"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PERTEMUAN DI BALIK KACA
Alzena menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Ia mengenakan hoodie hitam besar dan celana training—pakaian yang sangat tidak "Alzena" banget. Ia sengaja menguncir rambutnya tinggi-tinggi dan memakai topi. Rencananya sederhana: ia harus keluar dari mansion ini tanpa pengawalan Evan atau sopir pribadi Keano.
Ia sudah meretas jadwal patroli penjaga gerbang lewat laptopnya. Ada celah lima menit saat pergantian shift di mana kamera pengawas di sisi timur taman akan mati untuk reboot sistem—sebuah celah yang sengaja ia buat lewat virus kecil yang ia tanam semalam.
"Oke, Zen. Saatnya jalan-jalan," bisiknya pada diri sendiri.
Dengan gerakan yang jauh lebih gesit dari hari sebelumnya—meskipun napasnya masih terasa sedikit berat—Alzena menyelinap keluar melalui pintu belakang dapur. Ia berhasil melewati pagar tanaman tinggi dan melompati tembok samping yang tidak terlalu tinggi sebelum kamera kembali menyala.
Ia memanggil taksi online beberapa blok dari mansion. Tujuannya: Rumah Sakit Pusat New Ardent. Tempat di mana Ibu Mirelle rutin menjalani terapi syaraf dan psikologi setiap hari Jumat jam sepuluh pagi.
Sepanjang perjalanan, jantung Alzena berdegup kencang. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Sebagai Arcelia, dia tidak pernah punya ibu. Dia mandiri, keras, dan tidak butuh kasih sayang siapa pun. Tapi sekarang, hanya dengan membayangkan wajah Mirelle Halim, matanya terasa panas.
"Ini pasti memori tubuh Alzena yang asli," gumamnya sambil menatap ke luar jendela taksi. "Gue cuma mau mastiin keadaan tante itu. Cuma itu."
Sesampainya di rumah sakit, Alzena tidak langsung masuk ke lobi utama. Ia tahu keluarga Halim pasti punya pengawal di sana. Ia menyelinap lewat pintu samping area kantin, lalu menuju taman rehabilitasi yang ada di lantai empat. Dari balik kaca besar di lorong yang sepi, ia bisa melihat ke arah taman terbuka.
Di sana, di atas kursi roda, duduk seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik namun sangat rapuh. Mirelle Halim. Wanita itu menatap kosong ke arah deretan bunga lili putih.
Seketika, napas Alzena tercekat. Sebuah ingatan mendadak menyerbu otaknya tanpa permisi.
Seorang anak kecil yang terjatuh dan menangis. Lalu tangan lembut wanita itu mengelus kepalanya sambil berbisik, "Anak Ibu kuat, jangan menangis lagi ya?"
Tanpa sadar, tangan Alzena menyentuh kaca rumah sakit. Air mata jatuh begitu saja di pipinya. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah-olah ia bisa merasakan kerinduan mendalam yang selama ini dipendam oleh Alzena yang asli—atau mungkin, oleh dirinya sendiri yang tidak pernah tahu rasanya punya ibu.
"Ibu..." bisiknya lirih.
Tepat saat itu, sesosok bayangan muncul di taman. Itu Shania. Gadis itu datang membawa sebuah selimut kecil, memasangkannya ke bahu Mirelle dengan senyum yang terlihat sangat manis. Tapi bagi Alzena, senyum itu terlihat seperti bisa beracun. Shania membisikkan sesuatu ke telinga Mirelle yang membuat wajah wanita itu sedikit menegang.
Alzena mengepalkan tangannya. Ia ingin sekali masuk ke sana dan menarik Shania menjauh dari ibunya. Namun, ia tahu fisiknya belum sanggup untuk konfrontasi terbuka sekarang.
"Sabar, Zen. Sabar. Satu per satu," ia menenangkan dirinya sendiri.
Saat Alzena hendak berbalik untuk pergi, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram bahunya dan memutar tubuhnya dengan kasar. Alzena hampir saja melayangkan pukulan refleks jika ia tidak melihat wajah pria di depannya.
Keano.
Pria itu berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap. Napasnya terlihat memburu, seolah-olah ia baru saja berlari mengejar sesuatu. Tatapan matanya yang tajam seolah ingin menembus topi yang dipakai Alzena.
"Jadi ini alasanmu mematikan kamera pengawas di rumah?" suara Keano terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Untuk menyelinap keluar dan menangis di lorong rumah sakit seperti ini?"
Alzena mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman Keano di bahunya sangat kuat. "Lepasin, Keano! Lo ngapain di sini?"
"Aku yang harusnya tanya, kau ngapain di sini?" Keano menyudutkan Alzena ke dinding kaca. Ia menatap air mata yang masih basah di pipi istrinya. "Kenapa kau memperhatikan Ibu mertuaku dari jauh seperti pencuri? Kalau kau ingin menemuinya, kenapa tidak bilang?"
