Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posisi Yang Sebenarnya
Suasana di ruang tamu megah Mansion Erlangga yang biasanya sunyi dan dingin, kini mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang memanas. Cahaya dari lampu kristal yang menggantung di langit-langit seolah ikut bergetar menyaksikan perdebatan sengit antara Zoe dan keluarga tirinya. Zoe berdiri tegak, tatapannya setajam belati, menatap satu per satu wajah orang-orang yang selama ini menjadi benalu di rumah ayahnya.
"Kamu tidak bisa memecat mereka semua, Zoe! Lagian mereka juga tidak mencuri setiap hari!" seru Tina dengan spontan namun justru terdengar seperti pembelaan yang ceroboh.
Kalimat itu membuat Zoe menyipitkan matanya penuh kecurigaan. Zoe sendiri tak bisa menahan senyum sinisnya. "Jangan bilang kau sudah lama mengetahui tabiat buruk mereka, Ma?" tanya Zoe pelan namun penuh penekanan. Matanya menyipit, mengunci pergerakan Tina.
Tina, Dika, dan Siska seketika gelagapan. Suasana hening sejenak, hanya terdengar detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran mereka. "M--maksudku, kau tidak bisa memecat mereka begitu saja tanpa persiapan! Jika semuanya kau tendang hari ini, lalu siapa yang akan mengurus rumah sebesar ini? Siapa yang akan menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam?" Tina mencoba menata suaranya kembali, meski tangannya sedikit gemetar. "Lagi pula, tanpa izin dari Papamu, kau sama sekali tidak berhak mengambil keputusan besar seperti ini, Zoe."
Zoe terdiam. Ia menyilangkan tangan di dada, berpura-pura berpikir keras dan menatap lantai marmer di bawahnya. Dalam benaknya, Zoe sedang memutar roda-roda rencana balas dendam pertamanya yang telah ia susun dengan sangat rapi. "Mama benar..." gumam Zoe pelan.
Mendengar itu, Tina, Dika, dan Siska secara bersamaan mengembuskan napas lega. Mereka saling lempar pandang, mengira Zoe masihlah gadis kecil yang mudah dikendalikan. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.
"Kalau begitu, kenapa tidak kalian bertiga saja yang mengambil alih tanggung jawab pelayan di rumah ini?" kata Zoe dengan nada enteng, seolah baru saja menyarankan menu makan siang.
Seketika, mata Tina, Dika, dan Siska melotot hampir keluar dari kelopaknya. "Jangan keterlaluan, Zoe!" bentak Siska, suaranya melengking tinggi hingga menggema di lorong mansion.
"Keterlaluan?" Zoe tertawa kecil, tawa yang terdengar dingin dan hampa. "Coba kalian putar kembali memori di otak kalian sebelum kalian mengenakan pakaian mahal dan menjadi anggota keluarga Erlangga ini. Apa kalian sudah lupa ingatan? Papa mengangkat kalian dari jalanan, memberi kalian tempat bernaung, dan membawa kalian ke rumah ini awalnya untuk bekerja. Lalu, apa salahnya jika kalian kembali melakukan pekerjaan pelayan? Toh, dari awal kalian memang pelayan, kan? Itu adalah posisi asli kalian."
Kalimat Zoe menghujam tepat di harga diri mereka yang paling dalam. Tina, Dika, dan Siska mengepalkan tangan hingga kuku-kuku mereka memutih. Amarah menyulut di mata mereka, namun mereka tidak bisa berkutik di bawah dominasi aura Zoe yang sekarang. Jauh lebih berbahaya dari pada Zoe yang biasanya mereka tindas.
"Tapi sekarang kami ini majikan di sini! Kami punya status!" bentak Dika dengan wajah memerah padam.
"Majikan, hemm..." Zoe kembali berpura-pura berpikir, mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu dengan gaya yang sangat merendahkan. "Majikan yang mencuri dari pemilik aslinya disebut apa ya, Dika? Di kamusku, itu disebut parasit. Dan parasit... tidak seharusnya diberi meja makan yang sama dengan sang pemilik rumah."
