Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Gio menatap Willy beberapa saat setelah kalimat itu keluar. Ia menyandarkan siku di lutut, lalu menautkan kedua tangan di depan wajah.
“Sekarang, selain lo yang udah jatuh cinta lama sama dia, lo juga udah masuk fase takut kehilangan dia?” tanyanya pelan.
Willy menatap lurus ke meja kaca di depan mereka.
“Lebih tepatnya, gue takut dia benci gue,” jawabnya jujur. “Takut dia ngerasa semua yang gue lakuin ke dia itu palsu, karena kan lo juga tahu sendiri… gue deketin dia dengan cara yang kaya gini.”
Gio hanya diam menatap wajah Willy yang jauh lebih serius sekarang. Ia masih mendengarkan, menunggu apa saja yang akan dikatakan Willy saat ini.
Bahkan saking seriusnya Gio, raut jahil yang terus terlihat di wajahnya sejak tadi, seketika hilang dan berganti dengan raut wajah yang lebih serius.
“Wil,” ucapnya pelan.
“hmmm?”
“Gue mau ngomong jujur.”
“Tumben.”
“Lo goblok.”
Willy langsung menoleh tajam.
“Nah, mulai lagi.”
“Denger dulu.”
Gio menunjuk ke arah Willy.
“Lo goblok karena dari semua cara yang bisa lo pilih buat deketin orang, lo malah milih cara paling ribet. Nyamar jadi cewek, tinggal sekost, jadi sahabatnya, terus sekarang nangis sendiri karena takut ketahuan. Apalagi namanya kalau bukan goblok?”
“Gue gak nangis.”
“Iye, muka lo yang kaya Adam Holland gak nangis, tapi batinnya nangis. Mana tiap waktu ketakutan juga kan? Takut kalau summer bisa tahu soal lo kapan aja."
“Si anjir, muka macam bradpitt gini lo katain Adam Holland.”
Willy mendelik ke arah Gio, merasa kalau temannya itu benar-benar tidak menghargai parasnya yang tampan.
“Eh sorry deng, lo emang bukan Adam Holland. Tapi Holland bakery,” kekeh Gio.
“Wah wah wah, kurang ajar ni makhluk. Coba sini, lo liat muka gue baik-baik. Gue ganteng, rupawan, manis, cool. Banyak cewek yang suka sama gue macam Brad Pitt, masa lo mau samain gue sama Adam Holland. Kalau Tom Holland okelah, lah ini. Lo liat baik-baik,” Willy mendekat ke arah Gio, menyodorkan wajahnya agar di nilai baik-baik olehnya.
Plak!!
“Bread kejepit kali lo, najis banget gue. Ngapain lo deket-deket gue kocak. Gue masih normal ya.”
“Eh onta boncel, sembarangan aja ya lo. Gue juga masih normal, orang ganteng gini masa iya mauan sama makhluk macam lo. Gue cuma mau lo mastiin kegantengan gue, ah elaaah!”
Gio langsung mendorong wajah Willy menjauh dengan telapak tangan penuh jijik.
“Ogah banget gue liat muka lo dari jarak sedekat itu. Bulu hidung lo keliatan.”
“Fitnah.”
“Nyata.”
Willy langsung mundur sambil mengusap hidungnya sendiri. “Gak ada bulu hidung keluar.”
“Yaudah, bulu ketek pindah tempat.”
“Gio!”
Gio tertawa kecil lalu mengambil bantal sofa dan memeluknya.
“Tapi serius,” katanya sambil masih menyeringai. “Lo tuh emang ganteng. Gue akuin.”
“Nah, gitu dong.”
“Makanya gue heran.”
“Heran apa lagi?”
“Cowok seganteng lo bisa-bisanya milih jadi cewek buat deketin orang.”
“Kan gue udah jelasin. Kalau gue deketin Summer dengan nunjukkin diri gue yang beneran cowok, yang ada Summer ngejauh kocak. Masa lo lupa mulu sih."
“Iya, tapi tetap aja gak masuk akal di kepala gue."
Willy menjatuhkan tubuhnya lagi ke sofa. “Emang kepala lo ada akalnya."
