NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Lastri dan Undangan

Matahari siang itu bertengger tepat di atas ubun-ubun, menyebarkan hawa panas yang membuat dedaunan jati di sekitar rumah Joglo tampak lunglai. Namun, di dalam teras rumah Bapak Suprapto, udara tetap terasa sejuk berkat sirkulasi bangunan kayu yang dirancang dengan sangat cerdas. Rania sedang berada di dalam kamar, beristirahat sesuai instruksi dokter, sementara Ibu Lastri sibuk di dapur menyiapkan makan siang.

Suara ketukan pintu pagar besi yang khas—tiga kali ketukan cepat—menandakan kedatangan tamu yang sudah sangat akrab dengan rumah itu. Tak lama kemudian, sosok Suci muncul dari balik pintu samping. Ia mengenakan terusan batik bermotif bunga matahari, wajahnya dipoles bedak tipis, dan tangannya menjinjing sebuah keranjang rotan kecil yang ditutup kain serbet bersih.

"Assalamu’alaikum, Ibu... Ini Suci bawa sedikit kue bolu kukus buat teman ngeteh siang-siang," sapa Suci dengan suara yang sengaja dilembutkan, penuh nada kepatuhan.

Ibu Lastri keluar dari dapur sambil menyeka tangannya pada celemek. Senyum tulus mengembang di wajah wanita tua itu. Bagi Ibu Lastri, Suci bukanlah orang asing. Sejak kecil, Suci sering lari ke sana kemari di halaman ini, makan di meja yang sama, dan sudah dianggap layaknya saudara sendiri bagi Damar. Ibu Lastri yang dasarnya berhati lembut tidak pernah memiliki prasangka buruk.

"Wa’alaikumsalam, Nduk Suci. Ya Allah, repot-repot sekali kamu ini. Mari, duduk di sini," ajak Ibu Lastri sambil menunjuk kursi rotan di teras samping.

Suci dengan cekatan meletakkan kue buatannya di atas meja. Ia memang sangat mahir mengambil hati Ibu Lastri. Ia mulai bercerita tentang panen di kebun ayahnya, menanyakan kesehatan Ibu Lastri, hingga memijat bahu wanita tua itu dengan gerakan yang luwes. Ibu Lastri merasa nyaman, sejenak melupakan beban pikiran yang menghimpitnya sejak kepulangan dari Jakarta.

Korekan yang Berujung Amarah

Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Setelah merasa suasana sudah cukup cair, Suci mulai mengarahkan pembicaraan ke titik yang menjadi obsesinya.

"Tapi Bu... Suci itu kepikiran terus sama Mas Damar. Semalam Suci mau tanya lebih banyak tapi ada Mas Aris yang galak itu," Suci tertawa kecil, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai muncul di raut wajah Ibu Lastri. "Mas Damar itu sesibuk apa sih di Jakarta? Kok sampai Mbak Rania hamil pun dia tidak sempat mengantar pulang? Apa bisnisnya lagi ada masalah besar, Bu?"

Ibu Lastri terdiam. Jemarinya yang tadi sedang memotong kue bolu tampak sedikit gemetar.

"Dulu Mas Damar selalu bilang ke Suci kalau dia ingin jadi orang sukses supaya bisa membahagiakan orang tua. Tapi kok sekarang kesannya malah menyusahkan ya, Bu? Mbak Rania kasihan, wajahnya layu begitu. Apa Mas Damar tidak merasa berdosa meninggalkan istrinya sendirian di sini?" Suci terus meracau, matanya menatap tajam ke arah Ibu Lastri, mencoba mencari konfirmasi atas spekulasi-spekulasi miringnya.

Mendengar kata "menyusahkan" dan "berdosa", hati Ibu Lastri mendadak perih. Ingatan tentang bagaimana Damar menghilang, bagaimana Rania pingsan di rumah sakit, dan bagaimana mereka harus menanggung malu di Jakarta kembali menyeruak. Perilaku Damar yang menyebalkan—yang pengecut—membuat Ibu Lastri merasa gagal menjadi seorang ibu. Ia merasa sangat berdosa pada Rania dan calon cucunya.

