NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sore harinya.

Tidak ada yang terlalu menarik bagi Narisa di negara ini. Dia emang belum melihat banyak, tapi baginya kota tetaplah kota. Seharian di hotel justru terasa seperti hukuman versi mahal.

Tidur sudah sampai tahap bosan bermimpi, ponsel sudah hampir membuat jempolnya mati rasa, dan film yang tersedia tidak ada yang cukup menarik untuk menahan pikirannya tetap diam di tempat.

Saat dia mulai benar-benar mempertimbangkan untuk keluar diam-diam mencari makan, pintu kamar terbuka begitu saja tanpa aba-aba. Tiga orang masuk sekaligus, dan salah satunya adalah Nuri dengan wajah yang terlalu cerah untuk ukuran hari biasa.

Narisa langsung curiga. Wajah seperti itu biasanya hanya muncul kalau ada uang masuk.

"Siap-siap dulu ya, sayang," kata Nuri sambil menarik tangannya ke arah kamar mandi tanpa negosiasi.

"Loh, ma? Aku belum niat mandi," protes Narisa, mencoba menahan langkah.

"Acaranya jam tujuh, Gak ada waktu buat debat."

"Acara apa sih?" Narisa berhenti begitu melihat seseorang sudah menyiapkan air di bathtub. Dia menatap ibunya dengan curiga. "Serius, ma. Ini apaan?"

Nuri terkekeh kecil, jelas terlalu menikmati situasi ini.

"Resepsi. Kalian kan belum janji suci."

Narisa langsung menatap kosong, seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

"Gak mau ah. Tanda tangan sama tinggal bareng aja udah cukup, ma. Ngapain pake janji suci segala."

"Udah lah. Ikutin aja maunya Pak Bram,"

"Tapi-"

"Masuk."

Nada Nuri berubah sedikit, cukup untuk menghentikan perlawanan yang tidak akan ada gunanya.Narisa menatap bathtub itu sekali lagi, lalu akhirnya menyerah dan masuk.

Airnya hangat, aromanya menenangkan, tapi kepalanya justru makin ramai. Semua ini mulai terasa terlalu jauh untuk sekadar disebut 'main-main'.

"Ini makin ribet," gumamnya pelan.

Dan ini baru permulaan.

~

~

Hall hotel malam itu terlihat megah sekaligus sepi. Terlalu luas untuk jumlah orang yang hadir.

Hanya dua keluarga, Bramantyo, dan beberapa staf.

Namun dekorasinya dibuat seolah-olah puluhan tamu akan datang. Lampu-lampu menggantung hangat, bunga tersusun rapi, dan kristal berkilau di beberapa sudut, menciptakan suasana yang seharusnya romantis, tapi justru terasa asing.

Di ujung hall, Narisa berdiri dengan gaun yang terasa terlalu berat untuk situasi yang tidak dia pahami. Riasannya sempurna, tapi ekspresinya kosong. Di depannya, Kara sudah berdiri lebih dulu dengan jas rapi dan wajah yang sama datarnya.

"Pa, ini makin aneh aja," gumam Narisa saat MC mulai memanggilnya untuk berjalan. "Segala ada MC,"

Taslim yang berdiri di sampingnya menatap lurus ke depan, tapi matanya tidak benar-benar fokus.

"Papa juga gak ngerti, Nak," jawabnya pelan. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Narisa menoleh sedikit. "Ya kali yang nunggu aku di sana itu cewek."

Taslim tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke mata. "Ikutin aja dulu. Anggap... latihan."

"Latihan bertahan hidup," gumam Narisa, lalu mulai melangkah,

Setiap langkah terasa panjang. Gaunnya membatasi gerak, dan jarak menuju altar terasa lebih jauh dari yang seharusnya.

"Ini jauh banget sih, pa. Pegel," bisiknya, berusaha tetap menjaga wajah.

Taslim tidak langsung menjawab. Dia hanya berjalan pelan di samping anaknya, menggenggam tangannya sedikit lebih erat dari biasanya. Ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi tidak ada satu pun yang terasa cukup tepat.

" Sumpah, pengen kabur," lanjut Narisa, setengah serius.

Taslim menghela napas panjang. "Tahan dulu," katanya pelan, hampir seperti membujuk dirinya sendiri.

Langkah mereka akhirnya sampai di depan Kara. Untuk sesaat, Taslim menatap wajah anaknya. Ada jeda kecil, singkat, tapi cukup terasa. Lalu dengan perlahan, dia menyerahkan tangan Narisa ke Kara.

"Ini buat apa sih?" bisik Kara tanpa mengubah ekspresi.

"Buat nyenengin orang gabut," balas Narisa cepat.

Keduanya menghela napas bersamaan.

