"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Duel di Tengah Malam Berdarah
Asap hitam masih mengepul dari genangan minyak yang terbakar di dasar lembah. Bernard Scolar menatap Jacob dengan seringai yang meremehkan, sementara tangannya menggenggam cambuk pendek dengan santai.
"Kau benar-benar keras kepala, Jacob. Seharusnya kau mati bersama kakakmu di paviliun itu daripada bersusah payah merangkak keluar dari parit asam ini," ejek Bernard dengan nada suara yang penuh penghinaan.
Jacob tidak segera membalas karena dadanya terasa sangat sesak akibat menghirup udara panas. Matanya yang bersinar biru terus memantau pergerakan pasukan Naga Hitam yang mulai membentuk lingkaran di sekitar mereka.
{Sistem, berapa lama lagi aku bisa menggerakkan ototku sebelum sinkronisasi ini memutus sarafku sepenuhnya?}
[Analisa Panca Indra: Kapasitas stamina kritis di bawah empat persen. Detak jantung tidak stabil. Pengguna disarankan menyelesaikan duel dalam waktu empat puluh detik atau risiko kelumpuhan total akan terjadi.]
||||||||||||||
"Berhentilah menggonggong, Bernard. Kemarilah dan tunjukkan padaku apakah kau sehebat mulutmu saat merencanakan pembunuhan kakakku!" tantang Jacob sambil mengangkat pedangnya yang sudah retak di beberapa bagian.
Bernard tertawa kecil dan perlahan turun dari kudanya, membiarkan jubah merahnya terseret di atas tanah yang kotor. Dia memberikan isyarat agar pasukannya tetap diam, seolah ingin menunjukkan bahwa dia bisa menghabisi Jacob sendirian.
"George saja bisa kubuat membusuk di atas ranjang hanya dengan satu perintah, apalagi kau yang sudah sekarat ini?" ucap Bernard sambil melecutkan cambuknya ke tanah hingga menimbulkan suara ledakan kecil.
Darah Jacob mendidih mendengar nama kakaknya dijadikan bahan lelucon oleh pria di depannya. Dia mengabaikan rasa sakit di sendinya dan mulai memacu langkahnya dengan bantuan penuh dari sistem.
{Aku tidak akan membiarkanmu melihat fajar, bajingan.}
||||||||||||||
Tubuh Jacob melesat maju dengan kecepatan yang tidak wajar di tengah kegelapan malam yang pekat. Pedangnya menebas udara secara horizontal, namun Bernard dengan sangat lincah melompat ke belakang untuk menghindari serangan tersebut.
Bernard memutar cambuknya dan mengincarnya tepat ke arah pergelangan kaki Jacob yang sedang terluka. Jacob merasakannya sebagai ancaman melalui getaran udara yang dideteksi oleh panca indranya.
[Mode Auto Pilot: Lompatan Taktis Diaktifkan. Mengambil alih saraf otot betis untuk menghindari serangan rendah.]
Jacob melompat setinggi dua meter, membuat cambuk Bernard hanya menghantam udara kosong. Saat masih di udara, Jacob memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan berputar yang mengincar pelipis Bernard.
||||||||||||||
Veldora berdiri siaga dengan kapak raksasa di tangannya, matanya tidak pernah lepas dari pergerakan pasukan Naga Hitam yang terlihat gelisah. Dia menahan Natali yang hampir melompat maju saat melihat Jacob terhuyung setelah mendarat.
"Jangan ikut campur sekarang, Natali. Ini adalah cara Jacob untuk menghapus bayang-bayang kelemahan di hadapan para prajuritnya," bisik Veldora dengan suara yang berat.
Natali mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih karena menahan emosi yang memuncak. Dia tahu pangerannya sedang berada di ambang batas fisik, namun dia harus menghargai keputusan Jacob untuk menyelesaikan dendam ini sendiri.
Bernard menyeka debu di wajahnya dan kembali menyerang dengan rangkaian tusukan pedang tipis yang disembunyikan di balik jubahnya. Jacob menangkis setiap serangan itu dengan gerakan yang sangat tipis, seolah dia sudah tahu ke mana arah pedang Bernard akan menuju.
"Sial! Bagaimana mungkin kau masih bisa bergerak secepat ini padahal tubuhmu sudah hancur!" teriak Bernard dengan nada suara yang mulai panik.
"Sistemku jauh lebih mengenal tubuhmu daripada dirimu sendiri, Bernard," balas Jacob dengan senyum yang sangat dingin.
||||||||||||||
Hantaman telak dari lutut Jacob mendarat di ulu hati Bernard, membuat pangeran Scolar itu terlempar beberapa meter hingga menabrak reruntuhan batu tebing. Bernard terbatuk darah dan mencoba merangkak mundur saat melihat Jacob berjalan mendekat dengan tatapan mata yang kosong.