"Bukan urusan lo!" balas Alzena tajam. "Gue cuma pengen liat dia. Puas?"
Keano tidak menjawab. Ia justru menunduk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alzena. Ia mencium aroma keringat dan parfum tipis Alzena yang bercampur. Posesifitasnya yang aneh kembali muncul. Ia benci melihat Alzena menangis untuk orang lain, bahkan untuk ibunya sendiri. Ia ingin menjadi satu-satunya alasan wanita ini berekspresi.
"Kau pikir aku bodoh?" bisik Keano. "Aku memasang pelacak di ponsel yang kau pinjam dari Evan. Kau tidak bisa lari dariku, Alzena. Tidak akan pernah bisa."
Alzena mendengus sinis. "Oh, jadi sekarang suami gue jadi penguntit? Keren banget ya, Tuan Winchester."
Keano tidak mempedulikan ejekan itu. Ia justru memperhatikan mata Alzena dengan seksama. Di balik sisa air mata itu, ada keberanian yang sangat familiar. Keano teringat lagi pada gadis di gudang tua itu. Gadis yang juga menatapnya dengan penuh tantangan saat mereka terkepung.
Nggak mungkin. Alzena nggak mungkin orang yang sama, batin Keano mencoba menyangkal. Baginya, "Arcelia" si penyelamat adalah sosok pahlawan, sedangkan Alzena selama ini adalah sosok beban. Ia tidak bisa menerima jika kedua sosok itu adalah orang yang sama.
"Pulang," perintah Keano tegas.
"Nggak mau. Gue masih mau di sini," tolak Alzena.
Keano tiba-tiba mengangkat tubuh Alzena dan memanggulnya di bahu seperti membawa karung beras.
"Keano! Turunin gue! Lo gila ya? Ini rumah sakit!" Alzena memukul-mukul punggung Keano, tapi pria itu seolah tidak merasakan apa-apa.
"Aku akan membawamu pulang, dan setelah ini, kau tidak akan keluar dari mansion tanpa seizinku," ujar Keano sambil terus berjalan menuju lift pribadi.
"Lo nggak bisa ngurung gue selamanya!" teriak Alzena kesal.
Keano berhenti sejenak di depan pintu lift yang terbuka. Ia menoleh sedikit, menatap Alzena yang masih berada di bahunya. "Coba saja kalau kau bisa menembus pengamanan yang akan kupasang nanti, 'Hacker'."
Alzena terdiam. Kalimat terakhir Keano barusan terdengar seperti tantangan. Keano sudah tahu kemampuannya, tapi pria itu tetap ingin mengurungnya.
Di dalam lift, Keano akhirnya menurunkan Alzena tapi tetap mengurungnya di sudut lift dengan kedua tangannya yang menumpu pada dinding lift. Ia menatap Alzena dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa marah, tapi juga ada keinginan untuk melindungi yang sangat kuat.
"Kenapa kau begitu ingin melihat Ibu Mirelle?" tanya Keano, kali ini nadanya sedikit lebih lembut.
Alzena memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata. "Gue cuma ngerasa... dia kesepian. Dan gue benci liat Shania ada di deket dia."
Keano terdiam cukup lama. Ia meraih dagu Alzena dan memaksanya untuk menatapnya kembali. "Kalau kau ingin menemuinya secara resmi, aku akan mengaturnya. Tapi jangan pernah lagi pergi sendirian seperti ini. Kau membuatku... hampir gila mencari tahu ke mana kau pergi."
Alzena terpaku. Ini pertama kalinya Keano bicara seolah-olah dia benar-benar mengkhawatirkannya. Bukan sebagai pajangan, tapi sebagai manusia.
"Lo beneran khawatir?" tanya Alzena polos.
Keano langsung membuang muka, wajahnya kembali dingin. "Aku hanya tidak ingin ada skandal lagi jika kau pingsan di jalanan. Reputasi Winchester mahal harganya."
Alzena mencibir. "Dasar kaku. Bilang aja kalau lo takut gue ilang."
Keano tidak membalas. Ia hanya menggenggam tangan Alzena dengan sangat erat saat pintu lift terbuka, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita di depannya ini akan menghilang menjadi butiran debu digital yang tak bisa ia gapai lagi.
Mereka berdua tidak tahu, bahwa di kejauhan, Shania sedang menatap mereka dari balik pilar taman dengan tatapan yang penuh kebencian. Shania menyadari satu hal: Keano tidak lagi menatap Alzena dengan rasa jijik. Dan itu adalah ancaman besar bagi rencananya.
"Kau harus benar-benar mati kali ini, Alzena," bisik Shania pelan.
......................
Alzena Mirelle Halim
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