Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Bangkit
Wuuussshhhh!
Baru saja Sekar membuka pintu rumah, sebuah piring plastik terbang hampir mengenai kepalanya. Untung saja refleks Sekar cepat. Ia merunduk seketika, dan piring itu menghantam tembok dengan suara gaduh.
Grompyang!
Pyarrr !!!
Untungnya itu piring seng. Tidak pecah, cuma sedikit penyok.
"Bagus ya! Jam segini baru pulang. Habis keluyuran ke mana kamu, Sekar???" bentak Bu Nimas sambil berkacak pinggang di ruang tengah. Gayanya sudah seperti jagoan pasar.
Sekar menarik napas panjang. Dia tidak takut, cuma lelah. "Kenapa, Bu? Masalah?" sahut Sekar sambil mengelus dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang sempat mau copot gara-gara piring terbang tadi.
Mata Bu Nimas makin melotot. "Ya jelas masalah! Kamu itu numpang di rumah saya, jangan seenaknya main pergi-pergi saja! Sadar diri dong!"
Sekar tidak membalas. Ia malah berjalan santai ke meja tamu, menuangkan air dari teko ke gelas, lalu meminumnya sampai habis. Dia butuh air untuk mendinginkan kepala.
"Kamu budek ya?! Orang tua ngomong bukannya dijawab, malah enak-enakan minum!" semprot Bu Nimas lagi.
"Ck, apa sih, Bu? Sekar itu haus. Soal Sekar numpang di sini, ya wajar dong, kan Sekar istrinya anak Ibu. Menantu Ibu." balas Sekar tenang tapi menohok. "Lagian Sekar kurang sadar diri gimana lagi? Semua kerjaan rumah Sekar yang beresin. Sampai urusan cuci pakaian dalam Ibu pun Sekar yang kerjain. Masih dibilang nggak tahu diri?"
Bu Nimas makin naik pitam. "Eh, kamu! Berani ya ngejawab terus kalau orang tua ngomong! Harusnya kamu itu diam, nurut! Jangan ngebantah terus, kualat baru tahu rasa kamu!"
"Lah, Ibu ini gimana? Tadi Sekar diam, Ibu marah. Sekarang Sekar jawab, Ibu tambah marah. Maunya apa sih? Heran.” sahut Sekar sengaja memancing emosi mertuanya.” Kalau bisa sampai tensinya naik tinggi sekalian. Biar cepat mampus.” batin Sekar gemas.
“Astagfirullah, nggak boleh doain orang cepat mati, Sekar! Nanti kalau dikabulkan Tuhan beneran gimana?”Sekar merutuki pikirannya sendiri.
"Pokoknya kamu itu diam saja kalau Ibu marahin dan baru nyaut kalau Ibu tanya. Paham?!"
"Nggak paham tuh. Sekar nggak mau ditindas terus sama Ibu. Ibu jangan jadi mertua zalim, awas nanti kuburannya sempit." balas Sekar telak, lalu langsung melesat masuk ke kamar.
"Heh! Bocah gendeng! Bicara apa kamu, Sekar!" teriak Bu Nimas dengan napas tersengal-sengal, megap-megap menahan marah.
Di dalam kamar, Sekar mengunci pintu dan terkikik geli. "Hihihi! Rasain tuh nenek sihir. Marah-marah terus kerjanya."
Sekar melirik jam dinding. Sudah setengah satu siang. Pantas saja mertuanya mengamuk, ternyata dia pergi cukup lama bersama Amelia tadi. Setelah salat, Sekar merebahkan diri di kasur. Ia teringat saran Amelia untuk mencoba menulis di aplikasi novel.
"Kata Amel novel di kontrak setelah 20 bab. Oke, semangat Sekar!" gumamnya. Selama empat jam, ia fokus menulis hingga berhasil menyelesaikan lima bab sekaligus. Ia juga mengedit gambar untuk cover bukunya agar terlihat menarik.
"Selesai! Lanjut nanti malam deh, mata sudah sepet." ujarnya sambil meregangkan otot. Pas melihat jam, ternyata sudah pukul empat sore. Buru-buru ia keluar kamar untuk masak sebelum "Singa Betina" di rumah itu mengamuk lagi.
**
Malam harinya, saat makan malam...
"Apa lagi ini, Sekar? Kok lauknya cuma ikan asin sama oseng kangkung!" seru Ferdiansyah yang langsung komplain begitu melihat meja makan.