Bernard segera merogoh saku rahasianya dan melemparkan tiga buah pisau kecil yang ujungnya sudah dilumuri cairan ungu pekat. Dia tidak peduli lagi dengan kehormatan duel, dia hanya ingin Jacob mati sekarang juga.
[Peringatan: Proyektil beracun terdeteksi. Mengaktifkan Refleks Kilat tingkat akhir.]
Jacob menangkap dua pisau dengan pedangnya dan menepis pisau ketiga dengan telapak tangan zirahnya yang tebal. Dia tidak berhenti melangkah, setiap hentakan kakinya di atas tanah berbatu terdengar seperti lonceng kematian bagi Bernard.
"Kalian semua! Serang dia sekarang! Jangan biarkan dia mendekatiku!" perintah Bernard dengan suara yang parau kepada pasukan Naga Hitam.
||||||||||||||
Pasukan Naga Hitam yang sebelumnya diam kini mulai merangsek maju untuk melindungi tuan mereka. Veldora dan Natali segera melesat ke tengah kerumunan musuh untuk membuka jalan bagi Jacob agar tetap bisa berhadapan satu lawan satu dengan Bernard.
"Habisi mereka semua! Jangan biarkan satu pun naga hitam ini mengganggu pangeran kita!" teriak Veldora sambil menghantamkan kapaknya ke arah komandan pasukan musuh.
Natali bergerak seperti bayangan merah yang mematikan, menebas setiap leher yang mencoba mendekati Jacob. Dia memastikan jalur tuannya tetap bersih agar Jacob bisa memberikan serangan pamungkasnya pada sang penghianat.
{Sistem, sisa waktu lima belas detik. Berikan aku kekuatan untuk satu tebasan terakhir!}
[Peringatan: Memasuki Mode Overdrive. Seluruh cadangan energi dialirkan ke lengan kanan. Risiko kegagalan fungsi saraf: sembilan puluh persen.]
Jacob mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, namun tiba-tiba seluruh pandangannya menjadi kabur dan berwarna merah pekat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat kacau hingga rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung jari hingga ke otaknya.
||||||||||||||
Pedang Jacob yang seharusnya terayun jatuh justru terlepas dari genggamannya dan berdenting keras di atas tanah berbatu. Tubuh Jacob mendadak kaku dan ia jatuh berlutut dengan napas yang terputus-putus, sementara darah segar mulai mengalir deras dari hidung dan telinganya.
[Kegagalan Sistem: Sinkronisasi saraf terputus secara paksa. Stamina nol persen. Seluruh otot pengguna mengalami kelumpuhan sementara akibat tekanan berlebih.]
Bernard yang tadinya ketakutan setengah mati, perlahan menghentikan langkah mundurnya dan melihat kondisi Jacob yang mengenaskan. Seringai kejam kembali muncul di wajahnya saat ia menyadari bahwa keberuntungan baru saja berpihak padanya.
"Hahaha! Ternyata kau hanyalah sebuah kembang api yang meledak terlalu cepat, Jacob!" teriak Bernard sambil berdiri dengan tertatih-tatih.
Pangeran Scolar itu melangkah mendekat dan menendang wajah Jacob hingga pangeran Helios itu tersungkur mencium tanah yang kotor. Bernard menginjak punggung Jacob dengan kuat, menikmati setiap suara rintihan tertahan yang keluar dari mulut musuhnya.
"Tataplah aku, Jacob! Tataplah orang yang akan mengakhiri garis keturunan Helios malam ini juga!" seru Bernard sambil menghunuskan pedang tipisnya tepat ke arah leher Jacob yang tak berdaya.
||||||||||||||
Natali yang melihat kejadian itu berteriak histeris dan mencoba menerjang ke arah Bernard, namun ia dihadang oleh lima ksatria Naga Hitam sekaligus. Veldora pun terjebak dalam kepungan musuh yang semakin rapat, tak mampu mencapai posisi Jacob tepat waktu.
"Berhenti! Jangan sentuh dia, bajingan!" teriak Natali dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa frustrasi yang luar biasa.
Bernard hanya tertawa sinis dan mulai menggoreskan ujung pedangnya ke kulit leher Jacob, menciptakan garis darah tipis yang perlahan meleleh. Ia merasa sangat puas bisa membalikkan keadaan di saat-saat terakhir pertempuran yang melelahkan ini.
{Sial... tubuhku tidak bisa digerakkan sama sekali. Apakah ini akhirnya? Aku gagal menjaga sumpahku pada Kak George...}
Jacob hanya bisa menatap tanah dengan pandangan yang semakin menggelap, sementara Bernard mengangkat pedangnya tinggi-halus untuk memberikan serangan terakhir. Kemenangan mutlak kini berada di tangan Pangeran Scolar yang licik, meninggalkan pasukan Helios dalam keputusasaan yang sangat mendalam di tengah lembah kematian tersebut.
Pertarungan fisik memang terhenti, namun aura keputusasaan menyelimuti setiap prajurit Helios yang melihat pangeran mereka berada di bawah ujung pedang musuh bebuyutan mereka.