NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Setahun berlalu sejak perpisahannya dengan Andika, hidup Shinta Aprilia berubah cukup banyak. Perempuan itu kini bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil milik sahabat lamanya semasa kuliah, Vivi Adila. Kafe itu tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai setiap sore. Dindingnya dipenuhi lampu gantung berwarna hangat dan aroma kopi selalu memenuhi ruangan. Tempat sempurna bagi orang-orang yang ingin berbincang tentang cinta, pekerjaan, atau hal-hal tidak penting lain yang entah bagaimana selalu dianggap mendesak oleh manusia.

Sore itu hujan baru saja reda. Jalanan di depan kafe masih basah dan beberapa kendaraan lewat perlahan. Di dalam kafe, lagu akustik mengalun pelan. Shinta duduk di balik meja kasir sambil menopang dagunya. Tatapannya kosong memperhatikan pelanggan yang tinggal beberapa orang.

Sementara itu, Vivi terlihat mondar-mandir di belakang meja bar dengan wajah kesal.

“Aku serius sudah tidak tahan lagi,” gerutu Vivi sambil meletakkan gelas cukup keras di meja.

Shinta bahkan tidak menoleh. “Kalau sudah tidak tahan ya putus saja.”

Vivi langsung menatap sahabatnya tidak percaya. “Shinta, aku sedang curhat.”

“Aku juga sedang capek mendengar curhatan orang pacaran.”

Vivi mendecakkan lidah. “Bisa tidak sekali saja kamu jadi manusia normal? Kasih dukungan atau apa kek.”

Shinta akhirnya menoleh malas. “Dukungan apa? Pacarmu sibuk kerja, kan? Berarti dia tidak selingkuh.”

“Masalahnya dia terlalu sibuk!”

“Ya berarti dia selingkuh dengan pekerjaan.”

Vivi memejamkan mata beberapa detik seolah sedang menahan emosi. “Kadang aku heran kenapa dulu kita bisa berteman.”

“Karena waktu kuliah aku sering pinjamkan tugas.”

“Itu karena kamu pintar.”

“Itu karena kalian malas.”

Vivi menghela napas panjang. Percakapan dengan Shinta soal percintaan memang seperti berbicara dengan tembok apartemen. Dingin, datar, dan tidak punya harapan emosional.

“Riki sekarang susah sekali diajak jalan,” keluh Vivi lagi sambil menyandarkan tubuh di meja. “Setiap kali aku ajak makan malam pasti alasannya meeting. Kemarin bahkan lupa anniversary.”

Shinta mengangkat alis tipis. “Berapa tahun hubungan kalian?”

“Tiga tahun.”

“Dan belum dilamar juga?”

Vivi melotot. “Tidak semua hubungan harus langsung nikah.”

“Kalau ujungnya cuma saling bikin capek untuk apa?”

“Kamu ini kenapa sih sejak putus jadi seperti nenek-nenek anti cinta?”

Shinta tersenyum tipis, tapi tidak benar-benar terlihat bahagia.

“Karena aku bosan dengan hubungan yang tidak jelas,” jawabnya pelan. “Pacaran itu seperti tarik ulur. Hari ini manis, besok bertengkar. Hari ini janji masa depan, besok hilang. Melelahkan.”

Vivi memandang sahabatnya beberapa saat. Nada suara Shinta terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang kosong di dalamnya.

“Masih kepikiran Andika?” tanya Vivi hati-hati.

Shinta langsung berdiri mengambil kain lap.

“Aku mau bersihkan meja belakang.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu tanda aku tidak ingin bahas.”

Vivi akhirnya menyerah. “Terserah.”

Shinta berjalan ke sudut kafe sambil membawa beberapa gelas kotor. Wajahnya terlihat biasa saja, tetapi pikirannya tidak setenang itu.

Setahun lalu ia benar-benar percaya dirinya akan menikah dengan Andika. Ia bahkan pernah membayangkan rumah kecil, meja makan sederhana, dan hidup tenang bersama laki-laki itu. Namun Andika memilih pekerjaannya. Atau mungkin memang sejak awal Andika lebih mencintai ambisinya dibanding dirinya.

