NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18:Duri Yang Mulai Mendekat

​Salju tidak lagi sekadar turun, ia seperti sedang menari dalam simfoni sunyi saat Chen Lin melintasi gerbang utama Sekte Bing Si.

​Langkah kakinya, yang kini didukung oleh Marrow Purification Tingkat 4 Puncak, tidak meninggalkan jejak sedikit pun di atas hamparan salju yang perawan.

​Langit senja membiaskan warna biru dan perak, menciptakan pencahayaan sinematik yang memantul pada dinding-dinding es sekte.

​Di sepanjang jalan menuju Aula Penatua, bisikan-bisikan murid luar terdengar seperti desir angin yang resah. Mereka menatap sosok Chen Lin yang tampak berbeda lebih tegak, lebih dingin, dan memancarkan aura yang lebih kuat dari sebelumnya.

​Kabar tentang hancurnya kelompok Han Feng di Lembah Bayang Es telah sampai lebih dulu melalui dua murid Sekte Qian Jian yang melarikan diri, menyebarkan ketakutan akan kekuatan misterius pendatang baru ini.

​Seorang kapten penjaga gerbang, seorang pria bernama Zhang He, melangkah maju untuk menghadang jalur Chen Lin. Matanya menyipit, mencoba menembus kabut energi yang menyelimuti tubuh gadis itu.

​"Tahan langkahmu, Chen Lin. Peraturan sekte menyatakan bahwa siapa pun yang kembali dari misi luar dengan membawa aroma kematian yang begitu pekat harus menjalani pemeriksaan indra spiritual di gerbang depan. Kau membawa terlalu banyak aura gelap dari Lembah Bayang Es."

​Chen Lin berhenti tepat satu langkah di depan Zhang He. Udara di antara mereka tiba-tiba membeku, partikel air di udara mengkristal menjadi butiran es halus yang jatuh ke tanah dengan bunyi gemerincing yang hampir tak terdengar.

​"Peraturan itu berlaku untuk mereka yang jiwanya goyah setelah pembantaian, Kapten Zhang. Namun bagi mereka yang membawa kemenangan dan bukti pelanggaran musuh, aturan itu hanyalah penghalang bagi kemajuan sekte. Apakah kau ingin menjadi orang yang menunda laporan penting ini hanya karena kau merasa terancam oleh aura yang tidak kau pahami?"

​Zhang He mendengus, tangannya mencengkeram hulu pedangnya.

"Kau bicara seolah kau sudah menjadi murid inti. Ingat posisimu pemuda. Kau hanyalah orang baru yang beruntung bisa selamat dari terkaman Han Feng."

​Chen Lin menatap mata Zhang He dengan kejernihan yang memancarkan keberanian dibaliknya.

"Keberuntungan adalah kata yang digunakan oleh mereka yang tidak mampu melihat kerja keras di balik hasil. Jika kau bersikeras untuk memeriksaku, lakukanlah sekarang. Tapi ketahuilah, setiap detik yang kau buang adalah penghinaan terhadap Penatua Lu yang sudah menungguku di aula utama."

​Ketegangan itu pecah ketika seorang murid senior lainnya menarik bahu Zhang He, memberinya kode untuk membiarkan Chen Lin lewat. Chen Lin melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi, meninggalkan rasa dingin yang membekas di hati para penjaga.

​Pintu perunggu Aula Penatua terbuka dengan suara erangan logam yang beku, sebuah suara yang menceritakan usia ribuan tahun sekte ini. Di dalamnya, Penatua Lu duduk bersila di atas altar es, matanya terpejam namun indra spiritualnya telah mengunci sosok Chen Lin sejak ia menginjakkan kaki di halaman.

​"Kau kembali lebih cepat dari yang diperkirakan, Chen Lin," suara Penatua Lu bergema, seperti denting harpa di tengah sunyi.

"Lembah itu biasanya menelan mereka yang sombong, namun kau membawa aroma kemenangan yang begitu pekat hingga menembus dinding-dinding es ini."

​Chen Lin membungkuk hormat, gerakannya halus seperti air yang mengalir di atas batu giok.

"Penatua, badai di Utara telah saya jinakkan, dan para pencuri dari Timur telah saya usir kembali ke liang mereka. Ini adalah bukti dari pelanggaran mereka yang mencoba mencuri urat nadi es di wilayah kita."

