita, bakal saya injek-injek kayak begini!" tegas Alya dengan kerlingan mata jalang yang berani. "Siapa pun Henri atau faksi barunya itu, kalau mereka berani datang ke Palmerah buat bikin suami-suami saya sedih dan ketakutan lagi... mereka nggak bakal berhadapan sama peluru klan De Calvi duluan, tapi bakal saya siram pake air kuah wedang ronde panas ini tepat di muka mereka!"

​Suasana ruangan yang tadinya penuh dengan aura melankolis dan trauma mendadak pecah oleh ketegaran domestik ala Alya.

​Lucien De Calvi menatap serpihan jam saku di lantai, lalu menatap istrinya yang berdiri dengan napas terengah-engah penuh semangat juang. Tawa berwibawa yang sangat berat dan maskulin akhirnya meledak dari dada sang Raja. Lucien berdiri, langsung menarik tubuh mungil Alya ke dalam dekapan pelukannya yang paling erat, mengangkat tubuh gadis itu sedikit dari lantai.

​"Kau benar, permaisuriku," bisik Lucien di telinga Alya, seluruh sisa-sisa kegelapan di wajahnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa cinta dan kekaguman yang tak terbatas pada istrinya. "Kami bukan lagi anak-anak remaja yang ketakutan di Marseille. Kami adalah De Calvi, dan dengan adanya dirimu di samping kami, tidak ada satu pun hantu masa lalu yang diizinkan untuk mengintimidasi rumah tangga kita."

​Julien ikut menurunkan senjatanya, ketegangan di bahunya mereda sepenuhnya. Dia mengambil salah satu mangkuk wedang ronde yang mulai menghangat, lalu meminum kuah jahenya dalam satu tegukan besar. "Rasa jahe yang sangat kuat, Alya. Ini meningkatkan sirkulasi darah dan meluruhkan sisa rasa dingin dari memori Marseille."

​Etienne berdiri dari sofa, kembali memamerkan senyuman kardus menawannya yang sangat khas, lalu ikut memeluk Alya dari sisi belakang tubuh Lucien. "Ah, Alya manisku... keberanianmu menginjak jam perak itu benar-benar sangat seksi. Bisakah besok kita menjadwalkan sesi latihan bela diri khusus di mana kau mengajariku cara menginjak musuh dengan sandal jepit?"

​"Nggak usah aneh-aneh, Bang!" omel Alya dari dalam jepitan pelukan Lucien dan Etienne, membuat Marc yang kembali membuka laptopnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa tawa kecil.

​"Marc," panggil Lucien dengan nada formal taktisnya yang kembali pulih seratus persen. "Lacak asal-usul pengiriman paket kayu itu melalui manifes kontainer kapal selam klan Valois yang sempat terdampar di perbatasan Singapura. Kita akan memburu mereka sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di tanah Jawa."

​"Pencarian taktis dimulai," jawab Marc, jemarinya kini bergerak dengan kecepatan penuh, memancarkan aura kepercayaan diri seorang dewa siber yang siap menghancurkan jaringan musuh mana pun di dunia. "Estimasi waktu pelacakan lokasi koordinat utama: empat puluh dua menit."

​Malam itu di ruko Palmerah, badai trauma masa lalu yang sempat menghantui para Raja akhirnya berhasil diredam dan dihancurkan bukan dengan strategi perang militer barat yang rumit, melainkan oleh kehangatan semangkuk wedang ronde jahe, ketegasan sebuah daster batik, dan cinta tulus dari seorang gadis Jakarta bernama Alya Putri yang siap menjadi perisai emosional terbesar bagi dinasti mafia paling berbahaya di Eropa.

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!