Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helena Celestine
"Ayah sedang pergi sayang" jawab Helena lembut.
"Apakah pergi ke hutan ibu? Nanti saat Ayah pulang, ayah bawa buah apa ya? Aku mau makan berri hitam Ibu.. Kira kira Ayah ingat tidak ya? Aku mau beri hitam?" tanya Anna dengan polosnya.
"Iyaa.. Mungkin mulai besok Anna bisa makan berri hitam kapanpun Anna mau"
"Benarkah?? Waahhh.. Ayah pasti dapat banyak berri hari ini"
"Annaa.. Ibu mau bertanya.." ucap Helena ragu ragu.
"Iya Ibu.. Aku dengarkan.."
"Putriku.. Selama ini Ayah sering memanggilmu Tuan putri kan?"
Anna mengangguk.
"Jadi..Ayah memanggilmu Tuan Putri karena sebenarnya Anna benar benar seorang Tuan Putri"
Anna memiringkan kepala sambil berpikir.
"Anna mengerti maksud Ibu?" Helena menatap Anna yang sedang berpikir.
"Maksud Ibu.. Ayah sebenarnya pangeran? Dan Ibu seorang Putri raja?" ucap Anna menebak.
"Emm.. Benar Ayah adalah pangeran, tapi Ibu hanyalah orang biasa bukan seorang Putri raja" Helena menjelaskan dengan perlahan agar Anna tidak terlalu kaget.
"Aku paham Ibu, Ayah adalah seorang Pangeran, karena Ayah menikah dengan Ibu maka Ibu juga seorang Putri, itu sebabnya aku juga seorang Putri, benar kan Bu?"
"Iyaa.. Sepertinya begitu.." ucap Helena ragu ragu.
"Kalau begitu.. Kenapa kita tidak tinggal diistana Bu?"
"Memang seharusnya kita tinggal di istana kan? Anna mau tinggal di istana?"
"Tentu saja Bu.. Seorang putri dan pangeran harus tinggal di istana..Aku mau banget!"
"Baiklah.. Jika putri Ibu bilang begitu maka besok kita akan pindah ke istana"
"Waahhhh.. Besok Bu? Aku senang sekali Bu.."
Haahhh.. Ternyata Anna tidak sekaget aku, itu karena anak anak berfikir secara sederhana.. Semoga semua berjalan sesuai keinginan.
mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir.. Aku yakin Luk akan melindungi kami bagaimanapun caranya.
Ayo percaya dan bergantung padanya saja...
Setelah mengambil keputusan perasaan Helena menjadi lebih lega.
...****************...
Di malam yang begitu sunyi Helena terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik di sekitar rumahnya, itu adalah suara orang berjalan cepat.. Namun suara seberisik itu bukan hanya satu atau dua orang, dan terdengar juga suara kuda yang lebih dari satu ekor.
Helena melihat jam saku di atas meja kamarnya, jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari, ia berpikir apakah ini sudah waktunya kereta kuda menjemput mereka ke istana?
Namun langkah kaki banyak orang terasa mencurigakan karena mereka berputar mengelilingi rumahnya seolah ia sedang di kepung. Saat itu Helena beranjak dari kamarnya perlahan, ia mengintip dari celah pintu depan, disana sudah berbaris beberapa ksatria dengan pedangnya, tidak ada kereta kuda yang dijanjikan Luk.
Kemudian Helena menuju pintu belakang, ia pun kembali mengintip, situasinya sama dengan di pintu depan. Perasaan tak enak menyelimuti Helena.
Helena mencoba tetap tenang, ia segera menghampiri Anna yang sedang tertidur.
"Anna.. Putriku" bisik Helena ditelinganya membangunkan.
"Ibu.. Ada apa? Apa sudah pagi?" jawabnya seraya terkantuk.
"Ssstttttt... Anna adalah anak yang baik, anak kesayangan Ayah dan Ibu selamanya, Anna tahu itu kan?" Anna mengangguk perlahan.
"Sekarang Anna harus bersembunyi, ayo bangun" Helena menarik Anna, memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu penyimpanan yang ada di dapur.
"Ibu.. Kenapa aku harus sembunyi?" keluh Anna yang mulai ketakutan.
"Dengarkan Ibu baik baik.. apapun yang Tuan putri dengar disini, tetap tenang dan jangan sampai keluar dari sini sebelum Anna mendengar suara Ayah.." bisiknya sambil mengusap kepala Annaa.
"Tapi ibu... Aku takut.."
"Jangan takut.. Ibu akan pergi sebentar, Anna mengerti kan? Hmm?"