"Ya sesuai uang yang kamu kasih lah, Mas. Kalau mau makan mewah, minimal tambahin uang belanjanya.”" sahut Sekar santai.
"Eh, jaga mulutmu! Kita ini muslim, nggak boleh makan yang haram-haram!" timpal Bu Nimas, salah paham karena mengira Sekar minta uang lebih untuk beli yang aneh-aneh.
"Lah, Ibu tiap hari nilep jatah belanja aku, itu juga haram, Bu. Nggak berkah. Di akhirat nanti perutnya diisi batu api loh." balas Sekar telak.
"Ferdi! Lihat istrimu ini! Dia doain Ibu masuk neraka! Sudah kelewat batas dia!" adu Bu Nimas pada putra kesayangannya.
Ferdi memijat pelipisnya, pusing melihat ibu dan istrinya hobi cekcok.
"Apa yang dibilang Mbak Sekar benar kali, Bu. Ibu jangan kuasain uang Mas Ferdi terus. Inget, di situ ada haknya Mbak Sekar." tiba-tiba Risal ikut bicara.
Di bawah meja, Sekar memberikan jempol pada adik iparnya itu. Risal membalas dengan kerlingan mata nakal.
"Tau apa kamu, Sal? Anak kecil nggak usah ikut campur!" bentak Bu Nimas.
"Tau tuh, Risal! Harusnya kamu dukung Ibu. Kalau uang Mas Ferdi dikasih ke istrinya, bisa habis buat foya-foya nggak jelas!" sahut Riska sambil melirik sinis pada Sekar.
Semenjak Sekar tinggal di sana, si kembar Risal dan Riska memang sering beda pendapat. Riska selalu jadi pengikut setia Ibunya, sedangkan Risal lebih objektif dan kasihan melihat Sekar yang yatim piatu terus dipojokkan.
" Riska" ujar Risal. "Emang kamu mau kalau besok nikah terus nggak dikasih nafkah sama suamimu? Buat beli bedak tiga puluh ribu aja harus ngemis-ngemis? Mau bedakan pakai tepung terigu?"
"Ih, ya ogah! Suamiku harus kasih gajinya full ke aku dong! Aku kan istrinya!" jawab Riska lantang tanpa sadar dia sedang menjilat ludah sendiri.
"Nah, itu tahu! Mbak Sekar kan istrinya Mas Ferdi. Sandang, pangan, papan itu kewajiban suami.” tegas Risal.
"Sudah, Ris! Kamu nggak usah sok tahu urusan rumah tanggaku. Aku tahu mana yang baik." tegur Ferdi keras dan kesal mendengar perkataan adiknya itu.
Risal mengangkat bahu. "Ya sudah, terserah. Risal cuma ingetin, kalau nanti kena azab gara-gara zalim sama Mbak Sekar, tanggung sendiri ya." Risal lanjut makan dengan nikmat, mengabaikan wajah Ferdi dan Ibunya yang sudah merah padam.
**
Malam harinya di kamar...
Ferdi baru saja masuk, ia melihat Sekar sedang rebahan di kasur.
"Sekar sayang..." Ferdi menghampiri istrinya dengan nada suara yang dibuat-buat manja.
Sekar yang baru mau memejamkan mata langsung waspada. Dia mencium bau-bau "kucing garong". "Apa, Mas?"
"Mas pengen..." ucap Ferdi mulai meraba bahu Sekar.
“ Aku ngantuk Mas. Kapan-kapan saja.” kata Sekar sambil memejamkan matanya.
“ Dosa kamu Sekar jika nolak permintaan suami.” kata Ferdi kesal
Sekar hanya bisa pasrah. Sekesal apa pun dia, dia masih merasa punya kewajiban sebagai istri dan takut berdosa jika menolak. Malam itu pun ia melayani Ferdi meski pun dengan perasaan yang masih dongkol.
"Ugh, Sekar... Mas mau keluar... Aaarrgh!" Ferdi mengerang saat mencapai puncaknya dan ambruk di samping Sekar.
Sekar hanya bengong menatap langit-langit kamar dengan wajah masam bin kesal. "Loh, kok sudah selesai aja, Mas? Perasaan baru juga mulai..." gerutunya dalam hati, merasa benar-benar tidak puas.
kapoooooooook