Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*DANTIAN IBLIS*
Udara bergetar hebat mengikuti denyut *Dug... DUUM...* dari benda terkutuk itu. Luo Tian, Kepala Klan Luo yang berada di tingkat Inti Emas Tengah, merasakan Qi miliknya ditarik paksa keluar dari pori-pori tubuhnya hingga ia memucat pasi.
"Berhenti! Apa yang kau lakukan, bocah sialan?! Kau menghisap Qi-ku!" raung Luo Tian dengan suara gemetar. "Formasi Pengunci Langit, Lapisan Darah! Aktifkan!"
"Sudah terlambat, orang tua bangka," desis Ling Fan dari sela gigi yang berdarah. "Telur ini sudah terlalu lapar untuk kau hentikan."
"Kau gila! Jika segel itu lepas, Kehendak Surga akan meratakan seluruh lembah ini!" teriak Luo Tian sambil menghantamkan telapak tangannya ke tanah.
"Biarkan saja turun," Ling Fan tertawa parau, sebuah tawa gila yang membuat bulu kuduk berdiri. "Biar langit melihat siapa sebenarnya yang membantai Klan Ling tujuh belas tahun lalu sebelum aku hancur menjadi debu."
Jaring darah yang diciptakan Luo Tian mengering menjadi abu sebelum menyentuh Ling Fan. Telur Hitam tidak lagi mengambil energi dari inangnya, melainkan mulai menelan segala yang ada di sekitarnya: cahaya, suara, bahkan sisa umur Luo Tian.
***
Penjaga Kota Terkubur mundur selangkah, merasakan daya tarik yang bahkan mampu menyentuh kulit sisiknya sebagai mayat Inti Emas Puncak. Di samping mereka, Yue Lian tergeletak dengan es yang mulai menutupi lubang hidungnya—napasnya tinggal hitungan detik.
"Bocah, hentikan! Telur itu belum siap menetas! Jika kau memaksanya sekarang, kau akan meledak!" bentak Penjaga dengan nada ngeri.
"Siapa yang peduli pada hidupku?!" umpat Ling Fan sambil terbatuk darah hitam. "Aku mencium bau giok dingin... air kehidupan... Sumur Naga Beku ada di atas kota ini, bukan di bawah sini!"
"Kau buta, bagaimana mungkin kau bisa tahu arahnya?" tanya Penjaga terkejut.
"Instingku lebih tajam dari matamu yang sudah busuk itu!" balas Ling Fan sambil menyeret tubuhnya yang lumpuh merangkak ke arah cahaya.
Luo Tian melihat celah. Dengan kebencian murni, ia menggigit lidahnya dan menyemburkan darah ke pedangnya hingga membesar sepuluh meter.
"Kalau aku harus mati, jangan harap kau bisa bahagia, iblis! Pengorbanan Darah, Tebasan Langit Runtuh!" teriak Luo Tian.
"Mati saja kau sendiri, anjing Klan Luo!" raung Ling Fan.
"Tidaaak! Jangan Yue Lian!" Penjaga mencoba mengejar namun jaraknya terlalu jauh.
Pedang raksasa itu menebas ke arah Yue Lian, namun mulut hitam tanpa gigi muncul dari dada Ling Fan. Tanpa ledakan, pedang itu lenyap ditelan kegelapan murni. Luo Tian terpaku, Dantiannya kini kering kerontang.
"Lari... lari kau seperti anjing!" desis Ling Fan dengan tatapan yang mengerikan.
Luo Tian benar-benar lari tunggang langgang, meninggalkan mayat anaknya dan harga dirinya, kabur melalui celah formasi.
***
Harga yang dibayar Ling Fan sangat mahal; rambutnya memutih dan kulitnya keriput layaknya kakek tua meskipun ia baru tujuh belas tahun. Dantiannya hancur menjadi serpihan, menjadikannya manusia biasa tanpa kultivasi, namun Telur Hitam kini berdenyut menggantikan fungsi jantungnya.
"Tulangku sudah menjadi bubuk karena tekanan tadi," geram Penjaga sambil memeriksa nadi Ling Fan. "Kita harus segera membawa perempuan ini ke Sumur Naga Beku atau dia benar-benar tamat."
"Lakukan sesuatu... jangan hanya mengoceh!" bentak Ling Fan.
"Diamlah! Aku harus mencabut tulang pahaku sendiri untuk ini!" umpat Penjaga sambil menghancurkan tulangnya menjadi kabut hitam. "Bangun, Elang Tulang!"
Seekor elang tulang dengan sayap sepuluh meter dan mata api hijau terbentuk dari kabut tersebut. Penjaga menaikkan Yue Lian dan menyeret Ling Fan ke punggung elang.
"Pegang erat, atau kau akan jadi daging cincang di bawah sana!" ancam Penjaga.
"Urusi saja tulang paha ompongmu itu, aku tidak akan jatuh!" balas Ling Fan ketus.
Mereka terbang vertikal menjebol formasi, menembus tanah menuju permukaan. Di luar, Kota Lembah Hijau dilanda huru-hara; langit gelap dan petir ungu Kehendak Surga mulai berkumpul di balik awan mendung yang berputar.
