NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Surat dari Zenthoria

Malam itu, udara di kamar pribadi Kael terasa lebih dingin daripada biasanya. Dia duduk di tepi tempat tidur sempurnya, memegang sebuah surat kecil yang disegel dengan lilin merah tua bertanda naga emas—lambang kerajaan Zenthoria.

Surat itu datang melalui kurir rahasia, diselipkan ke dalam tumpukan linen bersih yang dibawa oleh pelayan istana. Tidak ada nama pengirim di amplopnya, tapi Kael tahu siapa yang menulisnya. Hanya satu orang di Zenthoria yang menggunakan aroma lavender kering dan tinta berbahan dasar besi sebagai tanda tangan tak kasat mata.

Ratu Isolde? Tidak. Ini lebih halus. Lebih berbahaya.

Kael memecahkan segel itu. Di dalamnya, hanya selembar kertas tipis dengan tulisan tangan yang elegan namun tajam.

Untuk Kael,

Kami mendengar kabar bahwa "boneka" kami telah menemukan panggung baru di Mobelle. Kami juga mendengar bahwa kau menghabiskan terlalu banyak waktu mengawasinya, alih-alih menyelesaikan misi utamamu. Ingatkan dirimu: Kau bukan tamu. Kau adalah aset. Misi utamamu bukan untuk menjadi penyair atau teman bermain Ratu Floren. Misi utamamu adalah menemukan kelemahan militer Mobelle. Lokasi gudang senjata rahasia. Pola patroli Kaelia. Titik buta di pertahanan sihir Julian.

Jika kau gagal memberikan informasi itu dalam tujuh hari berikutnya, kami akan menganggapmu telah berkhianat. Dan kau tahu apa yang terjadi pada pengkhianat di Zenthoria. Mereka tidak mati dengan cepat. Mereka dijadikan contoh.

Jangan biarkan perasaan palsu mengaburkan tujuanmu. Ingatlah siapa yang memberimu nama. Ingatlah siapa yang menyelamatkanmu dari kematian di perbatasan.

- S

Tangan Kael gemetar saat membaca huruf terakhir. S. Seraphina. Ibu angkatnya. Wanita yang menemukannya setengah mati, yang menyembuhkannya, yang melatihnya... dan yang menjadikannya alat.

Dia meremas surat itu hingga kusut, lalu membakarnya di atas lilin meja. Api menyala biru sejenak, memakan bukti itu hingga menjadi abu.

Kael menatap apinya yang padam. Hatinya berat. Selama ini, dia berpura-pura lupa. Pura-pura bahwa amnesianya adalah kutukan, bukan berkat. Karena jika dia ingat masa lalunya—latihan penyiksaan, manipulasi psikologis, indoktrinasi bahwa dia tidak punya jiwa—dia mungkin akan hancur.

Tapi sekarang, Zenthoria menarik talinya.

Dia berdiri, berjalan ke jendela. Dari sini, dia bisa melihat cahaya redup dari paviliun Floren di kejauhan. Ratu itu sedang bekerja larut malam, seperti biasa.

"Apa yang harus kulakukan?" bisik Kael pada dirinya sendiri.

Jika dia melaporkan isi surat ini pada Floren, dia mengakui bahwa dia adalah mata-mata. Floren, yang sudah mulai menunjukkan kepercayaan padanya setelah insiden debat publik, akan mengusirnya. Atau memenjarakannya. Kaelia tidak akan ragu untuk mengeksekusinya.

Jika dia mengabaikannya, Seraphina akan mengirim pembunuh. Atau worse, mengaktifkan "kode tidur" sihir yang ditanamkan di dalam dirinya saat dia masih kecil. Kode yang bisa membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Kael menutup matanya. Dia merasa terjebak. Di Zenthoria, dia adalah budak. Di Mobelle, dia adalah tahanan yang dihiasi. Tidak ada tempat di mana dia bebas.

Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar di pintunya.

Kael tersentak, segera menyembunyikan ekspresi paniknya. Dia membuka pintu.

Di ambang pintu berdiri Floren. Dia mengenakan jubah tidur sederhana, rambutnya terurai longgar. Dia tampak lelah, tapi matanya waspada.

"Yang Mulia?" Kael membungkuk hormat, suaranya datar, topengnya kembali terkunci rapat. "Ada apa Anda datang ke istana harem pada jam segini yang mulia? ."

Floren melangkah masuk tanpa diundang. Dia membawa dua cangkir teh hangat.

"Aku tidak bisa tidur," kata Floren singkat. Dia meletakkan cangkir di meja kecil. "Dan aku mencium bau asap pembakaran dokumen ilegal dari kamarmu."

Jantung Kael berhenti berdetak sesaat. "Saya... saya hanya membakar sisa lilin lama, Yang Mulia."

Floren menatapnya lama. Tatapan itu menusuk, seolah bisa melihat melalui kulit dan daging, langsung ke jiwa yang gelisah di dalamnya.

