Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Pria yang Menghancurkan Segalanya
Adrian berdiri di ujung tangga seperti hantu dari masa lalu.
Tenang.
Santai.
Seolah rumah penuh trauma ini memang miliknya.
Lampu tua di langit-langit berkedip samar, membuat bayangan wajah pria itu terlihat makin menyeramkan.
Mamannya langsung mundur sambil gemetar.
“Jangan dekat-dekat kami…”
Namun Adrian justru tersenyum kecil.
“Sudah lama nggak ketemu.”
Tatapannya jatuh ke mamanya.
Dan Nadira langsung merasa mual melihat cara pria itu menatap wanita tersebut.
Obsesi.
Itu bukan cinta.
Itu obsesi.
“Keluar dari rumah ini.”
Suara Arsen dingin sekali.
Tubuhnya berdiri sedikit di depan Nadira secara refleks.
Melindungi.
Selalu begitu.
Adrian tertawa kecil.
“Kamu mirip ayahmu banget.”
Tatapan Arsen langsung menggelap.
“Aku beda sama dia.”
“Oh ya?”
Adrian turun satu anak tangga perlahan.
“Ayahmu jauh lebih licik.”
Deg.
Nadira langsung melirik Arsen.
Namun pria itu tetap diam dengan rahang mengeras.
Sedangkan papanya mulai terlihat panik.
“Adrian, cukup.”
“Cukup?”
Pria itu akhirnya menoleh.
Tatapannya berubah dingin dalam sekejap.
“Setelah semua yang kalian ambil dari aku?”
“Kamu yang bunuh anakku!”
Bentakan mamanya pecah.
Air matanya jatuh deras.
Dan suasana mendadak membeku.
Namun Adrian justru diam beberapa detik.
Tatapannya berubah aneh.
Rumit.
Lalu ia tertawa kecil pahit.
“Harusnya malam itu bukan dia yang mati.”
Deg.
Napas Nadira langsung tercekat.
“Apa maksudmu?”
Tatapan Adrian perlahan jatuh ke arah papanya.
“Harusnya suamimu.”
Ruangan mendadak dingin.
Papanya langsung menunduk.
Sedangkan Nadira mulai gemetar.
Karena sekarang semuanya terasa terlalu nyata.
Terlalu dekat.
Dan terlalu rusak.
“Aku pernah percaya sama kamu.”
Suara papanya terdengar lelah.
“Tapi kamu hancurin semuanya.”
Adrian tersenyum miring.
“Aku?”
Tatapannya berubah tajam.
“Siapa yang pertama kali nyeret aku ke bisnis kotor itu?”
Sunyi.
“Aku cuma anak miskin yang pengen sukses.”
Pria itu tertawa kecil.
“Lalu kalian orang kaya ngajarin aku cara jadi monster.”
Deg.
Nadira langsung merasa sesak.
Karena bagian paling menyeramkan dari semua ini adalah—
Tidak ada yang benar-benar bersih.
“Kita semua salah,” bisik papanya.
“Tapi kamu bunuh anakku.”
Adrian mendadak diam.
Dan untuk pertama kalinya…
Senyumnya hilang.
“Aku nggak pernah niat bunuh dia.”
Suasana berubah.
Mamannya langsung menangis histeris.
“DIA MASIH KECIL!”
“Aku tahu!”
Bentakan Adrian menggema keras.
Semua langsung membeku.
Tatapannya mulai kacau sekarang.
“Aku cuma mau bikin mobil itu berhenti!”
“Kamu nabrak kami!”
“Aku cuma mau dia keluar dari mobil!”
Tatapannya kembali ke papanya.
“Aku mau dia lihat semuanya hancur!”
Nadira merinding.
Karena pria ini benar-benar sudah kehilangan akal sehat sejak lama.
“Terus kenapa kamu balik sekarang?”
Arsen akhirnya bicara lagi.
Suasana langsung kembali tegang.
Adrian menoleh perlahan.
Lalu tersenyum tipis.
“Karena rahasia mulai bocor.”
“Rahasia apa?”
Tatapan Adrian berubah tajam.
“Rahasia keluarga kalian.”
Deg.
Arsen langsung menyipitkan mata.
“Keluargaku?”
“Kamu pikir ayahmu bersih?”
Napas Arsen mulai berat.
“Jangan bawa ayahku.”
“Oh, dia jauh lebih terlibat daripada ayah Nadira.”
Ruangan langsung sunyi.
Adrian tertawa kecil saat melihat ekspresi mereka.
“Ayahmu yang bantu nyuci uang.”
“Ayahmu yang bantu hapus bukti.”
Dan kalimat berikutnya membuat semuanya runtuh.
“Bahkan setelah adik Nadira mati…”
Tatapan Adrian dingin.
“…ayahmu tetap pilih nyelametin bisnis dibanding nyerahin aku ke polisi.”
Deg.
Tubuh Nadira langsung dingin.
Arsen membeku.
Sedangkan Nayla langsung menatap Arsen dengan mata tidak percaya.
“Nggak mungkin…”
Namun Adrian hanya tertawa kecil.
“Kalian lucu banget.”
Tatapannya jatuh ke Nadira dan Arsen bergantian.
“Kalian jatuh cinta di atas keluarga yang sama-sama busuk.”
Deg.
Jantung Nadira langsung kacau.
Dan sialnya…
Tak ada satu pun yang bisa membantah.
“Diam.”
Suara Arsen rendah.
Sangat rendah.
Berbahaya.
Namun Adrian malah tersenyum lebih lebar.
“Kamu marah karena aku bohong…”
Tatapannya menusuk Arsen.
“…atau karena aku benar?”
