NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Keluar

Nyonya Lestari menatap jijik suaminya. Dia tidak pernah menyangka bahwa suaminya selama ini memiliki hasrat gelap terhadap anak asuh mereka.

Bayu menatap kedua orangtuanya dengan berbagai macam perasaan —sedih, marah, kecewa bercampur menjadi satu. Rasa hormat kepada papanya sudah benar-benar hilang sejak malam itu. Bayu tidak menyangka ayahnya masih mencoba melancarkan aksi bejatnya terhadap Nia yang berhasil ia gagalkan empat tahun lalu.

"Mama yakin, Tuan Muda Angkasa akan mempercepat proses pernikahannya dengan Nia," kata Nyonya Lestari memecah hening yang menggantung sejak kepergian Nia. Bayu menatap mamanya.

"Bayu rasa cuma itu jalan keluar yang akan Tuan Muda Angkasa pilih," kata Bayu. Nyonya Lestari menatap putera semata wayangnya.

"Jadi ini alasan kamu terlalu over protective sama Nia?" tanya Nyonya Lestari pada Bayu. Bayu diam.

"Harusnya mama curiga lebih awal," kata Nyonya Lestari.

"Nia cuma nggak mau menjadi perusak keluarga orang, Ma,"

"Yang merusak bukan Nia. Tapi dia!" kata Nyonya Lestari meluapkan kemarahan yang sedari tadi ditahan. Tuan Laksono terlihat hanya diam. Bayu melirik ke arah papanya.

"Mungkin Mama akan segera urus perceraian," kata Nyonya Lestari sambil memijit dahinya yang terasa sedikit pusing. Tuan Laksono seketika mendongak.

"Jangan, Ma," kata Tuan Laksono, akhirnya mengeluarkan suaranya. Nyonya Lestari menatap Tuan Laksono dengan tatapan tak percaya.

"Jangan? Setelah malam ini dan empat tahun lalu, kamu bilang jangan?" tanya Nyonya Lestari dengan suara menahan tangis.

"Kenapa kamu nggak pikirin dulu akibatnya sebelum kamu lakuin hal sekotor itu pada Nia?" lanjut Nyonya Lestari.

Bayu membiarkan mamanya melampiaskan kemarahannya. Dia sudah terlalu muak dengan papanya saat ini. Yang dia inginkan hanya terus memukuli wajah papanya hingga babak belur.

Tuan Laksono kembali terdiam. Dia tidak bisa membiarkan Nyonya Lestari menceraikannya begitu saja. Saham perusahaannya akan turun drastis jika sampai itu terjadi. Belum lagi pemberitaan media yang akan menyelidiki penyebab perceraian mereka.

"Urus perceraian secepatnya, Bay. Mama sudah tak ingin berurusan dengan orang ini lagi," kata Nyonya Lestari sambil berjalan menuju kamarnya. Tuan Laksono bergegas mengejar Nyonya Lestari dan menghentikan langkahnya dengan bersujud di depannya.

"Papa mohon, Ma. Jangan lakukan itu. Papa janji, Papa nggak akan lakuin itu lagi," kata Tuan Laksono dalam keputusasaannya.

Nyonya Lestari menatap suaminya yang bersujud di bawah kakinya. Dia tahu, dia mempunyai kuasa lebih dibandingkan suaminya dalam bisnis dan segalanya. Dia bisa menghancurkan suaminya dengan perceraian jika hal itu benar-benar terjadi.

'Padahal... kamu dulu yang meyakinkan ku... bahwa pernikahan tidak akan serumit ini,'

***

Pagi membawa hangat yang berbeda pada Nia hari itu. Pemandangan mentari terbit yang dia lihat bersama Angkasa akan selalu menjadi kenangan indah dalam hatinya. Tragedi semalam masih mengguratkan luka. Namun, Nia tak ingin terus terpuruk dalam lukanya.

"Tok... Tok..." pintu kamar diketuk.

"Ya?"

"Lebih baik?" tanya Angkasa pada Nia saat memasuki kamar yang ditempati Nia. Nia tersenyum sambil mengangguk.

"Sarapan," kata Angkasa sambil menyodorkan nampan berisi susu hangat, beberapa roti bakar, dan pisang. Nia menerima nampan sambil tersenyum.

"Makasih," ucap Nia.

Angkasa berjalan meninggalkan Nia. Nia menatap punggung Angkasa. Saat Angkasa tiba di ambang pintu, Nia memanggilnya.

"Ang,"

Angkasa menoleh tanpa membalikkan badannya.

"Makasih udah jemput aku," kata Nia.

"Hm,"

Dingin dan datar. Seperti biasa. Dan Nia sudah mulai terbiasa dengan versi baru Angkasa yang dingin itu.

