NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Mulai Terbuka

Gerimis tipis masih turun pelan ketika sore mulai berganti malam. Udara di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah terasa segar setelah hujan deras seharian, meninggalkan bau tanah basah yang khas bercampur aroma melati dari kebun belakang yang basah. Raina berdiri di teras rumah kecil mereka, memegang secangkir teh hangat yang baru dibuat Gus Haris. Uap mengepul lembut di depan wajahnya, menghangatkan pipinya yang agak bulat.

Ia menyesap tehnya pelan, mata birunya menatap halaman yang masih basah. Pikirannya melayang ke pagi tadi — bagaimana ia dan Gus Haris masak bersama tanpa banyak kata, bagaimana tangan mereka bersentuhan beberapa kali, dan bagaimana ia tidak lagi merasa canggung dengan sentuhan itu. Semua terasa alami sekarang, seperti sesuatu yang perlahan menjadi bagian dari hari-harinya.

Gus Haris keluar dari dalam rumah, membawa sebuah selimut tipis berwarna abu-abu. Ia mendekat tanpa suara dan melingkarkan selimut itu di bahu Raina dengan gerakan lembut, seolah sudah tahu istrinya mulai kedinginan.

“Malam mulai dingin,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Jangan sampai kedinginan.”

Raina tidak menolak. Ia malah menarik selimut lebih rapat ke tubuhnya, lalu menoleh ke suaminya.

“Terima kasih,” gumamnya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Mereka berdiri berdampingan di teras, hanya ditemani suara gerimis yang pelan dan angin malam yang sejuk. Tidak ada obrolan besar malam ini. Hanya kehadiran yang nyaman, seperti dua orang yang mulai terbiasa dengan keheningan di antara mereka.

Raina menyesap tehnya lagi. Setelah beberapa menit diam, ia akhirnya bicara.

“Haris… tadi siang pas baca kitab fiqih, ada satu bagian tentang nikah. Katanya nikah itu bukan cuma soal status suami istri, tapi juga soal menjaga hati pasangan. Lo… beneran nggak pernah capek jagain hati gue yang bandel ini?”

Gus Haris diam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya pelan menyentuh punggung Raina, mengusapnya dengan gerakan ringan yang menenangkan.

“Capek itu ada, Raina,” jawabnya jujur, suaranya tetap lembut. “Kadang gue capek juga melihat kamu berjuang sendiri dengan ketakutanmu. Tapi bukan capek yang membuat gue mau berhenti. Gue memilih ini. Memilih sabar sama kamu. Karena gue tahu di balik sikap keras kepalamu, ada hati yang besar dan tulus. Gue mau jadi orang yang merawat hati itu.”

Raina menatap gelas teh di tangannya. Jari-jarinya memutar-mutar gagang gelas pelan.

“Gue dulu takut banget sama pernikahan ini,” katanya pelan. “Gue takut lo akan mencoba mengubah gue jadi orang yang bukan gue. Takut lo akan marah kalau gue masih bandel, masih suka melawan, masih suka ngomong kasar. Tapi lo… nggak pernah marah. Malah lo selalu sabar. Kadang gue ngerasa gue yang jahat karena masih susah terbuka sama lo.”

Gus Haris menggeleng pelan.

“Kamu bukan jahat. Kamu hanya sedang belajar. Dan gue juga sedang belajar — belajar memahami kamu, belajar menunggu tanpa memaksa. Kita sama-sama belajar, Raina. Ini bukan perlombaan siapa yang lebih cepat berubah. Ini perjalanan berdua.”

Raina menoleh dan menatap suaminya lekat-lekat. Cahaya lampu teras menyinari wajah Gus Haris yang tampan, membuat sorot matanya terlihat lebih hangat dari biasanya.

“Lo… beneran suka sama gue? Bukan cuma karena dijodohkan orang tua?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, suaranya kecil tapi penuh keraguan yang masih tersisa.

Gus Haris membalas tatapan Raina dengan tenang dan tulus.

“Awalnya iya, karena perjodohan. Tapi sekarang? Gue suka sama kamu karena kamu. Karena cara kamu tertawa kecil saat masak dan berhasil, karena cara kamu cemberut manja saat malu, karena cara kamu pelan-pelan mencoba membuka hati meski takut. Gue suka Raina yang asli, bukan Raina yang dipaksa berubah jadi orang lain.”

Raina merasa dadanya sesak karena hangat. Air mata menggenang di mata birunya, tapi ia tidak menyembunyikannya terlalu keras. Ia hanya menunduk, menyandarkan kepalanya di bahu Gus Haris lagi.

“Gue takut kalau gue bilang suka sama lo, nanti gue malah ngerusak semuanya,” bisiknya.

Gus Haris mengusap lengan Raina pelan.

“Kamu nggak akan ngerusak apa-apa. Karena gue juga suka sama kamu. Dan kita punya waktu yang panjang untuk belajar saling mencintai dengan benar.”

Mereka diam lagi, hanya ditemani gerimis yang semakin jarang. Raina merasa ada beban yang perlahan terangkat dari dadanya. Kehadiran Gus Haris di sampingnya terasa seperti pelabuhan yang aman.

Malam semakin larut. Setelah shalat Isya berjamaah di rumah, mereka kembali ke kamar. Raina langsung mendekat ke Gus Haris dan meletakkan kepalanya di dada suaminya tanpa ragu. Gus Haris memeluknya erat, tangannya mengusap punggung Raina dengan gerakan yang sudah sangat familiar.

“Haris…” bisik Raina di dada suaminya.

“Ya?”

Raina menarik napas dalam-dalam sebelum bicara dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Malam ini… boleh lo peluk gue lebih erat? Gue… pengen merasa lo deket banget.”

Gus Haris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memeluk Raina lebih erat, tubuh mereka saling menempel dengan lembut. Raina menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, menghirup aroma sabun colek yang sudah sangat ia kenali.

“Gue senang hari ini,” kata Raina pelan. “Meski cuma di rumah karena hujan, gue senang karena lo ada di sini. Gue senang bisa masak bareng, bisa ngobrol panjang, bisa diam bareng tanpa merasa canggung.”

Gus Haris mencium puncak kepala Raina dengan sangat lembut.

“Aku juga senang. Setiap hari sama kamu semakin terasa seperti rumah.”

Raina tersenyum kecil di dada suaminya. Tangan kanannya pelan memeluk pinggang Gus Haris, jari-jarinya mencengkeram kain koko suaminya dengan lembut.

Mereka tidur dalam pelukan itu. Gerimis di luar sudah benar-benar berhenti, hanya meninggalkan suara tetesan air dari atap yang sesekali terdengar.

Di dalam kamar yang hangat, hati Raina terus terbuka sedikit demi sedikit.

Ia masih belum berani mengucapkan “aku cinta kamu”.

Tapi malam ini, ia sudah berani mengakui dalam hati bahwa ia sedang jatuh cinta pada suaminya yang sabar dan lembut itu.

Pelan.

Tenang.

Dan penuh kelembutan yang Gus Haris berikan tanpa kenal lelah.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!