Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 memata matai
Setelah cukup lama,
Akhirnya Yoga keluar juga dari toilet. Saat keluar dari toilet ia harus rela menerima tatapan penuh selidik dan penghakiman dari orang orang yang entah sejak kapan telah berada di depan pintu toilet itu menunggunya.
Yoga menggerutu di dalam hati, ia paham apa yang mungkin mereka pikirkan tentangnya.
Dengan wajah muram Yoga melangkah meninggalkan tempat itu.
Sampai di mejanyapun ia harus terima ketika Zahrapun menyambutnya dengan wajah cemberut.
" abang ngapain aja sih di toilet ?! Lama banget....
lihat makanannya sudah datang dari tadi dan hampir dingin " omel Zahra dengan wajah muram.
" ngapain lagi konser ?! " jawab Yoga tak kalah kesal.
Hatinya kian terasa kesal ketika ia melihat ke arah meja Ester dan di sana telah kosong.
( ckk....
kemana dia ?! Enak saja pergi gitu aja setelah membuatku berada dalam masalah.
dasar gadis liar....)
omelnya di dalam hati.
" kok konser sih bang...?! " protes Zahra
" ya apa lagi Ra ?! Jelaslah antri...kok masih nanya ?! "
" oh....antri.....?! " cicit Zahra merasa sedikit merasa bersalah karena sudah marah barusan.
" maaf...habisnya lama banget sih...." lanjut Zahra lagi dengan wajah sedikit menyesal.
" sudahlah,
kamu mau lanjut makan atau kita tinggal aja makanan ini ?! "
" kok gitu ?! "
" kata kamu udah dingin ?! "
" ya emang kenapa kalau udah dingin, kita makan aja....
jangan menyia nyiakan makanan, nggak baik..." jawab Zahra.
Kemudian dengan telatennya ia mempersilahkan Yoga untuk makan.
Yoga menghela nafas,
Makanan yang tersaji di meja adalah makanan kesukaannya,
Zahra memang tahu betul makan kesukaannya dan seleranya.
Tapi sial,
Moodnya sudah buruk karena Ester.
Jadi,
Meski makanan itu adalah makanan kesukaannya,
Ia jadi tak berselera untuk makan.
Namun apa boleh buat, meski tak lagi berselara makan.
Ia harus tetap makan karena ia tak mau Zahra kian kecewa padanya.
Hari itu akhirnya di akhiri dengan perasaan yang tak nyaman di hati Yoga.
Menjelang senja, Zahra mengantarnya kembali ke rumah tuan Anthony.
" jadi abang memutuskan kerja menggantikan pakdhe di sini ?! " tanya Zahra setelah mereka telah berada di depan pintu pagar rumah itu.
" iya,
apa boleh buat.....bapak tidak boleh berhenti oleh majikannya.
Tapi bapak juga nggak bisa ninggalin ibu.
jadi abang saja yang gantikan bapak " jawab Yoga
" terus kebun abang gimana ?! Sampai kapan abang di sini ?!
Masak abang mau di sini terus sih ?! " tanya Zahra lagi dengan raut wajah sedih.
" nggak tahulah Ra...
sekarang abang belum tahu "
" majikan abang itu egois, seharusnya mereka nggak boleh begini dong...
ini sama juga dengan mereka sengaja nahan abang di sini.
Iya nggak sih...." cerocos Zahra.
" nggak tahu abang....tapi yang jelas, keluarga abang banyak berhutang budi pada mereka.
Hitung hitung ini adalah cara abang membalas budi sama mereka " jawab Yoga sambil menghela nafas.
Ia masih nampak berbincang serius dengan Zahra ketika tiba tiba.
Thin thin thin....
Suara klakson mobil mengejutkannya juga Zahra, keduanya sontak menoleh kearah sumber suara.
Sebuah mobil mewah berwarna merah nampak menjadi sumber suara itu.
" woi...kalau mau pacaran cari tempat yang tepat ,
jangan depan rumah orang gini....dasar nggak modal...." omel Ester yang berada di dalam mobil.
Yoga dan Zahra menatap tak berkedip kearahnya.
Dan Ester membalas tatapan kedua orang itu dengan tatapan ketusnya dan penuh permusuhan.
Tak lama pintu pagar terbuka dan Ester pun segera melajukan mobilnya kembali.
Ia melewati begitu saja Yoga dan Zahra yang sebenarnya sudah berada di pinggir dan tidak menghalangi jalan sama sekali.
" siapa dia bang ?! Apa dia salah satu penghuni rumah ini ?! " tanya Zahra dengan wajah yang entah.
" hemm....
dia putri bungsu majikan abang " jawab Yoga, wajah Zahra seketika berubah pias.
" astaga bang.....
jadi abang bekerja sama orang orang yang memperlakukan abang dengan buruk seperti itu ?! " pekik Zahra kaget.
" nggak Ra....
semua orang di rumah ini bersikap baik sama abang.
tapi ya emang dia doang yang kayaknya punya kelakuan minus " jawab Yoga masih sedikit merasa kesal kepada Ester ketika ia mengingat kelakuan gadis itu padanya tadi pagi juga di toilet kafe.
Zahra mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Yoga itu,
Keduanya masih nampak berbincang tanpa mereka tahu,
Seseorang menatap penuh kebencian pada mereka berdua.
Seseorang yang tak lain adalah Ester, ia menatap Yoga dan Zahra dari atas balkon kamarnya.
Beralasan ingin mandi karena gerah kepada mama dan papanya yang tadi berada di teras depan rumah,
Ester langsung naik kekamarnya dan memperhatikan Yoga juga Zahra dari atas balkon kamarnya.
" dasar norak,
kayak yang mereka sendiri aja yang pacaran. Udah seharian ketemu juga...
masih aja belum puas...." rutuknya mengoceh tidak jelas.
Tak lama ia melihat gadis yang ia kira pacar sopir papanya itu nampak berlalu setelah sebelumnya melambaikan tangannya pada sopir papanya itu.
Ester mencebik,
" dasar narsis....
kampungan....udik...." ocehnya lagi sambil masuk ke dalam kamar.
Di bawah sana, Yoga akhirnya masuk ke dalam area rumah.
Ia pun langsung menuju ke pintu samping rumah untuk ke kamarnya.
Yoga melihat teras depan rumah itu nampak sepi karenanya ia langsung menuju ke pintu samping.
Ia tak tahu jika sebelumnya tuan Anthony dan nyonya Hagia berada di sana cukup lama karena mereka memperhatikannya bersama Zahra tadi.
Dan sepertinya tuan Anthony dan nyonya Hagia telah masuk ke dalam rumah.
makasih udah up di hari Minggu ya Kak Thara, aku beneran ga nyangka, love sekebon deh😍😍😍😍
ngakuuuuuuuuuu udah mulai tersepona dan teryoga yoga🤣🤣🤣