Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Taktik Luvya
Luvya berdiri di tengah ruang kerja Marquess Rigel, kepalanya masih menunduk dalam di balik tudung jubahnya. Namun, di balik kegelapan itu, sepasang matanya tidak berhenti bergerak. Ia sedang menghitung. Menghitung langkah, menghitung jumlah pintu, dan menghitung seberapa besar kebusukan yang bisa ia temukan di rumah mewah ini.
Satu langkah salah, dan sekte ini akan menyeretku jatuh bersama mereka, batin Luvya. Tapi jika aku bermain cantik, rumah ini akan jadi kuburan bagi mereka semua.
Desmond masih sibuk meyakinkan Marquess Rigel dengan kata-kata agungnya tentang kekuatan Zargous yang bisa memberikan kejayaan politik. Sementara itu, Luvya mulai menjalankan perannya. Ia mengatur napasnya agar terdengar sedikit berat, seolah-olah kekuatan "suci" di dalam dirinya terlalu besar untuk ditanggung tubuh kecilnya.
"Ugh..." Luvya mengeluarkan rintihan kecil yang halus namun cukup untuk menghentikan perbincangan kedua pria itu.
"Ada apa, Berkat?" Desmond bertanya dengan nada khawatir yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan rasa tidak sabar.
Luvya mendongak sedikit, memperlihatkan wajahnya yang pucat. "Suaranya... terlalu berisik. Zargous sedang membisikkan sesuatu, tapi ruangan ini terlalu penuh dengan hawa nafsu..."
Matilda segera mendekat, ia tampak cemas. "Ketua, mungkin Luvya butuh waktu sebentar untuk bermediasi. Kekuatannya sedang bereaksi dengan energi di rumah ini."
Marquess Rigel, yang mulai termakan akting Luvya, langsung menunjuk ke arah pintu ganda di sisi ruang kerjanya. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadiku di sebelah. Di sana sunyi, tidak ada pelayan yang boleh masuk. Biarkan dia menenangkan diri agar Zargous bisa memberikan petunjuk yang jelas untukku."
"Terima kasih, Marquess," ucap Matilda sambil membimbing Luvya keluar.
Begitu pintu perpustakaan itu tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua, Matilda menatap Luvya dengan intens. "Kau benar-benar merasakannya, Luvya? Penglihatan itu?"
Luvya menatap Matilda dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ya, Matilda. Sesuatu yang sangat besar ada di sini. Sesuatu yang akan menentukan nasib kita semua."
Luvya kemudian meminta Matilda untuk berjaga di depan pintu agar "meditasinya" tidak terganggu. Begitu Matilda berbalik, senyum dingin muncul di wajah Luvya. Ia tidak bermeditasi. Ia segera melangkah menuju meja kerja Marquess yang berada di sudut perpustakaan.
Jari-jarinya yang ramping mulai membuka laci-laci yang tidak terkunci, memeriksa tumpukan surat, sampai matanya tertuju pada sebuah kotak kecil yang disembunyikan di balik deretan buku hukum kerajaan.
Ketemu, batin Luvya.
Di dalamnya, bukan emas yang ia temukan, melainkan sebuah gulungan surat dengan stempel lilin berwarna biru gelap, stempel milik menteri keuangan kerajaan. Dan di sampingnya, ada sebuah buku catatan kecil berisi daftar nama dan angka-angka yang sangat fantastis.
Suap, pengkhianatan pajak, dan rencana pembunuhan untuk saingan politiknya, Luvya membaca dengan cepat, otaknya memproses informasi itu seperti komputer. Ini bukan cuma tiket untuk menghancurkan Marquess Rigel. Ini adalah bom waktu untuk meruntuhkan sekte Zargous jika dokumen ini jatuh ke tangan ksatria kerajaan.
Luvya mendengar suara langkah kaki mendekat ke pintu. Jantungnya berdegup kencang, tapi tangannya tetap stabil. Ia tahu tidak punya waktu untuk menyalin kata demi kata. Matanya dengan cepat memindai dokumen itu, merekam poin-poin penting dalam ingatannya, kebiasaan Lily saat masih harus menghafal materi ujian dalam waktu singkat.
