NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Beberapa hari kemudian di Singapura~

Lampu-lampu Gardens by the Bay mulai hidup satu persatu. Supertree Grove berdiri menjulang, batangnya seperti menara listrik yang diajari berdandan. Warna ungu, biru, dan hijau berganti pelan, memantul di wajah orang-orang yang sibuk foto dengan pose yang terlalu niat.

Narisa mendongak lama, terlalu lama sampai lehernya hampir protes. "Itu pohon apa jamur sih?"

Kara ikut melihat. "Pohon lah."

Narisa menunjuk satu yang paling gendut. "Yang itu mirip jamur."

"Iya," Kara menoleh, lalu menatap kepala Narisa sekilas. "Kayak kepala lo."

Narisa langsung menoleh cepat. "Maksud lo kepala gw gede?"

"Lebih tepatnya, lo besar kepala."

"Mata lo minus? Kepala gw proporsional, kampret."

Kara mengangkat bahu, lalu lanjut jalan tanpa peduli. Narisa mendengus tapi tetap ikut, karena tersesat di negara orang bukan skill yang ingin dia unlock hari ini.

Di sisi jalan setapak, deretan kios kecil berjejer rapi. Lampunya hangat, makanannya warna-Warni, dan harganya... cukup untuk bikin dompet berkeringat. Aroma gula, cokelat, dan sesuatu yang digoreng bercampur jadi satu, seperti godaan yang tahu kelemahan anak SMA.

Narisa langsung melambat. "Eh, itu apaan?"

"Es krim," jawab Kara.

"Bukan. Yang warna-Warni itu." Narisa memperhatikan lebih jelas. "Cotton candy bukan sih?"

"Ya emang."

Narisa langsung maju dengan penuh percaya diri yang tidak didukung kemampuan.

"Hi, kak.. eh... sir... hello," katanya sambil senyum lebar. "I want... one... rainbow.. that big-big one."

Penjualnya berkedip sebentar, lalu mengangguk profesional. "One rainbow cotton candy?"

"Yes. Big cloud. Very big. Like.. sky snack," Narisa menunjuk-nunjuk.

Kara di belakang langsung menoleh ke arah lain, menahan tawa sekaligus malu. "Sky snack anjir..."

Narisa menoleh galak. "Diem lo. Yang penting orangnya ngerti."

Begitu pesanannya jadi, Narisa hampir memeluknya seperti anak Tk. Dia gigit sedikit, lalu matanya membesar.

"Anjir... enak."

"Gula doang."

"Ya emang. Masa rasa rendang."

Kara belum sempat menjawab karena matanya tertarik ke kios sebelah. Ada aroma gurih yang lebih masuk akal buat lidahnya. Di sana ada jajanan goreng macam chicken karaage, croquette kentang, sampai squid ball tusuk.

"Nah, ini baru makanan," gumam Kara.

Narisa langsung nengok. "Ih, lo beli gorengan di Singapura?"

"Kenapa? Gorengan tuh universal."

Kara maju ke kios, lalu menunjuk asal dengan logat Inggris seadanya. "One... chicken karaage. Sama itu kentang bulat."

Penjualnya mengangguk cepat. "Croquette?"

"Ya itu lah."

Narisa langsung tertawa. "Lo ngomong kayak bapak-bapak nyasar."

"Daripada sky snack. Apaan coba?"

Begitu makanannya jadi, Kara langsung nyomot satu karaage panas. Dia meniup sebentar lalu menggigit.

Kresss.

Ekspresinya langsung berubah puas. "Mantep."

Narisa meneguk liur. "Enak?"

Kara mengangguk, lalu tanpa sadar menyodorkan sisa karaage yang baru saja dia gigit. Narisa ikut menggigit begitu saja.

Dua detik... Narisa berhenti mengunyah.

"Kenapa?" tanya Kara heran, lalu memasukkan sisa karaage itu ke mulutnya sendiri.

Mata Narisa langsung membelalak.

"Kita barusan makan bekas masing- masing."

Kara ikut diam sebentar, seperti baru sadar. Tapi akhirnya dia tetap lanjut makan dengan santai.

"Yaudah lah. Tadi kita sikat gigi kan."

Ya, begitu saja.

Mereka lanjut jalan. Di sisi lain, ada yang jual ice cream cone, ada juga minuman dingin dalam botol plastik bening yang penuh potongan buah.

Narisa berhenti lagi. "Gw haus."

Kara melirik malas. "Mau minta minum juga?"

Narisa tidak membalas. Dia sudah berdiri di depan kios minuman dan langsung menunjuk dengan semangat.

"Hello, I want... that... fruit water... no ice... no, little ice... whatever lah,"

Penjualnya tetap tenang. "One fruit tea."

"Yes. That."

Begitu minuman di tangan, mereka akhirnya duduk di rumput, tepat di bawah salah satu Supertree. Di sekitar mereka, orang-orang mulai rebahan, siap nonton light show. Musik pelan mengalun, suasananya harusnya romantis. Harusnya.

Narisa memeluk cotton candy yang setengah tewas. "Tempatnya bagus sih,"

"Iya," Kara masih sibuk mengunyah. "Sayang banget perginya sama lo,"

"Itu harusnya kalimat gw, njir."

