NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suasana yang tadinya panas karena urusan Sarah, mendadak berubah menjadi tegang dengan cara yang berbeda saat nama "laki-laki" disebut. Abi langsung memutar tubuhnya menghadap Celina.

"Laki-laki? Laki-laki siapa, Celina?" tanya Abi dengan nada menginterogasi, matanya menyipit penuh selidik.

Celina sempat melirik Zuhair sebentar. Ia melihat suaminya itu hanya diam, memberikan ruang baginya untuk jujur. Celina menarik napas panjang, mencoba meredam detak jantungnya yang menggila. Ia tahu, kalau dia berbohong sekarang, dia nggak ada bedanya sama Sarah.

"Namanya Raka, Bi," jawab Celina dengan suara yang sedikit bergetar, tapi tetap berusaha tenang. "Dia... dia sebenarnya temen saya dari Jakarta. Dia masuk ke sini juga karena saya yang minta tolong biar saya nggak ngerasa sendirian banget di tempat baru."

Ummi menutup mulutnya, tampak syok. "Jadi santri baru itu... teman kamu dari kota?"

Celina mengangguk pelan. Ia memilih untuk menyimpan rapat-rapat rahasia tentang pergumulannya dengan Raka—biarlah itu menjadi urusannya dengan Zuhair dan Tuhan. "Iya Ummi. Dia sering ke kamar saya kalau malam. Tapi... tapi kita cuma nobar film dari HP, makan cemilan, curhat soal kangen Jakarta, sama... eummm, minum-minum cantik dikit hehe, Ummi," ucap Celina sambil nyengir kuda, mencoba mencairkan suasana meskipun sebenarnya ia sangat gugup.

"Minum?" Abi mengernyitkan dahi.

"Minum soda doang kok, Bi! Nggak yang aneh-aneh!" potong Celina cepat sebelum Abi berpikir macam-macam. "Tapi serius, sekarang kita udah tobat. Raka tadi pagi juga bilang ke saya kalau dia mau beneran jadi santri yang baik. Dia ngerasa nyaman di sini. Dan saya... saya juga mau berubah, Bi."

Sarah yang masih bersimpuh di lantai tertawa sinis. "Halah! Bohong itu, Abi! Masa cowok-cewek di kamar cuma makan cemilan? Pasti mereka—"

"Cukup, Sarah!" bentak Zuhair, suaranya menggelegar di aula. "Saya sudah bilang, urusan Celina adalah urusan saya. Dia sudah jujur pada saya semalam, dan saya sudah memaafkannya. Yang sekarang jadi masalah besar adalah kebohongan kamu yang berencana merusak garis keturunan keluarga ini!"

Abi kembali menatap Celina, lalu beralih ke Zuhair. Ia melihat kedewasaan di mata putranya yang mencoba melindungi istrinya meskipun disakiti.

"Celina," panggil Abi dengan suara lebih rendah. "Kejujuran kamu saya hargai. Tapi membawa laki-laki asing ke kamar di lingkungan pesantren adalah pelanggaran berat. Karena kamu istri Zuhair, saya serahkan hukumannya pada suamimu. Tapi untuk Raka... dia harus menghadap saya secara pribadi untuk menjelaskan niat 'tobat'-nya itu."

Celina mengangguk patuh. "Iya, Bi. Maafin Celina ya... Celina janji nggak bakal bawa 'udara Jakarta' lagi ke kamar."

Zuhair menghela napas lega melihat Abinya tidak meledak pada Celina. Ia kemudian menatap Sarah yang sudah lemas tak berdaya. "Sekarang, Sarah, kemasi barang-barangmu. Saya sendiri yang akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu dan menjelaskan semuanya kepada mereka. Hubungan kita selesai hari ini."

Aula Ndalem kembali tegang, tapi kali ini tensinya beda. Bukan lagi suasana "sidang maut" kayak pas Sarah tadi, melainkan lebih ke suasana "sidang skripsi" yang bikin deg-degan tapi kocak.

Raka masuk ke aula dengan langkah yang sangat... santri. Bajunya putih bersih, sarungnya dipakai agak tinggi ala santri lama, dan pecinya tegak lurus. Wajahnya yang biasa terlihat cool dan bad boy di Jakarta, sekarang berubah jadi sangat kalem, bahkan cenderung pucat karena harus berhadapan langsung dengan Abi yang auranya kayak singa.

Celina yang duduk di samping Zuhair mati-matian menggigit bibir dalamnya. Dia nahan tawa setengah mati melihat sohib party-nya itu sekarang jalan nunduk-nunduk sambil bilang, "Permisi, Kyai..." dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Raka bersimpuh di lantai, tepat di depan kursi Abi.

"Jadi kamu yang namanya Raka?" tanya Abi, suaranya berat dan menggema.

"Nggih, Kyai. Saya Raka," jawab Raka, suaranya agak bergetar.

"Kamu teman Celina dari Jakarta? Masuk ke sini murni karena mau tobat atau cuma mau ngajak kabur istri anak saya?" Abi menatap Raka tajam, seolah bisa menembus jantungnya.

Raka narik napas panjang. Dia sempat melirik Celina sekilas, lalu melirik Zuhair yang sedang menatapnya dengan tatapan "Gue udah tau dosa lo, tapi gue kasih lo kesempatan".

"Awalnya jujur saya cuma disuruh Celina buat nemenin dia, Kyai. Biar dia nggak stres di sini," jawab Raka jujur. "Tapi... setelah tiga bulan di sini, kena siraman rohani tiap hari, ikut zikir malam... hati saya jadi nggak tenang, Kyai. Saya ngerasa selama ini hidup saya kosong. Jadi saya mutusin buat beneran mau nyantri."

