NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENTENG YANG RETAK KARENA RINTIHAN

Damira menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung dengan desain modern yang estetik. Papan nama di depan gedung itu mempertegas profesi pemiliknya sebagai sebuah firma arsitektur ternama.

"Aku berhenti di depan saja, itu kantorku," ucap Satya sambil menunjuk ke arah gedung tersebut.

Damira menoleh, sedikit terkejut melihat tempat kerja Satya. "Oh, jadi Mas arsitek? Pantas saja cara bicaranya tertata," canda Damira tipis, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.

Satya mengangguk pelan, meskipun sisa-sisa kesedihan masih membekas di wajahnya. "Iya, begitulah. Hanya tukang gambar yang sedang mencoba menata hidupnya sendiri. Terima kasih banyak ya, Damira. Maaf kalau tadi aku benar-benar merepotkan dan memalukan di depanmu."

"Sama sekali enggak, Mas. Justru aku senang kita sama-sama 'selamat' hari ini," balas Damira tulus. "Masuklah, fokus ke pekerjaan dulu. Kadang garis dan angka bisa sedikit mengalihkan rasa sakit daripada terus-terusan melamun di jalan."

Satya membuka pintu mobil, namun sebelum turun, ia terdiam sejenak dan menatap Damira dengan sungguh-sungguh. "Damira... soal yang kamu bilang tadi, tentang berhenti menunda luka, aku akan coba ingat itu baik-baik. Aku nggak mau jadi pengecut lagi."

"Pelan-pelan saja, Mas. Yang penting jangan berhenti melangkah," sahut Damira menyemangati.

Setelah Satya turun dan menghilang di balik pintu kaca kantornya, Damira menghela napas panjang. Ada perasaan lega yang aneh di hatinya. Bertemu Satya membuatnya sadar bahwa di kota yang luas ini, ia tidak sendirian dalam berjuang menyembuhkan luka. Namun, saat ia mulai melajukan mobilnya, sebuah perasaan tidak enak mendadak melintasi pikirannya, seolah-olah ada badai lain yang sedang mengintai mereka berdua dari balik pintu rumah Nayaka dan Azzura.

Satyaka duduk di kursi kerjanya, namun matanya tidak fokus pada maket bangunan di depannya. Layar ponselnya yang tergeletak di meja terus menyala, menampilkan nama Azzura dengan belasan panggilan tak terjawab. Hatinya bergejolak hebat; separuh logikanya berteriak untuk mengabaikan, namun separuh jiwanya lagi mencelos, takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu.

Setelah deringan yang ke sekian kalinya, pertahanannya runtuh. Satyaka menyambar ponselnya dan menggeser tombol hijau.

"Halo, kenapa?" tanya Satya. Suaranya terdengar datar, berusaha sekuat tenaga untuk terdengar cuek, namun nada bicaranya yang sedikit bergetar tak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang membuncah.

"Sat... Satya..." Suara Azzura di ujung telepon terdengar sangat lemah dan parau, sesekali terdengar ia sedang menahan isak atau rasa sakit.

"Kamu kenapa, Ra? Kamu nangis?" Satya tidak bisa lagi berpura-pura tenang. Ia menegakkan punggungnya, cengkeramannya pada ponsel menguat.

"Aku mual terus, Sat. Badanku lemas sekali sampai nggak bisa bangun dari tadi. Aku... aku takut," keluh Azzura lirih. "Nayaka nggak peduli, dia malah menuduhku cari perhatian. Aku nggak tahu harus bilang ke siapa lagi selain kamu."

Mendengar itu, dada Satya terasa sesak. Ia teringat peringatan Damira tentang "menunda luka", namun melihat Azzura menderita seperti ini membuat benteng yang baru ia bangun mulai retak. Ada keinginan besar untuk segera berlari ke sana, namun ia teringat bahwa Azzura kini berada di rumah pria lain.

"Kamu sudah minum obat? Atau hubungi dokter?" tanya Satya lagi, kini suaranya melunak sepenuhnya. "Jangan cuma nangis, Ra. Kalau lemas sekali, minta tolong orang tuamu di sana."

"Sudah, tapi rasanya beda, Sat. Aku cuma mau dengar suara kamu... tolong jangan tutup teleponnya dulu, ya?" pinta Azzura dengan nada memohon yang membuat Satya kembali terjebak dalam dilema yang menyiksa.

Satya memejamkan mata rapat-rapat. Ia berada di antara dua kenyataan: ia tahu ia harus melepaskan, tapi ia juga tidak sanggup membiarkan Azzura hancur sendirian, tanpa tahu bahwa ada konspirasi besar yang sedang menjerat mereka berdua.