​Ia melemparkan tas penyimpanan milik Han Feng ke atas lantai es. Tas itu meluncur dan berhenti tepat di bawah kaki altar Penatua Lu.

​Penatua Lu membuka mata, kilatan keterkejutan yang sangat jarang terjadi melintasi wajah tuanya saat ia memeriksa isi tas tersebut dan merasakan sisa energi Chen Lin yang kini jauh melampaui saat ia berangkat.

Ia bangkit berdiri, jubahnya yang berwarna putih salju berkibar ditiup oleh energi internalnya sendiri.

​"Tingkat 4... Puncak? Hanya dalam waktu tiga hari?" Penatua Lu menatap Chen Lin seolah sedang melihat monster dalam wujud manusia.

"Kau bukan lagi sekadar aliran sungai kecil, kau adalah air bah yang siap meruntuhkan bendungan. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di dasar lembah itu? Tidak ada kultivasi normal yang bisa melompati tingkatan secepat ini tanpa menghancurkan meridian penggunanya."

​Chen Lin menegakkan tubuhnya, menatap langsung ke arah Penatua.

"Kesakitan adalah guru terbaik, Penatua Lu. Han Feng dan kelompoknya tidak memberi saya pilihan selain meledakkan potensi saya atau terkubur di bawah es abadi. Saya memilih untuk mengasimilasi energi es dari lembah tersebut ke dalam tulang saya. Prosesnya memang tidak menyenangkan, tetapi hasilnya memang tidak mengecewakan."

​Penatua Lu mendesah, sebuah suara yang membawa kebijaksanaan sekaligus kekhawatiran.

"Mengasimilasi energi alam tanpa filter adalah tindakan bunuh diri bagi kebanyakan orang. Kau memiliki garis keturunan yang unik, atau mungkin keinginan yang melampaui logika manusia. Namun, keberhasilanmu bukan hanya mengamankan sumber daya, tapi juga menjaga martabat Sekte Bing Si di hadapan Qian Jian yang selalu haus akan wilayah."

​Penatua Lu melambaikan tangan-Nya, dan tiga kotak giok melayang dari balik tirai es menuju Chen Lin. Setiap kotak memancarkan frekuensi energi yang berbeda, menandakan nilai barang yang ada di dalamnya.

​"Hadiah pertama adalah Pil Transformasi Sumsum Es murni. Pil ini dibuat dari inti bunga salju tujuh warna yang hanya tumbuh di puncak gunung tertinggi. Ia akan berfungsi sebagai jangkar, menstabilkan fondasimu yang melonjak terlalu cepat agar tidak runtuh di masa depan. Jangan terburu-buru untuk mencapai Tingkat 5 sebelum energi ini meresap sepenuhnya."

​Chen Lin menerima kotak itu, merasakan hawa dingin yang menenangkan merambat ke telapak tangannya.

"Terima kasih, Tetua. Keseimbangan memang hal yang paling sulit dijaga dalam kultivasi yang cepat."

​"Hadiah kedua," lanjut Penatua Lu, "adalah hak akses ke Perpustakaan Teknik Rahasia Halaman Dalam selama satu minggu. Di sana, kau akan menemukan catatan para leluhur tentang bagaimana memanipulasi es bukan hanya sebagai senjata, tetapi sebagai perpanjangan dari jiwa. Carilah teknik yang berbicara pada hatimu, bukan hanya yang terlihat kuat di permukaan."

​Chen Lin mengangguk dalam.

"Pengetahuan adalah pedang yang tak terlihat. Saya akan menggunakan kesempatan ini dengan bijak."

​"Dan yang ketiga..." Penatua Lu terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, seolah sedang melepaskan sesuatu yang sangat berharga.

"Ini Adalah Pedang Kristal Langit. Senjata tingkat bumi rendah ini dibuat dari es jatuh dari langit yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah fana. Ia mampu menyalurkan energi esmu tanpa ada kebocoran sedikit pun, meningkatkan ketajaman seranganmu hingga dua kali lipat."

​Saat kotak ketiga terbuka, sebuah pedang transparan dengan cahaya biru lembut melayang di udara. Chen Lin merasakannya pedang itu seolah bernapas, detak jantungnya yang membeku selaras dengan aliran darah Chen Lin.

