NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Stevan Dan Hiro

Paviliun Naga Awan—sebuah tempat yang seharusnya diselimuti kedamaian abadi, kediaman Caelum, dewa tingkat tinggi yang dihormati di seluruh penjuru surga. Namun, keheningan suci itu pecah. Di antara ribuan makhluk surgawi, hanya ada satu entitas yang berani bersikap kurang ajar, bertingkah melampaui batas kewajaran, tak lain adalah Steven, sang rubah ekor sembilan.

Steven bukan sekadar hewan peliharaan Surgaloka biasa. Dia adalah makhluk suci, entitas unik yang konon tercipta dari api abadi peninggalan Dewa Perang Kuno. Sosok Dewa Perang Kuno sendiri berada di atas kekuasaan Caelum, sebuah entitas purba yang sosoknya tidak pernah diketahui oleh siapapun, bahkan oleh Steven sekalipun yang lahir dari apinya.

Hari itu, sesuatu mengguncang Paviliun Naga Awan, membuat struktur tempat suci itu bergetar hebat seolah hendak runtuh. Beberapa penjaga saling pandang dengan panik, wajah mereka pucat pasi saat awan hitam pekat mulai menyelimuti langit di atas paviliun, memblokir cahaya suci.

Brak!

Sebuah dentuman keras terdengar saat sesuatu terjatuh dari atas, menciptakan kawah kecil di depan pintu gerbang utama. Semua prajurit menahan napas, mata mereka terbelalak menatap sosok yang sangat tidak asing namun auranya sangat berbeda.

Steven berdiri di sana. Aura dan wibawa yang mematikan terpancar, membuat suasana menjadi dingin seketika. "Buka gerbangnya!" titah Steven dingin, tanpa mau adanya penolakan. Matanya tajam, memancarkan api yang tak biasa.

"Pel-peliharaan Surgaloka! Apa yang kau lakukan di sini? Ini paviliun Dewa Caelum!" tanya salah satu prajurit dengan nada gugup, kakinya gemetar

"Aku bilang buka gerbangnya.. Caelum harus menjelaskan sesuatu padaku," kata Steven, melangkah maju. Tatapannya dingin, mematikan.

"Kami... kami akan melapor pada Dewa Caelum lebih dulu!" seru prajurit yang lain, mencoba menegakkan keberanian.

"Kelamaan!" potong Steven dingin. Dia mengibaskan tangannya, melepaskan gelombang energi murni yang dahsyat. Seketika, tubuh para prajurit terhempas jauh, jatuh tak berdaya ke dinding batu.

Steven melangkah lebar memasuki paviliun istana milik sang Dewa Caelum. Namun, tepat di hadapannya, sesosok naga raksasa pelindung paviliun terbang rendah.

"Steven!" gumam naga itu, suaranya menggelegar.

"Dimana Caelum?" tanya Steven dingin, matanya menatap lurus naga tersebut.

"1000 tahun kau tidur dalam keabadian... tapi sikapmu sama sekali tidak berubah," naga itu kemudian menjelma menjadi sosok pria tampan berwibawa.

"Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau sedang menahan amarah, atau kau takut?" tanyanya menyindir.

"Hiro, aku tidak ada urusan denganmu... dimana Caelum?" tanya Steven, mengabaikan sindiran itu.

Hiro tersenyum tipis, merentangkan tangan menghadang. "Apa begini caramu bertamu? Setelah membuat kekacauan, kau ingin menemuinya?" tanya Hiro, menantang.

"Bertamu?" Steven tertawa hambar, sebuah suara yang terdengar lebih menyerupai geraman rendah dari balik kerongkongannya. "Kau bicara seolah-olah tempat ini adalah kedai teh di kaki gunung, Hiro. Aku baru saja terbangun dari tidur seribu tahun dan hal pertama yang kusambut bukanlah kedamaian, melainkan sebuah pengkhianatan. Minggirlah sebelum aura merah yang kau ejek ini benar-benar membakar paviliun kebanggaan tuanmu, atau kau ingin mencoba sendiri apakah taring nagamu masih cukup kuat untuk menahan cakrawala yang sedang runtuh?"

Hiro terdiam sejenak. Ia membiarkan angin kencang yang dipicu oleh aura panas Steven mengacak-acak jubah panjangnya yang berwarna kelabu. Setelah keheningan yang menyesakkan itu, ia menyahut pelan, "Seribu tahun seharusnya memberimu kebijaksanaan, Steven, bukan sekadar amarah yang makin tajam. Caelum tidak bersembunyi, dia hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Lagipula... apakah kegelisahanmu ini soal manusia yang mencuri kekuatanmu saat kau masih tertidur di peti itu?"

