Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Dokter! Tolong!' Rania berlari di lorong rumah sakit, ia tak sadar laki-laki yang bersamanya juga adalah seorang dokter. Hanya saja, dokter Pri adalah dokter dari kota kecil.
Para tenaga medis keluar mendorong brankar, Rania dengan cepat meletakkan Rasya di atasnya. Ia mengikuti mereka ke IGD dan menunggu di luar bersama dokter Pri.
"Anakku!" Rania luruh di lantai, menutupi wajahnya sendiri. Ketakutan merebak di dalam hati, takut akan kehilangan si buah hati.
Ia tidak tahu apa saja yang sudah dilewati Rasya selama hidupnya. Trauma apa saja yang dia alami. Rania menangis, membenamkan wajah di atas lututnya.
"Tenanglah! Dia tidak akan kenapa-napa," bisik dokter Pri sembari mengusap punggung Rania yang berguncang.
Ia mendongak, menatap lurus pada pintu IGD yang tertutup. Di sana anaknya sedang berjuang untuk baik-baik saja.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada anakku, maka aku tidak akan pernah mengampuni mereka semua. Aku akan menghancurkan mereka semua, termasuk Hadrian Fattana. Laki-laki bajingan yang tidak bisa memegang janjinya!" rutuk Rania.
Matanya tajam dan dingin menusuk, aura membunuh memancar dari tubuhnya. Membuat dokter Pri bergidik saat merasakan hawa dingin di tengkuknya. Laki-laki itu meneguk saliva, menyadari satu hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rania sangat menakutkan saat marah.
"Baiklah. Itu terserah padamu. Tapi, untuk saat ini, berharaplah yang baik. Ini pertemuan pertama kalian. Aku yakin, anak itu hanya terkejut karena bahagia bisa bertemu dengan ibunya," ucap dokter Pri menenangkan Rania.
Ibu satu anak itu menghela napas panjang dan dalam, menurunkan emosinya. Yang dikatakan sahabatnya adalah benar. Berharap yang baik-baik saja. Rania mengusap wajah, melafalkan doa-doa kebaikan untuk anaknya.
Dokter Pri menghela napas, mengusap dadanya yang sejak tadi berdegup tak karuan. Ia lega karena Rania mau mendengarkan nasihatnya untuk menyimpan amarah. Setidaknya, sampai tim medis selesai menangani Rasya.
Beberapa saat menunggu, pintu IGD terbuka. Dokter keluar sembari membuka maskernya bersamaan dengan Rania yang berhambur mendekat.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Rania tak sabar.
Dokter laki-laki itu menatapnya dengan senyum kecil di bibir. Matanya memindai Rania dari ujung rambut hingga kaki. Gadis kecil di hadapannya adalah ibu anak di dalam sana. Rasanya ia tak ingin percaya. Lalu, matanya memindai dokter Pri, senyumnya semakin mengembang. Perbedaan usia antara mereka sangat jelas terlihat.
"Dia sudah melewati masa kritis, dan sekarang akan dipindahkan ke ruang rawat. Anda tenang saja, luka di tangannya tidak terlalu dalam. Yang membuatnya tak sadarkan diri karena dia terlalu emosional. Entah apakah karena terlalu bahagia, atau ada hal lain. Untuk lebih lanjutnya, kita harus menunggu anak itu bangun," jawab dokter tersebut.
Rania menghela napas lega, memegangi dadanya yang sejak tadi dilanda rasa takut. Sekali lagi, dokter paruh baya itu menatap mereka dengan senyum tipis.
"Kalian orang tua yang baik. Sebagai suami, Anda harus menyayangi dan membimbing istri kecil Anda dengan baik," katanya memberi nasihat sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
Rania dan dokter Pri saling menatap satu sama lain. Ada senyum canggung yang tersemat di bibir mereka. Terutama laki-laki itu. Ia membuang pandangan saat mata Rania menatapnya dengan begitu dalam.
Mereka bergegas melangkah saat brankar yang membawa Rasya keluar.
"Salah satu dari kalian harus ke bagian administrasi," ucap suster yang mendorong ranjang Rasya.
"Biar aku saja." Dokter Pri menepuk pundak Rania, dan pergi menuju bagian admistrasi untuk menyelesaikan pembayaran.
Sementara Rania, ikut mendorong ranjang Rasya ke sebuah ruangan anak di lantai empat rumah sakit itu. Bukan rumah sakit yang sama, tempatnya melahirkan Rasya dulu.
Ia duduk di dekat ranjang sang anak sembari memegangi tangannya. Rania menatap wajah tampan Rasya dengan perasaan yang bergejolak. Ia bangkit dan mengusap kepalanya. Memberi kecupan hangat pada dahi sang anak.
"Mulai sekarang, kau akan baik-baik saja, sayang. Ibu sudah di sini, tidak akan ada lagi yang berani menindasmu," bisiknya seraya kembali mengecup kepala Rasya sebelum duduk.
Ia tak ingin terpejam, hatinya sangat takut semua itu hanya mimpi belaka. Rania takut saat membuka mata nanti, Rasya tidak ada di hadapannya. Bagaimanapun, tubuh yang dia tempati saat ini bukanlah miliknya. Suatu saat bisa saja jiwa pemiliknya kembali dan dia pun akan kembali ke dunianya di alam bawah.
Pintu ruangan terbuka, dokter Pri masuk dengan membawa sebungkus makanan untuk Rania. Ia meletakkan bungkusan itu di atas meja, melirik Rasya yang masih terlelap.
"Makanlah! Kau harus terlihat sehat saat anakmu bangun nanti. Dia tidak akan senang jika melihatmu pucat seperti ini," katanya merayu.
Hati Rania akan luluh jika menyangkut sang anak. Ia menurut, mengambil makanan itu dan membukanya. Menyuapkannya sedikit demi sedikit meski mulut tak ingin memakannya. Hanya sampai setengahnya saja, ia meletakkan kembali makanan itu di atas meja dan menenggak air mineral yang diberikan dokter Pri kepadanya.
Laki-laki itu tersenyum, dia hanya ingin Rania bahagia. Ia merebahkan diri di sofa, rasa lelah merenggut kesadarannya perlahan-lahan. Ia terpejam, larut dalam alam mimpi.
Sementara Rania, tetap membuat dirinya sadar. Ia sama sekali tak ingin terpejam, tapi rasa lelah mengalahkannya. Ia tertidur sembari menggenggam tangan sang anak.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