"Nyantri tapi masuk kamar istri orang?" skakmat Abi.

Raka langsung menunduk makin dalam sampai dahinya hampir nyentuh lantai. "Itu kesalahan terbesar saya, Kyai. Saya khilaf. Saya janji nggak akan ngulangin lagi. Kalau perlu, hukum saya apa aja, Kyai. Asal saya jangan diusir dari sini. Saya... saya beneran mau tobat."

Celina yang liat Raka begitu langsung pura-pura batuk buat nutupin suara tawa yang mau meledak. Dia ngebayangin Raka yang biasanya megang gelas cocktail sekarang malah mau megang kitab kuning.

"Zuhair, gimana menurut kamu? Dia teman istrimu," tanya Abi pada anaknya.

Zuhair diam sejenak, lalu menatap Raka. Ada sedikit sisa rasa sakit di hatinya, tapi dia mencoba lapang dada. "Raka sudah bicara sama Celina tadi pagi, Abi. Saya rasa niatnya tulus. Tapi tetap, dia harus dihukum atas pelanggaran masuk ke Ndalem tanpa izin."

"Baik," Abi mengetuk meja. "Raka, kamu saya terima jadi santri tetap. Tapi hukuman kamu: kamu harus bersihin seluruh kamar mandi masjid dan asrama putra sendirian selama satu bulan penuh. Dan... kamu dilarang bicara apalagi ketemu Celina kecuali dalam pengawasan Zuhair. Paham?"

"Paham, Kyai! Alhamdulillah! Makasih Kyai!" Raka hampir aja mau sujud syukur kalau nggak inget dia lagi di depan Kyai besar.

Mendengar keputusan Abi yang di luar nalar itu, suasana aula yang tadinya mencekam mendadak berubah jadi campur aduk. Celina yang tadinya nahan tawa, sekarang malah melongo nggak percaya.

Abi berdehem, wajahnya yang tegas kini sedikit lebih santai. "Raka, saya lihat kamu ada bakat. Kamu jujur mengakui kesalahan itu poin besar. Jadi, saya tarik hukuman kamu yang membersihkan toilet."

Raka langsung mendongak, matanya berbinar. "Serius, Kyai?"

"Iya. Saya kasih kamu kebebasan buat tetap berteman sama Celina. Kalian boleh main, ngobrol, atau curhat kapan saja asal jangan di dalam kamar atau tempat tertutup. Harus di tempat terbuka, di bawah pengawasan Zuhair atau santri lain. Saya nggak mau ada fitnah lagi," tegas Abi.

Raka hampir saja mau teriak 'Yes!', tapi dia sadar diri. Namun, kejutan dari Abi belum selesai.

"Dan satu lagi," lanjut Abi sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau dalam tiga bulan kamu bisa khatam Al-Qur'an dan hafal surat Al-Baqarah dengan tajwid yang benar, saya sendiri yang akan turun tangan. Saya akan jodohkan kamu dengan gadis cantik, anak seorang Habib teman saya yang dari Arab. Orangnya baik, cantik, dan nasabnya mulia."

Mendengar kata "Gadis Arab", "Cantik", dan bayangan sosok yang "Bening", Raka langsung ekhem-ekhem salah tingkah. Otak bad boy-nya yang biasanya mikirin party langsung berganti jadi bayangan sosok wanita Timur Tengah yang anggun tapi tetap punya badan "bohay" khas Timur Tengah.

"Wah... beneran, Kyai? Yang beneran bening gitu?" tanya Raka keceplosan, matanya langsung seger bugar, semangat tobatnya naik 1000%.

Celina yang di samping Zuhair langsung nggak kuat lagi. Dia meledak ketawa sambil mukul-mukul lengan kursi. "Tuh kan! Emang dasar lo, Rak! Dikasih umpan dikit langsung nyamber! Inget, hafalin Al-Baqarah itu nggak gampang, jangan cuma bayangin bohay-nya doang lo!"

Zuhair cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang Jakarta ini. Dia tersenyum tipis, merasa lega karena masalah ini berakhir dengan cara yang jauh lebih manusiawi daripada yang dia bayangkan.

Raka langsung memperbaiki posisi duduknya, sekarang dia tegak banget kayak lagi ikut upacara militer. "Siap, Kyai! Jangankan Al-Baqarah, kalau perlu Ali Imran sama An-Nisa saya babat habis dalam tiga bulan demi... eh, maksud saya demi keridhaan Allah dan calon istri saya nanti!"

Abi tertawa kecil melihat semangat Raka. "Ya sudah, buktikan. Mulai besok kamu belajar intensif sama Zuhair."

Sementara itu, Sarah yang masih ada di situ cuma bisa melongo pahit. Dia yang rencana awalnya mau jadi "Ning" lewat jalur fitnah, sekarang malah harus liat Raka—pria yang dia anggap pendosa—malah dapet jalur VVIP perjodohan sama anak Habib kalau dia tobat.

Zuhair berdiri, lalu mengulurkan tangan ke arah Celina. "Ayo, urusan di sini selesai. Kita biarkan Raka mulai menghafal dalam mimpinya dulu."

Celina berdiri sambil masih sisa-sisa ketawa, dia ngeledek Raka pake gerakan bibir "Semangat Al-Baqarah, Pak Haji!" yang dibalas Raka dengan kepalan tangan penuh tekad. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana Ndalem benar-benar terasa hangat tanpa ada rahasia lagi.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!