Namun, penglihatan saja tidak cukup. Ia butuh bukti fisik.
Luvya melihat ada beberapa lembar surat yang merupakan salinan laporan pajak dan kuitansi pembayaran gelap. Dengan gerakan yang sangat halus dan terlatih, ia melipat satu lembar dokumen yang paling krusial menjadi bagian kecil, lalu menyelipkannya ke dalam lipatan kain stagen di balik jubahnya yang longgar.
Ia segera merapikan kembali laci itu, memastikan debu tipis di atasnya tidak terlihat terganggu, tepat saat pintu terbuka.
"Luvya? Apakah 'bisikannya' sudah selesai?" tanya Matilda sambil melangkah masuk.
Luvya berbalik perlahan. Ia tidak tampak panik. Sebaliknya, ia mengatur napasnya hingga wajahnya terlihat sedikit pucat, memberikan kesan seolah ia baru saja menghabiskan banyak energi untuk berkomunikasi dengan entitas gaib.
"Sudah, Matilda," ucap Luvya dengan nada suara yang sedikit bergetar, akting yang sempurna. "Zargous sudah memberitahuku segalanya. Masa depan tempat ini sangat... membara."
Matilda tampak tertegun, sedikit ngeri mendengar kata "membara", namun ia segera memegang bahu Luvya untuk menuntunnya kembali ke ruang tengah.
Luvya berjalan dengan tenang, meskipun ia bisa merasakan kertas rahasia itu bergesek dengan kulitnya di balik jubah. Ia tidak menggunakan sihir sama sekali. Ia hanya menggunakan keberanian dan kecepatan tangan. Di duniaku dulu, informasi ini bisa menghancurkan karir seorang menteri dalam semalam, batin Luvya. Di sini, ini adalah tiketku untuk keluar dari neraka bawah tanah ini saat waktunya tepat nanti.
Sabar, Luvya, batinnya menenangkan diri sendiri. Jangan jadi pahlawan kesiangan. Dokumen ini adalah asuransi jiwamu, tapi emas di kantong adalah kebebasanmu.
Ia berjalan keluar dari perpustakaan mengikuti Matilda, kembali masuk ke ruang kerja yang pengap oleh ambisi Marquess Rigel. Begitu pintu terbuka, Rigel langsung berdiri, matanya berkilat penuh harap.
"Bagaimana? Apa yang dikatakan Sang Penjaga Kegelapan tentang nasibku?" tanya Rigel dengan suara serak.
Luvya tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan kesunyian menggantung selama beberapa detik, menciptakan ketegangan yang membuat Marquess itu menahan napas. Luvya kemudian mengangkat kepalanya perlahan, membiarkan sedikit cahaya lilin menyinari mata pirang pucatnya yang kini tampak dingin dan tak berdasar.
"Zargous melihat benih kejayaan yang besar dalam diri Anda, Marquess," ucap Luvya dengan nada datar, namun berwibawa. "Namun, jalan menuju takhta itu tertutup oleh kabut. Anda membutuhkan perlindungan yang lebih kuat daripada sekadar janji politik."
Desmond tersenyum puas mendengar ucapan Luvya. "Kau dengar itu, Marquess? Itulah alasan kami datang. Sekte ini bisa menjadi perisai yang tidak terlihat bagi Anda."
Marquess Rigel tampak sangat terkesan. Ia langsung merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kantong beludru yang terdengar berat oleh denting logam. "Jika anak ini benar-benar bisa menjamin jalanku, maka biaya bukan masalah bagi saya. Ambillah ini sebagai tanda awal kerja sama kita."
Desmond hendak meraih kantong itu, namun Luvya melangkah maju dengan gerakan yang sangat halus, mencegat tangan Desmond tanpa menyentuhnya.
"Zargous meminta kesucian dalam setiap transaksi," bisik Luvya, matanya menatap langsung ke arah kantong emas itu. "Biarkan saya yang menyimpannya sebagai jaminan ritual malam ini, agar energi duniawi ini tidak merusak visi yang baru saja saya terima."