"Iya ibu.. Aku mengerti aku akan menunggu disini sesuai keinginan Ibu.."
"Benar.. Ini baru putri ibu.." Helena mengecup kening Anna dengan raut wajah pilu. "Anna sayang.. Ingat yaa, Anna baru boleh membuka nya setelah mendengar suara Ayah!" Anna mengangguk.
"Jangan pergi lama lama Ibu.."
Helena mengangguk pelan.
Ditutuplah kotak kayu dihadapannya.
Ya Tuhan.. jagalah Putri dan suamiku..
Helena mengukuhkan tekadnya, ia tidak takut apapun asal Putri kecilnya aman, begitu pikirnya. Ia pun berjalan menuju pintu depan.
Setelah beberapa saat orang orang yang mengepung rumah mulai menunjukkan pergerakan.
"Duk..dukk..dukk" seseorang menggedor pintu dengan kasar.
Helena membuka pintu dengan berdiri tegak tanpa keraguan sedikitpun seolah sudah sangat siap menghadapi kematiannya.
Seorang pria berkumis lebat dengan pakaian mewah dan bertubuh besar berdiri di hadapannya.
"Halo nyonya..." ucap pria itu dengan senyum menyeringai.
"Siapa anda dan mau apa?"
"Kamu tak perlu tau siapa aku.. Dasar wanita rendahan.. Berani beraninya kau menjadi simpanan Putra mahkota, Dengar dengar kalian memiliki seorang anak? Dimana anak itu?"
"Hahhh.. Bagaimana ya? Aku sudah mengirimnya pergi dengan sangat aman" ucap Helena santai dengan tersenyum.
Pria itu mencengkeram leher Helena sekuat tenaga. "kenapa cara bicaramu membuatku kesal!!"
Tak hanya diam, Helena mencoba melawan dengan mencakarnya hingga berdarah di pipi kiri hingga ke pangkal leher pria paruh baya itu.
Pria itu semakin marah, dia melempar tubuh Helena ke kelantai sampai terdengar bunyi yg keras, kepalanya terbentur cukup keras hingga mengeluarkan banyak darah.
Namun Helena berusaha tetap tenang, ia tak mau mengeluarkan suara agar Anna tak mendengar suaranya yang sedang kesakitan.
"Hei kalian!" pria itu memanggil para ksatrianya.
"Sebagian geledah rumah ini sebagian lagi kejar putri Nicholas yang katanya sudah melarikan diri!!"
Para ksatria segera melaksanakan perintah si pria kasar itu. Pria itu menunduk di hadapan Helena, ia kembali mencengkeram kerah baju Helena.
"Katakan padaku kemana kau menyembunyikan putrimu!!"
"Cuiihhh" Helena tersenyum sinis setelah meludahi wajah pria itu.
"Mau mati kau rupanya!!" teriaknya di depan wajah Helena.
Pria itu menampar, memukuli dan menginjak injak tubuh Helena, namun Helena sama sekali tak mengeluarkan suara, membuat pria itu semakin makin menyiksa Helena.
Namun tiba tiba seorang ksatria pria itu menghampirinya.
"Tuan count.. Mata mata di istana baru saja mengirimkan merpati pos, Putra mahkota dan pasukan pengawalnya sedang menuju kemari dengan tergesa gesa.. sepertinya Beliau sudah mendengar apa yang terjadi dengan wanita ini"
Seketika wajah Count mengernyit.
"Bunuh wanita ini lalu cepat tinggalkan tempat ini.."
"Baik Tuan! Kita apakan mayatnya?"
"Biarkan saja!! biarkan Putra mahkota yang congkak itu mendapatkan pukulan dari kematian wanita ini"
Count menatap tajam Helena yang sudah tak berdaya. "Inilah akibatnya karena sudah mengganggu rencanaku jalang!!" setelah itu Count pergi.
Lalu ksatria count menusuk perut Helena sekaligus menarik kembali pedangnya, kemudian meninggalkannya begitu saja,
Keadaan rumah kembali sunyi..
Helena yang sudah sangat sekarat itu masih membuka matanya, tubuhnya sudah mati rasa,ia tak lagi merasakan sakit, ia bertekad akan tetap membuka mata hingga Suaminya tiba dan mengamankan Putrinya.
Harapan itu tak sia sia, tak lama terdengar suara kuda.. Luk berlari masuk ke dalam rumah dengan sekuat tenaga dan mendapati Istri tercintanya terbaring di lantai dengan kondisi babak belur dan berlumuran darah..
Bersambung