​"Pedang ini memiliki kehendak sendiri, Chen Lin," kata Penatua Lu dengan suara rendah yang penuh peringatan.

"Jika kau lemah, ia akan membekukan tangan yang memegangnya. Jika kau kuat, ia akan membelah gunung untukmu. Gunakan ia bukan untuk kesombongan, tetapi untuk melindungi apa yang perlu dilindungi."

​Chen Lin menggenggam hulu pedang itu. Sensasi dingin yang menyengat namun akrab menjalar ke seluruh lengannya. "Terima kasih, Penatua. Kepercayaan Anda adalah pedang saya. Dengan senjata ini, saya akan memastikan bahwa nama Sekte Bing Si akan dihormati di setiap jengkal tanah Utara ini."

​Setelah meninggalkan Aula Penatua, Chen Lin tidak segera kembali ke kediamannya. Ia berjalan menyusuri jembatan penghubung yang menggantung di atas jurang dalam yang diselimuti kabut abadi.

Di sana, seseorang telah menunggunya, seorang pemuda dengan jubah biru tua yang melambangkan statusnya sebagai murid peringkat atas di Halaman Luar, Wei Kang.

​"Langkah yang mengesankan, Chen Lin. Tapi jangan berpikir bahwa hadiah dari Penatua Lu membuatmu setara dengan kami yang sudah bertahun-tahun menempa diri di sini."

​Chen Lin berhenti tanpa menoleh ke arah Wei Kang. "Kau bicara tentang waktu seolah itu adalah ukuran kekuatan tunggal. Jika tahun-tahun yang kau habiskan di sini hanya menghasilkan kemampuan untuk berdiri di jembatan dan mengadang orang lain, maka waktu itu terbuang sia-sia."

​Wei Kang berbalik, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. "Kau murid baru yang tidak tahu krama! Pedang Kristal Langit adalah milik yang seharusnya diberikan kepada mereka yang telah berkontribusi besar. Kau hanya mendapatkan keberuntungan di lembah itu. Beranikah kau menguji pedang barumu dengan teknik milikku?"

​Chen Lin akhirnya berbalik perlahan. Matanya yang dingin membuat Wei Kang sedikit goyah.

"Pedang ini belum ingin meminum darah sesama murid sekte hari ini, Wei Kang. Tapi jika kau bersikeras untuk menjadi batu asah bagi ketajamannya, aku tidak keberatan meluangkan sedikit waktu. Namun, katakan padaku, apakah kau siap menanggung rasa malu jika kau kalah dari orang yang kau sebut beruntung ini?"

​Wei Kang menghunuskan pedangnya, memicu aliran energi angin yang tajam di sekitarnya.

"Jangan banyak bicara! Lihatlah teknik Badai Es milikku!"

​Wei Kang melesat maju, pedangnya menciptakan serangkaian tebasan yang menyerupai pusaran angin beku. Namun, Chen Lin tetap diam. Ia bahkan tidak mencabut Pedang Kristal Langit sepenuhnya dari sarungnya.

Ia hanya menggunakan bagian pelindung tangan pedangnya untuk menangkis setiap serangan Wei Kang dengan presisi yang mengerikan. Setiap kali logam bertemu, sebuah gelombang kejut kecil meletus, menghancurkan lantai jembatan di bawah kaki mereka.

​"Kau terlalu terburu-buru, Wei Kang," gumam Chen Lin di tengah dentingan senjata.

​Dengan satu gerakan memutar yang halus, Chen Lin menghantam pergelangan tangan Wei Kang dengan gagang pedangnya. Pedang Wei Kang terlepas dan tertancap dalam di dinding es jembatan, sementara Wei Kang sendiri terjatuh berlutut, napasnya terengah-engah dan tangannya gemetar karena dingin yang luar biasa yang meresap dari kontak tadi.

​"Ini adalah pelajaran pertamamu, Wei Kang," kata Chen Lin sambil melangkah melewati pemuda yang kalah itu.

​Malam itu, Chen Lin menggunakan hak aksesnya untuk memasuki Perpustakaan Teknik Rahasia. Bangunan itu adalah menara berbentuk pagoda yang dibangun dari batu hitam yang tidak memantulkan cahaya, menciptakan kontras yang tajam dengan lingkungan sekte yang serba putih.

