NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG-BAYANG DI BALIK BAHAGIA

Suasana kediaman keluarga Mahendra masih diselimuti sisa-sisa kehangatan acara lamaran keluarga yang digelar secara privat minggu lalu. Clarissa duduk di teras samping, menatap cincin berlian yang kini melingkar manis di jari manisnya. Ia merasa hidupnya sangat sempurna, sampai sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor yang tidak dikenal.

"Jangan terlalu bangga bisa memiliki Adrian. Kamu hanya tempat pelariannya saat dia butuh tantangan baru. Aku lebih tahu siapa Adrian daripada kamu, si 'Ratu Hijrah' karbitan."

Clarissa tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menarik napas dalam, memutar butiran tasbih birunya untuk menenangkan diri. Namun, rasa ragu yang dulu pernah terkubur seolah mencoba merangkak naik kembali.

Sore itu di kampus, saat Clarissa sedang menunggu Adrian di kantin fakultas hukum, seorang wanita cantik dengan rambut panjang tergerai dan gaya yang sangat modis menghampirinya. Wanita itu adalah Nadia, mantan kekasih Adrian saat mereka masih di tingkat pertama—sebelum Adrian memutuskan untuk lebih mendalami agama.

"Jadi, ini Clarissa?" tanya Nadia dengan nada meremehkan, matanya memindai jilbab pashmina yang dipakai Clarissa. "Gaya kamu drastis banget ya perubahannya. Dari ratu pesta jadi ratu pengajian. Kamu yakin Adrian suka kamu yang sekarang? Atau dia cuma merasa kasihan karena kamu... yah, kamu tahu, penyintas kanker?"

Clarissa mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa panas menjalar di pipinya, namun ia teringat pesan Adrian untuk selalu membalas keburukan dengan kelembutan.

"Hai, Nadia," jawab Clarissa tenang, suaranya stabil meski hatinya bergetar. "Adrian mencintai aku bukan karena kasih kasihan. Kami berjuang bersama di titik terendah kami masing-masing. Kalau kamu punya masalah sama masa lalu kalian, tolong bicarakan sama Adrian, bukan sama aku."

Nadia tertawa sinis. "Adrian itu pria yang aktif, Clar. Dia suka basket, dia suka petualangan. Apa kamu bisa nemenin dia dengan kondisi fisik kamu yang gampang drop itu? Kamu cuma bakal jadi beban buat masa depan dia."

Pelindung yang Tak Terduga

"Nadia, cukup."

Suara bariton itu terdengar dingin dan tegas. Adrian berdiri di belakang Nadia dengan wajah yang mengeras. Ia baru saja selesai latihan basket dan masih membawa tas olahraganya.

Nadia berbalik, mencoba memasang wajah manis. "Hai, Dri. Aku cuma lagi kenalan sama tunangan kamu. Kenapa galak banget?"

"Aku nggak suka cara kamu bicara sama Clarissa," tegas Adrian. Ia melangkah maju dan berdiri di samping Clarissa, tangannya secara posesif namun lembut merangkul bahu Clarissa. "Clarissa bukan beban. Dia adalah alasan aku ingin jadi pria yang lebih baik setiap harinya. Apapun yang pernah ada di antara kita dulu, itu sudah selesai saat aku memilih untuk memperbaiki hidup aku."

Adrian menatap Nadia dengan pandangan yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan. "Tolong jangan ganggu tunangan aku lagi. Masa lalu aku memang pernah sama kamu, tapi masa depan aku... itu cuma buat Clarissa."

Nadia mendengus kesal, menyambar tas mewahnya, dan pergi meninggalkan kantin dengan langkah terburu-buru.

Setelah Nadia pergi, suasana menjadi canggung. Clarissa menunduk, memainkan ujung jilbabnya. Kata-kata Nadia tentang "menjadi beban" ternyata membekas di hatinya.

"Kamu kepikiran omongan dia, Sayang?" tanya Adrian lembut, ia duduk di depan Clarissa.

"Adrian... apa bener aku bakal jadi hambatan buat karir dan hobi kamu nanti? Aku takut kalau suatu saat nanti kamu merasa lelah karena harus terus-terusan jagain aku."

Adrian meraih kedua tangan Clarissa. Ia menatap mata Clarissa dengan sangat dalam, memberikan rasa aman yang selalu ia berikan sejak di Singapura.

"Clarissa, dengerin aku. Menjaga kamu itu bukan tugas, itu ibadah buat aku. Aku nggak butuh pasangan yang bisa nemenin aku lari maraton kalau hatinya nggak sejalan sama aku. Aku butuh kamu, yang bisa ngingetin aku buat salat tepat waktu, yang bisa bareng-bareng baca Qur'an sebelum tidur. Kondisi fisik kamu itu rencana Tuhan, dan aku sudah terima itu sejak awal."

Adrian tersenyum, mencoba mencairkan suasana. "Lagian, siapa bilang aku nggak bisa petualangan? Kita bisa petualangan ke mana saja, asal bareng kamu. Mau ke Mekkah? Mau ke tempat-tempat indah lainnya? Kita bakal lakuin pelan-pelan sesuai kekuatan kamu."

Kekuatan Baru Clarissa

Clarissa tersenyum, beban di pundaknya seolah terangkat. Ia menyadari bahwa ujian seperti Nadia hanyalah cara Tuhan untuk memperkuat ikatan mereka sebelum pernikahan.

"Makasih ya, Adrian. Aku janji nggak akan dengerin omongan orang lain lagi. Aku bakal fokus buat persiapan skripsi dan... persiapan kita," bisik Clarissa malu-malu.

Malam itu, Clarissa menulis di buku catatannya:

"Ternyata, masa lalu orang lain pun bisa menjadi ujian bagi hijrahku. Namun, selama tanganku digenggam oleh pria yang takut pada-Mu, aku tidak perlu takut pada bayang-bayang mana pun."

Ia menyentuh cincin di jarinya, lalu beralih menyentuh jilbabnya. Ia merasa sangat beruntung. Ia telah kehilangan dunianya yang palsu, namun ia mendapatkan dunia yang jauh lebih nyata dan penuh berkah.

Sesampainya di rumah, Clarissa disambut oleh Bastian yang sedang sibuk dengan beberapa katalog. Ternyata, Bastian dan Pak Gunawan diam-diam sudah mulai merencanakan konsep pernikahan impian untuk Clarissa.

"Dek, lihat nih. Konsepnya outdoor di taman, jadi udaranya segar buat lo. Nggak banyak tamu, cuma orang-orang terdekat saja supaya lo nggak terlalu capek," ujar Bastian bersemangat.

Clarissa terharu. Ternyata seluruh keluarganya sangat mendukungnya. "Kak, makasih ya. Tapi aku mau satu hal... aku mau ada sesi khusus di mana kita kasih santunan buat anak-anak pejuang kanker. Aku mau mereka tahu kalau harapan itu selalu ada."

Bastian mengacak rambut adiknya yang tertutup jilbab. "Apapun buat adek gue yang paling hebat. Kita bakal bikin pernikahan paling berkah tahun ini."

Di kejauhan, Adrian mengirim pesan singkat: "Tidur yang nyenyak, Sayang. Jangan lupa minum vitaminnya. Aku sayang kamu karena Allah."

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!