Seorang staf mendekat dan menyerahkan kertas kecil pada masing-masing. Janji suci.

Kara membaca duluan, "Saya menerima Bonar- maksudnya Narisa, sebagai pasangan..."

Dia memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya membaca sampai habis. Lalu bergantian giliran Narisa..

Janji itu datar, nyaris hanya sebatas formalitas tanpa makna.

Setelah prosesi selesai dan cincin disematkan, tepuk tangan memenuhi ruangan. Suaranya menggema lebar, terasa lebih besar dari jumlah orang yang hadir.

Ironisnya, tidak ada wajah benar-benar bahagia di sana. Kecuali dua orang: Nuri dan Eka. Itu pun bukan karena pernikahan yang baru saja terjadi, melainkan karena bonus yang sudah cair sejak pagi. Pantas saja keduanya menghilang seharian dan baru muncul lagi saat acara inti.

Sebelum turun dari altar, fotografer sibuk mengambil gambar dari berbagai sudut. Pose demi pose dilakukan tanpa banyak protes. Hasilnya? Tidak perlu dilihat pun sudah bisa ditebak. Dua orang berdiri rapi, ekspresi netral, seperti foto katalog baju pengantin.

Begitu selesai, Kara dan Narisa turun dan langsung disambut Bramantyo.

"Kalian cukup tenang malam ini," katanya dengan senyum tipis. "Untuk selanjutnya, bisa. dibicarakan dengan Wenny."

Keduanya hanya mengangguk, sambil melirik sekilas ke arah Wenny yang berdiri setia di belakangnya seperti bayangan profesional.

"Sekali lagi selamat," lanjut Bramantyo ringan. "Seperti janji saya, setelah honeymoon, rumah sudah siap. Silakan jalani rumah tangga kalian... sesuka hati kalian."

Kalimat terakhir itu terdengar santai, tapi entah kenapa malah makin aneh.

Mereka tetap mengangguk. Mengucapkan terima kasih terasa tidak tepat, karena semua ini lebih mirip skenario daripada keputusan.

Sebelum pergi, Wenny maju selangkah dan menyerahkan kartu nama.

"Hubungi nomor itu jīka perlu, " katanya singkat, lalu kembali mengikuti Bramantyo keluar.

Keduanya saling pandang, kartu nama masih di tangan, seperti baru selesai menandatangani kontrak kerja, bukan pernikahan.

"Dia makin aneh ya," gumam Narisa datar.

Kara mengangkat bahu. "Tinggal dipakein baju badut aja. Cocok."

"Risa!" suara Nuri tiba-tiba memecah suasana. "Sini, foto sama mama!"

Narisa menoleh. Ibunya sudah berdiri manis di bawah lampu kristal, dengan latar bunga yang terlalu niat.

Narisa mendengus pelan.

"Heboh banget," gumamnya, tapi tetap berjalan menghampiri.

~

Satu hal lagi yang tidak masuk perkiraan: kamar pengantin.

Bukan karena dekorasinya, karena justru tidak ada. Tapi karena fakta sederhana bahwa mereka sekarang ditempatkan dalam satu kamar. Lebih besar, lebih mewat, bahkan ada ruang tamunya sendiri.

Narisa berdiri di tengah ruangan, memutar badan pelan.

"Kamar apaan ini..." gumamnya. "Kalau ada jacuzzi di balik pintu, gw gak bakal kaget."

"Gw yang kaget," balas Kara sambil melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa. "Bisa -bisanya kita dijadiin satu kamar begini."

Narisa menoleh santai. "Ya santai aja kali. Gw juga ogah. Tapi yaudah lah, sama- sama cewek ini."

Kara hanya mendengus.

Beberapa detik hening, sebelum Narisa tiba-tiba cekikikan sendiri.

"Eh, lo ngeh gak?"

"Apaan?"

"Waktu tanda tangan tadi pagi, si om itu sempet liat tangan kita," katanya sambil menahan tawa. "Kayaknya dia nyadar deh."

"Oh... cincin," Kara mengangguk pelan, lalu melirik jarinya. "Tapi dia diem aja sih. Terus..." dia mengangkat tangannya sedikit, "Yang ini keliatannya lebih mahal."

Narisa ikut memperhatikan cincinnya. "Iya sih, Ini kayaknya berlian deh."

"Sotoy."

Narisa mendengus, lalu melepas cincinnya untuk melihat bagian dalamnya lebih jelas.

"Hm... ada ukiran," katanya pelan. "K-N."

Kara langsung meringis. "Kara-Narisa.?"

Narisa menoleh cepat. Wajahnya langsung berubah jijik.

"Najis. Amit-amit."