"Kau berbohong dengan buruk malam ini, Kael tidak seperti biasanya," kata Floren pelan. Dia duduk di kursi tunggal di sudut kamar, menunjuk kursi lain untuk Kael. "Duduk."

Kael ragu, tapi dia patuh. Dia duduk, menjaga jarak sopan.

"Aku menerima laporan dari Kaelia," lanjut Floren. "Bahwa kau menerima kunjungan dari kurir asing sore tadi. Kurir yang mengenakan lambang Naga Emas."

Kael menelan ludah. "Itu... itu hanya pengiriman barang pribadi dari keluarga saya di Zenthoria."

"Keluarga?" Floren mengangkat alis. "Bukankah katamu kau tidak ingat keluargamu? Bukankah katamu kau yatim piatu?"

Kael terdiam. Jebakan verbal. Floren menjebaknya dalam kontradiksi sendiri.

"Saya..." Kael memulai, tapi suaranya serak. "Maksud saya, keluarga angkat. Orang-orang yang merawat saya sebelum saya kehilangan ingatan."

Floren menghela napas. Dia tidak marah. Dia tampak... sedih.

"Kael," katanya lembut. "Aku tidak bodoh. Aku tahu Zenthoria tidak mengirim 'hadiah' tanpa tali pengikat. Aku tahu kau memiliki agenda. Pertanyaannya bukan apakah kau mata-mata. Pertanyaannya adalah: siapa dirimu sebenarnya di balik agenda itu?"

Kael menatap lantai. Kata-kata Floren menghancurkan pertahanannya.

"Aku tidak tahu," jawab Kael jujur, suaranya pecah. "Aku benar-benar tidak tahu. Yang aku tahu adalah... jika aku tidak memenuhi permintaan mereka, sesuatu yang buruk akan terjadi. Bukan hanya padaku. Tapi mungkin pada orang-orang di sekitarku." sampai sini suaranya bahkan terdengar gemetar tidak saat pertama kali dia datang.

Floren diam sejenak. Lalu, dia berdiri dan berjalan mendekat. Dia tidak menyentuh Kael, tapi kehadirannya terasa hangat.

"Apa permintaan mereka?" tanya Floren.

Kael menggigit bibirnya. Dia tidak bisa mengatakan itu. Jika dia mengatakan bahwa dia diminta memata-matai strategi militer, Floren akan menganggapnya ancaman keamanan nasional.

"Mereka meminta... informasi," kata Kael samar. "Tentang istana. Tentang kebiasaan Anda."

Floren tersenyum tipis, senyum yang pahit. "Informasi tentang kebiasaanku? Itu saja? Zenthoria begitu putus asa hingga harus memata-matai kapan aku minum teh?"

"Itu bukan sekadar teh," kata Kael, menatap Floren lurus-lurus. Matanya penuh peringatan. "Mereka mencari celah. Kelemahan. Dan jika aku tidak memberikannya, mereka akan mengambilnya dengan cara lain. Cara yang lebih keras."

Floren menatap mata Kael. Dia melihat ketakutan asli di sana. Bukan ketakutan seorang mata-mata yang ketahuan, tapi ketakutan seorang korban yang terjebak.

"Dengarkan aku, Kael," kata Floren tegas. "Aku tidak mempercayaimu sepenuhnya. Belum. Tapi aku tidak menganggap mu musuh. Aku menganggap mu... variabel. Dan variabel bisa diubah."

Dia mengambil salah satu cangkir teh dan menyerahkannya pada Kael.

"Minum ini. Lalu tidurlah. Besok, kita akan bermain catur. Kau dan aku. Tanpa topeng. Tanpa agenda Zenthoria. Hanya dua pemain yang mencoba memahami strategi masing-masing."

Kael menerima cangkir itu, tangannya masih gemetar. "Mengapa Anda melakukan ini? Mengapa Anda tidak memanggil Kaelia untuk menangkap ku?"

"Karena," kata Floren, berbalik menuju pintu, "aku ingin tahu apakah ada manusia di dalam diri Kael yang layak diselamatkan. Atau apakah kau memang hanya boneka kosong tanpa jiwa."

Pintu tertutup. Floren pergi, meninggalkan Kael sendirian dengan cangkir teh hangat dan surat yang sudah menjadi abu.

Kael menatap cangkir itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang memberinya pilihan. Bukan perintah. Pilihan.

Dia menyesap teh itu. Rasanya pahit, tapi ada aftertaste manis yang samar. Seperti harapan.

Tapi di luar jendela, bulan tertutup awan gelap. Tujuh hari. Dia hanya punya tujuh hari sebelum Zenthoria memutuskan nasibnya. Dan Kael tidak yakin apakah dia bisa memainkan permainan catur Floren sambil menghindari pisau di punggungnya sendiri.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!