NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Cirrus

Kantor Lazuardi Studio

“Gimana, nal? Beda banget kan kantornya dengan yang dulu!” Zara menuntun Nala agar duduk di sebelahnya bersama Tante Tania. Interior kantor begitu nyaman dan kesan manly sangat kental. Namun, ada bonsai kecil yang tak asing untuknya.

“Om, bonsai itu–?”

“Kau ingat dengan bonsai itu? Itu bonsai yang kau hadiahkan ke om saat kau lomba ke Tokyo waktu.” Nala mengingat samar tentang hal itu. Meskipun buram, namun Nala yakin itulah yang terjadi.

“Tidak terlalu, om. Masih banyak hal yang samar, namun aku akan berusaha untuk mengingatnya.”

“Tidak perlu buru-buru, nikmati saja yang ada. Lakukan sesuai dengan alurnya.” Hari memang tak terlalu ingin ingatan Nala kembali. Kenangan masa kecil Nala tak seharusnya dia ingat. Dirinya masih mengingat bagaimana ibunya Nala memaksa anaknya untuk bekerja, menerima banyak job. Selain itu, tuntutan soal akademik yang mumpuni alias harus mendapatkan nilai bagus serta sempurna. Hari tau, Nala itu anak yang cerdas. Bahkan dalam kesibukan yang ia tekuni masih bisa masuk jajaran siswa berprestasi dengan masuk peringkat 3 besar dan lompat kelas (akselerasi). Tapi bagi Hari, itu tidak normal. Bahkan Nala tampak begitu anti sosial dan dingin.

Hari yang melihat Nala di masa kini begitu mengucap syukur selalu. Di matanya, Nala tampak hidup. Hari tau, begitu juga Tania bahwa Nala hidup bersama ayah kandungnya lebih baik. Keputusan membantu ayah kandung Nala memenangkan hak asuh Nala di masa lampau adalah keputusan yang tepat.

“Gimana London? Eropa? Apakah cantik? China juga, cantik kan??” Nala hanya mengangguk menjawab segala pertanyaan dari Tania. Desainer itu selalu memberikan pertanyaan beruntun tanpa henti. Dan Nala sangat menyukai hal itu.

“Cantik, tante. Apalagi kalau ke Swiss, pemandangan pegunungan disana sangat bagus. Tapi ini menurutku,”

“Nanti, tante ingin ke Belanda. Nala pernah kesana? Kalau iya, tante mau rekomendasikan tempat favorit disana.”

“Tidak tante, om. Nala lebih sering ke Prancis, Swiss dan Italia. Belanda, Nala belum pernah kesana.”

“Kenapa? Kurang menarik kah?”

“Bukan tante, Nala masih ada beberapa negara yang ingin dikunjungi. Belanda ada diurutan ke sekian.”

Hari hanya menyimak perbincangan para wanita itu. Berbeda usia, namun obrolan merrka sangat menyatu. Hari melihat ke arah Tania yang tampak ceria hari ini. Hari tau, Tania sangat merindukan Nala. Dan hari ini, setelah sekian lama mereka dapat berjumpa membuat begitu bahagia.

“Sudah, sudah. Sekarang bisa kita fokus ke masalah utama terlebih dahulu,” potong Hari. Hari sangat tau istrinya itu. Jika sudah bertemu dan cocok, maka obrolan yang ia bawakan tak akan ada habisnya. Tak ingin mereka larut dalam obrolan hingga melupakan tujuan utama mereka untuk bertemu hari ini.

Hari memberikan dokumen mengenai kontrak antara dirinya, Nala dengan Tania. Nala telah lepas dengan manajemen sehingga dapat dikatakan bahwa Nala kini hanyalah model lepas. Meskipun begitu, mereka tetap akan memberikan harga yang pantas, apalagi mereka sangat tau kemampuan Nala.

Nala menerima dokumen itu dan membacanya. Alisnya bertaut samar, membentuk kerutan halus di dahi saat merasa ada kurang pas dalam kontrak.

“Om, tante, sepertinya untuk harga bayaran—“

“Kenapa? Apakah kurang?” potong Tania panik. Tania tau, sebagai model lepas Nala akan mematok harga secara pribadi. Apalagi kemampuan, visual serta sumber daya yang mumpuni, maka harga yang ditawarkan akan semakin mahal.

“Bukan, bukan. Malah Nala merasa harga ini terlalu mahal.”

Melihat semua terdiam. Nala menghela nafasnya. “Nala sekarang ibarat kata sama saja dengan model yang baru terjun. Harga segini, Nala merasa tak pantas.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita ubah sedikit. Awalnya dalam kontrak Nala harus memakai 2 pakaian berubah jadi 3 pakaian. Bagaimana?” tawar Hari.

Saat Nala akan kembali menolak, Tania sudah memotongnya. “Tidak menerima penolakan, ubah seperti itu saja!”

“Tapi tante—“

“Ayolah, masa harus diubah lagi sih.” Tatapan memohon dari Tania, tak mampu membuat Nala untuk kembali mengutarakan penolakannya.