Dia langsung melepas tiara di kepalanya dengan kesal dan melemparkannya ke arah Kara. Tiara itu jatuh dengan bunyi kecil di lantai.

"Harusnya gak usah lo jelasin, Santen!" semburnya.

"Eh, bego," Kara membungkuk, mengambil tiara itu, lalu menatapnya serius. "Kalau rusak, lo bisa ganti?"

Narisa langsung diam.

Semangat marahnya turun drastis. Karena satu hal yang sangat jelas: benda itu, bahkan mungkin satu bijinya saja, harganya lebih mahal dari seluruh isi dompetnya.

~

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi dua orang itu masih tenggelam dalam ponsel masing-masing di atas tempat tidur. Tidak ada kecanggungan.

Suasananya lebih mirip dua teman yang numpang tidur di kamar hotel mahal daripada pasangan yang baru saja 'resmi'.

"Eh, Bonar. Menurut lo, kita bakal dapet uang bulanan gak sih?" Kara membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Narisa langsung menoleh cepat. "Lah, emang dijanjiin?"

Kara mengernyit. "Emang enggak ya?"

Narisa langsung duduk tegak. "Gw gak pernah denger. Mama cuma bilang biaya sekolah sama rumah doang. Bonus kan buat mereka.'"

Kara kini ikut duduk, wajahnya berubah serius. "Kita harus tanya ke kak Wenny."

"Lo chat sana," Narisa langsung menunjuk.

Tanpa banyak debat, Kara mengetik cepat.

"Kak, kita nanti dapet uang bulanan dari om Bram?"

Balasan datang cepat. Singkat. Kejam.

"Tidak,"

"Anjir," Kara menatap layar seolah baru diputuskan secara sepihak.

Narisa langsung merapat. "Apa katanya?"

Kara menoleh dengan wajah kosong. "Gak dapet."

"Hah?!" Narisa langsung menjambak rambutnya sendiri. " Jadi kita miskin bareng gini? Mama ngasih duit pun paling dikit. Makan tahu tempe tiap hari dong?"

"Lah, gw lebih parah. Bisa makan juga udah syukur," Kara menjatuhkan diri ke kasur lagi.

Narisa guling-guling kecil di atas kasur. "Gak bisa begini. Lo harus kerja."

"Kenapa gw?" Kara melirik malas. "Rumah bareng-bareng."

"Gw fokus belajar."

"Gw fokus basket."

Narisa menatapnya datar. Lama. Sangat lama.

"Yaudah. Kerja bareng. Gaji digabung."

Kara langsung membalik badan santai. "Ogah. Mending gw makan sendiri. "

Bugh.

Satu bantal mendarat di punggungnya.

"Awas lo ya. Gw rampok kamar lo."

Kara cuma mendengus pelan. Tapi di balik santainya kepalanya juga mulai pusing. Minta orang tua? Aneh. Minta Bramantyo? Lebih aneh lagi. Mereka ini kayak pasangan simulasi yang salah fokus, bukannya mikirin cinta malah sibuk mikirin nasi.

Dan di tengah kekacauan pikiran itu, satu istilah tiba-tiba muncul.

Malam pertama.

Kara langsung bergidik kecil.

"Eh, Santen," suara Narisa muncul dari belakang. "Pasangan normal harusnya malam pertama kan?"

Kara langsung menoleh curiga. "Lo mau apa?"

"Gak ada lah," Narisa cepat-cepat menyangkal. "Harusnya gw yang takut malah."

"Kalau gak mau ngapa-ngapain, kenapa dibahas?"

"Iseng."

Satu kata îtu bikin kara menyipit. Dia berbalik menghadap Narisa, lalu dengan santai mengangkat tangan, seolah mengukur sesuatu di udara.

"Hm... kira-kira segini ya? Pas lah."

Narisa mengernyit, lalu mengikuti arah pandangan Kara.

Dua detik.

Tiga detik.

Bugh!

Bantal langsung menghantam muka Kara.

"GAK USAH NGUKUR-NGUkUR!" seru Narisa, refleks menutup dadanya dengan bantal. "Tidur di sofa sana!"

Kara malah tertawa pelan, suaranya tertahan di tenggorokan.

"Lebay banget. Gw cuma ngecek proporsi."

"PROPORSI PALA LO!"

Dua pukulan lagi mendarat di bahunya.

Kara akhirnya berbalik lagi, masih dengan senyum tipis yang susah disembunyikan. Di sampingnya, Narisa masih mengomel panjang tanpa arah.

Hari itu terlalu aneh untuk dicerna dengan logika. Jadi mereka menutupnya dengan cara paling sederhana: ribut, capek, lalu tidur dengan masalah yang tetap belum selesai.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!