Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika (ketika hati harus memilih)
*"Sella... aku sudah berusaha tapi aku tidak bisa ngelupain kamu."*
Aku menatap layar ponselku lama. Pesan dari Arka itu terasa seperti mimpi. Dadaku sesak, antara bahagia dan perih yang datang bersamaan.
Benarkah Arka serius? Bukankah kemarin dia sendiri yang bilang aku sudah tidak waras karena perasaan cintaku yang berlebihan ini? Dan aku bahkan membenarkan tuduhannya. Ya, aku memang sudah hilang akal. Dan semua itu karenamu, Arka.
Aku tersenyum sendiri, tapi air mata jatuh tanpa izin. Aku bahagia tahu Arka juga merindukanku sebesar ini. Tapi di sisi lain, hatiku hancur. Cinta yang seharusnya membahagiakan, kini justru melukai. Melukai aku, melukai Arka, dan melukai Mas Wisnu lelaki baik yang sebentar lagi akan menikahiku.
Aku tahu, di sini akulah yang salah. Saat seharusnya aku fokus pada hubunganku yang sudah serius dengan Mas Wisnu, aku malah bermain api. Membiarkan hatiku hanyut dalam kisah cinta terlarang bersama Arka.
Andai saja aku bertemu Arka lebih dulu, mungkin ceritanya tidak akan serumit ini.
Aku ingat pertama kali mengenal Arka, tiga bulan lalu. Pertemuan singkat, tidak disengaja, bahkan konyol. Tapi entah mengapa, pertemuan yang hanya sekejap itu mampu mengikat takdirku dengannya begitu erat.
Ironisnya, aku mengenal Arka saat statusku sudah bertunangan. Seharusnya dari awal aku membatasi diri, menutup hati. Bukan malah membiarkan Arka masuk dan mengacaukan segalanya.
Tapi siapa yang bisa menduga? Cinta justru tumbuh ketika semua terasa tidak mungkin. Aku sadar itu salah, tapi rasa ini tumbuh begitu saja—kuat, dalam, menyiksa. Aku ingin lepas, tapi aku sudah terjerumus terlalu dalam.
*"Sell... aku merindukanmu."*
Pesan Arka masuk lagi. Tanganku gemetar, belum sanggup membalas.
_"Kenapa tiba-tiba chat?"_ tanyaku akhirnya.
_"Aku tidak bisa ngelupain kamu, Sell."_
_"Tapi kemarin kamu sendiri yang bilang tidak ingin bicara lagi denganku?"_
_"Iya. Dan aku salah. Ternyata aku tidak bisa."_
Aku meletakkan ponsel. Menatap cincin di jari manisku. Cincin dari Mas Wisnu. Lelaki yang tidak pernah menyakitiku. Lalu kenapa hatiku justru memilih lelaki yang hanya bisa menawarkanku luka?
Jam menunjukkan pukul 01.13 dini hari. Kamar gelap, hanya cahaya ponsel yang menerangi wajahku. Chat dari Arka masih kubuka, belum kubalas.
_"Iya. Dan aku salah. Ternyata aku tidak bisa."_
Kalimat itu berputar di kepala seperti kaset rusak. Aku ingin membalas _“Aku juga, Ka”_. Tapi bibirku kelu. Karena setelah kata itu, lalu apa? Kita mau kemana?
Pintu kamar diketuk pelan. "Sell, belum tidur?" Suara Mas Wisnu. Tunanganku. Calon imamku tiga bulan lagi.
Cepat kuhapus air mata, kumatikan layar ponsel. "Be-beluum, Mas. Lagi baca novel." Bohong. Sejak kenal Arka, hidupku isinya bohong.
Mas Wisnu masuk membawa segelas susu hangat. Diletakkan di meja nakas. Dia duduk di pinggir ranjang, mengusap rambutku. Tangannya hangat. Aman. Tidak seperti Arka yang selalu membuat jantungku berdebar kencang.
"Kamu pucat. Banyak pikiran?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk. Tidak bohong. Pikiran tentang Arka memang menggerogotiku.
"Soal gedung? Atau vendor katering? Biar Mas yang urus semua ya. Kamu tinggal cantik aja pas hari H."
Aku ingin muntah. Bukan karena hamil. Tapi karena rasa bersalah. Mas Wisnu sebaik ini, dan aku malah memikirkan lelaki lain tiap malam.
