Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
...Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi yang gurih memenuhi dapur pagi itu....
...Stella bersenandung kecil, tangannya cekatan menata piring-piring porselen di atas meja makan....
...Baginya, menyiapkan sarapan untuk Abbas adalah ritual cinta yang tidak pernah ia lewatkan selama lima tahun pernikahan mereka....
..."Mas Abbas, bangun! Sudah siang, nanti telat ke kantornya," seru Stella sedikit berteriak tanpa menghentikan kesibukannya menuangkan jus jeruk ke gelas....
...Tidak ada jawaban dari arah kamar, namun sedetik kemudian, keheningan pagi itu pecah oleh suara ketukan pintu depan yang cukup keras....
...Tok! Tok! Tok!...
...Stella mengernyitkan dahi. Ia melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul enam pagi....
..."Siapa pagi-pagi begini bertamu?" gumamnya heran. Ia mengelap tangannya pada celemek dan hendak melangkah menuju ruang tamu....
...Namun, langkahnya terhenti saat melihat Abbas sudah turun dari tangga....
...Suaminya itu tidak tampak seperti orang yang baru bangun tidur dengan nyawa yang belum terkumpul....
...Abbas justru terlihat sigap, seolah sudah menanti ketukan itu sejak tadi....
..."Biar aku saja yang buka, Stel," potong Abbas cepat, bahkan sebelum Stella sempat mendekati pintu....
...Stella terdiam di tempatnya, memerhatikan punggung suaminya....
...Tak lama kemudian, Abbas kembali ke ruang makan, namun ia tidak sendirian....
...Di belakangnya, seorang gadis muda dengan koper kecil dan tas ransel mengekor dengan kepala tertunduk....
...Gadis itu mengenakan gamis sederhana, wajahnya tampak lelah namun tetap terlihat cantik secara alami....
..."Dia siapa, Mas?" tanya Stella, bingung sekaligus kaget....
...Abbas berdeham, tangannya memberikan kode agar gadis itu duduk di kursi makan. "Stel, kenalkan....
...Ini Annisa, adik sepupuku dari kampung. Dia baru lulus kuliah dan mau cari kerja di Jakarta."...
...Stella mengerjapkan mata, berusaha mencerna situasi....
..."Adik sepupu? Yang di Yogyakarta itu?"...
..."Bukan, ini sepupu dari pihak almarhum Ayah. Sudah lama kita tidak kontak," jawab Abbas dengan nada datar, seolah hal ini adalah sesuatu yang biasa....
..."Dia akan menginap di sini untuk sementara sampai dapat pekerjaan dan tempat tinggal sendiri."...
...Stella terpaku. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya, bukan karena ia keberatan membantu saudara, tapi karena ia merasa dianggap asing di rumahnya sendiri....
..."Bas, kenapa kamu tidak mengatakannya semalam?" tanya Stella, suaranya bergetar menahan kecewa....
..."Kenapa baru bilang sekarang saat orangnya sudah berdiri di sini?"...
...Abbas menarik kursi untuk dirinya sendiri, menghindari tatapan mata Stella....
..."Maaf, aku lupa. Semalam aku pulang terlalu malam dan sangat capek. Aku pikir kamu tidak akan keberatan kalau hanya untuk menolong saudara sendiri, kan?"...
...Stella menatap Annisa yang kini memberanikan diri menatapnya. Mata gadis itu terlihat bening dan polos....
..."Maaf ya, Mbak Stella, kalau kedatangan Annisa merepotkan," ucap Annisa dengan suara lembut yang nyaris berbisik....
...Stella menghela napas panjang. Sebagai istri yang selalu berusaha patuh dan berhati lembut, ia akhirnya memaksakan sebuah senyuman tipis....
..."Ya sudah, tidak apa-apa. Ayo duduk, kita sarapan dulu."...
...Namun, di balik senyum itu, ada sebuah firasat aneh yang menyelinap di hati Stella....
...Sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa, tapi cukup untuk membuat seleranya sarapan pagi itu hilang seketika....
...Suasana di meja makan terasa kaku. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan, sebelum Stella akhirnya memecah keheningan....
...Ia mencoba bersikap hangat, selayaknya tuan rumah yang menyambut kerabat suaminya....
..."Jadi, Annisa. Kamu lulusan apa? Mungkin saja aku bisa bantu tanya ke teman-teman kuliahku dulu. Siapa tahu ada lowongan yang cocok untukmu," ucap Stella sambil menyodorkan piring berisi roti bakar....
...Annisa menerima roti itu dengan senyum tipis, namun tatapannya tampak lebih berani dari sebelumnya....
..."Lulusan SMA, Mbak. Tapi kata Mas Abbas, beliau sudah mencarikan aku pekerjaan sebagai sekretaris di kantornya."...
...Stella tertegun. Tangannya yang hendak meraih cangkir teh tertahan di udara....
..."Sekretaris? Tapi Mas, bukannya kriteria di kantormu minimal harus sarjana? Lagi pula, kamu tidak bilang apa-apa soal posisi kosong di kantormu semalam."...
...Abbas hanya berdeham, matanya tetap terpaku pada layar ponselnya, seolah jadwal rapat lebih penting daripada kegelisahan istrinya....
...Belum sempat Abbas menjawab, Annisa menyela dengan nada suara yang terdengar polos namun menusuk....
..."Lagipula, Mbak Stella kan hanya ibu rumah tangga. Bukannya Mbak sudah lama tidak bekerja? Mungkin koneksi Mbak sudah tidak sebanyak dulu."...