“Baiklah, begitu saja!” Mendengar itu, Hari segera meminta asistennya untuk segera mengubah sedikit klausal dalam kontrak. Setelah semuanya siap, Nala menandatangani kontrak itu.

“Soal pakaiannya—“

“Tenang saja, sayang. Pakaian yang akan kau kenakan seperti pengaturan sebelumnya. Tidak terbuka dan tidak minim seperti biasanya.” Nala mengangguk senang akan hal itu.

“Nona, ada masalah di Mon Amour!” Nala melirik ke arah Lila, mengerti bahwa ada masalah dalam coffee shop miliknya.

“Tante, om, Zara sepertinya aku harus segera pergi. Ada masalah pada coffee shop milikku. Kopi yang dikirim supplier seperti ada yang kurang tepat dan aku harus kesana untuk mengeceknya!”

Tania dan Hari mengangguk mengerti. Begitu pula dengan Zara. Hanya saja, Zara masih ingin mengobrol dengan Nala.

“Zara, nanti kita ketemu lagi. Kalau nggak salah, Maya ingin kita mencicipi resep barunya.”

“Tenang saja, aku pasti akan datang!”

 

Sepeninggalan Nala, ruangan itu menjadi sedikit hening. Zara fokus berbincang dengan Tania soal pakaian yang akan dikeluarkan. Apalagi tema yang digunakan kali ini sangat menarik ‘The Crimson Tie'. Pakaian dengan tema romantis dan penuh cinta, menggambarkan sebuah cinta yang penuh akan takdir. Benang merah yang tak terputus, selalu menyatu dimanapun dan kapanpun.

Melirik ke ponselnya, Zara menyadari bahwa Arsyad baru saja menghubunginya. Membaca pesan yang dikirimnya membuat Zara kembali tersipu malu. Tania dan Hari melihat itu semua. Mereka senang, anak-anak yang sudah mereka anggap keluarga sendiri menemukan kebahagiaan mereka.

“Kenapa kau tampak malu-malu?” tanya Tania yang melihat rona merah pada pipi Zara

“I-itu tante, Arsyad ingin menjemputku,” lirih Zara malu. Dirinya masih belum terbiasa akan hal seperti ini. Pendekatan antara dirinya dengan Arsyad terbilang singkat. Mereka berpacaran hanya 1 tahun, lalu memutuskan untuk menikah.

“Kalau begitu, suruh dia naik. Om dan tante ingin bertemu. Ada yang ingin om bicarakan dengannya!” Zara mengangguk mengerti.

 

...****************...

 

Jika tadinya ruangan ini penuh kehangatan, kini suasana canggung begitu terasa. Tania dan Hari hanya bisa hadir dalam acara akad Zara waktu pernikahan mereka berlangsung. Apalagi mereka sangat jarang bertemu, tak sempat mengenal Arsyad dengan baik. Mereka hanya tau berdasarkan rumor bahwa Arsyad memang baik, hanya sedikit playboy. Tapi, kini yang ia lihat hanyalah seorang bos besar pada umumnya. Bagi Hari, Arsyad tak nampak seperti seorang player profesional.

“Lama tak berjumpa, Wijaya muda!”

“Tak perlu terlalu formal seperti itu om!” “Apa yang ingin om bahas dengan saya?” Arsyad adalah tipe orang yang selalu berbicara pada inti saja. Apalagi, Arsyad mengenal betul Hari dan juga Tania. Selain itu mereka adalah orang yang dikenal Zara dengan baik, meteka juga mitra lama bagi manajemen miliknya.

“Ada sedikit masalah dengan model pria yang kau ajukan. Bisa kau cek ulang?”

Arsyad membaca kembali nama-nama model yang ia ajukan pada Tania sebagai model peraga pakaian edisi terbaru milik Tania. Hanya saja, ada satu nama yang mengganjal dala dokumen itu.

“Devika Nala? Apakah ini Nala yang sama dengan Nala yang aku kenal?” tanya Arsyad pada Zara

“Ya, Nala yang sama. Adiknya Bang Dipta.”

“Ternyata kau sudah mengenal Nala. Benar, baru saja Nala menandatangani kontrak dengan kami untuk pemotretan kali ini.”

“Dia seorang model?”

“Dulunya iya, sekarang sudah tidak. Dia hanya datang membantu sebagai model mandiri.” Penjelasan Hari tampak mengejutkan bagi Arsyad. Tak ia sangka seorang akademik seperti Nala adalah seorang model.

“Jadi apakah kalian mencari pasangan untuk berfoto dengan Nala?” Hari mengangguk. Memang benar itu adalah tujuan utama mereka. Nala adalah model utama ketiga bagi pemotretan kali ini. Dan nama-nama model yang diajukan Arsyad tak ada yang sesuai kriteria yang ia inginkan sebagai pasangan foto untuk Nala.

“Aku tau satu nama, hanya saja aku tidak tau kalian akan setuju atau tidak.”

“Siapa?”

 

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!