Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"ohh, jadi Lo ketua OSIS di sini? Sory banget gue gak sempat sungkem sama Lo, kakak kelas yang terhormat silahkan duduk di sini," ujar Clara yang kemudian berjalan pergi setelah dengan senyum anehnya ia mempersilakan Rena duduk di tempat tadi ia duduk.
Beberapa siswa dan siswi menatap mereka, baru kali ini ada yang berani melawan Rena, dia juga terlihat jauh lebih cantik dari Rena.
Obrolan kecil pun mulai terdengar di kuping Rena, bagaimana mereka membisikkan sebentar lagi posisi bunga sekolah akan di ambil oleh Clara.
Sebenarnya Rena sudah sangat penasaran dengan siapa dan bagaimana wajah Clara, si anak baru itu, namun kemarin saat ia ingin menemui Clara, dia terlambat karena Clara telah pulang sekolah, dan hari ini ia melihat siapa itu Clara.
"Kenapa Lo? Takut ya?" ujar Della yang tiba-tiba berdiri di belakang Rena.
Rena berbalik, sebelumnya dia sudah tau dari Della kalau ada siswi baru yang lebih cantik dari Rena ya itu Clara, dia juga sangat mirip dengan Cery yang telah meningal, Della tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dia juga mengatakan kepada Rena kalau Clara mungkin di kirim seseorang untuk balas dendam kepada Rena.
"Maksud Lo apaan?" ujar Rena menghempas kan nampan yang ada di tangan nya ke atas meja dan menghadapi Della.
"Waw, jangan emosi dong kakak kelas yang terhormat, sekarang yang berani sama Lo bukan cuma gue kan? Tapi ada lagi, dan dia cantik paket lengkap mirip juga sama Cery, hati-hati loh dia datang buat balas dendam," ungkap Della sengaja menakut-nakuti Rena.
Rena yang mendengar itu merasa kuping nya begitu panas, ia benar-benar kesal akan ucapan Della, ia ingin sekali menjembak Della namun Della lebih dulu angkat kaki dari sana i datang hanya untuk membuat Rena marah.
"Kurang hajar, gue gak bisa biarin ini terjadi, siapa dia kenapa semua orang bilang dia mirip Cery, jelas-jelas sama sekali engak, gue harus suruh orang buat nyelidikin ini," batin Rena. Ia telah kacau akan ucapan teman-teman di sekolah nya.
Sementara itu, Clara berjalan menyusuri koridor sekolah, entah apa yang ia pikirkan saat ini namun siapapun yang melihatnya mereka pasti tau kalau tatapan itu begitu kosong.
Plak ...
Seseorang tiba-tiba menyentuh pundak Clara, bukan menyentuh, namun memukul nya dengan pelan dari belakang.
Sontak Clara kaget dan kemudian menoleh ke belakang, ia menatap Della yang memegang dua botol minuman di belakang nya.
"Ngapain Lo?" ujar Clara seperti biasa ia selalu terlihat galak.
"Gak usah galak-galak kali sama temen sekelas sendiri, mau minum gak?" Della menyerahkan sebotol air mineral milik nya ke tangan Clara.
Clara terpaksa mengambil pemberian Della karena Della langsung meletakkan di tangan nya.
"Apaan sih, gue gak haus," Clara mengambil air tersebut namun hanya memegang dan lanjut berjalan.
Sementara Della mengikuti nya dan berjalan di sebelah nya.
"Lo kan baru di sini, gimana kalau gue ajak keliling sekolah, sekolah kita luas loh, gue bisa ajak Li ke perpustakaan,taman atau tempat lain," crocos Della. Ia mengimbangi langkah Clara.
"Gak perlu," Clara tetap memasang sifat cueknya kepada Della.
Namun Della tidak putus asa, karena ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, jika ingin lebih mengenal sosok Clara dia harus tahan dan harus tetap mendekati nya.
