NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerombolan Macan Alas ( bagian 3 )

Mpu Lenggang meloncat ke arah Pangeran Mapanji Wijaya sembari mengayunkan pedang besarnya.

Shhrreeeeeetttttttt!!!

Sambil tersenyum tipis, Pangeran Mapanji Wijaya melompat mundur. Mpu Lenggang terus mengejar dengan serangan mautnya.

Berbekal Ajian Sepi Angin, Pangeran Mapanji Wijaya bisa bergerak cepat menghindari tebasan pedang besar sang pimpinan Gerombolan Macan Alas. Mpu Lenggang yang sudah dikuasai nafsu membunuh, terus memburunya mengandalkan serangan pedang besarnya yang tetap saja tidak mampu melukai Pangeran Mapanji Wijaya.

Hooosssshhh hooosssshhh hooosssshhh..!!

Nafas Mpu Lenggang tersengal-sengal karena kemanapun ia menyerang sang putra kedua Ratu Isyana Tunggawijaya ini, dengan gampang Pangeran Mapanji Wijaya berkelit sambil sesekali memberikan serangan balasan. Mpu Lenggang sama sekali tidak menyadari bahwa ini adalah taktik Pangeran Mapanji Wijaya untuk menguras tenaga nya.

"Bangsat hooosssshhh hooosssshhh...!!!

Kalau kau lelaki hooosssshhh hooosssshhh ayo kita bertarung secara jantan. Jangan cuma lompat kesana kemari seperti monyet! ", geram Mpu Lenggang yang ngos-ngosan mengatur nafasnya. Pangeran Mapanji Wijaya mengangkat sudut mulutnya seolah sedang mengejek pada orang tua itu.

" Tua bangka bau tanah...

Suka suka aku mau bertarung dengan cara bagaimana, yang penting aku tidak kalah dari mu. Kalau kau memang tidak mampu untuk mengalahkan ku, menyerah saja. Aku pasti akan mengampuni mu", jawab Pangeran Mapanji Wijaya dengan santainya.

Kontan saja darah Mpu Lenggang mendidih mendengar apa yang dikatakan oleh lawannya itu. Giginya gemeretuk menahan amarah memuncak dalam dada.

"Bocah busuk!!

Jangan kira hanya karena bisa menghindar serangan ku, kau sudah berhasil mengalahkan ku!! Akan ku buat kau menyesali apa yang sudah kau katakan..!!! "

Mpu Lenggang menancapkan pedang besarnya ke tanah. Dia segera merentangkan kedua tangan nya sejajar dengan bahu sebelum memutar sambil komat-kamit merapal mantra.

Cahaya kuning kehijau-hijauan menjalar dari dada ke tangan yang berputar cepat. Angin kencang tajam bersliweran di sekitar putaran-putaran tangannya. Putaran tangan Mpu Lenggang menciptakan cahaya bundar kuning kehijau-hijauan di sertai angin tajam yang berputar cepat.

"Ajian Badai Kematian...!!!

Chiiiiyyyyaaaaaaaattttttt.....! "

Whhuuuuuuuuuummmmmmm....

Dua cahaya bundar kuning kehijau-hijauan langsung menderu kencang ke arah Pangeran Mapanji Wijaya. Sang pangeran dengan cepat melompat menghindari serangan maut ini.

BLLAAAAAAAARRRRRR!!!!

Pohon besar di belakang Pangeran Mapanji Wijaya meledak dan roboh begitu terkena dampak Ajian Badai Kematian. Melihat Pangeran Mapanji Wijaya kembali lolos dari sergapan mautnya, Mpu Lenggang kembali melontarkan ilmu kesaktiannya ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang baru saja menjejak tanah.

Whhuuuuuuuuuummmmmmm...

BLLAAAAAAAARRRRRR!!!!

Tepat sesaat sebelum serangan Mpu Lenggang datang, Pangeran Mapanji Wijaya melenting tinggi ke udara dan bersalto di udara sebanyak dua kali sebelum mendarat di cabang pohon waru besar.

Rasa marah yang sudah menguasai pikiran membuat Mpu Lenggang lagi-lagi melayangkan serangan mautnya.

BLLAAAAAAAARRRRRR!!

Sesaat sebelum serangan maut Mpu Lenggang datang, Pangeran Mapanji Wijaya anjlok dari cabang pohon waru hingga ia selamat. Melihat Mpu Lenggang yang sudah kelelahan karena banyak mengeluarkan tenaga dalam nya, putra Pangeran Panji Rawit ini segera merapal mantra Ajian Segara Geni yang didapatkan dari Begawan Randuseta sembari melesat ke arah sang pimpinan Gerombolan Macan Alas itu.

'Sira ratuning geni...

Jagad sira jagad geni...

Langit sira langit geni...

Segara nira segara geni...! '

Hiiiyyyyaaaaaaaaaatttttt!!!

Melihat kedatangan Pangeran Mapanji Wijaya dengan tangan kanan nya di liputi cahaya merah berhawa panas seperti api, Mpu Lenggang langsung menyambutnya dengan ajian andalannya.

Dan....

BLLAAAAAAAAMMMMMMM!!!

Ledakan dahsyat terdengar dari benturan Ajian Segara Geni dan Ajian Badai Kematian. Baik Mpu Lenggang maupun Pangeran Mapanji Wijaya sama-sama terpental ke belakang dan terbanting ke tanah dengan keras. Keduanya juga sama-sama muntah darah segar.

Mpu Lenggang berusaha bangkit pun juga dengan Pangeran Mapanji Wijaya. Dua orang pendekar ini berdiri sempoyongan tetapi Mpu Lenggang kembali roboh ke tempat nya semula.