Di dalamnya, aroma kertas tua dan dupa kayu cendana memenuhi udara, memberikan rasa tenang yang aneh bagi siapa pun yang memasukinya.

​Penjaga perpustakaan, seorang pria tua yang punggungnya bungkuk dan matanya hampir tertutup oleh lipatan kulit, melirik ke arah lencana akses Chen Lin.

​"Murid baru dengan izin Halaman Dalam... jarang sekali terjadi. Kau adalah Chen Lin yang dibicarakan banyak orang itu?"

​"Saya hanya seorang murid yang sedang mencari jawaban, Senior," jawab Chen Lin dengan sopan.

​Orang tua itu terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering.

"Jawaban di tempat ini seringkali lebih berat daripada pertanyaan yang kau bawa. Lantai tiga adalah tempat bagi mereka yang mencari kekuatan es sejati."

​Chen Lin menaiki tangga spiral kayu yang berderit di bawah langkahnya. Di lantai tiga, ia menemukan rak-rak yang berisi gulungan es yang memancarkan aura biru.

Ia berjalan perlahan, membiarkan indra spiritualnya menyentuh setiap judul yang tertulis di sana. Hingga akhirnya, ia berhenti di depan sebuah kotak perak kecil yang tersembunyi di balik tumpukan buku besar.

​Di dalamnya terdapat sebuah gulungan kuno berjudul Seni Pernapasan Jantung Salju Abadi. Berbeda dengan teknik serangan lainnya, teknik ini berfokus pada meditasi internal dan pemurnian emosi.

Bagi Chen Lin, ini adalah potongan puzzle yang hilang. Selama ini, kekuatannya berasal dari tekad untuk bertahan hidup. Namun untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, ia butuh ketenangan yang mutlak.

​Saat ia membuka gulungan itu, sebuah suara muncul di benaknya, dingin dan hampa.

"Apakah kau siap untuk membekukan hatimu demi mendapatkan kekuatan yang tak terbatas? Karena di puncak kultivasi es, tidak ada ruang bagi kehangatan manusia."

​Chen Lin terdiam, menatap kata-kata yang tertulis dengan tinta perak di atas kertas gelap tersebut. Ia teringat akan perjalanan panjangnya, akan pengkhianatan yang ia alami, dan akan wajah-wajah mereka yang ia tinggalkan.

​"Kekuatan tanpa hati hanyalah patung es yang indah namun rapuh," bisik Chen Lin pada dirinya sendiri. "Saya tidak akan membekukan hati saya. Saya akan menjadikannya sebagai inti dari badai tersebut pusat yang tenang di tengah kekacauan yang membeku."

​Ia mulai mempelajari baris demi baris, membiarkan pengetahuan kuno itu meresap ke dalam ingatannya. Jam demi jam berlalu, dan cahaya bulan yang masuk melalui jendela perpustakaan mulai bergeser. Di lantai bawah, penjaga perpustakaan itu mendongak, merasakan fluktuasi energi yang sangat stabil namun sangat kuat berasal dari lantai tiga.

​"Anak itu... dia tidak memilih teknik penghancur, tapi teknik pengendali," gumam orang tua itu sambil tersenyum tipis. "Mungkin ada harapan bagi sekte ini setelah semua kekacauan ini."

​Saat Chen Lin hendak meninggalkan perpustakaan sebelum fajar menyingsing, ia bertemu dengan sosok yang sangat ia kenali namun tidak ia harapkan untuk dilihat secepat ini. Di pintu keluar, berdiri Penatua Yan, penanggung jawab disiplin sekte yang dikenal sangat ketat dan tidak kenal ampun.

​"Jadi, hadiah dari Penatua Lu belum cukup bagimu hingga kau harus menghabiskan malam pertamamu di sini?" Penatua Yan menatap Chen Lin dengan mata yang tajam seperti pisau bedah.

​"Ilmu tidak pernah memiliki batas akhir, Penatua Yan. Saya hanya ingin memastikan bahwa fondasi saya sekuat dinding sekte ini sebelum tantangan berikutnya datang," jawab Chen Lin tenang.