"Gw juga berhak."

Narisa mendengus pelan, lalu menoleh lagi ke lampu- lampu Supertree yang berubah warna perlahan.

"Besok kita balik kan?"

"Iya, pagi. Makanya jangan kelamaan di sini."

"Kok gw malah males pulang ya." Nada pelan Narisa membuat Kara mengernyit.

"Jangan bilang lo mau jadi gelandangan di sini."

"Anjir, si Santen. Gak gitu juga lah."

"Ya emang apa lagi? Lo dilepas sendiri di sini seminggu juga paling nangis depan minimarket."

Plak.

Narisa menepuk lengan Kara kesal. "Sumpah, bacot lo kapan sembuh sih?"

"Tangan lo juga kapan sembuh?" Kara menghela napas, kembali menatap ke atas. "Kalau gw diem, lo bakal bosen. Gw apalagi."

"Tapi darah gw naik."

"Lebay banget."

"Orang cantik emang sensitif."

"Mirip ondel-"

"Bodo. Daripada lo, ganteng kagak, cantik kagak. Kayak karakter gagal."

Kara cuma nyengir tipis, akhirnya berhenti cari gara-gara.

Di bawah lampu mahal yang harusnya romantis itu, dua remaja terus ribut kecil seperti anak nyasar yang dipaksa liburan bersama. Tempatnya indah, makanannya enak, tapi satu sama lain tetap terasa seperti salah alamat.

**

*

Kembali ke Indonesia setelah seminggu terasa seperti masuk ke bab hidup yang benar-benar baru. Setelah diberi waktu sehari buat istirahat di rumah masing- masing, keesokan paginya Kara dan Narisa dijemput Wenny dan dibawa ke sebuah rumah.

Orang tua mereka tidak ada yang ikut mengantar. Entah karena memang sudah diatur Bramantyo, atau mereka terlalu santai menghadapi semua ini. Yang jelas, dua orang yang paling terdampak malah duduk diam sepanjang perjalanan.

Di kepala kara dan Narisa, rumah itu pasti besar. Minimal cukup luas supaya mereka tidak harus lihat muka satu sama lain tiap beberapa menit.

Begitu sampai, kesan pertamanya masih lumayan bagus. halamannya cukup luas, ada mobil terparkir rapi, dan motor Kara sudah berdiri manis di samping garasi kecil.

Kara langsung mengernyit. "Lah, motor gw udah nyampe duluan,"

"Firasat gw gak enak, njir," gumam Narisa.

Wenny tetap berjalan tenang sampai membuka pintu rumah itu.

Di depan ada ruang tamu kecil dengan sofa abu-abu dan dekorasi sederhana. Setelah itu ruang TV yang menyatu dengan dapur dan meja makan. Tidak besar, tapi nyaman.

Lalu mereka mulai sadar sesuatu. Rumah ini jauh lebih mungil dari yang mereka bayangkan.

Narisa langsung berhenti jalan. "Kata gw juga apa. Firasat gw gak salah."

Kara menoleh cepat, tapi memilih diam.

Wenny membuka satu ruangan.

"Ini kamar Narisa," katanya tenang, lalu menunjuk pintu lainnya. "Itu Kara. Kamar mandi di pintu yang itu."

Narisa langsung menoleh. "Satu itu doang, kak?"

Wenny hanya mengangguk.

Tahu tidak bisa protes, mereka akhirnya menuju kamar masing- masing.

Barang-barang mereka sudah tersusun rapi di kamar masing-masing. Boneka Narisa sudah duduk di atas tempat tidur. Gitar Kara berdiri di sudut kamar. Bahkan baju-baju mereka sudah masuk lemari.

Narisa. melongo. "Mama niat banget,"

Karena penasaran dengan kamar Kara, dia langsung menuju ke sebelah tanpa memeriksa kamarnya sendiri.

"Dih, lo punya gitar?"

Kara menoleh heran, "Kenapa?"

"Awas aja kalau berisik."

"Belum juga gw apa-apain."

Narisa mendelik. "Apa maksudnya? Jangan aneh- aneh lo."

Kara mengernyit. "Otak lo isinya apa sih?"

Wenny mengabaikan perdebatan itu dan berdiri tenang di ruang tengah.

"Mulai hari ini kalian resmi tinggal di sini," katanya sedikit keras. "Silakan atur hidup kalian sendiri."

Keduanya keluar lagi dari kamar sambil masih bengong.

"Kak, hari ini banget nih," kata Narisa setengah protes.

"Iya. Hari ini."

"Tapi kita butuh waktu buat perpisahan sama kamar sendiri."

"Tidak. kalian harus mulai belajar mandiri dari sekarang."

Kara bersandar di dinding. "Nginep di rumah orang tua masih boleh kan?"

"Boleh. Tapi terbatas."

Narisa langsung menghela napas lega. "Syukur dah. Gw kira aturannya ketat banget kayak kolor."

Kara mendelik. "Woy, bacot."

"Halah, lo juga. mikir sama kan?"

"Gak nyampe ke kolor juga, njir."