"Sudahlah, Suci. Tidak usah bahas Damar terus," suara Ibu Lastri mulai meninggi.

Tapi Suci tidak berhenti. "Lho, Suci kan cuma perhatian, Bu. Takutnya Mas Damar di sana kena pengaruh buruk. Orang Jakarta kan ngeri-ngeri, Bu. Jangan-jangan Mas Damar lagi..."

"Cukup, Suci!" Ibu Lastri tiba-tiba berdiri, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kamu itu masih muda, tapi bicaranya seperti tidak punya rem! Terlalu ingin tahu urusan orang lain! Damar itu anakku, Rania itu menantuku. Apa pun yang terjadi di dalam keluarga kami, bukan urusanmu untuk mengorek-ngoreknya terus setiap hari!"

Suci terperanjat. Ia tidak pernah melihat Ibu Lastri yang lemah lembut itu bisa semarah ini. Wajah Suci memerah, antara malu dan kaget.

"I-ibu... Suci tidak bermaksud..."

"Kalau kamu datang ke sini hanya untuk mencari bahan gosip, lebih baik kamu pulang sekarang! ibu kasihan melihat Rania yang sudah tenang di sini diganggu terus dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang tidak bermutu!" Ibu Lastri menunjuk ke arah pintu pagar, matanya berkaca-kaca karena amarah yang bercampur dengan rasa sedih yang mendalam.

Rahasia di Balik Pintu Jati

Bapak Suprapto yang sedang memantau tukang di lahan sebelah, melihat dari kejauhan bahwa raut wajah istrinya berubah drastis. Ia segera berpamitan pada tukang dan berjalan cepat mendekati teras samping. Ia melihat Suci yang menunduk malu dan istrinya yang berdiri dengan napas yang memburu.

Tanpa banyak bicara, Bapak Suprapto memberikan isyarat agar Suci segera pulang. Suci pun langsung menyambar keranjangnya dan pergi tanpa berani menoleh lagi.

Bapak Suprapto mendekati istrinya, memegang kedua bahunya dengan lembut. "Sudah, Bu... istighfar. Jangan terbawa emosi."

Ibu Lastri menatap suaminya dengan mata yang basah. "Aku tidak tahan, Pak. Suci itu bicaranya keterlaluan. Dia menyindir-nyindir Damar, menyindir Rania. Aku tidak kuat menyimpan ini sendiri, Pak. Aku ingin teriak kalau anak kita itu pengecut!"

"Sssttt..." Bapak Suprapto menutup mulut istrinya dengan jari. Ia menuntun Ibu Lastri masuk ke dalam ruang tengah yang lebih privat. "Dengarkan aku, Bu. Aku mengerti perasaanmu. Tapi tolong, demi Rania, demi calon cucu kita, jangan sampai menceritakan perkara Damar yang kabur ini kepada siapa pun. Termasuk pada Suci atau saudara lainnya."

Bapak Suprapto menatap mata istrinya dengan sangat serius. "Di desa ini, harga diri keluarga adalah segalanya. Kalau orang tahu Damar meninggalkan anak istrinya tanpa kabar, Rania yang akan paling menderita. Dia akan dikasihani, dia akan dipandang rendah sebagai istri yang gagal. Biarkan orang tahu Damar sedang sibuk berbisnis. Biarkan rahasia pahit ini cukup kita dan Aris yang simpan."

Setetes air mata akhirnya jatuh di sudut mata Ibu Lastri. Ia mengangguk lemah. Keinginannya hanya satu: membahagiakan Rania. Ia ingin menantunya itu merasa benar-benar terlindungi di rumah ini. Ia ingin cucunya lahir di lingkungan yang menghormati ibunya, bukan lingkungan yang membicarakan aib ayahnya.