***
Elang Tulang menghantam atap Kuil Leluhur hingga hancur berantakan. Di dalamnya, satu peleton Klan Naga Hitam mengepung sumur air biru yang mengeluarkan uap dingin—Sumur Naga Beku. Seorang tetua botak di tingkat Inti Emas Puncak berdiri menyambut mereka dengan seringai kejam.
"Penjaga Kota Terkubur? Kau membawa Telur Penghancur dan dua sampah lumpuh ini ke hadapanku?" ejek si tua botak. "Klan Naga Hitam akan mendapat pahala besar karena membasmi kalian hari ini."
"Minggir atau aku akan mematahkan lehermu!" ancam Penjaga sambil melepaskan aura mautnya yang pekat.
"Cobalah jika kau berani, mayat busuk! Dua puluh pedang kami akan mencincang kalian sebelum kaki kalian menyentuh air sumur!" tantang tetua itu.
Ling Fan terjatuh dari punggung elang, merangkak dengan kuku yang patah hingga tangannya menyentuh bibir sumur yang beku. Ia menatap tetua botak itu dengan mata yang buta namun seolah menembus sukma.
"Tujuh belas tahun lalu... pembantaian Klan Ling... apakah kau salah satunya?" tanya Ling Fan pelan.
"Oh, jadi kau tikus kecil yang selamat itu?" tawa si tua botak meledak. "Tentu saja! Aku yang membakar rumah utamamu dan memotong kepala ayahmu saat dia memohon nyawa untukmu. Rasanya sangat memuaskan!"
"Begitu ya..." gumam Ling Fan dengan suara yang mendadak dingin. "Terima kasih sudah mengaku."
"Kenapa? Mau memohon juga? Lihatlah dirimu, kau bahkan tidak bisa berdiri!" ejek tetua itu sementara anak buahnya tertawa mengejek.
***
Ling Fan menempelkan jidatnya pada bibir sumur. Seketika, Telur Hitam di dadanya berdenyut dahsyat hingga memicu suara *DUUM!* yang memekakkan telinga. Air sumur yang sangat banyak itu surut dan kering dalam sekejap, tersedot habis ke dalam ulu hati Ling Fan.
"Apa?! Air sumurnya hilang?! Apa yang kau lakukan, iblis!" teriak tetua botak itu dengan wajah panik.
"AAAARGH! PANAS! TUBUHKU TERBAKAR!" jerit Ling Fan saat energi es murni beradu dengan api dari dadanya.
Tepat saat itu, petir ungu Kehendak Surga menembus atap kuil dan menghantam dada Ling Fan dengan kekuatan penghancur. Asap mengepul menyengat, kulit dan daging dadanya meleleh, namun petir itu justru menempa Telur Hitam menyatu ke dalam rongga Dantiannya yang hancur.
"Tidak mungkin! Manusia tidak bisa menampung petir Kehendak Surga!" teriak anak buah Klan Naga Hitam yang mulai berlarian ketakutan.
"Jangan lari, pengecut! Dia pasti sudah mati terpanggang!" raung si tua botak meski kakinya sendiri gemetar.
Setelah tiga napas yang mencekam, petir berhenti. Ling Fan berdiri perlahan di tengah kepulan asap, tubuhnya penuh luka bakar namun matanya bersinar dengan cahaya hitam yang jernih. Bekas luka di dadanya membentuk simbol telur retak yang menyala permanen.
"Kau... bagaimana mungkin kau masih hidup?!" tanya tetua botak itu dengan suara tercekat.
"Dantianku yang lama memang hancur," Ling Fan menyeringai, menunjukkan barisan gigi yang menghitam. "Tapi sebagai gantinya, aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih lapar."
Lengan kiri Ling Fan yang tadinya buntung mulai tumbuh kembali dengan cepat; daging dan tulang terbentuk dalam hitungan detik diiringi suara retakan yang mengerikan. Ia menatap lengannya yang baru tumbuh dengan puas.
"Kau membunuh ayahku... sekarang, giliranku mengosongkan klanmu," desis Ling Fan.
"Jangan sombong! Kau tetaplah Fondasi sampah! Serang dia!" perintah tetua botak itu.
Dua puluh kultivator maju, namun Ling Fan hanya mengangkat tangannya. Sebuah suara berat dan purba menggema di dalam kepalanya, memberikan perintah yang mutlak.
*“KONTRAK DIBUAT. KAU MATI, AKU MATI. SEKARANG... TELAN MEREKA SEMUA.”*
Asap hitam pekat keluar dari dadanya, membentuk cakar ilusi raksasa yang langsung meremukkan tulang rusuk lima kultivator terdepan dalam satu gerakan. Si tua botak terjatuh ke belakang, menyadari bahwa sosok di depannya bukan lagi manusia, melainkan inkarnasi dari bencana yang mereka ciptakan sendiri.
"Dantian Iblis..." bisik Penjaga Kota Terkubur dari sudut ruangan. "Dunia ini benar-benar akan berakhir."
Ling Fan melangkah maju, setiap jejak kakinya meninggalkan bekas hangus di lantai giok kuil. Balas dendam yang tertunda tujuh belas tahun kini baru saja dimulai.