NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: DEBUT YANG TERANCAM

Distrik San Lorenzo sedang bersiap menyambut malam.

Cahaya lampu jalanan yang temaram mulai memantul di aspal yang basah, dan di dalam butik L'Atelier, suasana justru jauh lebih panas.

Alesha berdiri di tengah ruangan yang kini telah berubah drastis. Dinding biru navy yang ia cat sendiri kini menjadi latar belakang bagi koleksi pertamanya yang hampir rampung.

Gaun malam beludru dengan bordir kerangka perak itu terpajang di manekin utama, tampak angkuh dan misterius.

Alesha sedang menyematkan jarum terakhir pada sebuah jaket sutra ketika pintu butik terbuka dengan kasar.

Bukan Matteo yang datang, melainkan seorang kurir dengan wajah pucat yang membawa sebuah dokumen pembatalan.

"Apa maksudmu?" suara Alesha meninggi, tangannya yang masih memegang gunting kain bergetar karena amarah.

"Mohon maaf, Nyonya Al-Ricci," ucap kurir itu sambil mundur selangkah.

"Pihak Tessuti d'Oro membatalkan semua pesanan kain sutra dan organza untuk koleksi Anda. Mereka bilang ada masalah teknis pada mesin produksi."

"Masalah teknis? Aku sudah membayar uang mukanya dua minggu lalu!" Alesha menyambar dokumen itu dan membacanya dengan cepat.

Matanya menyipit saat melihat stempel kecil di pojok bawah kertas tersebut. Itu bukan sekadar pembatalan teknis. Ada catatan kecil dalam kode internal yang sangat ia kenal, kode yang sering digunakan ayahnya saat melakukan "negosiasi" di bawah meja.

Darah Alesha mendidih. Ia segera tahu siapa dalangnya. Ayahnya dan Kiara. Mereka tidak ingin Alesha sukses. Bagi mereka, Alesha yang sukses adalah aset yang hilang.

Mereka ingin debut ini gagal total, membuat Alesha dipermalukan di depan publik Roma, sehingga ia tidak punya pilihan selain merangkak kembali ke pelukan keluarganya untuk "dijual" kembali kepada pria tua kaya lainnya demi menutupi hutang keluarga yang membengkak.

"Mereka pikir mereka bisa menghentikanku dengan cara picik ini?" Alesha meremas kertas itu hingga berbentuk bola.

"Nyonya, apa yang harus kita lakukan? Peragaan busana kecil untuk pers akan dilakukan lusa," asisten baru yang direkrutnya, seorang gadis lokal bernama Giulia, tampak panik.

Alesha tidak menjawab. Ia menyambar jaket kulitnya dan bot tinggi yang penuh noda cat. "Jaga butik. Aku akan mengambil kainku, entah mereka suka atau tidak."

Gudang Tessuti d'Oro terletak di pinggiran industri yang gersang.

Saat Alesha tiba di sana, gerbang besi setinggi tiga meter sudah tertutup rapat dengan rantai besar. Satpam di depan menggelengkan kepala, mengatakan bahwa pemiliknya, Signor Gallo, tidak menerima tamu.

"Buka gerbangnya atau aku akan menabraknya dengan mobil ini!" teriak Alesha dari balik kemudi.

"Maaf, Nyonya, ini perintah atasan," jawab satpam itu datar.

Alesha menggeram. Kesabaran bukanlah kelebihannya. Ia memarkir mobilnya secara asal, lalu berjalan menuju sisi samping pagar.

Tanpa mempedulikan gaun mahalnya yang mungkin sobek, Alesha mulai memanjat pagar kawat berduri itu dengan kegesitan yang hanya dimiliki oleh anak yang tumbuh besar di jalanan.

"Hei! Apa yang kau lakukan?!" teriak satpam dari kejauhan.

Alesha melompat turun di sisi lain pagar, mendarat dengan dentuman keras yang membuat debu beterbangan. Ia tidak berhenti.

Ia berlari menuju kantor utama di lantai dua gudang tersebut, menabrak pintu masuk yang tidak terkunci, dan terus melangkah melewati barisan karyawan yang terperangah.

BRAKK!

Pintu ruangan Signor Gallo terbuka lebar karena tendangan Alesha. Sang pemilik gudang, seorang pria paruh baya yang gemar memakai cincin emas berlebihan, hampir tersedak cerutunya.

"A-Alesha? Bagaimana kau bisa masuk?" Gallo berdiri dengan gugup.

"Dengan kaki dan harga diriku, Gallo," desis Alesha.

Ia melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja pria itu, menatapnya dengan pandangan yang sanggup membakar kertas.

"Di mana kain sutra biru dan organza hitamku? Aku tahu ayahku meneleponmu. Berapa dia membayarmu untuk mengkhianati kontrak kita?"

Gallo mencoba tertawa, namun suaranya bergetar.

"Ini murni bisnis, Alesha. Ayahmu memberikan tawaran yang tidak bisa kutolak. Lagipula, kau hanyalah anak kecil yang sedang bermain butik-butikan. Untuk apa menyia-nyiakan kain terbaikku untuk proyek yang pasti gagal?"

