NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 1

Langit sore di kota kecil ini tampak muram, seperti kain kusam yang siap robek. Di sebuah rumah kontrakan petak di pinggiran kota, Arumi sedang menghitung lembaran uang sepuluh ribuan yang tersisa di dalam dompet plastik lusuhnya.

Jumlahnya tak sampai lima puluh ribu. Itu harus cukup untuk makan dia dan putri kecilnya, Kirana, selama dua hari ke depan.

Arumi menghela napas panjang, mencoba menekan sesak di dadanya. Di usia dua puluh delapan tahun, dunia seolah tidak memberinya pilihan lain selain menjadi objek penghinaan.

Sebagai janda beranak satu yang ditinggalkan suami tanpa sepeser pun harta, ia adalah sasaran empuk bagi siapa saja yang merasa lebih tinggi darinya.

"Ibu, Kirana lapar," suara kecil itu memecah lamunannya.

Arumi menoleh. Kirana, bocah berusia lima tahun dengan mata bulat yang bening, menatapnya dengan harapan. Wanita itu memaksakan senyum, meski hatinya terasa seperti diremas.

"Iya, Sayang. Ibu masak nasi goreng spesial ya?"

Sebenarnya, tidak ada telur, tidak ada sosis. Hanya nasi sisa semalam yang digoreng dengan sedikit bawang putih dan kecap. Namun, Arumi akan memastikan Kirana makan dengan kenyang.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar keras. Bukan ketukan bertamu, melainkan ketukan yang seolah ingin merobohkan kayu tua itu.

"Arumi! Keluar kau!"

Itu suara Mbak Sari, kakak iparnya yang selalu merasa dirinya adalah kasta tertinggi di keluarga karena suaminya seorang pegawai negeri.

Arumi berdiri, menghela napas sekali lagi, lalu membuka pintu. Di depan sana, Mbak Sari berdiri dengan wajah angkuh, diikuti oleh dua orang temannya dari masa SMA, Reni dan Dinda, yang datang dengan pakaian modis.

"Ada apa, Mbak?" tanya Arumi tenang.

Mbak Sari mendengus, matanya menyapu rumah kontrakan itu dengan tatapan jijik. "Ini, kau sudah menunggak bayar arisan dua bulan. Memalukan sekali. Kau janda, miskin, tidak punya harga diri, masih berani ikut arisan?"

Reni tertawa sinis, menyenggol lengan Dinda. "Maklum, Mbak Sari. Namanya juga orang susah. Mana punya uang kalau cuma mengandalkan jualan kue keliling? Harusnya sadar diri, kalau sudah tidak cantik dan tidak punya suami, ya jangan bergaya."

Dinda menimpali dengan suara yang sengaja dikeraskan, "Lagipula, kemarin aku lihat dia jalan sama Pak Broto, kan? Yang suaminya Bu RT itu. Hati-hati, nanti dituduh pelakor lagi. Memang sudah tabiatnya, ya?"

Arumi mengepalkan tangannya di balik punggung. Dadanya bergemuruh. Tuduhan soal Pak Broto itu tidak benar. Pria itu hanya sekadar menumpang ojek online yang ia kemudikan saat motornya mogok. Namun, mereka dengan senang hati memelintirnya menjadi skandal.

"Aku akan membayarnya minggu depan, Mbak," ucap Arumi datar.

"Minggu depan? Cih!" Mbak Sari maju satu langkah, menunjuk dahi Arumi dengan jarinya. "Dengar ya, Arumi. Jangan harap kami mau menanggung malu gara-gara kau. Kalau minggu depan belum ada uangnya, jangan salahkan kalau aku buat kau tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku sudah bilang ke pemilik kontrakan ini, supaya tidak menyewakan lagi tempat kumuh ini untukmu!"

Air mata hampir jatuh, namun dia menelannya paksa. Ia menatap mata Mbak Sari tajam. "Mbak, apa kebencian Mbak padaku begitu besar sampai-sampai Mbak ingin melihatku dan Kirana menggelandang di jalanan?"

"Itu konsekuensi jadi orang gagal!" sentak Mbak Sari. "Sudah, jangan banyak alasan. Dasar janda tidak tahu diri!"

Mereka bertiga pergi dengan tawa yang memenuhi udara. Arumi menutup pintu perlahan. Ia bersandar di sana, membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Air mata yang ia tahan akhirnya luruh.

'Apakah ini hidup yang harus kujalani selamanya ?' pikirnya. 'Dicemooh, dipojokkan, dan dianggap sampah karena statusku ?'

Ia melihat ke arah Kirana yang kembali bermain dengan boneka kainnya, tidak mengerti bahwa ibunya baru saja dihancurkan secara psikologis. Dia menarik napas dalam-dalam. Sesuatu di dalam dirinya mulai patah, namun sekaligus mengeras.

"Cukup," bisiknya pada diri sendiri.

Ia bangkit berdiri. Ia berjalan ke arah cermin retak di pojok ruangan. Wajahnya pucat, matanya lelah, rambutnya diikat asal-asalan. Tidak ada lagi sisa kecantikan yang dulu pernah ia banggakan saat masih remaja.

Namun, di dalam cermin itu, Arumi melihat sesuatu yang lain. Sebuah kilatan kebencian yang mulai berubah menjadi api. Api yang akan membakar semua penghinaan ini menjadi energi.

Ia berjanji pada bayangannya sendiri, "Mulai detik ini, tidak ada lagi Arumi yang menangis. Tidak ada lagi aku meminta bantuan. Tidak akan ada lagi orang yang bisa menginjakku, karena aku akan membangun sesuatu yang bahkan tidak sanggup kalian bayangkan."

Dia berjalan ke arah meja, mengambil kertas sisa dan bolpoin. Ia menuliskan sebuah daftar. Bukan daftar belanja, melainkan daftar orang-orang yang pernah meludahi harga dirinya. Dan di atasnya, ia menuliskan satu kata besar.

BALASAN.

Malam itu, di bawah temaram lampu 5 watt yang hampir mati, Arumi tidak lagi tidur dengan air mata. Ia tidur dengan rencana. Ia tidak akan meminta bantuan siapa pun, tidak akan berhutang pada siapa pun, dan tidak akan percaya pada pria mana pun.

Ia akan menjadi badai yang menyapu bersih orang-orang seperti Mbak Sari, Reni, dan Dinda dari hidupnya.

Besok pagi, saat matahari terbit, Arumi bukan lagi seorang janda yang malang. Ia adalah seorang wanita yang telah mati rasa terhadap belas kasihan, dan mulai hidup sebagai petarung yang tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan selain masa depannya sendiri.

"Tunggu saja," batinnya sebelum memejamkan mata. "Suatu saat nanti, kalian bahkan tidak akan pantas menjadi alas kakiku."

...----------------...

To Be Continue .....

**Hay para pembaca setiaku**....

**Kini Miss Ra hadir lagi dengan cerita kisah seorang janda miskin yang selalu direndahkan bahkan saat meminta pertolongan pada orang yang lebih mampu, kisah ini akan mengoyak hati kalian seakan berada diposisi Arumi, simak terus cerita ini, pastikan jempol dan jejak kata kalian memenuhi setiap episodenya**.

**Okey, selamat datang dikarya Arumi, semoga kalian suka dengan cerita tentang kehidupan Arumi, sampai jumpa di episode selanjutnya yaa**...

**See You**...

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!