...Kalimat itu bagaikan tamparan tak kasat mata bagi Stella....
...Ia meletakkan sendoknya dengan suara denting yang cukup keras....
...Dadanya berdesir panas. Lima tahun ia mendedikasikan hidupnya untuk mengurus rumah dan keperluan Abbas, dan kini seorang gadis yang baru tiba satu jam lalu berani meremehkan statusnya?...
..."Apa maksudmu, Annisa?" tanya Stella, suaranya rendah namun tajam....
...Matanya menatap lurus ke arah gadis muda itu. "meskipun aku hanya Ibu rumah tangga, bukan berarti aku buta dunia luar."...
..."Sudahlah, Stel," potong Abbas tiba-tiba. Ia meletakkan ponselnya dan menatap Stella dengan sorot mata peringatan....
..."Annisa tidak bermaksud buruk. Dia benar, dia sudah aku atur untuk membantuku di kantor. Dia masih muda, perlu banyak bimbingan, dan aku lebih percaya kalau orang dekat yang memegang posisi itu."...
..."Tapi Bas, bimbingan itu satu hal. Meremehkan istrimu di meja makan ini hal lain," balas Stella, suaranya mulai bergetar karena menahan emosi....
..."Kamu terlalu sensitif pagi-pagi begini," ucap Abbas dingin sambil merapikan dasinya tanpa menatap Stella....
..."Annisa masih baru, dia belum mengerti cara bicara di sini. Jangan dibesar-besarkan. Nisa, cepat habiskan sarapanmu. Kita berangkat sekarang agar tidak terlambat."...
...Annisa mengangguk patuh, melirik Stella sekilas dengan binar kemenangan yang tersembunyi di balik bulu matanya yang lentik....
...Stella terpaku di kursinya, menatap punggung suaminya yang berjalan menjauh bersama "adik sepupunya"....
...Sarapan yang ia buat dengan penuh cinta itu kini terasa hambar, sepahit rasa sesak yang mulai memenuhi relung hatinya....
...Ada sesuatu yang salah, dan Stella merasakannya tepat di ulu hati....
...Stella meletakkan garpunya dengan denting yang bergema di ruang makan yang mendadak sunyi. Ia berdiri, menatap Abbas dengan sorot mata yang tak lagi lembut....
..."Mungkin aku memang 'hanya' ibu rumah tangga sekarang, Annisa," ucap Stella dengan nada dingin yang menusuk....
..."Tapi jangan lupa, posisi sekretaris di perusahaan itu bukan jabatan main-main. Aku akan tanya Papa dulu soal ini. Dan jangan lupa, Bas. perusahaan itu milik siapa asalnya."...
...Kalimat itu telak menghantam harga diri Abbas. Perusahaan yang kini dikelola Abbas memang merupakan peninggalan keluarga Stella yang diserahkan padanya setelah mereka menikah....
...Tanpa sepatah kata lagi, Stella membalikkan badan dan melangkah mantap menaiki anak tangga menuju lantai atas, meninggalkan Annisa yang terpaku dan Abbas yang mendadak pucat....
..."Tunggu di sini, Nisa," perintah Abbas pendek sebelum berlari menyusul istrinya....
...Abbas menemukan Stella di dalam kamar, sedang berdiri membelakangi pintu sambil menatap keluar jendela....
...Napas Stella naik turun, menahan amarah yang mulai bercampur dengan rasa curiga....
..."Stela, sayang, tunggu dulu," Abbas mendekat, suaranya melembut seribu derajat....
...Ia mencoba meraih bahu Stella, namun istrinya itu menghindar....
..."Kenapa, Bas? Takut aku menelepon Papa?" tanya Stella ketus....
...Abbas menghela napas panjang, memasang wajah paling menyesal yang ia miliki....
...Ia melangkah maju lagi, kali ini dengan berani memeluk Stella dari belakang, mengunci pergerakan istrinya....
..."Maafkan aku, Sayang. Tadi itu aku hanya terbawa suasana karena ingin membela saudaraku yang yatim piatu. Kamu tahu kan, dia tidak punya siapa-siapa lagi? Dia bicara begitu karena dia lugu, dia tidak tahu betapa besarnya pengorbananmu untukku dan perusahaan selama ini," bisik Abbas tepat di telinga Stella....
...Abbas membalikkan tubuh Stella agar menghadapnya....
...Ia menggenggam kedua tangan Stella, menatap matanya dalam-dalam dengan binar yang tampak tulus....
..."Jangan bawa-bawa Papa, ya? Malu kalau beliau tahu kita meributkan hal sepele seperti ini. Aku janji akan menegur Annisa agar lebih sopan padamu. Kamu adalah ratu di rumah ini, dan selamanya akan begitu. Aku butuh dia di kantor hanya supaya aku bisa mengawasi saudaraku sendiri daripada dia terlunta-lunta di luar sana. Tolong, demi aku?"...
...Abbas mengecup kening Stella lama, sebuah rayuan maut yang selama lima tahun ini selalu berhasil meluluhkan hati Stella....
...Stella terdiam saat mendengar perkataan dari suaminya....
...Kehangatan pelukan Abbas perlahan mengikis amarahnya, meski ada bagian kecil di hatinya yang masih berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres....
..."Janji kamu akan menegurnya?" tanya Stella pelan....
..."Janji, Sayang. Apa pun untukmu," jawab Abbas tersenyum manis, sementara di balik punggung Stella, matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah sedang memikirkan rencana selanjutnya agar rahasianya tetap terkunci rapat....