"Mas..." Aku menahan tangannya. "Kalau... kalau ternyata aku bukan perempuan baik yang Mas kira gimana?"
Dia tertawa kecil. Dikecupnya keningku. "Mas nggak nikah sama malaikat, Sell. Mas nikah sama kamu. Manusia. Yang penting kita sama-sama belajar jadi baik."
Kalimat itu bukannya menenangkan. Malah jadi pisau. Karena aku bahkan tidak sedang belajar jadi baik. Aku sedang menikmati jadi jahat. Menikmati chat dari Arka. Menikmati degup jantung saat namanya muncul.
Setelah Mas Wisnu keluar, aku membuka HP lagi. Jempolku bergerak sendiri.
_"Ka, kita nggak bisa kayak gini terus."_
Centang dua biru. Arka langsung mengetik.
_"Aku tahu. Makanya kemarin aku coba mundur. Tapi tiap mau tidur, yang kebayang muka kamu. Denger lagu, inget kamu. Lewat coffee shop tempat pertama kita ketemu, dadaku sakit, Sell."_
Aku menggigit bibir. Coffee shop. Tiga bulan lalu. Aku pesan latte, tapi yang datang americano. Aku protes ke barista, dan Arka pelanggan di sebelahnyletuk, "Mbak, kalau mau yang manis, jangan pesen kopi. Pesen saya aja."
Gombal. Receh. Tapi sejak itu, kami tukar nomor. Awalnya cuma bahas kopi. Lalu bahas buku. Lalu bahas luka. Lalu... bahas perasaan.
Padahal waktu itu undangan tunanganku dengan Mas Wisnu sudah kusebar.
_"Arka, aku tunangan. Kamu tahu itu. Kamu juga yang minta udahan kemarin."_
_"Karena aku nggak mau jadi alasan kamu dosa, Sell. Tapi ternyata menjauhimu juga dosa. Dosa sama hatiku sendiri."_
Sialan. Kenapa dia bisa merangkai kata semenyakitkan itu?
_"Terus mau kamu apa? Kita selingkuh? Aku nggak bisa, Ka. Mas Wisnu nggak salah apa-apa."_
Lama Arka tidak membalas. Lalu masuk voice note. Suaranya serak, seperti habis nangis.
"Sella... aku nggak minta kamu ninggalin dia. Aku cuma... aku cuma capek pura-pura kuat. Aku cuma mau kamu tahu, kalau di dunia ini ada satu orang yang nggak bisa hidup tanpa denger suara kamu. Sekali aja. Setelah ini aku janji hilang beneran. Tapi boleh nggak... aku denger suara kamu sekarang?"
Tanganku gemetar. Logika teriak jangan angkat. Tapi hati sudah mencet tombol telepon.
"Halo..." suaraku pelan.
Di seberang, cuma ada suara napas. Berat. Lalu, "Sell..." satu kata itu saja, tapi rasanya seperti dipeluk.
"Kenapa sih harus kamu?" bisikku. Air mata lolos lagi. "Kenapa nggak dari dulu kita ketemu, Ka? Sebelum aku janji sehidup semati sama orang lain?"
"Karena kalau dari dulu, mungkin kamu nggak akan seberharga ini di mataku," jawabnya. "Sella, yang udah mau nikah aja masih bikin aku gila, gimana kalau kamu masih sendiri? Mungkin aku udah nekat melamar kamu besok."
Kami diam. Hanya ada suara detik jam dan isak yang kutahan.
"Arka..."
"Hm?"
"Setelah ini, jangan hubungin aku lagi ya. Anggap ini terakhir. Aku mau coba jadi tunangan yang bener. Kamu juga harus bahagia. Tanpa aku."
Dia tidak menjawab lama. Lalu, "Iya. Ini terakhir, Sell. Makasih udah pernah singgah, walau nggak bisa tinggal."
Tut. Sambungan mati.
Aku banting ponsel ke kasur. Kubekap mulut, meraung tanpa suara. Kenapa mencintai orang yang tepat di waktu yang salah rasanya seperti dihukum seumur hidup?
Pagi buta, aku hapus chat Arka. Blokir nomornya. Blokir IG-nya. Blokir semua jalan menuju dia.
Tinggal satu yang nggak bisa kublokir: namanya yang telanjur kutato dihati.