Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Menyalahkan Violet
"Tapi..." lanjut Xavier.
Violet langsung mengangkat kepala.
"Itu bukan masalah bagiku."
Deg.
Jantungnya kembali berdegup kencang.
Kemudian, Xavier menatap dirinya dengan mata yang tajam.
"Mulai hari ini, kau adalah bagian dari rumah ini. Kau bebas melakukan apapun. Dan mulai sekarang, biasakan dirimu."
Violet terdiam.
Perlahan, ia pun mengangguk.
"Iya... Terima kasih."
Xavier pun mengangguk. Setelah itu, ia pun pergi menuju ruang kerjanya di samping kamarnya.
...****************...
Siang hari di Hotel Navara...
Agnes baru saja terbangun dari tidurnya ketika cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai.
Matanya masih menyesuaikan dengan cahaya yang ada di kamar suite.
Ketika hendak duduk, tiba- tiba, “Ashh!”
Dalam batinnya ia bicara, “Kenapa milikku terasa sakit?”
Ia masih belum sadar akan kondisinya. Bahkan selimut yang dikenakannya pun tanpa sadar telah melorot.
“Kenapa udara AC sedingin ini ya? Padahal kan aku pakai baju.”
Ketika melihat dirinya di pantulan cermin, ia langsung berteriak, “Ah! apa yang terjadi padaku?!” langsung menarik selimutnya untuk menutup badannya yang polos.
“Kenapa?! Apa yang sebenarnya terjadi?!”
Ia pun sekali lagi melihat cermin yang memantulkan dirinya, dan terlihat bekas merah terlihat di leher dan dadanya.
“Tidak! Tidak mungkin kan?!” teriaknya yang masih belum bisa memahami dirinya.
Kemudian suara pintu terbuka terdengar dari dalam. Langkah kaki mulai terdengar semakin dekat.
Agnes segera pura-pura tidur untuk melihat siapa yang masuk.
Dan terlihat kedua pria sedang berbicara. “Aishhh. Rasanya semalam kurang, apalagi miliki wanita itu terasa, ehhh... seperti itu lah.”
“Hahaha... yang penting gairah kita tersalurkan, ya gak, bro.”
“Beruntung sekali bos memberikannya pada kita.”
“Jangan lupa simpan uangnya bro di atas nakas, hahaha.”
Agnes pun langsung terbangun dari tidur pura-puranya.
Kedua pria itu sempat terkejut, namun kembali menormalkannya.
“Kalian... apa yang kalian lakukan padaku?!” tanya Agnes sambil teriak dengan selimut yang masih menutup tubuhnya.
“Menurutmu, apa yang terjadi antara perempuan dan laki-laki dalam satu kamar?” ejek pria itu.
Agnes pun langsung menatap mereka. Dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat bercak merah di tubuh kedua pria itu.
“Tidak mungkin! Kalian pasti yang menjebakku kan?! Jawab?!” teriaknya.
Salah satu pria itu pun kembali mendekat lalu menaiki ranjang itu.
Agnes pun perlahan mundur, tetapi rasa sakit miliknya itu semakin terasa.
Pria itu perlahan memegang wajah Agnes lalu mencengkram kedua pipinya.
“Kau hanya wanita murahan! Jangan coba-coba berteriak pada kami. Paham!” ucapnya langsung menghempaskan wajah Agnes.
Pria itu pun langsung turun dari ranjang dan menatap Agnes dengan jijik.
Sedangkan satu pria lagi, melemparkan uang pada Agnes. Lalu, mereka pun pergi meninggalkan Agnes yang mulai menangis.
“Hiksss... tidak! Itu tidak mungkin!” jeritnya sambil menjambak rambutnya sendiri, ia tidak lagi memedulikan selimut yang melorot itu lagi.
“Ini,.. ini tidak mungkin terjadi kalau saja Violet tidak dihukum.”
“Iya... ini salah Violet. Dia yang menjebakku sepertinya,” ucapnya dengan sangat yakin menyalahkan Violet.
“Aku harus segera kembali ke rumah dan buat Violet harus merasakan apa yang dirasakan olehku,” lanjutnya.
Agnes pun langsung turun dari ranjang, dan mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan. Lalu berjalan begitu saja menuju kamar mandi.
Ketika di kamar mandi, Agnes berusaha untuk menghilangkan bercak merah ditubuhnya dengan menggosok-gosoknya terus dengan sabun. Bukannya menghilang, malah jadi semakin merah.
“Ah! Sial! Gak bisa hilang lagi! Ini semua gara-gara Violet sialan itu. Aku gak mungkin berada di sini kalau saja Violet itu tidak dihukum!” gerutunya.
Agnes pun mandi dengan cepat, bahkan ketika mencapai miliknya yang terasa lengket, ia semakin merasa jijik dan semakin menyalahkan Violet.