Alesha tersenyum, senyum yang membuat Gallo mendadak merasa sangat tidak aman.

Alesha perlahan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah ponsel dan meletakkannya di atas meja.

"Kau tahu, Gallo? Sebelum aku menikah dengan keluarga Al-Ricci, aku menghabiskan banyak waktu di gudang ayahku. Aku tahu siapa saja yang menggunakan faktur ganda untuk menghindari pajak ekspor ke Prancis. Dan aku punya salinan digital dari buku catatan 'gelap' milikmu yang secara tidak sengaja tertinggal di arsip ayahku."

Wajah Gallo berubah dari merah menjadi pucat pasi.

"Kau... kau tidak akan berani."

"Coba saja aku," tantang Alesha.

"Jika dalam satu jam kain-kain itu tidak berada di dalam truk menuju San Lorenzo, aku akan mengirimkan email ini ke otoritas pajak Roma. Aku tidak peduli jika namaku ikut terseret, tapi aku pastikan kau akan menghabiskan sisa umurmu di penjara, bukan di kantor mewah ini."

Alesha mendekatkan wajahnya, suaranya kini hanya berupa bisikan yang mematikan.

"Aku adalah seorang Al-Ricci sekarang, Gallo. Dan aku memiliki sisi sembrono yang tidak akan ragu menghancurkanmu hanya untuk mendapatkan satu meter kain."

Tiga puluh menit kemudian, para karyawan gudang sibuk menaikkan gulungan-gulungan kain mahal ke atas truk. Gallo hanya bisa berdiri di balkon kantornya, menatap Alesha yang sedang mengawasi proses pemuatan dengan tangan bersedekap.

Malam itu, truk tersebut tiba di depan butik di San Lorenzo.

Alesha membantu Giulia menurunkan kain-kain itu. Tubuhnya terasa remuk, tangannya lecet karena memanjat pagar, dan wajahnya kusam oleh debu gudang.

Namun, saat ia menatap gulungan sutra biru yang kini berada di tangannya, rasa puas itu hanya bertahan sesaat.

Alesha duduk di lantai butiknya yang dingin, dikelilingi oleh kemewahan yang ia perjuangkan dengan kasar. Ia menyadari satu hal yang pahit, Gallo menyerah karena gertakannya, tapi ayah dan kakaknya tidak akan berhenti di sini.

Mereka akan menggunakan kekuatan yang lebih besar. Sabotase kain hanyalah permulaan.

Ia butuh lebih dari sekadar keberanian.

Ia butuh perlindungan hukum, kekuatan media, dan posisi politik yang hanya dimiliki oleh satu orang di hidupnya saat ini.

Matteo Al-Ricci.

Alesha merogoh saku celananya, merasakan kunci logam kecil yang ia curi dari Matteo tempo hari. Kunci itu seolah membakar kulitnya. Ia benci harus meminta bantuan.

Gengsinya sebagai seorang wanita mandiri yang membangun segalanya dari nol terasa terluka. Namun, ia juga tahu, jika ia membiarkan egonya menang, maka mimpinya akan mati sebelum sempat lahir.

"Kau ingin aku berlutut, Matteo?" bisik Alesha pada kegelapan butiknya.

Ia mengambil ponselnya, mencari nama Matteo di daftar kontak. Jarinya tertahan di atas tombol panggil selama beberapa menit. Ia membayangkan wajah dingin Matteo, tatapan matanya yang penuh rahasia, dan kursi roda yang mungkin hanya sebuah topeng.

"Aku tidak akan berlutut," gumam Alesha tegas.

"Aku akan melakukan negosiasi."

Alesha menekan tombol panggil. Nada sambung pertama terdengar, membuat jantungnya berdegup kencang.

Ia harus mengakui bahwa dalam perang melawan keluarganya sendiri, ia membutuhkan sang "Raja Kegelapan" untuk berdiri di sisinya, meskipun ia harus membayar harga yang mahal untuk itu.

"Halo?" suara berat Matteo terdengar di seberang sana, tenang dan seolah ia sudah menunggu panggilan itu.

Alesha menarik napas panjang, mengesampingkan rasa lelahnya.

"Matteo. Aku butuh koneksimu untuk majalah Vogue Italia. Dan aku tahu kau butuh sesuatu dariku sebagai imbalannya. Mari kita bicara sebagai rekan bisnis, bukan sebagai sepasang suami istri yang saling membenci."

Hening sejenak di ujung telepon. Lalu, terdengar tawa kecil yang sangat tipis dari Matteo, tawa yang belum pernah Alesha dengar sebelumnya.

"Datanglah ke ruang kerjaku, Alesha. Dan jangan lupa bawa kunci yang kau curi itu. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."

Alesha tertegun. Pria itu tahu.

Dia selalu tahu. Dengan langkah mantap, Alesha bangkit berdiri. Debutnya mungkin terancam, tapi dia baru saja menyadari bahwa dia tidak lagi bertarung sendirian di gang gelap San Lorenzo.

Dia sedang memasuki panggung yang jauh lebih besar, di mana taruhannya bukan sekadar kain sutra, melainkan masa depan yang akan mereka hancurkan atau bangun bersama.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!