Dan Shinta membenci kenyataan bahwa sampai sekarang ia masih mengingatnya.

Suara pintu kafe terbuka memecah lamunannya.

Sepasang kekasih masuk sambil tertawa kecil. Sang pria memegang payung sementara perempuan di sampingnya menggenggam lengannya erat. Mereka memilih duduk dekat jendela.

“Selamat datang,” ucap Vivi ramah.

Berbeda dengan Vivi, Shinta hanya melirik sekilas sebelum kembali mencuci gelas.

“Dua caramel latte dan satu red velvet,” kata si pria.

“Baik, tunggu sebentar.”

Pasangan itu terlihat sangat mesra. Sang pria membantu menyeka rambut kekasihnya yang terkena air hujan. Sesekali mereka tertawa pelan membicarakan sesuatu.

Shinta memperhatikan dari jauh sambil menyipitkan mata tipis.

“Menyebalkan,” gumamnya.

Vivi yang mendengar langsung terkekeh. “Kenapa mereka yang pacaran kamu yang emosi?”

“Lihat saja cara cowok itu bersikap.”

“Memangnya kenapa?”

“Terlalu perhatian.”

“Itu namanya romantis.”

“Itu strategi.”

Vivi sampai berhenti membuat kopi. “Strategi?”

“Iya. Dibuat manis supaya ceweknya senang dan tetap bertahan.”

“Kamu benar-benar sudah rusak.”

Shinta mendengus pelan. “Manusia kalau sedang jatuh cinta suka pura-pura sempurna.”

“Tidak semua orang seperti itu.”

“Sebagian besar iya.”

Vivi menaruh kedua minuman di atas nampan lalu berjalan menghampiri pelanggan. Setelah kembali, ia menatap Shinta sambil menyilangkan tangan.

“Kamu iri.”

“Aku realistis.”

“Kamu iri.”

“Aku malas melihat orang pacaran.”

“Karena kamu iri.”

Shinta akhirnya berhenti mencuci gelas dan menatap Vivi datar.

“Aku hanya berharap kalau memang serius ya langsung menikah. Tidak usah pamer kemesraan tiap hari seperti artis sinetron.”

Vivi tertawa kecil. “Kamu terdengar seperti ibu-ibu kompleks.”

“Setidaknya ibu-ibu kompleks lebih jujur.”

Ia kembali mencuci gelas dengan ekspresi kesal. Dari tempatnya berdiri, ia masih bisa melihat pasangan tadi tertawa bersama.

Dan sialnya, ada bagian kecil dalam dirinya yang merindukan hal seperti itu.

Dirindukan seseorang.

Diperhatikan.

Dianggap penting.

Shinta membenci kenyataan itu.

Karena semua hal manis dalam hubungan terasa indah hanya di awal. Setelahnya orang mulai berubah, mulai sibuk, mulai menjauh. Lalu hubungan perlahan berubah menjadi kewajiban yang dipertahankan karena sudah terlalu lama dijalani.

Ia sudah melihat terlalu banyak contoh seperti itu.

Ayah dan ibunya dulu sering bertengkar diam-diam. Tetangga sebelah rumahnya bercerai. Bahkan beberapa teman kuliahnya sekarang sering mengeluh soal pasangan masing-masing.

Cinta terdengar indah di cerita.

Namun kenyataannya sering merepotkan.

“Shinta!”

Suara Vivi membuyarkan pikirannya.

“Apa?”

“Melamun terus. Itu gelas sudah bersih dari lima menit lalu.”

Shinta melihat gelas di tangannya lalu meletakkannya pelan.

“Habisnya pasangan itu mengganggu pemandangan.”

“Kalau begitu pacaran saja sana.”

“Aku lebih baik kerja.”

“Kerja terus sampai jadi batu.”

“Itu lebih baik daripada jadi badut hubungan.”

Vivi tertawa keras sampai pelanggan lain menoleh.

“Kamu benar-benar pahit.”

“Terima kasih.”

“Tadi itu bukan pujian.”

“Aku terima saja. Hidup sudah cukup rumit tanpa harus memilah hinaan.”

Vivi menggeleng pasrah. “Kadang aku kasihan kalau nanti ada cowok yang suka sama kamu.”