Della juga masih yakin kalau Clara ada hubungannya dengan Cery, tidak berhasil menemukan bi Suni, dirinya memutuskan untuk mengorek informasi dari Clara sendiri dengan menjadi teman Clara.
"Gimna kalau Lo ikut gue sekarang," Della segera memegang pergelangan tangan Clara, ia berjalan cepat menuju lapangan basket tempat Linus dan Tim nya sedang berlatih.
"Astaga," Clara menarik nafas panjang melepaskan kekesalan nya karena Della yang tampa persetujuan Clara langsung menarik nya pergi.
Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya tiba di lapangan basket, Clara menatap lapangan basket tersebut dengan tatapan dingin ia mengarahkan pandangan nya ke arah Linus dan Raja secara bergantian.
Bandana yang di gunakan Raja di kepala nya membuat Clara merasa kalau Raja sangat lah tampan.
Linus yang melihat itu segera menghentikan aktifitas nya dan berjalan ke arah Della dan Clara yang sedang menatap ke arah mereka.
Raja pun menyadarinya, ia tidak mau kalah dan berjalan mengikuti Linus dari belakang.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Linus menatap Clara dan Della secara bergantian.
"Kak Raja, mau minum gak?" bukan nya menjawab pertanyaan Linus, Clara malah berjalan menghampiri Raja sambil menyerahkan air minum yang tadi diberikan Della untuk nya.
Seketika Della dan Linus tertegun melihat Clara yang begitu manis saat melihat di dekat Raja.
Entah kenapa, hati kecil Linus rasanya sedikit tergores melihat perlakuan Clara kepada Raja,ia seolah melihat Cery yang begitu perhatian dulu kepada dirinya.
Begitu juga dengan Della, dia sangat cemburu karena dirinya sampai saat ini masih menyukai Raja, namun tidak ada sedikitpun confirmasi dari Raja yang mampu membuat nya bersemangat.
"Lo gak mau minum?" Della terpaksa menyerahkan air minum nya kepada Linus dengan hati hampa.
"Gak usah," ujar Linus menolak dan kemudian kembali menuju tengah lapangan namun matanya melirik geli kepada Raja.
Raja tersenyum miring, ia menerima botol air mineral yang di berikan Clara kepada nya sambil berkata kecil." Calon adik yang baik."
Setelah berkata begitu, Raja kembali berlatih dan memasukkan air minum itu ke dalam tas nya.
Clara juga tersenyum dan melambaikan tangan lalu berjalan pergi dari lapangan basket tampa mempedulikan Della.
"Semuanya penuh misteri," batin Della sambil menatap kepergian Clara.
Sejujurnya cukup banyak yang heran karena Clara si anak baru seperti terbiasa tampa teman, di dekati Della ia menjauh, didekati Rena ia melawan, gadis itu menyita banyak perhatian.
Tampa terasa hari pun sudah semakin sore, namun tim basket Linus masih stay berlatih dan mereka hanya istirahat makan siang atau sekedar minum air putih.
Sekolah sudah kosong, seluruh adik kelas dan teman kelas mereka juga sudah pulang.
"Oke teman-teman, kayaknya latihan hari ini udah cukup, kalian boleh pulang kecuali Raja, gue mau ngomong empat mata sama dia," Linus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya sambil menyimpan bola basket mereka.
Kalau sudah ketua mengatakan itu, yang lain pun segera berkemas dan angkat kaki dari lapangan.
Begitu juga dengan Raja, ia tidak menggubris perkataan Linus, Linus semakin kesal dan setelah memastikan kalau di sana hanya ada mereka berdua, Linus pun menarik tas Raja dan melemparkannya ke sembarang tempat.
"Ngapain Lo?" tanya Raja sambil menatap Linus dengan tatapan tajam.
"Lo budek ya? Gue mau ngobrol sama lo," jelas Linus lagi.
"Gue gak punya banyak waktu," tutur Raja hendak mengambil tas nya.