Satyaka menghela napas panjang, membiarkan punggungnya bersandar sepenuhnya pada kursi kerja. Logikanya yang tadi dibangun bersama Damira seolah lumpuh saat mendengar rintihan lemah Azzura. Ia tidak bisa menutup mata saat membayangkan gadis yang ia cintai itu menderita sendirian di rumah pria lain.

"Kalau gitu, nggak akan aku matikan teleponnya," ucap Satyaka lirih, suaranya kini terdengar sangat tulus. "Aku temani di sini sampai kamu bisa tidur."

Hening sejenak di seberang sana, hanya terdengar suara napas Azzura yang berat dan sesekali isakan kecil. Satyaka memejamkan mata, hatinya perih membayangkan Azzura harus melalui rasa sakit itu di bawah atap yang sama dengan Nayaka—pria yang jelas-jelas tidak menginginkannya.

"Kalau besok mereka nggak peduli, aku telepon dokter ke rumahmu. Aku nggak akan bilang itu dari aku," tambah Satyaka tegas. Ia tidak peduli jika harus mengeluarkan biaya atau tenaga lebih, asalkan Azzura mendapatkan penanganan yang benar. Ia hanya ingin memastikan Azzura aman, tanpa harus memancing keributan lebih lanjut dengan keluarga besar mereka.

"Makasih, Sat... kamu selalu ada," bisik Azzura lemah.

Satyaka terdiam. Kalimat itu terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia merasa lega bisa menjadi sandaran Azzura, namun di sisi lain, ia sadar bahwa keberadaannya justru membuat Azzura—dan dirinya sendiri—semakin sulit untuk lepas dari jeratan masa lalu.

Sambil tetap menempelkan ponsel di telinganya, Satyaka menatap kosong ke arah jendela kantornya. Langit yang tadi ia lihat begitu biru bersama Damira, kini mulai berubah jingga. Ia menyadari satu hal: meskipun ia sudah berjanji pada Damira untuk tidak menunda luka, melepaskan seseorang yang sedang kesakitan ternyata seribu kali lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Di seberang sana, Azzura mulai memejamkan mata, merasa sedikit tenang karena suara napas Satyaka di telepon. Sementara itu, di lantai bawah rumah Azzura, kedua orang tuanya masih duduk tenang, menunggu waktu yang tepat untuk "kejutan" yang akan menghancurkan rencana perceraian satu bulan tersebut.

Nayaka berdiri di ambang pintu kamar yang remang-remang, menatap sosok Azzura yang sudah terlelap dengan ponsel masih berada di dekat bantalnya. Wajah Azzura tampak pucat, sisa-sisa air mata masih membekas di sudut matanya, namun pemandangan itu tidak melunakkan hati Nayaka.

Bagi Nayaka, Azzura bukan sekadar istri yang tidak ia cintai, melainkan sosok yang egois. Di dalam benaknya, Azzura adalah orang jahat yang sengaja menyetujui pernikahan ini hanya demi kepatuhan buta pada orang tuanya, padahal ia tahu persis bahwa mereka berdua sama-sama memiliki orang lain di hati mereka.

"Kenapa lo nggak nolak dari awal?" gumam Nayaka sangat pelan, suaranya sarat akan kepahitan.

Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Nayaka merasa dikhianati oleh keadaan. Seharusnya, jika Azzura jujur sejak awal tentang kekasihnya, mereka bisa bekerja sama untuk mencari jalan keluar, menyusun rencana untuk menggagalkan perjodohan itu, atau setidaknya melakukan sesuatu agar Damira tidak menjadi korban. Namun sekarang, semuanya sudah terlambat. Damira sudah pergi, dan mereka terjebak dalam satu atap yang terasa seperti penjara.

Nayaka tidak tahu bahwa Azzura pun sebenarnya tidak memiliki pilihan di bawah tekanan orang tuanya yang manipulatif. Ia hanya melihat Azzura sebagai penghalang kebahagiaannya bersama Damira.

Tanpa berniat menyelimuti atau membetulkan posisi tidur Azzura, Nayaka berbalik dan menutup pintu kamar dengan kasar. Ia lebih memilih tidur di sofa ruang kerja, membiarkan kebencian dan rasa bersalah terus menggerogoti hatinya. Ia tidak menyadari bahwa di balik tidurnya yang lelap, tubuh Azzura sedang mengalami perubahan yang akan membuat impian Nayaka untuk kembali pada Damira menjadi mustahil selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!