BRAKK!
Arsen langsung menghantam meja kaca di dekatnya hingga pecah.
Mamannya langsung menjerit kaget.
Namun Arsen bahkan tidak terlihat sadar tangannya berdarah.
Tatapannya benar-benar gelap sekarang.
“Jangan ngomong soal dia.”
Deg.
Nadira langsung menatap Arsen.
Karena cara pria itu bicara…
Terlalu emosional.
Terlalu dalam.
Dan Adrian langsung menyadarinya.
“Oho…”
Senyumnya berubah licik.
“Jadi serius ya?”
“Cukup.”
“Ayahmu tahu nggak kalau kamu jatuh cinta sama tunangan orang?”
Napas Nadira langsung tercekat.
Sedangkan Nayla membeku di tempat.
Suasana berubah sangat canggung dalam sekejap.
Namun Adrian justru terlihat menikmati semuanya.
“Ini jadi makin menarik.”
“Keluar,” kata Arsen dingin.
“Aku belum selesai.”
“Aku bilang keluar.”
Tatapan mereka saling bertabrakan.
Tegang.
Berbahaya.
Dan Nadira benar-benar takut salah satu dari mereka akan membunuh yang lain malam ini.
Namun sebelum sesuatu terjadi—
Suara ponsel Adrian berbunyi.
Pria itu melihat layar sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
“Akhirnya.”
Arsen langsung waspada.
“Apa?”
Adrian memasukkan kembali ponselnya santai.
“Permainan baru mulai.”
Deg.
Nadira langsung merinding.
Dan detik berikutnya—
DUARRR!
Ledakan besar terdengar dari luar rumah.
Semua langsung tersentak.
Kaca-kaca pecah.
Lampu mati total.
Mamannya menjerit keras.
“NADIRA!”
Arsen refleks langsung menarik Nadira ke bawah tubuhnya saat suara ledakan kedua terdengar.
BRAKK!
Asap mulai masuk dari belakang rumah.
“Apa itu?!” Nayla panik.
“Bom kecil,” gumam Arsen.
Tatapannya langsung membunuh saat menoleh ke Adrian.
“Kamu gila.”
Namun pria itu malah tertawa.
“Bukan aku.”
Deg.
“Apa?”
“Ada orang lain yang lebih takut rahasia ini terbongkar.”
Dan sebelum siapa pun bisa bereaksi—
Adrian mendadak mengeluarkan pistol.
Mamannya langsung menjerit lagi.
Namun pria itu tidak mengarahkan pistol ke mereka.
Melainkan ke jendela belakang.
DUARR!
Seseorang di luar berteriak.
“Ada sniper!” teriak Damar dari lantai atas.
Suasana langsung berubah perang.
Arsen langsung menarik Nadira berdiri.
“Kita keluar sekarang!”
“Aku nggak mau ninggalin Mama!”
“GERAK!”
Untuk pertama kalinya Nadira mendengar Arsen benar-benar membentaknya.
Dan itu cukup membuatnya sadar situasi mereka sangat bahaya.
Rumah tua itu berubah kacau.
Asap mulai memenuhi ruangan.
Suara tembakan terdengar dari luar.
Damar dan anak buah Arsen membalas tembakan.
Sedangkan Adrian justru terlihat tenang.
Terlalu tenang.
“Kamu tahu siapa mereka?” tanya Nadira panik.
Adrian tersenyum kecil.
“Mantan partner bisnis.”
Deg.
“Mereka mau bunuh kamu?”
“Mereka mau bunuh semua orang yang tahu.”
Napas Nadira langsung memburu.
Jadi benar.
Ada orang lain di balik semua ini.
Dan mereka jauh lebih besar daripada Adrian.
Arsen menggenggam tangan Nadira erat sambil membawa semua keluar lewat pintu samping.
Mamannya hampir pingsan.
Papanya terlihat pucat total.
Sedangkan Nayla terus menoleh ke belakang dengan panik.
“Adrian mana?!”
Pria itu masih di dalam rumah.
Baku tembak terdengar makin keras sekarang.
Namun sebelum mereka sampai ke halaman—
DUARR!
Satu tembakan terdengar sangat dekat.
Tubuh Nadira langsung tersentak saat melihat seseorang jatuh.
“ARSEN!”
Jantungnya langsung berhenti.
Namun pria yang jatuh ternyata bukan Arsen.
Melainkan Damar.
Pria itu tersungkur sambil memegangi bahunya yang berdarah.
“Sial…”
“DAMAR!” Nayla refleks berlari membantunya.
“Jangan dekat!”
Namun Nayla sudah telanjur memegang tubuh pria itu.
Tangannya langsung penuh darah.
Dan untuk pertama kalinya…
Damar terlihat panik melihat Nayla menangis.
“Lo kenapa nangis…”
“Karena kamu ditembak goblok!”
Damar malah tertawa kecil menahan sakit.
“Aneh…”
Nayla langsung memelototinya sambil menangis.
“Kamu masih sempat becanda?!”
Namun sebelum suasana makin kacau—
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Semua langsung menoleh.
Dan tubuh Nadira langsung dingin.
Karena Adrian keluar dari rumah sambil menyeret seseorang.
Seorang pria tua.
Wajahnya babak belur.
Dan begitu melihatnya—
Papanya langsung pucat total.
“Tidak mungkin…”
Arsen menyipitkan mata.
“Siapa dia?”
Namun jawaban Adrian membuat semuanya membeku.
“Orang yang selama ini nyuci semua uang haram keluarga kalian.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Dan juga…”
Tatapannya perlahan jatuh ke Arsen.
“…mantan tangan kanan ayahmu.”