Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Preman
Matahari pagi di Purworejo baru saja menyembul dari balik perbukitan Menoreh ketika Alan terbangun di kamar hotel melatinya. Kamar itu sempit, hanya ada satu kasur pegas yang sudah agak reyot, sebuah kipas angin dinding yang berderit bising, dan bau pembersih lantai rasa karbol yang menyengat. Jauh sekali dari kenyamanan kamar tidurnya di Jakarta yang ber-AC sentral dengan kasur bulu angsa.
Alan duduk di tepi kasur, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Semalaman dia hampir tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, tatapan dingin Xarena dan kata-kata "bawa sial" itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Baru semalam aja udah kerasa berat banget ya, Lan," gumam Alan pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya yang kusut di cermin lemari pakaian. "Tapi lu nggak boleh menyerah. Ini baru hari pertama."
Setelah membasuh muka dan berganti kaus polo bersih, Alan melangkah keluar dari hotel. Tujuannya pagi ini jelas: dia harus mencari kontrakan kecil di sekitar kota Purworejo yang harganya ramah di kantong sisa tabungan pribadinya, lalu mencari cara agar bisa mendekati Ciara tanpa membuat Xarena mengamuk.
Di saat yang sama, sekitar tiga puluh kilometer dari tempat Alan berada, suasana di desa Bruno masih tampak sangat asri dan damai. Kabut tipis masih menyelimuti dedaunan pohon cengkih.
Xarena sedang berada di halaman samping rumah joglo Budhe Sum, menjemur beberapa pakaian mungil milik Ciara. Sementara Ciara sendiri sedang asyik duduk di atas tikar pandan, mencoba menyusun balok-balok kayu mainannya sambil sesekali mengoceh tidak jelas.
"Ciara sayang, jangan dimasukkan ke mulut ya mainannya. Banyak kuman," tegor Xarena lembut sambil membenarkan posisi duduk putrinya.
"Nduk, Xarena," panggil Budhe Sum dari arah dapur, berjalan pelan sambil membawa se piring singkong rebus yang masih mengepulkan asap. "Ini dimakan dulu sarapannya. Mumpung masih hangat."
"Matur nuwun, Budhe. Repot-repot amat," jawab Xarena dengan senyum tulus, kontras dengan wajah dinginnya saat menghadapi Alan semalam.
Budhe Sum duduk di pinggiran teras, memperhatikan Xarena yang mulai menyuapi Ciara dengan bubur tim. "Nduk... Budhe mau nanya soal yang semalam itu."
Gerakan tangan Xarena sempat terhenti sejenak, namun ia segera menguasai diri. "Soal pria semalam ya, Budhe? Udah Xarena usir kok. Dia nggak bakal berani datang lagi."
"Dia itu... bapak kandungnya Ciara, toh?" tanya Budhe Sum hati-hati, pandangan matanya penuh rasa iba.
Xarena mengembuskan napas pendek, lalu mengangguk pelan. "Iya, Budhe. Tapi dia orang masa lalu yang harusnya nggak pernah muncul lagi. Kedatangan dia cuma bakal bawa masalah buat kita di sini."
Belum sempat Budhe Sum menanggapi, tiba-tiba keheningan pagi itu pecah oleh suara raungan mesin beberapa sepeda motor yang sengaja digas kencang di depan pagar bambu rumah mereka.
Bremmm! Bremmm!
Tiga orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit loakan dan wajah sangar turun dari motor mereka. Tanpa permisi, salah satu dari mereka langsung menendang pagar bambu hingga engselnya hampir lepas.
Brak!
"Woi! Yang namanya Xarena keluar lu!" teriak pria berambut gondrong dengan tato naga di lengannya.
Ciara yang kaget mendengar suara benturan keras itu langsung menangis histeris. Xarena dengan sigap langsung menyambar Ciara ke dalam pelukannya, sementara Budhe Sum berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Budhe, bawa Ciara masuk ke dalam kamar sekarang! Kunci pintunya dari dalam!" perintah Xarena dengan suara berbisik namun tegas.