Nararya Candrawulan yang baru menyelesaikan pertarungan nya dengan Ki Pegon dan berhasil menghabisi nya, langsung menyambar lengan Pangeran Mapanji Wijaya.

"Kau baik baik saja Gusti Pangeran? ", tanya Nararya Candrawulan yang cemas melihat keadaan Pangeran Mapanji Wijaya.

" Uhukk aku tidak apa-apa Wulan. Kau tak perlu mengkhawatirkan keselamatan ku.

Tapi bajingan tua itu belum mati.. ", Pangeran Mapanji Wijaya menunjuk ke arah Mpu Lenggang yang sedang terkapar dengan cedera dalam yang sangat parah.

Nararya Candrawulan mengedarkan pandangan nya dan melihat kilatan bilah pedang milik prajurit Medang yang tertimpa cahaya api unggun, tergeletak tak jauh dari tempat mereka berada. Dia melepaskan lengan Pangeran Mapanji Wijaya sembari mendekati pedang itu dan langsung menuju ke arah Mpu Lenggang yang sekarat.

"Kau pantas untuk mati... ", ucap Nararya Candrawulan seraya menyabetkan pedang ke leher Mpu Lenggang.

Chhrraaaaaaaaaasssss!!!!!

Kepala pimpinan Gerombolan Macan Alas itu menggelinding begitu pedang Nararya Candrawulan memotong batang lehernya. Dia tewas di tangan Nararya Candrawulan.

Nararya Candrawulan menoleh ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang tidak ada di tempat itu. Segera putri Adipati Kalingga itu mendekati tempat nya semula dan melihat Pangeran Mapanji Wijaya sudah tumbang.

Ludaka yang baru saja membunuh Bondol, salah satu anggota terkuat Delapan Pendekar Aneh Alas Caruban mendekati tempat mereka. Melihat kepala Mpu Lenggang sudah terpisah dari badannya, dia langsung mengangkat potongan kepala itu dan mengangkat nya tinggi ke udara.

"Pimpinan kalian sudah mati! Kalian pilih menyerah atau mati?! "

Teriakan keras Ludaka membuat para anggota Gerombolan Macan Alas yang tersisa langsung hancur mental tempurnya. Mereka langsung berhamburan melarikan diri dari tempat itu.

Nyai Gunting yang sudah terluka bersama dengan Renggong dan Sambangdalan saling pandang sebelum ketiganya kabur menghilang di kegelapan malam. Para prajurit pengawal bersorak-sorai gembira bisa mengusir para perampok yang selama ini merajalela di kawasan timur Caruban ini.

Sebanyak 30 orang prajurit pengawal Pangeran Mapanji Wijaya gugur dalam pertempuran itu. Bahkan Ki Bekel Pancala juga kehilangan nyawanya dan Juru Mandhasiya menderita luka-luka. Selain itu, Pangeran Mapanji Wijaya pingsan dan Warak mendapatkan luka dalam walaupun tidak terlalu parah.

Dari pihak Gerombolan Macan Alas, sebanyak 100 orang lebih terbunuh bersama Mpu Lenggang, Bondol, Stuna, Ki Pegon dan Dewi Kuku Beracun. Lima orang dari Delapan Pendekar Aneh Alas Caruban tewas dalam pertempuran malam hari ini.

Para prajurit yang masih segar bugar diperintahkan oleh Tumenggung Rengga untuk menguburkan jasad kawan mereka. Sebagian lagi ditugaskan untuk melemparkan mayat-mayat anggota Gerombolan Macan Alas ke jurang yang ada tak jauh dari tempat itu agar menjadi mangsa binatang buas.

Malam panjang itu para prajurit pengawal Pangeran Mapanji Wijaya beristirahat dengan tenang meskipun sebagian masih ada yang berjaga.

Kala pagi hari datang bersama dengan terbitnya mentari di ufuk timur, rombongan ini bergegas meninggalkan tempat itu menuju ke kawasan barat. Melewati wilayah wanua Caruban, mereka bergerak ke barat menuju ke bantaran Sungai Wulayu yang merupakan salah satu urat nadi perdagangan ramai kala itu.

Begitu sampai di Wanua Joho yang memiliki hutan bambu lebat, Pangeran Mapanji Wijaya tersadar dari pingsannya. Nararya Candrawulan yang bertugas menemani Pangeran Mapanji Wijaya dalam kereta kuda bersama dengan Subadra dan Ratri langsung tersenyum melihat putra dari Ratu Isyana Tunggawijaya itu membuka mata.

"Kita ada dimana? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya lirih.

" Kita sudah sampai di kawasan hutan bambu Wanua Joho, Gusti Pangeran. Setelah menyeberangi Bengawan Wulayu, kita akan masuk kawasan Watak Lwaram ", terang Nararya Candrawulan sambil tersenyum manis.

Hemmmmm...

Belum sempat Pangeran Mapanji Wijaya kembali bicara, tiba-tiba Ratri yang menjadi kusir kereta kuda menarik tali kekang hingga kereta kuda itu berhenti.

Nararya Candrawulan segera melongok ke luar kereta kuda dan melihat asap tebal membumbung tinggi dari kawasan pemukiman penduduk di wilayah Wanua Joho. Tumenggung Rengga yang berkuda paling depan, berbalik arah ke kereta kuda untuk melapor.

"Ada apa Paman Tumenggung? Apa yang terjadi di depan? ", tanya Nararya Candrawulan segera.

" Sepertinya terjadi sesuatu pada Wanua Joho, Nisanak.. ", jawab Tumenggung Rengga sebelum berkata,

" Aku dan Saudara Ludaka akan memeriksa keadaan disana.

Sebaiknya semuanya berhati-hati... "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!