Nia tersenyum lalu meletakkan nampan sarapan di atas meja. Nia belum merasa lapar. Sarapan di kedai makan dua puluh empat jam tadi masih menyisakan rasa kenyang di perut Nia.

Nia berjalan menuju tas yang diletakkan di atas tempat tidur. Dia mengeluarkan sketch book dan peralatan menggambarnya. Nia berencana melukis matahari terbit di villa. Namun, tragedi membawanya ke kediaman Nyonya Mahendra keesokan paginya.

Nia duduk di tepi tempat tidur sambil memposisikan buku sketsanya agar nyaman saat menggambar. Nia berpikir sejenak. Sedetik kemudian mulai menggoreskan pensilnya di atas buku sketsanya.

Mata Nia fokus pada buku gambarnya. Sesekali tangannya berhenti beberapa detik lalu kembali sibuk menggoreskan pensilnya lagi. Menit demi menit Nia habiskan dengan menggambar apa yang terukir dalam ingatannya.

"Tok... Tok..."

Suara ketukan pintu seolah tak menghilangkan fokus Nia. Nia masih menggambar tanpa menyadari bahwa Angkasa tengah masuk ke dalam kamar. Angkasa melirik ke arah nampan di meja. Tak tersentuh.

Angkasa kembali menatap Nia yang tengah fokus pada buku gambar dan pensilnya. Angkasa tersenyum sangat tipis lalu duduk di sofa yang terletak di dekat jendela sambil menatap Nia.

Hampir satu jam lebih Nia sibuk menggoreskan pensil pada buku sketsanya. Tangan Nia akhirnya berhenti. Nia mengangkat buku sketsanya lalu tersenyum puas. Nia terkejut saat hendak mengambil nampan sarapannya.

Nia kemudian dengan cepat kembali duduk dan membuka buku sketsanya. Setelah memandang cukup lama, tangan Nia kembali sibuk menggoreskan pensil di atas buku sketsanya.

Perlahan dan hati-hati, seolah Nia takut suara goresan pensilnya akan mengganggu objek lukisannya. Menit demi menit Nia terus menarik garis, membuat arsiran tipis, perlahan agar tak mengusik suasana tenang di kamar itu.

Nia berhenti sejenak, kembali mengamati. Bukan dengan tatapan seorang pelukis, melainkan dengan tatapan seorang wanita. Objek lukisannya terlihat lebih manusiawi, lebih rapuh, jauh dari kesan dingin yang biasa dia tampilkan di depan Nia.

Nia tersenyum, sebelum akhirnya kembali menarik beberapa garis dan memberi arsiran tipis untuk menyelesaikan lukisannya.

"Masih belum selesai?" tanya Angkasa yang terbangun dari tidurnya.

"Eh?"

Nia sedikit terkejut, lalu menutup buku sketsanya.

"Sudah. Sejak kapan kamu disitu?" tanya Nia.

Angkasa menoleh, menatap keluar jendela di sampingnya.

"Dua... atau tiga jam yang lalu. Mungkin," jawab Angkasa sambil masih menatap keluar jendela.

Nia melirik ke arah jam dinding di kamar itu. Jam 09.45. Nia kemudian beranjak dan mengambil roti bakar di meja lalu memakannya. Angkasa menoleh, menatap Nia.

"Sepertinya tak kamu baik-baik saja," kata Angkasa, melihat Nia tampak biasa setelah kejadian mengerikan tadi malam.

"Hm?" Nia menatap Angkasa sambil mengunyah rotinya. Angkasa kembali menatap keluar jendela.

"Sudah diputuskan," kata Angkasa membuat Nia menaikkan kedua alisnya, tak mengerti. Nia dengan cepat meminum susu yang sudah dingin.

"Diputuskan?" tanya Nia sambil berjalan mendekat ke arah Angkasa.

"Pernikahan dipercepat," lanjut Angkasa. Mata Nia membulat.

"Dipercepat?" tanya Nia memastikan dia tak salah dengar. Angkasa mengangguk lalu menoleh menatap Nia.

"Bulan depan,"

"Hah?! Bukannya kamu bilang..."

Tatapan tajam dan dingin Angkasa sudah cukup membuat kalimat Nia berhenti. Angkasa berdiri, berjalan menuju ke arah Nia. Angkasa berhenti tepat di hadapan Nia.

"Nggak akan aku biarkan pria brengsek itu menyentuhmu seujung kuku pun," kata Angkasa, dingin seperti biasa.

Jantung Nia bergemuruh. Nia dapat menangkap kemarahan di mata Angkasa.

'Dia marah? Atau cemburu?'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!