Namun tidak di biarkan oleh Linus, ia kembali menghadang Raja.
"Lo mau ngomong apa?" Raja mulai menatap Linus penuh kesal.
Linus menarik nafas panjang, lalu menghembuskan dengan pelan, ia mencoba berkata pelan agar Raja tidak terbawa emosi.
"Ada hubungan apa Lo sama Clara?" beberapa patah kata itu kini lepas dari mulut Linus.
Raja teridam, ia mengerutkan keningnya menatap Linus, tidak mengerti apa yang di ucapkan Linus ia merasa kalau Linus sedang cemburu.
"Clara? Lo mau tau banget soal gue sama Clara? Gue kasih tau ya, gue sama dia sebentar lagi bakal lebih dekat dari yang tadi Lo lihat, jadi Lo gak perlu cemburu gitu, satu lagi, dia bukan Cery," Raja menekankan jari telunjuk nya ke dada Linus serta menarik kedua sudut bibirnya dengan setipis mungkin terlihat sangat jelas dari tatapan nya ia membeci Linus.
Setelah berkata demikian, Raja bejalan meninggalkan lapangan basket sambil menyandang tas nya.
Linus mengepalkan tangan sambil menatap punggung Raja yang semakin lama semakin jauh.
"Kenapa Raja jadi dekat banget sama Clara? Apa dia tau sesuatu? Apa yang udah terjadi sama mereka, bisa-bisa nya sedekat ini," umpat Linus, ia juga segera angkat kaki dari lapangan basket tersebut karena cuaca mulai gelap semakin buruk terlihat akan turun hujan sebantar lagi.
Mau bagaimana pun juga penyesalan Linus atas kepergian Cery masih sangat membekas di hatinya, ia juga tidak pernah berhenti untuk menyalakan dirinya karena kejadian ini.
Malam itu hujan turun begitu deras, Linus duduk di meja belajar nya sambil sesekali menatap pancaran kilat yang menyambar di luar jendela kamar nya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Linus, namun saat ini ia meraih sebuah kotak kecil, yang berisikan jam tangan. Itu hadiah ulang tahun dari Cery sebelum malam itu Cery pergi untuk selamanya.
"Cery, kalau aja malam itu gue gak salah paham, mungkin gue gak bakal kehilangan Lo, udah cukup bikin gue nyesel sekarang, seandainya Lo di kembaliin, mau Lo secupu dan sejelek apa juga gue bakal jadiin Lo pacar gue," Linus perlahan menitikan air mata nya ke kotak tersebut, semakin mengingat wajah Clara yang mirip dengan Cery, semakin membuat Linus furstasi dan tidak bisa melupakan Cery.
Tak terasa seminggu berlalu begitu cepat, masalah nya masih saja belum terpecahkan, Della masih belum mendapatkan informasi apapun tentang Clara karena Clara tidak pernah mengubris nya sedikit pun.
Linus dan Raja juga mulai kembali sering berkelahi saat latihan hanya karena masalah kecil.
Tim basket mereka kini mulai lemah karena perselisihan antara Linus dan Raja.
Pagi itu ...
Terlihat papa Tian yang sedang duduk di sofa ruang tamu, rumah itu cukup luas dan di penuhi perabotan dengan harga ratusan juta, membuat siapapun yang melihatnya jadi engan untuk duduk atau menyentuh barang-barang di sana, karena papa Tian sangat hobi mengoleksi barang antik.
Bahkan sebuah lukisan antik saja harga nya lima ratus juta.
"Clara, nanti malam kamu ikut papa ke butik Tante Tara ya, soalnya Tante Tara mau ketemu kamu, katanya ada yang mau di kasih ke kamu," ujar papa Tian yang saat itu melihat Clara melintas di hadapan nya.
Clara yang awalnya hendak melewati sang papa dan tidak mau bicara, malah berhenti melangkah lalu menatap wajah sang papa.
Bersambung ....