“Kenapa?”

“Dia bakal stres.”

“Bagus. Berarti dia sadar hidup tidak semudah drama romantis.”

Sore semakin berjalan. Beberapa pelanggan mulai pulang. Hujan di luar kembali turun pelan membuat suasana kafe semakin tenang.

Shinta duduk lagi di dekat kasir sambil memainkan ponselnya. Vivi sibuk menghitung stok bahan di belakang.

Pasangan tadi akhirnya berdiri hendak pulang.

Sang pria membantu memakaikan jaket ke kekasihnya sebelum mereka keluar bersama di bawah satu payung.

Shinta memperhatikan sampai pintu tertutup.

“Semoga putus bulan depan,” gumamnya pelan.

Vivi yang mendengar langsung mengambil lap kain.

“Awas saja kalau ngomong begitu lagi aku siram pakai air cucian.”

Shinta terkekeh kecil untuk pertama kalinya sore itu.

“Kenapa kamu membela orang pacaran sekali?”

“Karena tidak semua hubungan gagal seperti hubunganmu.”

Kalimat itu membuat Shinta diam sesaat.

Vivi langsung sadar ucapannya agak keterlaluan.

“Eh... aku tidak maksud begitu.”

“Tidak apa-apa,” jawab Shinta santai. “Memang gagal, kan?”

Nada suaranya ringan, tetapi mata perempuan itu terlihat sedikit kosong.

Vivi memandangnya pelan.

Sebenarnya ia tahu Shinta bukan membenci cinta. Sahabatnya hanya kecewa. Dan orang kecewa sering berpura-pura tidak peduli supaya terlihat kuat. Kebiasaan manusia yang cukup tragis sebenarnya. Hatinya hancur, tetapi mulutnya sibuk bilang baik-baik saja. Evolusi jutaan tahun menghasilkan spesies yang pandai menyangkal perasaannya sendiri. Luar biasa.

Tiba-tiba suara notifikasi ponsel terdengar.

Shinta menunduk melihat layar.

Awalnya ekspresinya biasa saja. Namun beberapa detik kemudian matanya membesar.

“Ada apa?” tanya Vivi.

Shinta membaca ulang email itu untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.

Kemudian perlahan senyum muncul di wajahnya.

“Aku diterima.”

“Hah?”

“PT Dhamar menerimaku kerja mulai minggu depan.”

Vivi langsung bersorak kecil. “Serius?!”

Shinta mengangguk cepat sambil tertawa pelan. Wajahnya yang tadi muram kini terlihat jauh lebih hidup.

“Syukurlah,” ucap Vivi tulus. “Bukannya kemarin kamu bilang saingannya banyak?”

“Iya. Aku pikir gagal.”

“Posisinya apa?”

“Staff marketing.”

Vivi menatapnya beberapa detik sebelum tertawa keras.

“Astaga.”

“Kenapa?”

“Kamu dulu putus karena benci ambisi dunia marketing. Sekarang malah kerja di bidang itu.”

Shinta terdiam.

Lalu ia mendecakkan lidah pelan.

“Hidup memang suka bercanda.”

“Dan bercandanya sering tidak lucu,” sahut Vivi.

Shinta kembali melihat email itu. Ada rasa lega, bangga, sekaligus gugup bercampur jadi satu.

Akhirnya hidupnya mulai bergerak lagi.

Setelah setahun hanya bekerja sambilan dan mencoba melupakan masa lalu, kini ia punya sesuatu yang baru untuk dikejar.

“Mulai minggu depan aku resmi kerja kantoran,” katanya sambil tersenyum tipis.

“Nanti jangan jadi sibuk lalu lupa sama aku.”

Shinta mengambil kain lap lalu melemparnya pelan ke arah Vivi.

“Kalau aku sibuk berarti aku Pacaran dengan pekerjaan.”

Vivi langsung tertawa sampai hampir tersedak.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shinta merasa sedikit antusias menatap masa depan.

Bukan karena cinta.

Bukan karena hubungan.

Tetapi karena akhirnya ia punya tujuan yang pasti.

Dan bagi Shinta, kepastian terasa jauh lebih menenangkan daripada janji manis mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!