Zoe menatap mereka satu per satu dengan tatapan dingin yang seolah mampu membekukan aliran darah mereka. "Kalian tampaknya terlalu nyaman dengan status yang sekarang hingga lupa bahwa statusku jauh lebih tinggi sebagai satu-satunya pewaris sah keluarga Erlangga. Namun, apa yang kudapatkan? Tidak ada satu pun dari kalian yang menghormatiku. Kalian justru dengan lancang mencoba memutarbalikkan kasta, memposisikan aku seolah-olah akulah pelayan di rumahku sendiri."
Napas Zoe menderu pelan, namun auranya semakin mendominasi ruangan. "Sudah cukup permainan murahan ini! Sekarang, saatnya aku menunjukkan kepada kalian, di mana tempat kalian yang sebenarnya dalam rantai makanan di rumah ini."
"Zoe! Kau benar-benar sudah kehilangan akal dan semakin berani, ya?!" Dika maju selangkah dengan wajah penuh amarah yang meledak-ledak.
Tina, yang sejak tadi mencoba menahan diri, akhirnya ikut angkat bicara dengan nada sinis yang kental. "Jaga sopan santunmu, Zoe! Aku ini istri sah dari Papamu! Jangan merasa di atas angin hanya karena kau membawa darah Erlangga. Itu hanya keberuntungan belaka. Sejujurnya, kau jauh lebih pantas menjadi pembantu di rumah ini daripada kami. Jadi, kau sama sekali tidak punya hak untuk memecat siapa pun!"
Semua pelayan dan pekerja yang berdiri di tengah ruangan mulai menampakkan senyum smirk kemenangan, merasa bahwa Zoe telah terpojok oleh argumen ibu tirinya. Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
"KALAU BEGITU, AKU YANG MEMECAT KALIAN SEMUA!"
Deg!
Suara bariton yang menggelegar itu terdengar seperti petir yang menyambar di siang bolong, mengguncang fondasi Mansion Erlangga. Zoe perlahan mengangkat ponselnya yang ternyata sejak awal sudah terhubung dalam panggilan suara yang aktif. Nama 'Papa' terpampang jelas di layar. Joe, sang kepala keluarga Erlangga, telah mendengar setiap kata, setiap hinaan, dan setiap pengakuan busuk dari mulut mereka sejak detik pertama perdebatan dimulai.
Seketika, waktu seolah berhenti. Tina, Dika, dan Siska mematung seperti patung lilin yang mulai meleleh karena ketakutan. Wajah para pelayan yang tadi tersenyum sinis berubah menjadi pucat pasi seputih kapas. Ruang tamu itu kembali hening, namun kali ini adalah keheningan yang membawa kehancuran bagi mereka.
Zoe menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam yang mematikan, senyum kemenangan terukir tipis di bibirnya. "Papa dengar sendiri, kan? Inilah wajah asli yang mereka sembunyikan setiap kali Papa tidak ada di rumah. Inilah 'keluarga' yang Papa banggakan."
"PASTIKAN KALIAN SEMUA ANGKAT KAKI DARI RUMAH ERLANGGA SEKARANG JUGA!" suara Joe kembali menggelegar, penuh dengan kemurkaan yang tak tertahankan. "KALAU SAMPAI AKU PULANG DAN KAKI-KAKI KOTOR KALIAN MASIH MENYENTUH LANTAI KEDIAMANKU, AKU PASTIKAN AKAN MEMOTONG KAKI KALIAN SENDIRI!"
Ancaman itu menjatuhkan mental semua orang di sana. Beberapa pekerja bahkan jatuh terduduk, lemas tak berdaya.
"M—mas, dengarkan aku dulu... ini tidak seperti yang kau dengar, Mas!" Tina mencoba bicara dengan suara bergetar hebat, air mata mulai menggenang karena ketakutan.
"Aku akan bicara padamu nanti. Siapkan saja alasanmu saat aku pulang nanti," potong Joe dingin. Bip. Sambungan terputus.
Zoe melangkah maju, menatap semua pekerjaan yang kini tidak berani bersuara. "Waktunya berkemas. Jangan biarkan debu kalian tertinggal di sini."
Lalu pandangan Zoe beralih pada Tina, Dika dan Siska yang wajah mereka benar-benar pucat dan penuh ketakutan. "Kalian... " tunjuk Zoe. "Karena semua pelayan dan pekerja di mansion ini sudah di pecat... bersiaplah untuk menggantikan posisi mereka.. ambil sapu dan bersihkan lantai ini.. SEKARANG!"
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