Meskipun jantungnya berdegup kencang karena takut, insting seorang ibu membuat Xarena mendadak berani. Ia melangkah keluar ke teras, menatap ketiga preman itu dengan pandangan menantang.
"Kalian siapa?! Mau apa bikin keributan di rumah orang pagi-pagi begini?!" seru Xarena lantang.
Pria bertato naga itu maju beberapa langkah, meludahi tanah halaman rumah, lalu menunjuk Xarena dengan kasar. "Lu yang namanya Xarena? Kasih tahu itu sama cowok lu, si Alan bajingan dari Jakarta! Gara-gara dia, bos kita di kota rugi gede! Dia punya urusan yang belum kelar, tapi malah kabur dan sembunyi di kampung ini!"
Xarena mengernyitkan dahi, bingung sekaligus geram. "Alan? Dia nggak ada di sini! Dia udah pergi dari semalam!"
"Halah, nggak usah bohong lu! Kita tahu dia nyusul lu ke sini! Pokoknya bilangin sama si Alan, kalau dalam waktu dekat dia nggak nemuin bos kita buat beresin urusannya, jangan harap hidup lu sama anak lu di desa ini bisa tenang! Kita bakal balik lagi dengan massa yang lebih banyak!" ancam preman satunya yang memakai topi hitam.
"Heh! Denger ya, saya nggak ada urusan sama Alan ataupun urusan bisnis kalian! Pergi dari sini sekarang atau saya teriak biar warga kampung sini datang ngeroyok kalian?!" gertak Xarena, mencoba memanfaatkan solidaritas warga desa yang biasanya sangat kompak jika ada orang asing membuat onar.
Mendengar ancaman teriakan Xarena, ketiga preman itu saling berpandangan. Sesuai skenario yang diperintahkan oleh orang suruhan Riko, mereka tidak boleh memperpanjang masalah hingga melibatkan warga lokal. Tugas mereka hanya menanamkan fitnah.
"Cih! Sok berani lu ya! Ya udah, hari ini kita cabut. Tapi inget pesen gue, bilangin ke si Alan pahlawan kesayangan lu itu, jangan tumbalin orang lain demi keselamatan diri dia sendiri! Ayo cabut, Ga!"
Ketiga preman itu langsung berbalik, menaiki motor mereka, dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap knalpot dan debu jalanan yang beterbangan.
Xarena lemas. Kakinya gemetar hingga ia terpaksa berpegangan pada tiang kayu joglo agar tidak ambruk. Dadanya kembang kempis menahan emosi yang bercampur aduk antara takut, syok, dan marah yang luar biasa.
"Alan... bajingan!" desis Xarena dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. tangannya mengepal kuat-kuat hingga kukunya memutih. "Baru semalam dia di sini, dan sekarang dia udah bawa preman buat neror hidup aku dan Ciara? Benar-benar keterlaluan!"
Pikiran Xarena langsung mengaitkan kejadian ini dengan perkataan Monique di masa lalu. Ia berpikir bahwa Alan mungkin terlibat dalam masalah gelap atau sengaja memancing musuh-musuhnya ke desa ini agar bisa berpura-pura menjadi pelindung bagi dirinya dan Ciara.
Budhe Sum keluar dari dalam rumah dengan wajah pucat pasi, langsung memeluk pundak Xarena. "Nduk... mereka itu siapa? Kok bawa-bawa nama Alan?"
Xarena menghapus air matanya dengan kasar, tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin dan penuh dengan kobaran dendam. "Budhe, seperti yang aku bilang semalam. Alan itu pembawa sial. Dia datang ke sini bukan buat minta maaf, tapi buat hancurin sisa-sisa kedamaian hidup kita."
Xarena berjalan masuk ke dalam rumah, mengabaikan singkong rebus yang mulai mendingin di teras. Di dalam hatinya, pintu maaf untuk Alan yang semalam masih tersisa sedikit celah, kini telah tertutup rapat, digembok, dan kuncinya telah dibuang dalam-dalam ke dasar samudera kebohongan. Skenario licik Monique dan Riko dari Jakarta telah bekerja dengan sangat sempurna tanpa cacat.