Undangan yang Membawa Kejutan

Sore harinya, suasana tegang itu perlahan mencair. Sinar matahari senja yang berwarna keemasan menyapu halaman rumah. Rania sudah bangun dari tidurnya dan sedang membantu Ibu Lastri melipat pakaian di ruang tengah. Kedamaian kembali menyelimuti rumah joglo itu.

Tiba-tiba, sebuah mobil bak terbuka yang membawa beberapa bingkisan kain hantaran berhenti di depan rumah. Turunlah seorang wanita paruh baya dengan dandanan rapi, dia adalah Bude Sumi, adik ipar Ibu Lastri yang tinggal di desa sebelah.

"Mbak Lastri! Pak Suprapto!" seru Bude Sumi dengan wajah sumringah.

Keluarga itu menyambut kedatangan Bude Sumi di teras. Rania dengan sopan menyalami budenya tersebut.

"Ada kabar gembira apa ini, Sum? Kok wajahmu cerah sekali?" tanya Bapak Suprapto.

Bude Sumi duduk dengan antusias, ia mengeluarkan sebuah amplop undangan berwarna beludru merah yang tampak sangat mewah. "Ini, Pak, Mbak... Saya mau mengundang sekeluarga besar untuk hadir di acara lamaran anak saya, si Danang, hari Minggu besok di Semarang kota."

"Wah, Danang akhirnya lamaran? Selamat ya, Sum," ujar Ibu Lastri tulus.

"Iya, Mbak. Alhamdulillah, Danang itu beruntung sekali. Dia kan baru setahun bekerja sebagai bagian keuangan di sebuah perusahaan besar di Semarang. Nama perusahaannya PT Langkah Jaya, milik pengusaha sepatu sukses yang namanya Pak Mario," cerita Bude Sumi dengan nada bangga yang meluap-luap. "Pak Mario itu orangnya sangat baik dan kaya raya. Danang bahkan dipinjamkan mobil kantor untuk acara ini. Katanya Pak Mario sendiri mungkin akan menyempatkan hadir kalau jadwalnya kosong."

Mendengar nama Mario, Rania yang sedang menuangkan teh tiba-tiba terhenti sejenak. Ia merasa nama itu tidak asing, namun ia tidak bisa mengingat di mana ia pernah mendengarnya. Mungkin hanya nama pengusaha sukses biasa di Semarang, pikirnya.

"Acara lamarannya di restoran hotel bintang lima di kawasan kota lama, Mbak. Pokoknya Rania harus ikut ya, biar bisa cuci mata dan tidak di rumah terus," lanjut Bude Sumi sambil menepuk tangan Rania.

Ibu Lastri menatap Rania, seolah meminta persetujuan. Rania tersenyum lembut. "Insya Allah saya ikut, Bude. Saya juga ingin lihat Mas Danang bahagia."

Bude Sumi pun terus bercerita tentang betapa hebatnya bos anaknya tersebut, tentang bagaimana Pak Mario sangat teliti dalam urusan keuangan dan betapa suksesnya bisnis sepatu kulit yang dikelolanya. Ia tidak menyadari bahwa di balik kemegahan nama "Mario" yang ia sanjung, terdapat benang merah yang perlahan namun pasti mulai menarik takdir mereka menuju sebuah pertemuan yang tak terduga.

Hari itu berlalu dengan lancar. Rania merasa bersyukur atas kehangatan keluarga besarnya. Namun, di dalam kegelapan malam, ia kembali teringat pada Aris di Jakarta. Ia bertanya-tanya apakah Aris sudah makan, atau apakah Aris menemukan petunjuk baru. Ia tidak tahu bahwa sementara ia bersiap untuk menghadiri acara lamaran di Semarang kota, suaminya—dalam identitas sebagai Dara—sedang berada di pelukan sang pemilik perusahaan sepatu tersebut, merencanakan pelarian yang jauh lebih permanen.

Garis takdir mulai berbelit. Nama Mario yang dibawa oleh Bude Sumi menjadi kunci pembuka gerbang yang akan mempertemukan Rania dengan kenyataan pahit yang lebih besar di kota Semarang esok hari.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!