"Si anjir, malah ngeledekin. Gue lagi prihatin sama lo, ini malah kayak begini balesannya. Emang dasar sarapan lu."
"Eh pepesan jamur bulan lalu, lo pikir gue seneng hidup begini?”
Gio mengangkat bahu. "Kayaknya sih seneng-seneng aja. Gue liat, lo malah makin mendalami peran. Ya... Gue khawatir aja, kalau tar lo malah kepincut tetangga kost loyang ganteng itu."
Willy langsung menatap Gio dengan wajah datar. “Siapa?”
“Yang kemarin jemur handuk sambil pamer otot itu.”
“Oh, si Damar?”
“Nah itu. Badannya gede. Rahangnya juga lumayan. Gue lihat dari foto story lo aja udah berasa aura abang gym.”
"Eh kocak, lo ngapa jadi bahas laki depan gue? Lonaksir apa gimana?”
Gio langsung melempar bantal ke arah Willy. “Najis. Gue masih waras.”
“Terus ngapain tiba-tiba promosiin cowok depan gue?” balas Willy sambil menahan tawa.
“Kan gue lagi nguji.”
“Nguji apaan?”
“Takutnya kelamaan nyamar jadi cewek, selera lo ikut belok.”
Willy menatap Gio datar beberapa detik.
Lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Lo lihat muka gue.”
“Ogah dekat-dekat.”
“Gue ganteng.”
“Iya.”
“Cool.”
“Kadang.”
“Banyak cewek suka.”
“Sayangnya yang lo suka malah trauma cowok.”
Willy langsung diam. Gio yang tadi bercanda ikut berhenti nyengir dan mengangkat dua jari disampingnya.
“Haha, Sorry gak maksud,” ucapnya pelan.
“Tapi Will, kalau semisal nih… si Willa asli balik, terus ketahuan sama si Summer gimana? Eh jangan summer dulu lah, si Willa aja. Kalau dia balik, lo mau jelasin apa sama dia? Secara kan, lo udah pake identitas dia?”
Willy terdiam sejenak, memikirkan ucapan Gio tentang sepupunya yang bernama Willa yang selama ini identitasnya ia pakai.
Raut wajahnya yang tadi masih dipenuhi kesal dan malu karena bahan candaan Gio, perlahan berubah lebih serius.
Karena memang, dari semua masalah yang ada sekarang, itu salah satu yang paling jarang ia pikirkan. Padahal risikonya besar.
“Willa gak bakal balik dalam waktu dekat,” jawab Willy akhirnya pelan.
“Lo yakin?”
“Iya. Dia masih di luar negeri.”
“Masalahnya bukan itu.” Gio menatap Willy lurus. “Orang tuh gak bisa ngontrol keadaan terus-terusan, Will. Bisa aja tiba-tiba dia pulang. Bisa aja dia upload foto. Bisa aja Summer lihat, atau gimana lah.”
Willy terdiam lagi. Dan sialnya, semua kemungkinan itu masuk akal.
“Sebenernya,” lanjut Gio sambil menyandarkan tubuh, “gue heran sih. Kok sepupu lo mau aja identitasnya dipake?”
"Summer gak bakalan tahu siapa Willa, kalau dia tahu juga gak bakalan sama lah, Yo. Lagian kan, Summer tahunya gue kuliah di UI dengan jurusan yang dia juga tahu secara lengkap. Kalau cuma di sosmed, aneh gak sih ada yang nyantumin jurusan sampe sedetail itu? Gue rasa nggak.”
Gio mengangguk pelan. “Oke, masuk akal. Tapi tetap aja riskan.”
“Ya namanya juga hidup gue sekarang isinya nekat.”
“Bukan nekat lagi. Ini mah udah paket komplit antara misi penyamaran, cinta sepihak, sama ancaman kiamat identitas.”
Willy mendecih. “Lebay.”
“Fakta.” Gio mengambil gelas es kopi di meja lalu menyeruputnya santai. “Terus sepupu lo sendiri sekarang tahu sampai sejauh mana?”
“Dia gak tahu apa-apa, tapi gue janji sebelum dia balik, gue bakalan buka identitas gue sebenernya. Mau itu ke Summer, atau gue buka dulu ke Willa biar dia gak bikin kacau semuanya.”