​Penatua Yan melangkah mendekat, auranya yang menekan membuat udara di sekitar pintu keluar menjadi berat. "Kau telah membunuh Han Feng. Keluarga Han bukan hanya faksi di dalam Qian Jian, mereka memiliki hubungan darah dengan beberapa petinggi di wilayah ini. Kau telah memicu api yang tidak akan bisa dipadamkan hanya dengan permintaan maaf atau mediasi."

​"Saya tidak membunuh Han Feng Penatua. Jika keluarga Han ingin menuntut darah, mereka harus harus menuntunnya ke monster yang telah membunuh Han Feng."

​"Walaupun memang benar begitu tetapi. Han Zhao, kakak laki-laki Han Feng, sedang dalam perjalanan kembali dari sekte pusat. Dia telah mencapai tahap Pure Essence. Baginya, kau hanyalah seekor semut yang kebetulan bisa menggigit."

​Pure Essence... Chen Lin Hanya menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepalanya.

​"Terima kasih atas informasinya, Penatua Yan. Saya akan memastikan bahwa saat Han Zhao tiba, ia akan menemukan bahwa semut ini telah berubah menjadi naga yang mampu menelan matahari."

​Penatua Yan menatap punggung Chen Lin yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu dalam diri pria itu yang melampaui logika kultivasi biasa. Ia memiliki aura seorang penguasa yang belum terasah sepenuhnya, namun kilaunya sudah mulai terlihat.

​Kembali ke paviliunnya, Chen Lin duduk di tepi tebing yang menghadap langsung ke lembah yang tertutup kabut. Ia mengeluarkan Pil Transformasi Sumsum Es dan menelannya dalam satu gerakan. Seketika, suhu di sekitarnya anjlok hingga mencapai titik di mana udara itu sendiri seolah membeku menjadi kristal-kristal halus.

​Rasa sakit yang luar biasa melanda setiap sarafnya. Sumsum tulangnya terasa seperti sedang dicairkan oleh api yang sangat dingin, lalu disusun kembali menjadi struktur yang lebih padat dan lebih murni.

Ia menggertakkan gigi, tidak membiarkan satu teriakan pun keluar dari mulutnya. Di tangannya, Pedang Kristal Langit mulai bercahaya, membantu menyerap kelebihan energi yang bisa meledakkan tubuhnya.

​Dalam keadaan setengah sadar, Chen Lin memvisualisasikan Seni Pernapasan Jantung Salju Abadi. Ia melihat dirinya berdiri di tengah badai salju yang dahsyat, namun ia tidak melawan angin tersebut. Ia membiarkan salju masuk ke dalam tubuhnya, mengisi setiap kekosongan, hingga ia tidak lagi bisa dibedakan dari lingkungan sekitarnya.

​Beberapa jam kemudian, saat matahari pagi mulai menyentuh puncak tebing, Chen Lin membuka mata. Warna matanya sekarang memiliki kilauan perak yang lebih dalam, dan setiap gerakannya meninggalkan jejak uap dingin di udara. Fondasinya kini benar-benar stabil di puncak Tingkat 4.

​Ia berdiri dan menarik Pedang Kristal Langit. Dengan satu tebasan ringan ke arah udara kosong, sebuah gelombang es murni melesat sejauh seratus meter, membekukan kabut di lembah dan menciptakan percikan kristal yang indah namun mematikan.

​"Dunia ini mungkin kejam," bisiknya pada pedang di tangannya. "Tapi kita akan menjadi lebih kejam bagi mereka yang mencoba menghalangi jalan kita."

​Ia melihat ke arah gerbang sekte di kejauhan. Ia tahu bahwa ketenangan ini hanya sementara. Han Zhao akan datang, Qian Jian akan menuntut balas, dan sekte ini mungkin akan menjadi medan perang.

Namun, bagi Chen Lin, ini hanyalah babak baru dari kehidupannya yang kedua. Sebuah kehidupan yang tidak akan ia biarkan diatur oleh siapa pun selain dirinya sendiri.

​Angin pagi bertiup kencang, membawa aroma salju baru dan janji akan pertempuran yang akan datang. Chen Lin berjalan kembali ke paviliunnya, menyiapkan diri untuk apa pun yang akan dilemparkan takdir kepadanya selanjutnya.

Baginya, setiap kepingan salju yang jatuh adalah pengingat bahwa keindahan yang paling murni hanya bisa ditemukan di tengah-tengah kedinginan yang paling mematikan.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!