Desmond sempat tertegun, sedikit kesal karena hartanya diambil alih, namun ia tidak bisa membantah "Berkat" di depan Marquess. Rigel justru tertawa kecil, merasa terkesan dengan ketegasan Luvya.
"Tentu, tentu! Simpanlah, wahai perantara kecil," ucap Rigel sambil menyerahkan kantong itu langsung ke tangan Luvya.
Berat. Luvya merasakan logam-logam dingin di dalamnya. Emas murni, pikirnya senang. Inilah langkah pertamanya. Ia tidak akan menyerahkan semua emas ini pada Desmond nanti. Ia akan mulai menyisihkan sedikit demi sedikit ke tempat persembunyiannya sendiri di bawah tanah.
"Ritual akan dimulai saat bulan mencapai puncaknya," ucap Luvya, menutup negosiasi itu dengan gaya seorang peramal ulung.
Sepanjang sisa malam itu, Luvya terus berdiri tenang, mendengarkan rencana-rencana busuk mereka sambil sesekali menyentuh kantong emas di pinggangnya dan dokumen rahasia di dadanya.
Satu kantong emas untuk pelarianku, satu dokumen rahasia untuk kehancuran kalian, batin Luvya sambil menatap wajah tamak Marquess Rigel. Kalian pikir kalian sedang membeli masa depan, padahal kalian baru saja menyerahkan kunci peti mati kalian padaku.
Kereta barang itu kembali bergerak meninggalkan kediaman Marquess Rigel, menembus dinginnya malam musim gugur. Di dalam kereta yang gelap, Desmond duduk dengan raut wajah puas, sementara Matilda terus menatap Luvya dengan binar kagum yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Kau luar biasa tadi, Luvya," bisik Matilda. "Caramu bicara... kau benar-benar seperti suara Zargous sendiri."
Luvya hanya terdiam, menyandarkan kepalanya ke dinding kayu kereta yang berguncang. Tangannya diam-diam meraba kantong emas di pinggangnya dan selembar kertas yang terselip di balik pakaiannya. Ia tidak merasakan kemenangan; ia hanya merasakan kekuasaan.
Tiba-tiba, Desmond berdeham. "Emas itu, Luvya. Berikan padaku. Aku akan menyimpannya untuk keperluan sekte."
Luvya tidak langsung bergerak. Ia membuka matanya perlahan, menatap Desmond tepat di maniknya. Di bawah cahaya remang lampu minyak, mata Luvya tidak memancarkan ketakutan, melainkan otoritas yang dingin, aura yang bahkan membuat Desmond sempat ragu untuk mengulurkan tangan.
"Zargous memberitahuku tadi," suara Luvya terdengar lebih rendah dan berat, "bahwa keserakahan adalah awal dari keruntuhan. Emas ini adalah mahar untuk ritual pembuka di Danau Sihir nanti. Jika tangan yang salah menyentuhnya sekarang, 'penglihatan' tentang kejayaan Marquess akan berubah menjadi abu."
Desmond tersentak. Ia menarik kembali tangannya seolah-olah baru saja tersengat listrik. Ia teringat ramalan Luvya di ruang kerja tadi tentang "masa depan yang membara." Ketakutan akan kutukan Zargous ternyata jauh lebih besar daripada rasa tamaknya akan emas.
"Baiklah... kalau itu kehendak-Nya," gumam Desmond dengan suara sedikit gemetar.
Luvya kembali menutup matanya, membiarkan senyum yang sangat tipis, nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
Bodoh, batin Luvya.
Ia baru saja berhasil membungkam ketua sektenya sendiri dengan kebohongan yang ia buat dalam hitungan detik. Kini, ia punya uang, ia punya rahasia politik, dan ia punya ketakutan semua orang di tangannya.
Saat kereta itu memasuki perbatasan hutan menuju gubuk rahasia, Luvya membatin satu hal terakhir sebelum ia kembali ke lubang bawah tanah yang pengap itu.
Satu tahun lagi. Aku tidak akan hanya keluar dari sini, aku akan memastikan saat aku keluar, tidak ada satu pun dari kalian yang tersisa untuk mengejarku.