Setelah memastikan semuanya selesai, Wenny pamit begitu saja. Begitu pintu tertutup, rumah itu langsung sunyi.

Kara dan Narisa berdiri di ruang tengah dengan ekspresi sama bingungnya. Rasanya seperti habis diturunkan di map baru tanpa tutorial.

Narisa yang pertama buka suara. "Kenapa dia gak ngasih duit sih?"

"Kak Wenny udah bilang dari awal gak ada uang bulanan." Kara menjatuhkan badan ke sofa.

Narisa langsung panik. "Bentar. Uang kita sisa berapa?"

Kara membuka m-banking, lalu menunjukkan layar ponselnya.

"Tujuh ratus."

Mata Narisa langsung membelalak. "Cuma segitu?!"

"Kuta belanja terus."

"Lo tuh makannya yang mahal mulu,"

"Lo jajan tiap lima langkah."

Narisa terdiam dengan bibir berkedut. Kesulitan menjawab artinya kalah. Dan kalah dari Kara jelas hal terakhir yang dia harapkan dalam hidup.

Karena mulai takut miskin mendadak, mereka akhirnya keliling rumah memeriksa isi persediaan. Pertama-tama mereka membuka kulkas.

Narisa menghela napas lega. "Lumayan."

"Lengkap lah," Kara mengangguk puas. "Sampe mie juga ada"

"Iya. Kita belum bakal mati."

Kara masih menatap isi kulkas dengan ekspresi curiga. "Masalahnya sekarang..."

Narisa menoleh. "Apa?"

"Yang masak siapa?"

Narisa langsung menunjuk dirinya sendiri. "Gw bisa dikit."

Kara menatap lama. "Kalau level dikit lo cuma masak air mending diem,"

"Lo meremehkan kemampuan gw banget ya." Narisa melipat tangan, "Lo sendiri emang bisa apa?"

"Mie masih bisa lah,"

"Itu bukan masak. Itu cuma merebus. Gak masuk itungan."

"Siapa bilang? Tingkat kematangan mie tuh penting."

Narisa langsung jijik sendiri. "Najis. Ngomongnya kayak chef."

"Seriusan. Emang lo mau makan mie versi bubur?"

Narisa langsung bergidik.

Karena tidak ada satu pun yang benar-benar bisa diandalkan untuk urusan dapur, keduanya memilih menyerah dulu dan masuk ke kamar masing-masing.

Narisa langsung video call dengan orang tuanya. Wajah Nuri muncul pertama kali, terlalu cerah untuk ukuran ibu yang baru melepas anaknya pindah rumah.

"Baru muncul kok mukanya udah ditekuk gitu, Risa."

Narisa makin manyun. "Perasaan aku gak enak tau, ma.'

"Itu karena masih asing. Nanti juga terbiasa."

Narisa rebahan sambil memeluk boneka. "Mama kenapa kayak gak berat ngelepas aku?"

Nuri menghela napas. "Kita masih satu kota. Mama ke sana setengah jam juga nyampe."

Narisa diam sebentar, lalu matanya tiba-tiba berbinar licik.

"Berarti mama bisa masakin tiap hari kan?"

"Gak bisa." Jawabannya terlalu cepat sampai Narisa tersinggung.

"Lah, kenapa?"

"Perjanjiannya kalian belajar mandiri. Kalau mama masakin tiap hari, itu namanya kos-kosan rasa keluarga."

"Ya ampun, ma. Kita masih SMA loh,"

"Makanya belajar."

"Tega banget."

Nuri malah santai minum es teh di depan kamera. "Mama nanti sering datang kok. Paling bawain lauk,"

"Bawain ART sekalian."

"Mimpi."

Karena capek ngeluh dan otaknya sudah lemas, Narisa akhirnya ketiduran.

Entah berapa lama berlalu sampai...

Tok. Tok. Tok.

Narisa menggeliat malas.

Tok! Tok! Tok!

"WOY!"

Narisa langsung bangun kaget sampai hampir jatuh dari tempat tidur.

"Anjir..." gumamnya sambil jalan sempoyongan ke pintu.

Begitu pintu dibuka, wajah Kara langsung muncul dengan senyum menyebalkan.

"Buset, Bonar. Jelek banget bangun tidur."

Narisa langsung melotot penuh kebencian.

"Bangsat! Gw kirain setan!"

"Ya kali setan keren kayak gw."

"Najis. Lo mau apaan sih?!"

Kara menunjuk keluar dengan dagunya. "Makan."

Narisa masih setengah sadar. " Jam berapa emang?"

"Sebelas,"

Dia langsung menatap kosong beberapa detik. "Kapan gw ketidurannya ya?"

"Gak penting. Mau makan gak? Gw laper, tadi pagi kita gak sarapan."

Narisa menyandarkan kepala ke pintu sambil memejamkan mata sebentar. Perutnya memang mulai lapar. Tapi rasa kesalnya masih lebih besar.

Akhirnya dia membuka satu mata dan menunjuk Kara pelan.

"Sekali lagi lo bangunin gw kayak debt collector begitu..."

"Hm?"

"...gw jual gitar lo."

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!