Mata Steven menyipit tajam, kilatan emosi meledak di pupilnya. "Jadi kau tahu sesuatu tentang gadis itu... Katakan padaku, kenapa kekuatanku sendiri menolak kembali padaku?!" Steven melangkah maju, tanah di bawah kakinya retak. "Aku berusaha mengambil kembali setengah jiwaku yang dicuri gadis itu. Aku mencoba memanggilnya, memerintahnya untuk pulang, tapi kenapa kekuatanku sendiri seolah melawan tuannya? Aku tertidur selama seribu tahun, mengasingkan diri dari dunia demi naik tingkat menjadi dewa. Tapi yang kudapatkan hanyalah gelar dewa yang gagal! Bahkan tubuhku tidak sekuat dulu... Aku dipermalukan oleh seorang manusia fana! Harga diriku seperti diinjak-injak hingga hancur!"

Hiro menatap Steven dengan tatapan melankolis, seolah sedang melihat seorang anak kecil yang kehilangan arah. "Setiap ada sebuah kejadian, maka ada juga sebuah rahasia yang terkubur. Jika kekuatanmu sendiri menolak kembali padamu, mungkin ada rahasia takdir yang jauh lebih dalam yang menghubungkanmu dengan gadis itu," ucap Hiro dengan nada penuh teka-teki.

"Omong kosong!" bentak Steven, tawanya terdengar getir dan penuh kebencian. "Kau tahu apa yang paling aku benci di dunia ini? Manusia! Mereka adalah makhluk yang paling lemah, kotor, dan fana. Keinginan ku hanya satu, menjadi seorang dewa. Karena itu aku bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan kehidupan manusia kecuali dalam keadaan terpaksa untuk menghabisi mereka!"

"Steven!" potong Hiro, suaranya kini memberat, memberikan penekanan pada setiap kata. "Dunia ini sangat luas... bumi terus berputar, dan manusia-manusia yang kau benci itu telah berevolusi menjadi lebih baik. Dari zaman ke zaman, perubahan adalah kepastian. Namun, ada sesuatu yang tidak akan pernah berubah. Sebuah kehidupan, sebuah masa lalu di mana ingatan itu sendiri terkunci rapat di dalam jiwa."

Steven tertegun, amarahnya sedikit mereda digantikan oleh rasa bingung yang mengusik. "Apa maksudmu? Apa yang kau sembunyikan dariku?"

Hiro membalikkan badannya, menatap cakrawala yang mulai menggelap. "Mungkin... kau akan menemukan jawabannya jika kau berada di dekat gadis itu. Terkadang, jawaban tidak ditemukan dalam meditasi ribuan tahun, melainkan pada mata seseorang yang kita anggap sebagai musuh."

"Aku tidak percaya pada perkataan sampahmu!" bentak Steven, langkahnya maju mengintimidasi. "Pasti kau tahu cara mengembalikan segalanya. Kau pasti bisa membantuku mendapatkan kembali setengah kekuatanku yang dia ambil, bukan? Katakan padaku caranya!"

Hiro menggeleng perlahan, tidak bergeming sedikit pun. "Kekuatan itu adalah milikmu, Steven. Ia adalah bagian dari jiwamu. Jika tuannya sendiri tidak mampu memanggilnya pulang, lalu kekuatan apa yang kau harapkan dariku? Aku bukan pencuri, dan aku bukan pemberi." Hiro berbalik memunggungi Steven, menunjuk ke arah cakrawala yang jauh. "Pergilah! Jawaban yang kau cari tidak ada padaku, juga pada Dewa Caelum. Tapi berada di tempat yang pernah kau tinggalkan, di sisa-sisa debu yang coba kau lupakan."

Steven terpaku, kebingungan mulai menggerogoti keyakinannya. Namun, saat ia melangkah pergi dengan sisa kemarahan, Hiro hanya bisa membatin pilu.

"Kau tidak tahu, Steven... manusia yang sangat kau benci itu adalah makhluk yang dulunya pernah kau cintai lebih dari nyawamu sendiri." batin Hiro pahit. "Pengorbanannya, tetesan darahnya yang jatuh ke bumi itulah yang membuatmu selamat dari hukuman kekal. Dan gadis itu... pada akhirnya, dia pulalah yang akan memanggil jiwamu kembali ke rumah, atau justru menghancurkanmu selamanya."

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!