Setelah selesai, ia pun segera mengambil bajunya dari dalam koper. Beruntungnya tas dan kopernya itu di bawa ke kamarnya. Kalau tidak, ia harus mengenakan pakaian semalam yang ia pakai.
Ia pun mengambil sebuah concealer untuk menutupi bercak lehernya, dan setelah di rasa aman, ia pun segera keluar dari hotel itu dan langsung menghentikan sebuah taksi.
...****************...
Sedangkan di kediaman Xavier, saat ini Violet tengah berada di dalam kamarnya. Setelah kejadian memalukan itu, ia pun langsung pergi ke kamar setelah sarapan.
Violet duduk di tepi ranjang setelah mandi dan yang lainnya. Ia menatap kosong ke arang jendela.
Cahaya siang masuk perlahan melalui tirai yang sudah terbuka. Pikirannya melayang pada saat ia tanpa sengaja menabrak Xavier, karena malu telah berpikir yang macam-macam.
Violet menelusupkan wajahnya pada bantal. “Aduh... buang buang buang pikiran itu.”
Tiba-tiba suara Aerin kembali terdengar. “Vio. Aku punya sesuatu yang mau aku ceritakan padamu.”
Violet pun kembali terduduk. “Apa itu?”
“Kau masih ingat, waktu itu ketika kamu keluar dari kediaman Alexander, kamu menyuruhku untuk memberikan serbuk gatal pada mereka.”
Violet memiringkan kepalanya untuk mengingat. “Ah.. iya. Aku ingat. Sekarang bagaimana dengan mereka? Apa sudah mulai terlihat efeknya?”
“Tentu saja mulai terlihat ketika mereka di jalan pulang dari acara pernikahanmu.”
“Bagaimana reaksinya?” tanya Violet dengan antusias.
“Kau tahu, ketika di jalan mereka mulai garuk-garuk lengan dan lehernya. Bahkan sesampainya di rumah dan mengganti pakaian pun, rasa gatal itu tidak hilang. Hahaha... dan kau tahu Vio, apa yang selanjutnya terjadi?” jawab Aerin.
“Apa... cepat beritahu?” tanyanya dengan tidak sabar.
“Mereka langsung pingsan karena tidak tahan.”
“Wowww... efek yang luar biasa.”
“Tentu saja. Kau tahu tidak? Serbuk itu akan terus menempel pada kulit hingga bentolan-bentolan itu menjadi pecah.”
“Wahhh... sampai bernanah begitu kah?”
“Betul sekali. Dan dokter akan mengira itu karena alergi debu.”
“Keren keren... aku suka sekali itu," jawab Violet.
“Oh iya, aku lupa,” lanjutnya
“Lupa apa, Vio?”
“Aku harus mentransfer uang 15 miliar dolar itu," ucap Violet.
“Ku kira, kamu tidak akan mentransfernya.”
“Tentu saja aku akan mentransfernya, dan ketika waktunya tiba – boom akhirnya nanti pecah,” ucap Violet sambil tersenyum smirk.
“Aku gak sabar nunggu itu.”
...****************...
Kembali ke Agnes...
Setelah check out dari Hotel Navara, kini Agnes sudah menaiki sebuah taksi.
“Pak, ke jalan kenangan indah, ya.”
“Baik, nona.”
“Awas saja kau Vio. Aku akan membalas apa yang telah terjadi padaku,” ucapnya dalam hati.
Agnes pun mengambil ponselnya dalam tas. Ia pun langsung menghubungi Mamah Viony.
Tuttt!
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
Ia pun mencoba sekali lagi.
Tuttt! Tuttt!
“Nomor yang Anda tuju sedang di luar jangkauan area.”
“Ishhh... Mamah ke mana sih? Lagi penting gini malah gak aktif.”
Ia pun segera menelepon telpon rumah.
Tuttt! Tuttt!
“Iya, halo.”
“Bi, saya Agnes. Mamah ada di rumah gak? Kenapa saya telpon gak diangkat-angkat?”
“Itu... non...” jawab Bi Sumi.
“Itu apa, bi? Jawab!” bentak Agnes.
“Nyonya dan tuan sekarang ada di rumah sakit.”
“Ngapain mereka di rumah sakit? Apa mereka sedang menjenguk seseorang?”
“Sebenarnya, nyonya dan tuan yang di rumah sakit, non.”
“Apa?! Apa yang terjadi?!”
“Saya juga gak tahu, non. Soalnya waktu Bi Mijah ke kamar nyonya dan tuan, mereka sudah tergeletak di lantai.”
“Mereka ada di rumah sakit mana?”
“Di rumah sakit pelita, non.”
Agnes pun langsung menutup panggilan itu tanpa ucapan terima kasih sama sekali.
“Pak, langsung ke rumah sakit pelita,” ucap Agnes.
“Baik, nona,” jawab sopir taksi.
“Apa yang terjadi pada Papa sama Mamah?” gumamnya.
...... To be continued .......