Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Ferdi Terbongkar
Sekarmenarik napas lega saat menyelinap keluar dari kamar. Di genggamannya, sebuah kartu ATM berwarna platinum kini sudah kembali ke tempat asalnya. Beruntung sekali, Ferdi baru saja ganti nomor ponsel minggu lalu, jadi semua notifikasi transaksi dari bank tidak akan masuk ke HP-nya. Alam semesta seolah sedang berpihak pada Sekar.
"Hehe... Aman." gumam Sekar sambil menyimpan kembali dompet Ferdi ke dalam laci dengan gerakan setipis angin.
Sekar membuka rekening baru, juga sudah mendaftarkan mobile banking untuk rekening itu. Sekarang, hanya dengan satu sentuhan di layar ponselnya, dia bisa memantau aliran dana yang masuk. Setelah memastikan semuanya rapi, Sekar merebahkan tubuhnya di kasur tipis di pojok kamar. Dia tidak peduli lagi dengan suara omelan yang terdengar sayup-sayup dari ruang tengah.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka kasar. Ferdiansyah masuk dengan wajah kenyang, menyeka sisa minyak di mulutnya.
"Kamu nggak dapat jatah makan malam ini!" cetus Ferdi dengan nada menghukum. "Itu konsekuensi karena kamu malas-malasan dan kelayapan nggak jelas seharian."
Sekar hanya menatap langit-langit kamar, ekspresinya datar. "Terserah. Lagian aku juga sudah bosan makan nasi pakai ikan asin terus setiap hari."
Ferdi mengerutkan kening, tidak suka dengan sikap acuh tak acuh istrinya. Padahal biasanya Sekar akan menangis atau memohon maaf. Sebelum pulang tadi, Sekar sudah makan enak di kafe bersama Amelia. Dia juga sudah menyetok cemilan di tas rahasianya. Sekar sudah hafal luar kepala taktik Bu Nimas, mertuanya itu. Kalau Sekar salah sedikit, hukumannya adalah lapar. Benar-benar mertua rasa diktator!
"Cih, sombong kamu ya? Biar cuma ikan asin, tapi itu yang bikin kamu tetap hidup dan kelihatan segar sampai sekarang!" sarkas Ferdi.
Sekar bangkit, duduk di tepi ranjang sambil menatap Ferdi tajam. "Bukannya nggak bersyukur, Mas. Tapi masalahnya, kamu itu lebih dari mampu kalau cuma buat beli ayam sekilo untuk makan satu keluarga. Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu baru saja naik jabatan?"
Wajah Ferdi seketika pucat pasi. Tubuhnya menegang. "D-dari mana kamu tahu? Eh, maksudku... itu nggak bener! Jangan ngarang kamu!"
Sekar tersenyum miring, sebuah senyum yang belum pernah Ferdi lihat sebelumnya. "Nggak usah akting kaget gitu, Mas. Pias wajahmu itu sudah jadi jawaban. Kamu sudah jadi kepala tim di pabrik, kan? Tapi kenapa disembunyiin? Takut ya kalau aku minta uang belanja lebih?"
Ferdi gagap, lidahnya kelu. "Bu-bukan gitu..."
"Pasti bingung ya kok aku bisa tahu?" lanjut Sekar santai. "Asal kamu tahu, suaminya Amelia itu satu pabrik sama kamu. Dunia itu sempit, Mas. Nggak usah sok main rahasia-rahasiaan kalau bangkai yang kamu simpan aromanya sudah sampai ke hidungku."
Ferdi menghela napas kasar, sadar posisinya sudah terpojok. "Terus kalau aku naik jabatan kenapa? Nggak ada hubungannya sama kamu juga, kan?"
Sekar tertawa hambar. "Gila ya. Kamu ini punya otak tapi kayaknya nggak pernah dipakai buat belajar agama atau sekadar jadi manusia. Kamu punya istri, penghasilanmu sekarang hampir sepuluh juta sebulan, tapi jatah belanjaku cuma 25 ribu sehari? Mana itu harus cukup buat makan orang satu rumah plus adik-adikmu? Itu namanya zalim, Mas! Hati-hati, nanti kalau mati kamu masuk neraka lewat jalur ekspres karena pelit sama istri sendiri!"
"Zalim gimana? Aku kasih kamu makan tiap hari!" bantah Ferdi tak mau kalah.
"Kasih makan tapi nggak layak! Aku bakal maklum kalau kamu memang susah. Tapi ini uangmu sepuluh juta, Mas! Sepuluh juta! Kamu royal banget sama Ibu tapi sama aku? Kamu kayak ngasih makan kucing liar! Ingat, menurut aturan mana pun setelah nikah itu aku tanggung jawab utamamu, bukan mereka!"
"Heh! Ajaran sesat dari mana itu? Jangan dengerin dia, Ferdi!"
Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Bu Nimas masuk dengan wajah galak. Rupanya sedari tadi wanita tua itu menguping di balik pintu. Sekar memutar bola matanya malas. Si 'Nyonya Besar' datang lagi untuk ikut campur.
"Ibu tenang aja, Ferdi nggak bakal kemakan omongan sesat Sekar." ujar Ferdi menenangkan ibunya.
Bu Nimas menatap Sekar dengan pandangan merendahkan. "Dengar ya, Sekar! Ferdi itu anakku. Sampai kapan pun, dia harus berbakti dan mengutamakan ibunya. Jangan coba-coba hasut dia jadi anak durhaka. Mau dia naik jabatan atau jadi direktur sekalipun, jatahmu tetap 25 ribu! Ngerti???"
"Huuuh... terserahlah. Malas debat sama orang-orang yang merasa paling bener. Yang waras ngalah." seloroh Sekar sambil kembali rebahan dan asyik main HP, sama sekali tidak menganggap keberadaan mertuanya.
"Lihat itu, Ferdi! Istrimu makin kurang ajar mulutnya!" jerit Bu Nimas kesal.
"Udah, Bu, udah. Biar Ferdi yang urus Sekar. Ibu keluar ya, Ferdi capek mau istirahat." kata Ferdi sambil menggiring ibunya keluar dengan halus.
"Ingat ya, Ferdi! Yang utama itu keluarga kandungmu, bukan dia! Dia itu cuma orang lain yang kebetulan numpang jadi istrimu!" teriak Bu Nimas sebelum pintu ditutup.
Setelah ibunya pergi, Ferdi menatap Sekar yang masih asyik dengan ponselnya. " Sekar, bisa nggak sih kamu bersikap baik sama Ibu? Sudah setahun kita nikah tapi nggak pernah akur. Lihat tuh menantunya Bu Haji sebelah, akur banget sama mertuanya."
Sekar tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP. "Ya jangan bandingin sama keluarga Bu Haji lah, Mas. Mereka itu keluarga agamis, lulusan pesantren, hatinya bersih. Beda sama kalian yang minim pengetahuan tapi merasa paling suci. Kalau mau bandingin, tuh lihat Bu Eka sama menantunya yang hobi cakar-cakaran gara-gara sifat mertuanya yang sebelas-dua belas sama ibumu!"
Ferdi terdiam. Dia merasa gagal berdebat malam ini. "Sudahlah, aku mau tidur. Ngomong sama kamu bikin emosi."
"Jangan tidur dulu dong." cegat Ferdi sambil menyentuh lengan Sekar. Matanya memberikan kode yang sudah Sekar hafal.
Sekar menepis tangan suaminya dengan kasar. "Apa? Mau jatah? Kamu aja nggak menunaikan kewajiban kasih nafkah yang layak, masih berani minta hak? Nggak ada jatah malam ini, lagi banjir!"
Ferdi menggeram frustasi. Sudah seharian dia menahan diri di kantor karena digoda oleh Manda. Dia berharap bisa istirahat di rumah, tapi malah ditolak mentah-mentah oleh Sekar. Akhirnya, Ferdi tidur dengan gelisah, sementara adik kecilnya seolah protes karena tidak mendapat perhatian.
**
Keesokan Harinya di Kantor...
Wajah Ferdi kusam dan berantakan saat sampai di pabrik. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas karena kurang tidur.
"Kenapa kamu, Fer? Kucel banget. Nggak dikasih jatah ya semalam sama bini? Hahaha!" ledek Danu, teman kantornya.
Ferdi hanya mendengus kesal. Tak lama kemudian, Manda masuk ke ruangan Ferdi dengan aroma parfum yang menyengat.
"Mas Ferdi kenapa? Kok lemas banget?" tanya Manda lembut sambil mengusap bahu Ferdi.
Ferdi menghela napas panjang. "Nggak apa-apa, Man. Cuma kurang tidur."
"Biar kutebak... pasti gara-gara Sekar ya? Dia nggak kasih apa yang kamu mau?" tebak Manda dengan nada menggoda yang tepat sasaran.
Ferdi salah tingkah. "Eee... itu..."
Manda tersenyum manis, lalu membisikkan sesuatu di telinga Ferdi yang membuat pria itu terperangah. "Daripada kamu pusing terus di rumah, gimana kalau kita nikah aja? Aku janji bakal melayani kamu jauh lebih baik dari dia."
Di saat yang bersamaan, di rumahnya, Sekar sedang berjingkrak kegirangan di dalam kamarnya sambil menatap layar ponselnya. Ada sebuah notifikasi masuk dari aplikasi bisnisnya.
"I-ini benar gajiku bulan ini? Wah... gede banget!" pekik Sekar hampir histeris melihat angka puluhan juta masuk ke rekening rahasianya. Ternyata, menjadi istri tersakiti yang diam-diam mandiri adalah jalan ninja terbaik menuju kemenangan!
kapoooooooook